
Hari ini Mika sudah kembali bekerja seperti biasanya. Masa cuti yang hanya 1 minggu telah usia.
"Sudah siap Dek?" Ali memasuki kamar untuk menjemput sang istri karena baru saja menghidupkan mesin mobil. Ali akan mengantar istrinya ke kantor mulai hari ini dan untuk selanjutnya.
"Sudah Bang, yuk berangkat," Mika memegang erat tangan suaminya. Menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan begitu mesranya.
"Bunda, Abi, kami berangkat dulu ya?" pamit Ali mencium tangan orang-tuanya dengan takzim diikuti Mika sang istri.
Mika dan Ali mengobrol banyak saat di perjalanan menuju kantor. Tak pernah ada kata sunyi saat mereka masih bersama. Jika saja ada penumpang lain yang bukit dengan mereka sudah pasti merasa jengkel dengan kelakuan pasutri baru itu. Bukan hanya membahas masa depan tapi, mereka juga membahas hal-hal menjengkelkan saat mereka masih kecil. Membahas masa-masa yang tidak pernah mereka lupakan saat masih berada di kampung.
Akhirnya mobil yang dikendarai Ali sampai di di halaman kantor tempat di mana Mika bekerja.
"Bang aku pamit dulu ya," Mika mengambil tangan besar suaminya untuk di cium sebelum keluar dari dalam mobil.
"Iya Dek, kamu yang semangat kerjanya ya? Abang akan selalu mendo'akan kebaikan untuk kamu, Dek," ucap Ali setelah mencium dahi sang istri cukup lama.
"Iya Bang terima kasih. Abang juga yang semangat kerjanya," ucap Mika sebelum benar-benar keluar dari dalam mobil.
"Iya Dek, itu sudah pasti," jawab Ali menampilkan senyum manisnya.
Mika melihat mobil yang dikendarai Ali hingga hilang di penglihatan matanya. Barulah setelah itu Mika memasuki gedung pencakar langit dimana dirinya mencari pundi-pundi rupiah.
"Pagi Tiana?" sapa Mika saat telah sampai di ruang kerja.
"Pagi penganti baru," balas Tiana dengan tersenyum manis. "bagaimana malam pertamanya Mika? Apa enak atau menyakitkan?" lanjut Tiama dengan kepo.
"Gih nikah biar kamu tahu gimana rasanya," jawab Mika langsung duduk di kursinya. "Kak Yuda belum datang Tiana?" lanjut Mika mengalihkan pertanyaannya. Karena terlalu malas jika membahas hal yang tidak harus dibahas secara gamblang.
"Belum Mika, biasanya sih dia paling dulu datang dari aku, tapi hari ini tumbenan dia telat," jawab Tiana.
"Hmm gitu ya Tia,"
Setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaan, akhirnya waktu istirahat sudah datang. Mika membereskan meja kerjanya begitupun dengan yang lain.
"Tiana, Kak Yud, Kak Yan, aku hari ini nggak bisa makan bareng kalian ya, soalnya sudah janji sama suami aku," izin Mika yang di angguki mereka bertiga. Lagian mereka juga tidak bisa melarang Mika untuk tidak makan bersama suaminya. Apalagi tempat kerja mereka juga sangat berdekatan.
Yanda menatap wanita yang masih di cintainya dengan tatapan sendu. Tak menyangka jika wanita itu sekarang sudah menjadi milik orang lain. Sungguh tak ada harapan untuk dirinya memiliki wanita itu batang secuil pun.
"Sabar Kak, aku yakin suatu saat Kakak pasti akan mendapatkan seorang istri yang lebih baik dari Mika," Tiana menepuk pelan bahu kokoh Yanda. Memberi kekuatan kepada teman seprofesinya itu. Tiana jelas menangkap raut sendu laki-laki itu saat menatap sahabatnya. Mungkin dia amat mencintai Mika namun, lebih memilih mengalah demi kebahagiaan cintanya.
"Sama-sama Kak. Ya sudah yuk kita makan di pantry saja, aku lagi mager ke bahwa," ajak Tiana kepada kedua laki-laki itu.
Sedangkan Mika sudah duduk di restoran bersama suaminya. Mereka memilih untuk makan di sana karena, selama Mika bekerja Mika tidak pernah makan di restoran itu tapi, lebih memilih untuk makan di cafe dengan menu yang tetap sama setiap datang kesana. Bukan tak mau memesan menu lain, hanya saja nasi goreng itu lebih nikmat dari yang lainnya.
"Akhrinya impian Abang untuk makan bareng istri di restoran ini tercapai Dek," ucap Ali di sela-sela makannya.
Mika mengerutkan dahinya tidak mengerti. Seakan-akan Ali tidak pernah makan di sini padahal sudah beberapa tahun dia bekerja di rumah sakit itu. "Maksud Abang?" tanya Mika.
"Abang tidak pernah makan di sini sebelumnya Dek. Abang lebih sering makan di kantin rumah sakit atau palinggan juga di cafe depan. Dulu saat Abang masih belum menikah Abang berkeinginan nanti akan makan bareng dengan istri Abang di sini, maka dari itu sekarang Abang sangat bahagia karena bisa makan bareng kamu di sini," jelas Aku menampilkan senyum manisnya menatap sang istri.
"Hmm, alhamdulillah Bang. Aku kira tadi Abang kenapa sampai berkata begitu. Pantasan sejak masuk tadi abang senyum-senyum nggak jelas. Jadi ini alasan Bang ngajakin aku makan di sini?"
Ali mengangguk. "Iya Dek, makanya Abang langsung ngajakin kamu makan di sini ketimbang di cafe." Jujur Ali mengusap lembut tangan istrinya yang berada di atas meja.
Selanjutnya mereka melanjutkan makanan yang masih tinggal separo. Waktu istirahat yang tidak terlalu lama tidak bisa membuat pasangan baru itu berleha-leha.
"Abang, aku masuk dulu ya?" Mika meraih tangan besar itu untuk di ciuman sebanyak tiga kali. Dua kali di punggung tangan dan satu kali di telapak tangannya.
"Iya Dek, hati-hati jangan terlalu cepat jalannya takutnya kamu jatuh. Abang tidak mau kamu sampai sakit Dek," Ali mengusap kepala istrinya yang terbungkus hijab seblum akhrinya Ali mendaratkan ciuman pada dahi sang istri.
Ali meninggalkan Mika yang juga telah berjalan masuk ke dalam kantor. Dengan senyum mengembang Ali memasuki rumah sakit. Bahkan senyuman itu tidak pernah pudar sekalipun meski dia sudah berada di dalam ruangan.
"Al," Ali menatap seseoeang yang masuk tanpa permisi ke dalam ruangannya. Wanita itu melangkah dengan cepat menuju kursi yang tepat berada di depan Ali.
"Ada apa?" Ali menatap malas wanita itu. Seakan tidak ada bosannya dia menghampiri Ali meski sifat Ali sudah sangat dingin sekalipun.
"Kenapa kamu jahat sama aku?" Mata itu tampak berkaca-kaca.
Ali menaikkan satu alisnya. Menatap bingung dengan ucapan yang terlontar dari mulut wanita yang berada di depannya. Apa maksudnya jahat? Kejahatan apa yang sudah dia lakukan kepada wanita itu? "Maksud kamu apa Win? Kejahatan apa yang sudah aku lakukan sama kamu?"
"Kenapa kami nikah sama wanita lain? Tak kamu lihatkah perjuangan aku selama ini? Tidak tahukah kamu jika aku menunggu kamu selama ini Al? Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini sama aku? Aku tahu masa lalu aku kelam, bahkan tidak bisa di maafkan tapi, demi kamu aku rela meninggalkan dunia itu Al. Demi kamu aku rela tidak pergi lagi ke club malam. Hanya demi kamu aku melakukan itu Al," Air mata Weni luruh sudah dipipi mulus itu.
"Maafkan aku Wen, aku tidak mencintai kamu. Aku hanya mencintai wanita yang kini sudah menjadi istriku," jujur Ali.
"Tapi kenapa Al? Kenapa kamu tidak bisa memberi aku waktu untuk masuk ke dalam hati kamu barang sekalipun? Apakah perjuangan aku selam ini sia-sia di mata kamu, Al? Aku cinta sama kamu Al, aku mencintai kamu makanya aku rela meninggalkan apapun yang menjadi kebiasaan aku,"
TBC