
Hari-hari yang dijalani Yumna cukup baik. Meski anaknya akan menginap dirumah sang mantan suami sekali seminggu, tak membuat Yumna cemas berlebihan seperti pertama kali. Namun rasa cemas itu kadang kala memang masih yumna rasakan sampai kini.
Hari ini rencananya Yumna akan membeli beberapa pakaian. Masalahnya pakaian Yumna di rumah tampak sudah agak usang, karena wanita itu hanya membeli baju satu kali setahun. Tapi hari ini dia akan pergi ke mall, untuk mencari beberapa baju gamis yang akan dia gunakan untuk pergi-pergi. Tak lupa rencananya wanita satu anak itu akan membeli baju daster dengan ukuran sepanjang gamis untuk dia pakai sehari-hari di rumah.
Yumna melangkahkan kakinya menuju mall yang tampak sangat ramai. Mungkin hari ini memang banyak yang berkunjung kesana untuk membeli beberapa keperluan mereka. Dengan langkah pasti Yumna menuju tempat gamis yang terpajang dengan rapi.
Wanita itu mengambil tiga stel baju gamis dengan corak yang berbeda. Jangan lupakan hijab panjang yang menjadi teman gamis tersebut. Selanjutnya kaki wanita itu membawanya kebagian baju rumahan yang berbeda model. Mata Yumna menatap baju daster bercorak kupu-kupu yang sangat lucu dengan warna berbeda. Wanita itu langsung saja mengambilnya, dua helai dengan yang satu motif boneka.
Selanjutnya Yumna menuju kasir. Menyerahkan belanjaannya agar lekas di hitung kasir wanita itu.
"Berapa Mbak?" tanya Yumna setelah wanita yang tampak masih muda itu memberikan belanjaan miliknya.
"Rp745.000 Bu," jawab sang kasir dengan senyuman.
Yumna menyerahkan delapan lembar uang pecahan seratus ribuan. Dan dengan segera kasir wanita itu memberikan kembaliannya kepada Yumna. Kenapa Yumna tidak membelikan baju untuk sang putra? Karena putranya sudah membeli bebeberapa pakaian minggu lalu. Anak laki-lakinya itu membeli sendiri, bukan Yumna tak mau menemani seperti biasanya, karena Yumna waktu pergi itu pergi ke acara khitanan tetangganya yang berjarak enam rumah dari rumah Yumna. Maka dari itu hanya Ali sendiri yang pergi membeli pakaiannya.
Perut Yumna terasa minta diisi. Karena sebelum pergi wanita satu anak itu tidak sempat makan di rumah. Waktu akan pergi perutnya tidak lapar. Mungkin saja karena akan pergi belanja pakaian, perutnya jadi sensitif. Karena ingin makan diluar.
Yumna melangkah menuju restoran yang kebetulan baru buka di samping mall tempat dia berbelanja. Sekali-sekali boros tidak apa-apa asalkan jangan sampai setiap saat. Karena itu sungguh tak baik. Itu pikir Yumna. Wanita itu memang sekali-sekali saja makan di restoran. Bahkan dalam satu bulan hanya satu kali, bahkan juga tidak ada. Yumna serta putranya lebih suka makan dengan masakan sendiri yang sederhana. Tapi nikmatnya itu luar biasa. Meski hanya dengan ikan asin, mereka menikmati makan mereka. Kalau masalah makan dengan ayam, daging dan semacamnya hanya satu kali dalam seminggu atau paling banyak dua kali dalam satu minggu.
Mungkin mereka bisa dikatakan pecinta ikan asin. Selama mereka di kampung Yumna dulu, mereka sering makan ikan asin. Bukan Yumna tak sanggup untuk membeli daging, hanya saja Ali ataupun Yumna lebih memilih makan dengan ikan asin. Karena harga yang tak terlalu mahal, juga mudah untuk didapatkan. Bukan mencari dari satu kampung ke kampung lainnya. Tapi di kampung sendiri juga ada. Bahkan di kedai-kedai juga ada yang jual ikan asin.
Yumna duduk di meja dekat dengan tembok. Lebih enak duduk di pinggir dari pada di tengah menurut Yumna. Yumna memesan satu porsi nasi goreng dengan teh es kepada sang wainters. Duduk menunggu pesanannya datang dengan memainkan gawai di tangannya.
Stelah menunggu beberapa saat, pesanan Yumna akhirnya datang juga. Setelah meletakkan hidangan milik Yumna sang wainters pergi dari sana. Yumna kenikmati makanannya dengan tenang.
"Boleh saya duduk di sini Mbak?" Saat asik menyuap masi gorengnya, suara tegas seorang laki-laki membuat Yumna menghentikan makannya.
Menatap laki-laki paruh baya yang berdiri di depannya dengan senyum manis menghiasi bibirnya. Jangan lupakan wajah laki-laki itu dipenuhi dengan brewok yang di cukur dengan bersih. Mata Yumna sedikit membola melihat laki-laki itu, laki-laki yang dulu merupakan teman satu sekolahnya waktu masih menduduki bangku SMA. Yumna masih ingat dengan wajah itu, wajah yang memang sedikit agak berbeda lantaran sudah tak lagi muda. Namun Yumna masih berteman dengan dirinya di Facebook. Kadang kala foto laki-laki itu melewati berandanya.
"Iya silahkan," jawab Yumna dengan senyuman. Tak mungkin dia melarang laki-laki itu untuk duduk di sama. Melihat seluruh meja yang ada disana sudah di penuhin pengujung. Hanya mejanya yang berisi satu orang saja.
"Apa kita pernah bertemu?" Yumna menghentikan suapannya saat mendengar laki-laki itu berbicara. "emmm, maksud saya apakah sebelumnya kita pernah bertemu, atau apa gitu?" Laki-laki itu agak canggung, takut dengan ucapannya yang mungkin salah alamat. Tapi rasanya dia tidak pernah salah jika pernah bertemu wanita yang ada di depannya ini.
"Iya kita pernah bertemu waktu masih duduk di bangku SMA. Bahkan kita pernah dua kali satu kelas," jawab Yumna. Sebenarnya dia tadi ingin menyapa langsung, hanya saja dia agak gengsi menyapa seorang laki-laki duluan. Bukan sok jual mahal, tapi beginilah sifat dari Yumna yang malas menyapa laki-laki lebih dahulu. Makanya Yumna hanya diam jika laki-laki itu ingin berbicara maka pasti dia akan menjawab. Terbukti, laki-laki itu mengeluarkan ucapannya.
Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Terlihat jelas didahi laki-laki ada bebeberapa lipatan. Mungkin saja dia tengah mengali kepingan masa lalu saat dirinya masih sekolah.
"Hmmm, apa nama kamu Yumna?" Tepat sekali tebakan laki-laki itu. Yumna langsung saja mengangguk membenarkan ucapkan laki-laki yang seumuran dengan dirinya, hanya saja berbeda beberapa bulan. Seingat Yumna laki-laki itu tua dari dirinya. Tapi Yumna tidak tau pasti bulan berapa laki-laki itu lahir. Karena sudah sangat lama. Lagian juga nggak ada untungnya Yumna berfikir keras berapa bulan dia di atas Yumna.
"Iya kamu benar," jawab Yumna setelah menelan nasi goreng di dalam mulutnya.
"Ahhh, ternyata saya tidak salah. Pasalnya saya masih ingat dengan wajah kamu, hanya saja saya merasa ragu. Makanya saya tanyain, hahaha," laki-laki itu tertawa diakhir kalimatnya. Nyatanya ingatan laki-laki itu tidaklah terlalu buruk. Meski sempat merasa ragu, namun keraguannya berbuah nyata.
"Ah ya, saya sampai lupa, kamu sendirian disini atau sama suami kamu ataupun sama anak kamu?" tanya laki-laki itu setelah menyantap makananya yang datang beberpa saat lalu. Dia sudah memesan makanannya sebelum duduk di meja yang sama dengan Yumna.
"Aku sendirian," jawab Yumna. "Anak aku lagi kuliah," lanjut Yumna.
"Ohh gitu, kenapa nggak sama suami kamu?" tanyanya dengan kepo. Laki-laki ini tidak pernah berubah. Sejak dulu terlalu kepo dengan orang lain. Bahkan saat masih sekolah Yumna pernah duduk bersama dengan teman yang lainnya termasuk laki-laki itu. Dia selalu saja menanyakan sesuatu sampai ke akarnya. Saking keponya dengan orang lain, mungkin saja dia kepikiran jika tidak di jawab.
Yumna menggeleng. "Aku sudah cerai." jawab Yumna membuat laki-laki itu tertegun. Padahal laki-laki itu tau persis gimana Yumna, dia wanita yang sangat baik bahkan waktu itu banyak laki-laki yang menginginkan Yumna. Tapi wanita itu Sela saja menolak untuk diajak pacaran.
Bahkan laki-laki itu pernah berharap Yumna akan menjadi istrinya kala itu. Namun takdir tidak menyatukan mereka. Laki-laki itu menikah dengan wanita lain dan kehilangan kontak dengan Yumna. Tapi sekarang takdir malah mempertemukan mereka di sini, setelah sekian tahun tidak pernah bertemu.
"Ahhh, maaf. Aku tidak tau," ujarnya tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, lagian aku juga biasa saja kok," jawab Yumna dengan senyuman. Mimik wajahnya tak berubah. Masih seperti semula. Karena memang benar tak ada nama mantan suaminya lagi di dalam hatinya, makanya Yumna tampak biasa saja. Mungkin jika ada, sudah pasti wajahnya akan tampak sedih dan murung jika saja ada yang membahas hal demikian.
Setelah habis semua makanan yang tadi Yumna makan. Yumna pamit untuk pulang lebih dulu kepada laki-laki itu. Sebelum pergi laki-laki itu meminta nomor handphone Yumna, dia hanya mengatakan akan berkunjung di lain waktu kerumah Yumna, untuk silaturrahim. Itulah kata-kata laki-laki itu saat Yumna akan berdiri. Ntah itu hanya sebuah alasan, sungguh Yumna tidak tau. Tapi wanita itu tetap memberikan nomor HPnya. Tak mungkin rasanya Yumna menolak silaturrahim, karena juga bisa menyebabkan dosa.
TBC