
Mobil yang dikendarai Reyhan mengeluarkan asap pada bagian depannya. Bahkan kaca mobilnya tampak pecah. Bagian depan mobil juga kenyot lantaran terkena besi pembatas jalan raya. Orang-orang yang melewati jalan itu, segera turun dari kendaraan untuk membantu korban kecelakaan.
Pengemudi truk sudah lebih dulu dibawa ke rumah sakit terdekat. Sedangkan Reyhan masih di bantu orang-orang untuk mengeluarkan laki-laki itu dari dalam mobil. Terlalu susah mengeluarkan Reyhan, lantaran sebelah kakinya terhimpit bagian mobil yang patah.
Setelah sekian lama, akhirnya Reyhan bisa dikeluarkan dari dalam mobil. Bergegas orang-orang untuk membantu Reyhan di bawa ke rumah sakit. Jika tetap di biarkan di lokasi, bisa saja suatu hal yang buruk terjadi pada laki-laki itu.
****
Lani yang tengah memasak di dapur langsung bergegas menuju benda pipih yang dia letakkan di atas meja. Melihat nomor asing yang masuk ke handphonenya. Malas mengangkat, karena bisa jadi itu orang iseng yang ingin mengerjai dirinya. Karena Lani beberapa kali mendapatkan telepon dari nomor asing, yang malah minta sejumlah uang. Dengan dalih anaknya masuk rumah sakitlah, masuk penjaralah intinya dengan alasan yang bahkan tak masuk akal bagi Lani. Mana bisa anaknya masuk rumah sakit, anaknya saja masih di rumah tidak bisa keluar jika tidak dengan dirinya.
Sudah lima kali handphonenya berbunyi. Membuat Lani kesal. Dengan segera dia menekan ikon hijau pada gawainya.
("Assalamu'alaikum, maaf siapa? Jika tidak ada keperluan jangan ganggu saya. Saya sedang sibuk!?") Lani langsung saja pada intinya. Menekan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Rasanya terlalu malas untuk mengangkat telepon dari nomor asing. Apalagi jika dengan hal yang sama seperti beberapa hari lalu.
("Maaf Buk, apa ini dari keluarga Bapak Reyhan?") Terdengar suara dari sebrang sana. Suara seorang bapak-bapak yang jelas sudah Lani prediksi jika itu sama dengan orang-orang yang mengerjainya. Kemaren anaknya sekarang malah suaminya.
("Iya Pak itu suami saya, maaf emang ada apa dengan suami, saya?") Sebenarnya Lani sudah mau menekan ikon merah pada gawainya. Tapi ia urungkan karena ingin mendengar ucapan orang disebrang sana yang terdengar menghela nafas berat.
("Saat ini suami ibu ada dirumah sakit A, karena suami Ibu baru saja mengalami kecelakaan. Jadi segera datang ke sini,") ucap orang itu.
("Bapak jangan asal ngomong ya. Tidak mungkin suami saya kecelakaan!") Lani membentak orang tersebut.
("Saya tidak mengada-ngada Bu. Kalau tidak percaya Ibu bisa langsung datang ke rumah sakit A,") jelas orang itu.
Tangan Lani bergetar saat mendengar ucapan orang disebrang sana. Ingin menyangkal, tapi sepertinya apa yang dikatakan orang itu memang benar adanya. Gawai yang melekat di telinga Lani, terjatuh ke lantai membuat wanita itu terkejut. Dengan segera Lani mematikan kompornya yang menyala. Bergegas menuju kamar untuk mengganti baju dengan segera. Tak lupa wanita itu membawa tasnya.
Sepanjang jalan Lani menekan-nekan benda pipih itu. Mungkin saja wanita itu kini tengah memesan taksi online.
"Mau kemana Bu?" Reni yang berada di ruang tamu menatap sang ibu yang berjalan tergesa-gesa. Seperti ada seseorang yang mengejar wanita itu.
Lani menatap sang putri. "Ibu mau ke rumah sakit Sayang. Ayah kecelakaan. Kamu tolong nanti kalau Ibu tidak kunjung pulang kasih Nenek makan ya." ujar Lani tanpa menunggu jawaban putrinya. Bahkan wanita itu sudah sampai di pintu keluar.
Reni yang mendengar ucapan sang ibu sangat syok. Baru tadi dia berbicara dengan ayahnya, namun sekarang Ayahnya malah mengalami musibah. Banyak pikiran yang bercabang dalam benak Reni. Kenapa sang ayah kecelakaan, apa penyebab Ayahnya kecelakaan. Apakah Ayahnya baik-baik saja. Apakah kecelakaannya tidak terlalu parah atau malah sebaliknya. Sekiranya itulah yang kini bersarang dibenak Reni.
"Ya Allah selamatkanlah Ayah hamba. Jangan terjadi sesuatu yang serius padanya ya Allah. Hamba mohon," Do'a untuk keselamatan sang ayah yang dilontarkan Reni.
Sedangkan Lani, kini tengah di jalan menuju rumah sakit. Perasaannya saat ini sungguh tak menentu. Mau percaya atau malah menyangkal apa yang dikatakan orang yang ada di telepon tadi. Tapi jika memang suaminya saat ini baik-baik saja, tak mungkin hatinya gelisah saat ini. Bahkan gemuruh di dadanya semakin kencang. Embun sudah menganak sungai dimata cantik itu. Sebentar lagi, air bening itu akan tumpah dari wadahnya, jika saja Lani berkedip sekali saja.
Akhirnya taksi yang dinaiki Lani sampai di rumah sakit yang didebutkan orang tadi. Turun dari taksi setelah membayar pada sang supir. Kaki jenjang itu melangkah dengan segera menuju resepsionis. Menanyakan nama pasien yang baru saja mengalami kecelakaan. Ada dua orang yang jelas salah satunya ada nama suaminya.
Lani melangkah dengan segera menuju ruangan yang didebutkan resepsionis. Saat sampai disana ada seorang laki-laki yang sudah berumur, duduk di depan ruangan itu
"Maaf Pak, apa Bapak tadi yang menelpon saya?" Dada Lani berdetak dengan cukup kencang. Lantaran hatinya tidak baik-baik saja saat ini.
"Iya Mbak, apakah benar ini milik suami Anda? Tadi ada seseorang yang memberikan ini kepada saya dan meminta saya untuk menunggu keluarganya disini," Laki-laki itu memberikan dompet serta HP yang sudah hancur ke tangan Lani.
Lani menerima dengan tangan bergetar. Apa yang diberikan Bapak itu memang milik suaminya, HP serta dompet. Bagian isi di dalam dompet itu lengkap dengan data pribadi milik suaminya. Mulai dari KTP, surat-surat mobilnya dan sejumlah uang.
Lani menutup mulutnya menahan tangis yang hampir saja keluar dari mulutnya. Air matanya sudah merembes melalui pipi cantik wanita itu tanpa dapat dicegah.
"Be--benar Pak. Ini milik suami saya," Dengan suara bergetar Lani menjawab pertanyaan Bapak itu. "Terimakasih sudah mengabari saya Pak. Maaf jika tadi saya sempat membentak Bapak," lanjut Lani meminta maaf. Karena dia merasa bersalah dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya saat di telepon oleh laki-laki yang ada di depannya.
"Tidak apa-apa Mbak." balasnya. "Yasudah Mbak karena, Mbak sudah ada di sini saya pamit dulu. Soalnya saya masih ada kerjaan," pamitnya kepada Yumna.
"Iya Pak, silahkan. Terimakasih sekali lagi Pak," Lagi-lagi Yumna mengucapkan terimakasih kepada si Bapak. Jika saja Bapak itu tidak mengajarinya, dia tidak akan tahu jika suaminya masuk rumah sakit. Jika saja dia tak mengangkat teleponnya, Lani nyaris tidak akan tahu keadaan suaminya. Cukup menyesal Lani, mengabaikan panggilan dari nomor asing tadi.
"Sama-sama Mbak." Akhirnya laki-laki itu meninggalkan Yumna. Melangkah dengan pasti menuju pintu keluar rumah sakit.
Lama menunggu, akhirnya seorang dokter berjas putih keluar dari pintu bercat biru. Dengan keringat yang tampak jelas di dahinya. Menatap Lani yang kini tampak berantakan dengan air mata di wajahnya. Bahkan matanya sudah sembab karena terlalu nama menangis.
"Dokter, bagaimana keadaan suami, saya?" Lani menatap dokter laki-laki itu dengan serius. Dengan sejuta harapan baik di dalam hatinya. Tak lupa wanita itu terus meminta kebaikan yang Kuasa untuk suaminya.
Dokter itu menghela nafas berat. Jelas terlihat dari helaan itu, jika keadaan suaminya tidak baik-baik saja. Bahkan ditangan dokter itu terdapat kertas putih yang Lani tak tau apa yang tertulis disana. Pikiran buruk kembali merajalela dalam benaknya. Jangan sampai apa yang ada dipikirannya saat ini terjadi. Jangan sampai. Itu harapan Lani.
TBC