Diceraikan

Diceraikan
Bulan Madu 1


Deg...


Degup jantung Reyhan berpacu dengan kencang, saat mendengar ucapan istrinya. Dunianya seakan runtuh dengan kenyataan pahit yang baru saja dia dengar.


"Ka-kamu jangan a-asal ngomong Lan," Dengan suara bergetar Reyhan menyanggah ucapan istrinya. Rasanya dia tak sanggup menerima kenyataan pahit yang kini dia alami.


Lani menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tidak Mas, aku mengatakan yang sebenarnya," Lani menarik tangan suaminya. Mengenggam tangan itu dengan gemetar.


Tidak hanya Reyhan yang terluka. Lani juga ikut terluka dengan apa yang dialami suaminya.


Beberapa kali Reyhan menggelengkan kepalanya. Tidak Terima dengan nasib yang tengah dia alami saat ini. Air mata menetes dari mata tegas itu. Menandakan dirinya benar-benar rapuh saat ini. Ingin rasanya Reyhan menyalahkan takdir yang datang kepadanya. Baru beberapa hari yang lalu Ibunya mendapat musibah, lalu sekarang malah dirinya.


Apa salahnya sehingga takdir sekejam ini menghampiri kehidupannya. Tak henti-hentinya dia mengalami ujian.


Pikiran Reyhan kembali dengan rencana awal saat dia akan membalaskan dengan ibunya, kepada pemuda yang dikiranya mencelakai wanita kesayangannya.


"Ma-mas," Lani takut melihat sorot mata suaminya yang tiba-tiba saja berubah. Bahkan bisa dikatakan sangat menakutkan.


"Awas saja kau, jika nanti saya sudah sembuh akan saya balaskan semua ini!! Gara-gara kau, saya mengalami nasib buruk seperti ini!!" Reyhan berucap dengan gigi yang mengeletuk. Sungguh, dia sangat geram dengan keadaannya sekarang. Semua rencana indah yang semula dia rangkai, kini menghilang seketika.


"Pertama putriku, kedua Ibuku dan sekarang aku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada kau anak muda." geramnya dengan mengepalkan tangannya dengan erat.


"Ma-mas kenapa kamu berbicara seperti itu. Ini sudah takdir Allah, Mas. Kamu harus sabar menerima semua ini," Sungguh Lani sangat takut saat ini. Apalagi sorot mata suaminya jelas tersirat rasa benci yang mendalam.


"Bukan!! Ini semua gara-gara anak sial*n itu. Andai saja dia tidak pernah ada maka, semua ini tidak akan terjadi. Takkah kau melihat keluarga kita hancurhat satu-persatu semenjak anak itu datang ke rumah, haa?!!" Reyhan menatap nyalang istrinya. Dia tidak terima dengan ucapan istrinya yang seakan-akan membela pemuda itu.


Lani menggeleng. "Tidak Mas, ini takdir Mas. Bukan salah anak kamu, Mas. Pe--"


"STOP!!! stop menyebut dia anakku. Dia bukan anakku. Anakku hanya satu, Reni. Ingat itu. Jangan lagi kamu mengatakan jika pemuda sial*n itu anakku!!" Reyhan tampak marah kepada istrinya. Dia tidak suka jika istrinya menyebut pemuda itu adalah anaknya. Sungguh telinganya terasa sakit mendengar ucapan istrinya.


Lani terkejut mendengar bentakan suaminya. Tak menyangka jika suami yang dimilikinya akan berkata sesarkas itu kepada dirinya. Belasan tahun dia menikah dengan laki-laki itu, baru kali ini Lani mendengar suaminya berkata seperti ini.


"Ta-tapi Mas, dia--"


"Cukup. Jangan lagi menyebut pemuda itu. Aku muak!!" Lagi-lagi Reyhan memotong ucapan istrinya. Bahkan Reyhan menekan kata muak pada akhir kalimatnya.


Lani mengangguk. Mematuhi ucapan suaminya. Wanita itu juga tidak mau suaminya marah-marah terus. Apalagi keadaannya saat ini sungguh membuatnya sedih.


***


"Bunda jam berapa berangkat nanti?" Ali melihat sang bunda yang tengah menyusun beberapa bajunya ke dalam tas. Bukan hanya itu, wanita itu juga memasukkan baju suaminya ke dalam tas yang sama.


"Jam satu Sayang," jawab Yumna tanpa menghentikan pekerjaannya.


"Berapa lama Bunda di sana?" Lagi Ali bertanya kepada sang Bunda yang tampak sibuk.


"Empat hari Sayang. Abi tidak bisa ambil cuti lama-lama Nak. Apalagi akhir-akhir ini banyak pasien yang di operasi," jawab Yumna dengan jujur.


Ali mengangguk. "Emm, iya Bun. Nanti jangan lupa bawakan aku oleh-oleh ya Bun,"


"Iya Sayang. Itu sudah pasti. Mau berapa banyak?" Yumna menatap putranya itu.


"Tidak terlalu banyak kok Bun. Yang penting Apapaun itu aku akan terima." balas Ali kepada Bundanya.


"Baiklah Sayang," balas Yumna.


"Oh ya Abi mana Bun. Dari tadi tidak kelihatan,"


"Abi lagi mandi, Sayang."


Ali mengangguk mendengarkan jawaban Bundanya.


"Yasudah aku keluar dulu ya Bun. Mau nonton dulu," pamitnya diangguki Yumna.


Kini tinggal hanya Yumna di dalam kamar itu. Menyelesaikan apa yang hendak dibawanya nanti. Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Yumna merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Sayang," Andi mengusap lembut wajah istrinya yang tampak memejamkan matanya.


"Ehh Mas, sudah selesai?" Yumna langsung saja duduk. Dia tidak tidur, hanya memejamkan matanya saja. Tapi wanita itu tidak sadar jika suaminya sudah selesai mandi.


Andi mengangguk. "Sudah," jawabnya.


"Kenapa belum pakai baju Mas?" tanya Yumna saat melihat suaminya yang hanya memakai handuk untuk menutupi bagian pusar ke bawah.


"Boleh sekali lagi, Bun?" Andi menatap istrinya dengan pandangan sendu.


"Kamu sudah selesai mandi Mas,"


Yumna, wanita itu menatap wajah suaminya. "Yasudah Mas, ayo," jawab Yumna akhirnya.




Kini saatnya Yumna dan Andi untuk berangkat bulan mandu. Sesuai kesepakatan pertama mereka, yang tak lain pergi ke kota asal Yumna. Padang, Sumatra Barat. Ya kota itu yang kembali Yumna kunjungi. Jika dulu bersama putranya, Ali Berbeda dengan sekarang bersama suaminya, Andi.



"Bunda," panggil Ali saat mereka sudah dalam perjalanan menuju bandara.



"Hmm, apa Sayang?" Yumna menatap putranya yang ada di depan samping kemudi.



"Jangan lupa sampaikan salam aku untuk Mika ya, Bun." pintanya dengan lembut.



Jujur, Ali sangat rindu dengan bocah perempuan itu. Tapi tak bisa untuk pergi ke sana, lantaran waktu liburnya belum ada. Mika, bocah perempuan yang jaraknya 8 tahun di bawah Ali. Bocah yang sudah dianggap Ali sebagai adik perempuannya. Bocah perempuan yang sang lucu serta mengemaskan.



Apalagi jika Mika sudah nyender disampingnya, Ali sangat suka dengan hal itu. Rasanya Ali ingin ikut Bundanya. Tapi kenyataan membuat Ali untuk urung. Karena, kuliahnya sedang sibuk-sibuknya saat ini. Biarlah, suatu saat dia yakin pasti akan datang lagi ke kota kelahirannya itu. Kota yang penuh dengan berbagai macam pemandangan sawah yang luas. Segar, serta menyejukkan.



"Iya Nak, nanti jika Bunda ke rumah mereka pasti akan Bunda sampaikan," jawab Yumna dengan senyuman.



"Terimakasih Bunda," ujar Ali menampilkan senyumannya.



"Sama-sama Sayang," balas Yumna.



Akhirnya taksi yang membawa mereka sampai di bandara Soekarno-Hatta. Andi membawa tas yang berisi perlengkapan dirinya serta sang istri.



"Bunda, Abi hati-hati disana nanti ya. Jangan lupa sampai disana kabari aku," Ali menatap ke-dua orang-tuanya secara bergantian.



"Iya Sayang, terimakasih. Kamu hati-hati juga disini ya, Nak. Jangan begadang. Nanti malah telat ke kampusnya. Ingat Bunda sedang tidak dekat dengan kamu, Sayang. Kalau ada bunda, bisa bunda bangunin kamu setiap pagi," Yumna memeluk tubuh putranya untuk beberapa saat. Meluapkan rasa rindu yang mingkin akan dirasakannya untuk beberapa hari ke depan.



"Iya Nak, kamu hati-hati disini. Ingat pesan Bunda, Nak." Andi mengusap kepala Ali dengan lembut. Bahkan usapan penuh dengan kasih sayang.



"Iya Bun, Bi. Aku bakal selalu ingat pesan Bunda." jawab Ali dengan senyuman.



"Yasudah, Bunda sama Abi masuk dulu ya. Itu sudah terdengar perintah untuk memasuki pesawat," ujar Yumna kepada Putranya. "Habis ini langsung pulang ya, Nak. Jangan pergi ke mana-mana. Semua kebutuhan kamu juga sudah Bunda siapkan. Baik itu makanan untuk 4 hari ke depan sudah ada di dalam kulkas. Yang untuk hari ini tak usah memasak. Tadi sudah bunda buatkan tinggal dihangatkan lagi,"



"Iya Bun, terimakasih. Yasudah, Bunda sama Abi hati-hati ya,"



Yumna dan Andi hanya mengangguk mendengar ucapan putranya. Mereka melangkah meninggalkan Ali yang masih melihat punggung mereka hingga hilang ditelan pesawat.



TBC