Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Bertemu


"Ntar keduluan sama yang lain baru tahu rasa kamu, Mik," ujar Tiana menatap gadis itu.


Mika mengedikkan bahunya. "Kalau emang Abang suka sama yang lain aku juga nggak bisa ngapa-ngapain Tia, itu sudah pilihan Abang. Lagian aku juga nggak akan bisa maksa hati Abang buat aku, bukan?" Mika menatap balik ke arah Tiana.


"Iya, kamu bener Mika,"


"Itulah Tia. Sekuat apapun aku maksain hati Abang buat aku, jika memang akunya yang nggak ada di sana kan percuma. Mengatakan cinta sama Abang memang gampang tapi, aku harus pikirin juga bagaimana nanti hatiku. Untung kalau hatinya sama kek aku, ya otomatis senang. Tapi, kalau hatinya bukan buat aku, malah hati aku yang hancur," ujarnya.


"Iya kamu bener banget Mik. Tapi apa kamu kuat mendam perasaan sendiri. Padahal ini bukan lagi satu bulan dua bulan loh, malah sudah bertahun-tahun."


"Jika aku masih mampu akan aku tahan Tia. Namun, jika aku memang sudah tak kuat lagi akan aku ungkapin sama Abang. Baik dia nerima atau tidak. Baik Abang kecewa sama aku dan hati aku hancur juga tak masalah. Memang salah aku yang naruh hati sama Abang. Mungkin saja aku yang nganggep lebih pada Abang. Tak apa, perasaan tidak ada yang tahu kemana dia akan berlabuh." Mika membayangkan wajah ceria Ali. Canda dan tawa yang mereka lalui selama ini. Sungguh membayangkan itu semua sudah membuat Mika bahagia, apalagi jika jadi kenyataan.


"Tetap semangat Mik. Meski nanti di tolak sama Mas Ali, aku yakin masih ada laki-laki yang akan dekat sama kamu. Lagi laki-laki di dunia ini bukan hanya dia doang. Setiap kesedihan pasti ada bahagianya." hibur Tiana sambil mengusap-ngusap bahu Mika dengan lembut.


"Iya kamu bener Tia. Bukankah kita di ciptakan berpasang-pasangan. Jika tak ada di dunia jodoh kita, aku yakin di akhirat nanti Allah sudah siapkan seorang pendamping untuk aku," ujar Mika dengan senyuman.


"Iya Mik, kamu bener. Tapi aku berharap jodoh aku adanya di dunia. Aku juga pengen ngerasain surga dunia, hahah," ujar Tiana dengan tertawa. Sungguh saat mengatakan 'surga dunia' rasanya dia sangat geli.


Mika menoyot kepala Tiana. "Pikiran kamu Tia,"


"Lah orang bener kok Mik. Emang kamu nggak mau apa ngerasain suara dunia?" Tiana menatap Mika dengan intens.


"Ya pengen lah Tia, jika saja Abang ngajakin aku nikah sekarang aku mau kok, heheh. Nggak bakal nolak aku man," Mika cekikikan saat mengatakan itu. Jujur jika saja itu terjadi, Mika tidak akan pernah nolak barang sekalipun. Siapa yang akan nolak nikah, pahala paling lama selama hidup. Apalagi dengan orang yang dicintai.


"Nah kamu saja ngomongnya gitu. Berarti pikiran kita sama Mika," Tiana tak mau kalah dengan Mika.


"Iya, Iya deh. Aku ngalah lagi sama kamu tapi besok-besok aku nggak mau kalah lagi adu argumen sama kamu Tia,"


"Ok, aku tunggu ya Mik. Siapa lagi yang menang adu argumen sama aku. Si itik kampus saja kalah argumen sama aku, apalagi kamu, hahah,"


"Isss kamu Tia. Ok ntar aku usahain agar kamu kalah argumen sama kamu," ujar Mika dengan serius. Memang setiap ngomong sama Tiana, Mika selalu kalah. Hanya sekali-sekali gadis itu kalah dari Mika.


"Biaklah aku tunggu Mika,"


"Kakak Mimi, Aileen lelah," Aileen dan Azlan menghampiri Mika dan juga Tiana. Gadis kecil itu sudah tampak sangat lelah. Apalagi ada keringanan yang membasahi dahinya. Di tambah wajahnya yang memerah lantaran terlalu lama bermain lari-larian bersama Azlan.


"Ya sudah, kita masuk ke dalam rumah ya. Istirahat sebentar selalu itu baru mandi. Ai sudah bau keringat tau," Mika menutup hidungnya seolah-olah Aileen memang bau.


"Isss, nggak kok Kakak Mimi. Kata Bunda, Ai selalu harum," jujurnya.


"Kalau Aileen sudah mandi baru harum tapi kalau berkeringat seperti ini Ai bau. Coba saja tanya sama Kakak Titi,"


Gadis kecil itu menatap Tiana yang kini tengah menggendong Azlan. Mengusap-ngusap dengan lembut rambut anak kecil itu. "Benar apa yang dikatakan Kakak Mimi, Kakak Titi?" tanyanya. Aileen suka memanggil nama seseorang dengan nama depan dua anggka namun di tambah. Contohnya saja nama Mika jadi Mimi begitupun dengan Tiana.


"Iya Ai, apa yang dikatakan Kakak Mimi itu benar. Makanya Ai istirahat sebentar setelah itu baru mandi. Biar Ai jadi harum, begitupun dengan Azlan," Tiana mengusap lembut surai bocah laki-laki itu.


"Baiklah Kakak, Ai mau masuk dulu ke dalam rumah. Ayo Azlan kita masuk," Aileen menarik lembut tangan mungil adiknya. Azlan tampak patuh saja dengan apa yang dilakukan Aileen.


"Iya Tia, aku juga pengen. Tapi itu tergantung lagi dengan kita. Tergantung bagaimana cara kita mendidik mereka," jelas Mika.


"Iya Mik,"


***


Saat ini Ali tengah memeriksa satu persatu pasiennya. Sudah lebih dari lima belas orang pasien yang datang. Hanya tinggal satu lagi pasien yang akan masuk ke dalam ruangannya. Setelah itu tugas Ali selesai dan pemuda itu akan langsung pulang ke rumah. Mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.


Seseorang masuk ke dalam ruangan Ali. Pasien terakhir Ali, namun laki-laki itu masih fokus menatap kertas putih yang berada di tangannya.


"Atas nama Nina Anjani ya Bu," ucap Ali yang melihat nama yang tertulis di kertas putih itu.


"Iya Dok," balas wanita itu.


Ali mendongakkan kepalanya. Netra itu berdiri Bpk dengan metta wanita yang kini juga tengah menatap dirinya. Terkejut? Jelas Ali maupun wanita itu terkejut. Pertemuan tak terduga antara saudara tiri.


"Kak Ali,"ujar Reni terkejut. Terkejut melihat dokter muda yang berada di depannya itu. Dokter yang merupakan kakak tirinya sama ayah namun beda ibu.


"Reni?!" Ali juga sangat terkejut dengan pertemuan mereka. Selama Ali bekerja di rumah sakit itu, baru kali ini Ali melihat Reni.


"Ahhh ya apa kabar Kak? Sudah lama kita tidak berjumpa," ujar Reni menatap laki-laki yang sangat mirip dengan Reyhan. Mengingatkan lagi bertapa rindunya wanita itu dengan Ayah mereka.


"Ahh, alhamdulillah aku sehat Ren. Kamu gimana?" tanyanya.


"Seperti yang Kakak lihat, aku sehat," balasnya. "bisa kita ngomong sebentar setelah ini Kak?" lanjutnya penuh harap.


Ali berfikir sejenak. "Baiklah, lagian setelah ini tidak ada lagi pasien," balas Ali.


Ali memeriksa keadaan anak, Reni. Gadis kecil itu terlalu banyak memakan coklat serta permen yang mengakibatkan giginya banyak yang berlobang dan pecah-pecah. Ali menasehati anak kecil itu agar mengurangi untuk memakan kedua itu. Jika dirinya tak mau kembali merasakan sakit seperti saat ini.


Anak itu hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Ali. Jelas terlihat dari raut wajahnya jika dirinya tak mau mengalami sakit seperti itu lagi. Apalagi Reni memberi salompas pada bagian kiri dan kanan pipi anaknya.


"Nina dengar bukan apa yang dikatakan Om Dokter?" ucap Reni kepada anak gadisnya.


"Iya, Mama," balasnya.


"Bagus, itu baru anak mama. Mama nggak suka jika Nina ngebantah Mama," peringatnya.


"Iya Mama, Nina nggak akan bantah Mama lagi," balasnya.


"Bagus!"


Ali hanya menatap interaksi antara anak dan ibu itu. Gadis kecil yang sangat lucu, mengemaskan seperti ke-dua adiknya yang berada di rumah. Ahh rasanya Ali ingin sekali cepat pulang dan bercerita banyak hal dengan ke-dua adik kecilnya.


TBC