Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 (Ali)


Satu tahun lamanya Ali menjadi seorang dokter gigi di sebuah rumah sakit di kota lain, yang jauh dari kediaman orang-tuanya. Semenjak pulang dari luar negeri satu tahun yang lalu, Ali memasukkan lamaran ke berbagai rumah sakit Namun, waktu itu hanya satu rumah sakit yang membuka lowongan untuk dokter gigi. Dan Ali mengambil di rumah sakit itu, dari pada dirinya mengganggur. Maka dari itu dia menerima pekerjaan di rumah sakit itu. Hari ini hari dia akan kembali ke tempat dimana keluarga tercintanya tinggal. Kebetulan Ali dipindahkan ke rumah sakit dimana Andi pernah menjadi dokter disana. Saat ini Andi sudah pensiun dari rumah sakit. Pekerjaannya membantu Yumna mengelola toko yang semakin membesar. Dengan tambahan bebeberapa karyawan Yumna.


"Alhamdulillah, akhinya beres juga," Ali menepuk-nepuk tangannya setelah meletakkan kopernya di depan pintu kontrakannya.


Dirasa tidak ada satupun barangnya yang tertinggal, Ali mengunci pintu kontrakan itu. Sebelum berangkat, tak lupa laki-laki yang kini menginjak usia 26 tahun itu memberikan kunci kontrakan kepada sang pemilik.


Menyeret koper besar yang dibawanya ke jalan raya, guna menunggu bus untuk ke kota tempat tinggal sang bunda. Dua jam perjalanan akhirnya Ali sudah sampai di depan rumahnya. Melangkahkan kaki panjangnya menuju perkarangan luas rumah ke-dua orang-tuanya.


"Assalamu'alaikum Bunda," Ali memencet bel yang berada di samping pintu.


"Wa'alaikumsalam," Seorang wanita paruh baya yang bertugas sebagai asisten rumah tangga Andi membukakan pintu untuk anak majikannya. "Ehh Den, mari masuk. Biar Mbok bawakan kopernya," Wanita itu hendak pengambil koper milik Ali, namun laki-laki itu dengan segera menghentikan pergerakan tangan wanita itu.


"Tidak usah Mbok, biar aku saja,"


"Baik Den,"


Akhirnya mata jernih laki-laki itu menatap sekeliling kamarnya yang tak ada berubah satupun. Masih seperti saat dia meninggalkan kamar tersebut. Tapi tanpa ada debu satu pun.


"Ahhhhh, akhirnya aku merasakan lagi keempukan kasur ini. Sudah lama rasanya tidak tidur di kasur seperti ini," Ali mengusap tempat ternyaman itu dengan tangannya.


Memejamkan matanya untuk melepaskan rasa lelah yang mendera tubuh akteltis laki-laki itu. Perjalanan selama dua jam, nyatanya membuat Ali merasa sangat lelah di tubuhnya.


"Haus lagi, mana mager!" Ali berusaha membawa tubuhnya turun dari kasur. Malas rasanya kalau memangil si Mbok.


"Mau ambil apa, Den?" Si Mbok yang tengah membawa satu ikat sayur bayam, melihat anak bajikannya ada di dapur.


"Ini mau ambil minum Mbok. Habisnya haus banget. Oh ya Mbok Bunda sama yang lain mana?" Ali menatap wanita tua itu.


"Oh Nyonya sama Tuan lagi pergi ke rumah Nenek kamu, Den. Katanya dua hari lagi akan kembali lagi kesini. Emang Bundanya Aden nggak tau apa kalau Aden pulang?"


"Tau kok Mbok, tapi aku bilangnya minggu ini dan nggak nyebutin hari apanya. Hehehe,"


Mbok geleng-geleng kepala. "Kalau gitu sama saja tidak tahu Den,"


"Heheh iya juga ya Mbok," Ali tertawa dengan ucapan si Mbok. "aku ke kamar dulu Mbok. Mau tidur sebentar, rasanya sangat lelah."


"Baik Den,"


****


Sedangkan di tempat lain Yumna serta keluarga kecilnya tengah membersihkan pekarangan rumah milik Tomi dan Tati. Beberapa bulan yang lalu Tomi sudah di jemput yang maha Kuasa, dan tak berapa lama kemudian istrinya juga menyusul. Sekarang rumah itu sudah tak ada lagi yang menghuninya alias kosong. Rencananya Andi akan menyewakan rumah itu agar ada yang membersihkan. Jika tidak maka akan banyak sarang hewan yang bersilewaran di rumah tersebut.


"Bunda, Abang kapan pulang sih?" Aileen mendekati Yumna yang tengah melap kaca.


"Kata Abang minggu ini Sayang. Emang ada apa Sayang? Apa Ai rindu sama Abang?" Yumna menghentikan pergerakan tangannya.


"Iya Bunda, ai rindu sama Abang. Sudah lama Ai tidak berjumpa Abang. Terakhir waktu Nenek meninggal itupun cuman satu hari," Gadis kecil itu memberenggut. Sunguh dia sangat rindu bermain dan pergi jalan-jalan sama Abangnya.


"Nanti kita vidio call Abang ya Nak. Kalau sekarang bunda sedang bekerja."


"Baik Bunda, Ai main dulu sama Azlan,"


"Iya Nak, jangan sampai bertengkar ya. Mainnya baik-baik sama Adek," Peringat Yumna. Beberapa hari yang lalu Aileen bertengkar dengan Azlan lantaran bonekanya di mainin sama Azlan.


"Iya Bun,"




Jadi tidak jadi hari ini kita pulang Mas?" tanya Yumna saat mereka sudah duduk santai di ruang tamu.



"Tidak usah Bun. Besok menjelang siang kita akan pulang. Lagian rumah ini sudah bersih, hanya tinggal dua kamar lagi yang mau kita bersihkan,"



"Baiklah Mas. Apa Mas sudah lapar?" Yumna memijit tangan suaminya yang terasa lelah.



"Iya Bun,"



"Ya sudah, aku masak bentar ya Mas. Mas tolong jangan Ai sama Az, takutnya mereka kembali bertengkar seperti beberapa hari lalu."



"Iya Bunda, Mas akan jaga mereka. Lagian tampaknya mereka hanya sibuk dengan mainan masing-masing."



"Ya sudah Mas, aku tinggal dulu."



Yumna berkutat dengan peralatan dapur. Memasak ala kadarnya. Tidak terlalu banyak, hanya sayur bayam sama telur dadar. Hanya itu stok yang tertingal dari belanjaan yang dibawa Yumna kemaren. Untuk makan malam sama besok pagi mereka bisa onder melalui aplikasi online.



"Mas mari makan," Yumna memanggil suaminya.



"Iya Bun,"



Yumna mengambilkan nasi serta sambal yang dia buat untuk suaminya. Selanjutnya mengambilkan masi serta sayur bayam untuk putri serta putra kecilnya yang kini juga tengah duduk bersama mereka. Duduk di atas lesehan, mengingat anak-anak mereka yang masih kecil. Jadi jika duduk di atas kursi, mereka tidak akan bisa makan. Lantaran meja makan terlalu tinggi.



Esok hari




Aileen dan Azlan berlari menuju pintu rumah. Dengan tertawa kecil khas anak kecil yang hendak memenangkan lomba lari. Karena Azlan yang masih kecil, maka kalah dari pada Aileen yang sudah sampai di depan pintu rumah.



"Yeee kakak menang Azlan, kamu kalah!!!" Aileen mencibirkan adik kecilnya.



Tak ada tanggapan dari bocah laki-laki itu. Dia hanya tertawa mendengar kakaknya berbicara. Lagian dia belum mengerti antara menang dan kalah dalam sebuah lomba lari antara dirinya dan sang kakak.



"Mbok!!" Yumna memanggil pembantu di rumahnya.



"Iya Nya?" Si Mbok berlari dengan tergopoh-gopoh mendekati sang nyonya.



"Itu sepatu siapa?" Tunjuk Yumna kepada rak sepatu yang tak dikenalnya terletak di rak sepatu milik mereka.



"Itu punya Den Ali, Nya," jawabnya.



"Ali? Kapan Ali pulang Mbok?"



"Kemaren Nya, emang Aden tidak ngomong sama Nyonya apa?"



Yumna menggeleng. "Tidak Mbok,"



"Saya kira Den Ali sudah memberitahu Nyonya, makanya tidak saya telepon,"



"Tidak apa-apa Mbok. Terus di mana Ali sekarang Mbok?"



"Tadi pagi katanya Aden langsung ke rumah sakit. Karena hari ini dia akan langsung bekerja," jelas Si Mbok.



"Ya sudah Mbok, terima kasih. Mbok kembalilah bekerja,"



"Baik Nya,"



\*\*\*\*



"Kau siapa?!! Berani sekali kau masuk ke dalam kamar saya tanpa seizin saya?!!" Ali terkejut saat melihat seorang gadis yang tengah duduk diatas ranjang miliknya. Tidak tau sopan santun, itulah penilaian Ali untuk gadis itu.



Gadis itu membalikkan tubuhnya. Menatap laki-laki tampan yang kini berada di depan matanya. Laki-laki yang sangat di rindukannya.



"A-aku---"



"Keluar!! Tidak tahu sopan santun!!" bentak Ali mengusur gadis itu.



"Tapi aku ma---"



"Saya bilang keluar ya keluar!! Dasar tidak tahu sopan santun!! Masuk kamar orang tanpa izin!!" Lagi-lagi Ali membentak gadis itu.



"Tapi Ba--"



"Kau dengan tidak saya ngomong!!" Ali menatap tajam gadis itu.



TBC



(Kalau umur Ali yang saya tulis salah, tolong komen ya Kakak? Soalnya sudah saya jumlah kan hasilnya segitu. Mana tau saya salah dalam menghitung atau ada tahun yang terlewat🙏🙏)