Diceraikan

Diceraikan
Gagal


Yumna tengah memasak sarapan pagi untuk suaminya. Tidak terlalu banyak, hanya nasi goreng serta telur ceplok. Menyusun dua porsi nasi goreng di atas meja makan. Tak lupa bubur dicampur sayur bayam yang dihaluskan untuk baby Aileen.


"Wahh Bunda masak nasi goreng nih buat abi, Ai," Andi datang dengan menggendong putri kecilnya yang tampak tertawa mendengar ucapan Abinya.


"Sini Sayang sama bunda, Abi mau sarapan," Yumna mengambil alih putrinya dari pangkuan suaminya. Meletakkan putri kecilnya itu di atas sepeda dorongnya.


"Nanti pulang jam berapa, Mas?" Yumna menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Sambil dia mengunyah, tak lupa menyuapi putri kecilnya dengan bubur yang tadi dia buat.


"Hmm, palingan malam Bun


Kenapa?" Andi menghentikan suapan pada mulutnya saat istrinya bertanya.


"Nanti kalau Mas sempat, beliin aku martabak kacang jagung ya," pintanya.


Andi mengangguk. " Iya Bun, nanti in sya Allah, Mas usahain buat belinya untuk kamu,"


Selanjutnya mereka meneruskan sarapan pagi dengan tenang.


"Bunda, Mas pegi dulu ya. Jaga diri baik-baik di rumah," Andi mencium dahi istrinya setelah wanita itu mencium tangannya seperti yang biasa laki-laki itu lakukan.


"Iya Mas, kamu hati-hati pergi dan pulang nanti ya Mas. Jangan lupa baca do'a," Nasehatnya.


Andi hanya mengangguk. "Saya abi berangkat kerja dulu ya. Ai jangan nakal di rumah sama Bunda ya," Beberapa kali Andi mendaratkan ciuman pada pipi gembul putrinya yang tertawa dengan ulah Abinya. Mungkin saja Aileen merasa geli dengan bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang Abinya.


"Iya Abi, Ai pasti akan anteng kok sama Bunda," Yumna menirukan suara anak kecil untuk menjawab ucapan suaminya.


****


Reyhan tengah mematut dirinya di depan cermin. Melihat penampilannya, apakah sudah lebih baik atau belum. Menyisir rambutnya ke arah kanan seperti dulu yang dia lakukan.


"Sayang kita berangkat sekarang," ujarnya.


"Baik Mas,"


Sesuai rencananya, Reyhan dan Lani akan berkunjung ke rumah Yumna. Untuk meminta maaf kepada mantan istri serta putranya. Meski merasa gugup, namun Reyhan tetap akan berusaha meminta maaf kepada anaknya yang sudah dia buat terluka batinnya.


Taksi yang dinaiki Lani maupun Reyhan sampai di depan rumah yang tampak sangat bersih. Lama tak berjumpa ke rumah itu, membuat rumah itu semakin berbeda dari beberapa tahun lalu. Dengan pot bunga besar yang menghiasi halaman rumah dengan ditanami pohon lindung.


"Assalaamualaikum," Beberapa kali Lani mengetuk pintu rumah itu.


"Wa'alaikumsalam," Terdengar jawaban dari dalam rumah.


Ceklek...


Tampak seorang wanita muda yang membukanya pintu. Raut bingung menghiasi wajah wanita itu. Bingung dengan Lani dan Reyhan yang datang ke rumahnya.


"Maaf Pak, Bu mau cari siapa ya?" Wanita itu tampak bingung.


"Emmm, kami mau bertemu dengan pemilik rumah ini Mbak," jawab Lani.


"Ohh, ketemu Mbak Yumna ya Mbak?" tanya wanita itu mengerti. Mungkin saja pemilik rumah ini keluarga dari sepasang suami-istri itu.


"Iya Mbak, apakah dia ada?" Kini Reyhan yang angkat bicara.


Raut wajah yang tadinya tampak ceria dari wajah Reyhan, kini tampak mengendur. Dia tak menyangka jika mantan istrinya itu sudah pindah dari rumah ini.


"O-oh, apa sudah lama Mbak? Dan mereka pindah kemana ya Mbak, kalau kami boleh tahu?" Reyhan menetralkan detak jantungnya. Takut jika dirinya tak bisa lagi bertemu dengan putranya. Maka rasa penyesalan yang masih menggerogoti dirinya tidak akan pernah hilang sampai kapanpun.


"Sudah lama banget Mbak, lebih kurang tiga tahun yang lalu mereka pindah dari sini. Kemana mereka pindah saya tidak tahu Mbak, soalnya mereka tidak memberi tahu saya," jawabnya.


Lagi-lagi raut wajah Reyhan semakin mengendur. Tak menyangka jika Yumna akan pindah dari rumah ini semenjak dia masuk kedalam jeruji besi. Kemana? Kemana lagi dia harus mencari keberadaan mantan istri serta putranya. Kapan dia akan mendapatkan kata maaf dari mereka jika dia tak bertemu dengan anak serta mantan istrinya itu. Dadanya terasa kembali sesak. Nyatanya perbuatannya memang tak pantas untuk dimaafkan sampai kapanpun. Buktinya saja mereka pindah dari rumah ini. Bahkan tak tau kemana mereka pindah.


"Ya sudah, terima kasih Kak, informasinya. Maaf jika kami menganggu waktu istirahat Mbak,"


"Iya tidak apa-apa, Mas,"


Akhirnya Lani maupun Reyhan kembali pulang dengan membawa kekecewaan. Apa yang tadi dibayangkan Reyhan nyatanya hanya angan belaka yang tidak dia dapatnya. Senyum manis menghiasi bibirnya kini tak tampak lagi. Yang ada hanya wajah penyesalan yang tak berkesudahan.


"Kemana kita akan mencari mereka, Sayang? Sungguh Mas tak dapat lagi membendung rasa penyesalan yang teramat sangat ini. Setiap hari rasa penyesalan itu tidak ada hentinya," Raut wajah Reyhan berubah sendu. Laki-laki itu sungguh rapuh saat ini. Rasa penyesalan yang teramat ini membuatnya sesak.


"Sabar Mas, suatu saat pasti kita akan menemui mereka. Percaya sama aku," Lani mengusap bahu suaminya dengan lembut. Menyalurkan kekuatan untuk suaminya.


*****


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kediaman Andi. Yumna tengah melakukan video call bersama putranya.


("Assalamualaikum Bunda, Ai,") salam Ali dari sebrang sana.


("Wa'alaikumsalam, Sayang. Kamu apa kabar Nak?") Yumna menatap wajah tampak putranya. Sungguh dia sangat rindu dengan putranya itu.


("Alhamdulillah kau baik Bun, Bunda apa kabar?")


("Alhamdulillah bisa sehat, Sayang. Gimana kuliahnya disana Nak? Apa lancar?")


("Alhmadulillah lancar Bun. Abi sama Ai gimana kabarnya, Bun?")


("Alhamdulillah Abi sama Ai sehat Nak. Kamu di sana jaga diri ya, jangan pernah buat bunda sama Abi kecewa sama kamu, Sayang. Ingat pesan Abi sebelum kamu kuliah di sana,") Yumna memperingatkan putranya agar tidak salah dalam pergaulan. Apalagi kuliah di luar negeri itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi di sana mayoritasnya sangat bebas. Banyak godaan yang bisa saja datang tanpa dapat dicegah.


("Iya Bun, aku pasti akan selalu ingat pesan Abi sama pesan dari Bunda. Terima kasih Bunda,")


("Sama-sama Sayang. Jangan lupa jaga kesehatan ya Nak,")


"Iya Bun. Aku tutup dulu ya Bun. Tugasku masih banyak. Oh ya Bun, sampaikan salam aku buat Abi. Bilang sama Abi jika aku sangat merindukannya,")


("Iya Nak, nanti Bunda sampaikan kepada Abi, jika Abi sudah pulang dari ruang sakit,")


"Iya Bunda, assalamualaikum,")


("Wa'alaikumsalam, Sayang,")


Yumna kembali meletakkan benda pipih itu di atas meja. Bergabung dengan putrinya yang asik dengan boneka yang dibelikan Andi beberapa minggu yang lalu. Putrinya tampak sangat bahagia memainkan boneka tersebut, tanpa merasa terganggu dengan sang Bunda yang ikut bergabung dengan dirinya.


TBC