
Hari-hari yang dilalui Ali sangat sibuk dengan mengurus pasiennya yang tak pernah berkurang. Bahkan bisa dikatakan bertambah banyak setiap harinya. Cuma satu faktornya anak-anak yang suka makan permen dan coklat. Membuat gigi mereka sakit bahkan ada yang pecah-pecah serta berulat.
Semenjak pertemuan pertama kali Ali dengan gadis lancang yang masuk ke kamarnya, tak pernah lagi Ali melihat gadis itu di rumahnya. Sudah tiga hari lamanya Ali tak pernah bertemu gadis itu, bahkan saat sarapan pagi maupun makan malam. Intinya Ali tidak tahu kemana gadis itu perginya.
"Dok, apa Dokter sudah makan siang?" Seorang teman seprofesi Ali masuk ke dalam ruangan Ali setelah gadis itu mengetuk pintu.
"Belum Dok," balasnya.
"Bagaimana kalau kita makan siang di kantin?" tawarnya dengan tersenyum.
Ali mengangguk. "Baiklah,"
Akhirnya Ali maupun Weni berangkat menuju kantin bersama.
"Dokter mau pesan apa?" tanya Weni melihat wajah tampan laki-laki yang ada di depannya.
"Aku pesan nasi goreng sama teh es saja. Panggil nama saja Wen, tidak usah panggil pakai embel-embel," pintanya.
"Baiklah," jawabnya. "nasi goreng sama teh esnya dua ya Mbak," pintanya pada waiter disana.
"Baik Kak,"
Lama menunggu akhirny pesanan mereka sampai. Langusng saja mereka menyantap makan siang tanpa ada percakapan yang hadir di sana. Hanya suara orang-orang yang ada di kantin itu memenuhi ruangan yang besar itu.
Sedangkan di meja Ali maupun Weni tak ada yang berbicara. Hanya sendok dan garpu saja yang memberikan alunan dalam kesunyian di meja mereka.
"Nanti pulang kerja kamu mau kemana Al?" Weni menatap Ali. Menunggu jawaban yang akan di berikan laki-laki itu.
"Pulang Wen. Kenapa?"
"Tidak ada. Aku cuman nanya saja,"
"Oh gitu,"
"Emmm, apa kamu sibuk nanti Al?" Weni menatap wajah laki-laki yang dia kagumi semejak laki-laki itu menginjakkan kakinya di rumah sakit ini.
Ali tampak berfikir sebentar. "Sepertinya tidak Wen," balasnya.
Weni mengangguk. "Bagaimana kalau kita pergi main nanti Al?" ajaknya.
"Boleh juga, kemana Wen?" Ali menatap gadis yang ada di depannya.
"Emmm, ke club?" Weni memberikan saran kepada Ali.
"No! Aku tidak bisa pergi kesana Wen," jawab Ali dengan tegas. Bunda maupun Abinya melarang keras dirinya pergi ke tempat-tempat seperti itu. Apa lagi disana banyak wanita yang berpakaian yang sangat-sangat tak sedap di pandang.
"Kenapa Al?" Weni tampak bingung dengan Ali. Padahal wajar saja bukan pergi kesana, apalagi mereka sudah sama-sama dewasa.
"Bunda sama Abi tidak membolehkan aku masuk kesana. Barang sekalipun," jujur Ali.
Weni melotot mendengar jawaban Ali. Tak menyangka laki-laki itu takut karna larangan dari orang-tuanya. Padahal banyak anak-anak remaja dibawah mereka yang datang berkunjung kesana.
"Kita ini sudah dewasa Al. Bukan lagi anak kecil yang harus menuruti keinginan orang-tua. Apalagi kita itu tahu mana yang baik dan mana yang buruk," jelasnya.
"Karena bagiku orang-tua itu nomor satu. Baik aku sudah dewasa ataupun masih anak-anak. Tetap saja ucapan orang-tua itu tidak salah. Lagian itu juga demi kebaikan aku dan lagian buat apa masuk ke tempat haram itu? Bukan untung malah rugi." tegasnya. "Aku duluan Wen!" Langsung saja Ali berdiri. Meninggalkan Weni yang menatap punggung lebar laki-laki itu.
"Dasar anak Mama," ejeknya setelah tak lagi melihat keberadaan Ali.
****
Waktu terus bergulir. Jam kerja Ali sudah selesai, saatnya laki-laki itu untuk pulang ke rumah karena, tak ada titipan dari keluarganya, Ali tak mampir kemanapun. Melajukan mobil yang dikendarainya menuju kediaman kedua orang-tuanya dengan santai.
"Abang," Aileen langsung berlari menuju Ali yang baru saja turun dari mobil. Diikuti dibelakangnya Azlan yang tertawa cekikikan menuju dirinya.
"Wahhh sudah pada harum nih, cuman Abang yang masih bau asem," Ali mendaratkan ciumannya pada pipi kedua adiknya.
"No Abang Abang harum kok," ujar Aileen setelah mencium pipi Ali.
"Benarkah?"
"Iya,"
"Ya sudah yuk kita masuk." Ali menggendong kedua adiknya itu. Tampak raut bahagia dari kedua anak kecil itu.
"Assalamu'alaikum Bunda, Abi," Salam Ali saat dia sudah masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam Nak,"
"Turun gih Sayang, Abang pasti capek kalau gendong kalian," pinta Yumna kepada anaknya.
"Tidak apa kok Bun. Lagian mereka tidak terlalu berat," jawab Ali.
"Alhamdulillah lancar Bi," balasnya.
"Alhamdulillah kalau gitu,"
Ali menurunkan ke-dua adiknya. Menyuruh mereka untuk duduk bersama Bunda maupun Abi mereka. Sedangkan Ali pergi ke kamar untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket.
Menyisir rambutnya biar tampak rapi, dan memberi krim pelembab pada wajahnya agar tak tampak kusam. Ali membawa tubuhnya menuju lantai bawah untuk bergabung dengan keluarganya yang lain.
"Al boleh Bunda minta tolong?" tanya Yumna saat melihat putranya yang tampak sudah bersih.
"Minta tolong apa Bun?" tanyanya bingung.
"Tolong jemput Mika ke rumah temannya Al. Tadi di sana hujan jadi tidak ada kendaraan yang bisa di naiki Mika," pinta Yumna.
"Mika? Mika siapa Bun?" Sungguh Ali tak mengerti nama yang disebut Bundanya. Bukankah yang ada di rumah mereka itu Mimi bukan Mika?
"Lah emang kamu tidak tahu apa kalau Mika tinggal di sini?" Yumna menatap putranya itu bingung. Yumna kira Ali sudah bertemu dengan Mika, maka dari itu Yumna tidak mengatakan tentang gadis itu kepada putranya.
"Tidak Bun, yang aku tahu Mimi. Itupun Ai yang ngasih tahu namanya. Pernah waktu hari kedua aku tinggal disini ketemu sama gadis itu," Jujurnya.
"Mimi itu Mika, Al. Ai memang suka memanggil Mika dengan Mimi, katanya enak dipanggil Mimi dari pada Mika," jelas Yumna membuat anak laki-lakinya itu terkejut.
"O-oh gitu ya Bun. Aku nggak tahu," jawabnya.
Pantas saja Ali tak melihat keberadaan gadis itu beberapa hari ini. Nyatanya gadis itu menginap di rumah temannya. Pikiran Ali kembali lagi pada saat dirinya membentak bahkan mengusir dengan kasar gadis itu. Gadis kecil yang dulu sangat disayanginya. Gadis kecil yang selalu menempel pada dirinya. Teman bermainnya saat dirinya masih berada di Padang, kota kelahiran sang bunda.
Terakhir dirinya berkomunikasi dengan Mika beberapa tahun lalu. Semenjak itu tak pernah sekalipun dirinya berbicara dengan gadis itu. Namun kini tanpa di duga gadis itu tinggal di rumahnya dengan perubahan yang sangat drastis. Rambut sebahu dengan pipi sedikit tirus, membuat gadis itu jauh berbeda pada saat Ali melihatnya dulu. Menang tambah cantik, namun tak membuat Aku mengenal dirinya.
"Ya sudah Bun, di mana alamatnya biar al jemput," ujar Ali akhirnya.
"Di jalan xxxx nomor xxxx,"
"Aku pergi dulu Bun, Bi," Pamitnya.
Dengan segera Ali mengambil kunci mobil yang tadi dia taruh di dalam laci ruang tamu. Bergegas menghidupkan mesin mobilnya untuk menjemput Mika sesuai dengan alamat yang tadi diberitahu Yumna.
Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 20 menit, akhirnya Ali sampai di kediaman dimana Mika berada.
Tok...
Tok...
Tok...
"Assalammu'alaikum,"
Ceklek...
"Wa'alaikumsalam," jawab seorang wanita paruh baya saat membuka pintu rumahnya.
"Apa benar disini ada Mika, Bu?" tanya Ali dengan sopan.
"Ah ya ada Nak, di dalam. Mati masuk," ajaknya.
"Tidak usah Bu, saya tunggu di sini saja," ujar Ali.
"Baiklah ibu panggil dulu,"
"Iya Bu,"
Ali menunggu Mika dengan tetap berdiri di teras rumah itu. Meski ada kursi disana, tak membuat laki-laki itu mendaratkan tubuhnya.
"Aku pulang dulu Tia," pamit Mika saat dirinya sudah sampai di depan pintu.
Ali yang mendengar itu langsung saja menghadap ke sumber suara. Dimana ada dua orang gadis yang tengah berinteraksi.
"Iya Mika, kapan-kapan nginep di sini lagi ya," pintanya.
"Baiklah,"
Selanjutnya Mika menghadap seseorang yang kini menjemputnya. Awalnya Mika terkejut, namun gadis itu merilekskan wajahnya agar tak tampak bertapa dirinya terkejut akan kehadiran laki-laki yang beberapa hari lalu membentaknya dengan kasar.
"Maaf," Kata-kata itu keluar dari mulut Ali saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Mika terkejut dengan satu kata yang lolos dari mulut laki-laki itu. Maaf buat apa? Apa laki-laki itu memiliki salah sehingga dirinya mengeluarkan kata-kata selembut itu. Padahal beberapa hari lalu mulut itu sangat tajam keluarnya tanpa tahu apa akibat dari ucapannya tempo lalu.
TBC