
Deg...
Jantung Ali berdetak dengan kecang. Kenapa? kenapa dirinya disalahkan dengan sesuatu yang tidak pernah sekalipun dia perbuat.
Bahkan jatuhnya sang nenek dia saja tidak tau. Bahkan kaki panjangnya belum menapaki anak tangga. Babagaimana dia jadi tersangka dari kecelakaan yang bahkan tidak ada sedikitpun campur tangan dirinya. Namun sang ayah menuduhnya sedemikian rupa. Bahkan tanpa menanyakan terlebih dahulu apa yang terjadi sebelumya. Dan lagi masalah putrinya yang menjauhi laki-laki itu juga dirinya yang disalahkan. Dimana letaknya jika dirinya yang salah karena putrinya menjauhi dirinya. Apakah seburuk itu pikiran Ayahnya terhadap dirinya. Bahkan dia hanya satu kali dalam seminggu berada di rumah itu.
Reyhan mengangkat tubuh Ibunya menuju mobilnya yang terparkir di garasi. Dengan sedikit berlari laki-laki itu memopong tubuh wanita tua itu dengan perasaan bercampur aduk. Ada rasa takut yang kini tengah menghantui dirinya. Melihat bagaimana sang ibu yang bersimbah darah, apalagi ini disekitar kepalanya. Banyak kemungkinan yang kini bersarang di kepala Reyhan.
Dirasa sang ibu sudah diletakkan baik-baik, Reyhan langsung saja masuk ke dalam kemudi. Melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah sakit.
Sedangkan Ali, tersadar kala mendengar bunyi mobil Reyhan. Langsung saja pemuda itu berlari cepat ke dalam kamar untuk mengambil kunci motornya. Menyusul sang ayah dari belakang menuju rumah sakit yang akan di tuju Reyhan. Walau bagaimana pun, Ali tetap akan pergi ke rumah sakit. Memastikan bagaimana keadaan Neneknya. Apa yang akan terjadi nanti biarlah itu nanti terjadi. Yang terpenting kini dia ikut menyusul sang ayah.
Sekuat apapun nanti ayahnya meneduhnya, jika dia tidak bersalah untuk apa dirinya takut. Bahkan dilaporkan ke polisi sekalipun, jika dia tak salah kenapa harus takut dan kabur dari apa yang tengah terjadi saat ini.
Akhirnya mobil yang membawa Reyhan serta Ibunya sampai di rumah sakit. Langsung saja laki-laki itu mengeluarkan sang ibu dari dalam mobil. Memanggil suster dan dokter untuk membantu sang ibu. Membantu keselamatan wanita yang sudah melahirkan serta membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu.
Mata Reyhan kini tengah mengembun. Dengan air mata yang hendak meluncur lurus dari dalam pelupuk mata tegas itu. Sungguh dia tak kuasa melihat keadaan Ibunya yang terbilang sangat mengenaskan.
Ali ikut masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Mengikuti neneknya yang sudah dibawa suster menggunakan tempat tidur dorong untuk dibawa ke ruang UGD. Ali memilih mengambil jarak dengan Reyhan kira-kira enak langkah dibelakang laki-laki itu. Ali tak mungkin langsung mendekat, yang ada Ayahnya itu pasti akan murka tanpa sebab yang jelas. Maka dari itu Ali lebih memilih menjaga jarak dari ayahnya itu.
Reyhan duduk di depan ruang UGD sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Mengusap air mata yang keluar dari matanya. Tak akan ada seorang laki-laki tidak akan menangis jika itu berhubungan dengan orang-tuanya. Sekuat-kuatnya laki-laki pasti akan menangis jika hal itu berhubungan dengan orang-tua.
Aku melangkah dan duduk di samping laki-laki yang berstatus ayah kandungnya itu.
"Ngapain kau ikut kesini ha!?" Reyhan yang merasakan ada seseorang duduk di sampingnya langsung saja menegakkan kepalanya. Melihat putranya dengan sorot mata kebencian.
"Aku ingin melihat keadaan Nenek, Yah," jawab Ali dengan santai.
"Karena dia Nenek, aku juga," jawab Ali yang masih santai. Tidak mau terbawa emosi karena ucapan Reyhan.
"Cihh, Nenek. Sejak kapan kau mengakuinya Nenek? bahkan sejak kau mencelakai Ibu, Saya. Sejak saat itu tidak ada lagi hubungan antara kau dengan ibu, saya. Bahkan dengan saya!!" tekan Reyhan di setiap kata-katannya.
Ali terdiam mendengar ucapan pedas Ayahnya. Sungguh kata-kata yang sangat menusuk ke ulu hati. Perih, seperti anak panah menancap dalam tanpa bisa dilepas. Seburuk itu citra dirinya dimata Ayahnya sekarang. Padahal dia tidak bersalah sama sekali. Kejadian yang bahkan dirinya juga tidak berawal dari mana. Bahkan dia melihat sang nenek sudah berguling di tangga ketujuh saat dia baru akan mengajak tangga pertama. Jika dilihat, memang seperti dirinya yang sengaja mencelakai sang nenek. Tapi jika orang teliti tidak akan menyalahkan dirinya, lantaran gelas yang dipegang ali jatuh saat sang Nenek sudah pada tangga ke delapan. Jika saja memang dia yang membuat sang nenek jatuh, sudah di pastikan dari awal gelas itu jatuh dari tangannya, bersamaan dengan jatuhnya Rena. Namun ini, ayahnya menyalahkan dirinya.
Sungguh jahat. Ahhh Ali sempat lupa jika laki-laki itu memang jahat. Jika tak jahat tak mungkin dia meninggalkan sang bunda saat dia tak memberinya keturunan. Sungguh keluarga terjahat yang pernah Ali temui. Bahkan orang lain saja sangat baik kepada mereka, ini keluarga kandungnya, apalagi ini Ayahnya. Ayah kandung yang tega menfitnah dirinya tanpa ada bukti nyata. Hanya menilai dari apa yang dia lihat saja tanpa mau mencari tahu kebenaran dari sebuah kejadian yang terjadi. Sungguh miris Ali memikirkan apa yang sekarang tengah bersarang dikepala. Miris melihat seorang Ayah yang nyatanya memiliki pangkat, namun otaknya tak sesuai dengan pangkat yang dia miliki. Memang, segala sesuatu jangan sangkut pautkan dengan profesi yang di duduki seseorang. Hanya saja banyak orang akan berkata demikian. Tak hanya pikiran Ali bahkan pikiran orang lain pasti akan sampai kesana. padahal yang nyatanya tak ada hubungannya pangkat dengan tingkah laku seseorang.
Begitulah kalau sudah mulut orang lain berkata akan membawa segalanya tanpa mau menfilter satu kata pun. Yang terpenting penilaian tetap benar, tanpa tau jika itu tak seharusnya disebut. Pangkat ya pangkat, sedangkan tingkah laku, juga berdiri dengan sendirinya.
"Kenapa?" tanya Ali setelah sekian lama terdiam.
"Apa yang kau maksud kenapa?!" Reyhan menatap sinis pemuda itu. Tetap pancaran kemarahan serta kebencian itu melekat dimatanya.
"Kenapa Ayah memutuskan hubungan kita?" tanya Ali menatap laki-laki itu seperti biasa. Namun yakinlah hatinya saat ini tengah sakit dengan kata-kata tajam Ayahnya. Sabar hanya itu yang sekarang Ali lakukan. Tapi yakinlah jika rasa sabar itu terus teruji, tidak akan menutup kemungkinan akan ada ledakan yang akan keluar nantinya. Manusia tidak akan pernah bersabar selamanya. Akan ada batasnya, jika tak lagi kuat pasti akan keluar tanpa dapat di kontrol.
"Cihhh... masih saja kau tidak mengerti dengan apa yang saya katakan. Apa kau memang bodoh!!!" sarkas Reyhan menatap Ali dengan tajam. "baiklah akan saya perjelas kenapa saya memutuskan hubungan dengan kau. Kau itu pembawa petaka bagi keluarga saya!! Yang pertama, putri saya menjauhi saya dan yang kedua Ibu saya celaka karena kau dan ntah apa yang akan terjadi jika kau masih saja berada di rumah saya!! jadi mendingan kau pulang. Tidak usah balik lagi ke rumah saya. Bawa apa pun yang berhubungan dengan kau yang ada di rumah saya!!" lanjut Reyhan dengan mata memerah menahan marah serta kebencian.
"Tapi saya tidak melakukan apapun terhadap Nenek?" bela Ali. Lagian tidak mungkin dia mengakui kesalahn yang bahkan tidak pernah dia lakukan.
"Kau pikir saya bodoh?? jangan harap. Bahkan saya percaya dengan apa yang saya lihat!!" balas Reyhan. "Cepat pergi dari sini, sebelum saya melakukan sesuatu yang akan membuat kau menyesal. Dan ingat!! jangan pernah datang ke rumah saya lagi." ujar Reyhan mengusir Ali dengan tak terhormat.
Ali mengangguk. Tak mungkin dia membela dirinya yang tak akan membuahkan hasil yang baik. Sekuat apapun Ali membela diri, maka laki-laki itu akan terus menyangkal ucapannya. Dia akan tetap kukuh dengan apa yang dia lihat.
TBC