Diceraikan

Diceraikan
Bertemu Kembali


Semua hidangan telah tersusun rapi diatas meja bundar. Piring serta sendok juga sudah tersusun sesuai dengan kursi yang biasa digunakan untuk duduk. Tak banyak makanan yang terhidang diatas meja tersebut.


Satu kepala keluarga serta tiga orang wanita yang sangat dicintai laki-laki berparas tampan itu. Sang istri mengambilkan nasi sesuai dengan porsi sang suami. Selanjutnya wanita yang berstatus istri itu mengambilkan nasi untuk ibu mertuanya, lalu sang putri dan yang terakhir untuk dirinya. Beginilah keluarga kecil itu. Tampak harmonis tanpa ada pertengkaran yang serius.


Mereka makan dengan tenang seperti biasanya. Tak ada yang berbicara jika tak mendesak. Bahkan keluarga ini hanya sesekali saja berbicara ketika makan. Mungkin memang ciri khas dari keluarga itu.


Pukul sembilan malam Reni sudah berada di atas tempat tidurnya dengan memegang benda pipih di tangannya. Membuka aplikasi berwarna putih biru. Men scroll sampai kebawah. Ntah apa yang saat ini dia cari. Mata jernih itu tetap fokus pada layar pipih yang tengah menyala.


Selanjutnya dia keluar dan masuk pada aplikasi bewarna unggu yang ada sedikit kuning dan putih sepeti kamera. Kembali men scrool beranda pada aplikasi yang baru saja dia buka. Ntah apa yang mau dicari gadis remaja itu. Tak ada satupun yang menarik perhatiannya. Cukup lamar dia bermain dengan benda pipih di tangannya, akhirnya gadis remaja itu meletakkan gawai tersebut diatas nakas samping tempat tidurnya.


Mengambil selimut dan menutupi tubuhnya hingga batas dada. Memejamkan mata agar lekas tertidur.


***


Seorang wanita paruh baya, ahh mungkin tidak lagi wanita paruh baya lantaran umurnya sudah sangat tua. Namun masih terlihat agak cantik meski wajahnya sudah ada yang berkerut. Menenteng tas coklat di tangan kirinya.


Kaki itu melangkah menuju pinggir jalan untuk menyebrang kesebuah taman. Matanya terus saja melihat kesana-kemari. Netra yang sudah mulai agak mengerut itu melihat sesosok pemuda yang sangat ingin dia tinggal bersamanya.


Kakinya melangkah menuju pemuda itu. Dengan senyum mengembang di bibirnya. "Boleh nenek duduk di sini Nak?" tanyanya pada pemuda yang tengah sibuk dengan buku yang ada ditangannya.


Melipat sebentar buku tersebut, dan menatap wanita yang ada di depannya. Dengan pandangan yang kurang menyenangkan pemuda tersebut mempersilahkan wanita itu untuk duduk meski hatinya berat. "Iya Nek, silahkan," balasnya.


"Kamu sama siapa di sini Nak?" tanya wanita itu menatap pemuda disampingnya.


"Sendiri," jawab pemuda itu.


Wanita itu menganggukkan kepalanya tanpa dilihat pemuda di sampingnya. Banyak perkataan yang tengah berputar dikepala wanita itu.


"Ibu kamu mana Nak?" tanya wanita itu kembali.


"Di rumah," balasnya.


"Emm, boleh nenek ngomong sesuatu?" tanya wanita tua tersebut. Berharap laki-laki itu mengiyakan ucapannya.


"Silahkan," balasnya.


"Apa kamu mau tinggal bersama nenek dan ayah kamu di rumah kami yang besar?" pancing nya. Berharap sang pemuda akan luluh dengan ucapannya yang terkesan sombong.


"Ya kamu pasti akan senang tinggal bersama kami. Apalagi di rumah juga ada ibu serta adik kamu. Yang pastinya akan menambah keramaian di rumah nantinya," ujar wanita itu dengan dengan bangganya.


"Lalu?" ujarnya.


"Ya kamu tinggal bersama kami, terus tinggalkan saja ibumu itu sendiri. Lagian dia bisa menjaga dirinya sendiri. Dan ya biarkan saja dia sendirian kan selama ini kamu tidak pernah merasakan sosok seroang ayah," ujarnya lagi.


Pemuda itu emosi mendengar ucapan wanita tua tersebut. Enak sekali dia menyuruh meningalkan wanita yang telah melahirkan serta merawat dirinya dengan penuh kasih sayang. Ingin rasanya dia memukul bibir yang tetap berceloteh yang membuat pemuda itu muak. Tapi semua itu dia tahan. Ingin melihat sampai kapan wanita tua itu akan menjelekkan Bundanya.


Melihat pemuda itu tetap diam wanita tua itu melanjutkan ucapannya. Dia menyangka pemuda itu pasti akan menuruti ucapannya. Melihat dari reaksi pemuda itu hanya diam tanpa ekspresi.


"Kamu tau tidak, dulu itu ibu kamu menikah dengan putranya nenek selama lebih kurang delapan tahun. Selama itu tak sekalipun dia hamil. Bahkan sampai dia diceraikan sama ayah kamu. Dan tau-taunya dia tengah hamil. Apa kamu tau, ibumu itu tidak memberi tahu sedikitpun kepada kami jika dia tengah hamil anaknya putra nenek. Andai saja dulu dia memberi tahu pasti kamu sekarang sudah hidup enak sama nenek dan juga ayah serta ibu sambung kamu. Nenek jamin kamu pasti akan bahagia. Apalagi kamu memilikk adek serta ibu sambung yang pasti akan menyayangi kamu seperti anaknya sendiri. Nenek yakin itu." paparnya menarik nafas dalam untuk melanjutkan ucapannya. "dan ya asal kamu tau ibu kamu tidak tidaklah baik seperti yang kamu bayangkan selama ini. Dia hanya baik di depan kamu saja. Dibelakang kamu dia sangatlah jahat. Bahkan nenek pernah mendengar kalau dia pernah menjelekkan kamu kepada orang lain. Padahal kamu sendiri anak kandungnya sendiri. Jahat sekali dia itu bukan?" lanjut wanita itu. Dengan seenak jidatnya dia malah menfitnah wanita yang dulu sangat dia sayangi.


"Jangan pernah anda menfitnah Bunda saya!!" bentak pemuda itu dengan lantang. Bahkan banyak dari pengunjung taman tersebut melihat ke arah mereka. Ali hanya cuek, terserah jika mereka mau berkomentar apa tentang dirinya. Yang jelas dia sangat muak serta marah jika bundanya dijelek-jelekan seperti ini.


Ali, pemuda yang sejak tadi hanya menahan amarahnya kepada wanita tua tak tau diri itu. Dia diam bukan berarti akan termakan ucapan tak bermutu wanita itu. Diamnya karena ingin mendengar seberapa kejamnya wanita tua yang nasnya lagi malah nenek kandungnya sendiri. Ingin rasanya Ali memberi bogeman mentah pada mulut kurang ajar wanita itu.


"Nenek tidak menfitnah kok, emang itu kenyataannya. Bahkan asal kamu tau ibu kamu itu diceraikan juga lantaran mulutnya yang pedas kepada putra nenek. Kamu harus percaya itu!!" ucapnya. Meski agak terkejut dengan respon pamuda itu, dia akan terus menfitnah Yumna agar pemuda itu percaya dengan ucapannya. Dia ingin pemuda itu tinggal dirumahnya bersama anak dan menantunya.


"Cihhh, emang saya percaya dengan tipu yang anda ucapkan kepada saya? tidak sama sekali. Anda hanya kenal bunda saya selama delapan tahun sedangkan saya delapan belas tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Saya tau bagaimana bunda saya, dan jangan lupakan jika omongan ada Itu merupakan bagaiamana diri anda sebenarnya. Dan ya, jangan berharap saya akan termakan omongan palsu yang anda lontarkan. Bahkan jauh di lubuk hati saya, saya sangat muak dengan anda. Bahkan tak ingin anda yang menjadi nenek kandung saya!!" bentak Ali kepada wanita tua itu.


Wanita itu cukup terkejut dengan perkataan pemuda itu. Harapannya sirna seketika. Melihat pemuda itu berdiri dan meningalkan dirinya langsung saja wanita itu mengejarnya. Berharap pemuda itu mau mendengarkan lagi ucapannya.


"Nak percaya sama nenek, jika ibu kamu tidaklah sebaik yang kamu bayangkan. Dia itu wanita licik!!" ujarnya dengan lantang membuat kaki panjang laki-laki itu berhenti seketika.


Senyum manis menghiasi wajah wanita itu. Akhirnya pemuda itu berhenti yang otomatis dia percaya dengan ucapannya.


Pemuda itu membalikan badannya, dan melangkah mendekati wanita tua itu dengan wajah penuh amarah.


"Licik? cihh... Bahkan yang licik itu anda bukan bunda saya. Dan harus anda ingat, saya sangat bersyukur bunda saya tidak ada lagi hubungannya dengan keluarga anda, andai saja bunda saya masih menjadi menantu anda, ntah seperti apa sikap anda kepadanya. Terimakasih hinaan yang anda ucapkan tentang bunda saya. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah percaya dengan ucapan kotor penuh fitnah dari mulut anda. Bahkan jika boleh memilih saya tidak akan pernah mau menjadi bagian dari darah daging putra anda!!!" ujar Ali menekan setiap kata-katanya.


Setelah itu pemuda itu meningalkan wanita itu degan wajah penuh esmosi. Dia sangat emosi mendengar ucapan wanita tua tak tau diri itu. Rasanya ingin sekali Ali menghajar wanita tua tersebut. Jika tak mengingat jika dia wanita dan juga sudah tua, Ali sudah dari tadi memberikan bogeman mentah kepada wanita itu yang tak lain adalah Rena.


TBC