
"Bunda, Mas pergi kerja dulu ya," pamit Andi yang sudah rapi dengan setelan jas putih kedokterannya.
"Apa tidak bisa diundur sebentar Mas?" Yumna menatap suaminya dengan sendu.
"Ada apa Bunda? Tak biasanya Bunda seperti ini?" Andi bingung dengan perubahan istrinya kali ini.
"Aku lagi pengen Mas. Boleh ya," Yumna menatap wajah suaminya dengan wajah memerah. Sungguh dia sangat malu, tapi mau gimana lagi jika dia benar-benar sangat ingin saat ini.
"Tumben Bunda seperti ini. Biasanya nggak pernah minta duluan kalau bukan Mas sendiri yang ngomong," Andi menaikkan alisnya. Tak menyangka jika istrinya akan seberani ini. Padahal jika dari dulu istrinya seperti ini alangkah bahagianya dia. Tapi meski begitu, bukan berarti sebelumnya dia tak bahagia.
"Mau ya Mas," ujarnya seperti anak kecil yang ingin permen.
"Mas bisa telat Bun. Bagaimana jika nanti saja setelah Mas pulang kerja?" saran Andi.
Yumna menggeleng. "Aku maunya sekarang Mas. bukan nanti," Tampak mata wanita itu sudah berkaca-kaca. Membuat Andi tak tega dengan istrinya itu. Sungguh ini juga salah satu kelemahan laki-laki itu. Tak ingin membuat istrinya menangis hanya karena hal yang tak sulit.
"Yasudah Bunda. Ayo," Andi menarik lembut tangan istrinya menuju kamar. Memenuhi apa yang kini tengah diinginkan istrinya.
***
Yumna tengah membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Tubuhnya terasa sangat lelah. Bahkan wanita itu malas untuk mengerjakan sesuatu. Padahal biasnya tak pernah wanita itu bermalas-malasan seperti saat ini. Apalagi Yumna paling benci akan hal itu. Lebih cepat maka lebih baik. Namun kali ini, untuk beranjak dari ranjang saja dia sangat malas.
Memejamkan matanya agar lekas masuk ke dalam mimpi. Namun, itu tak terjadi. Matanya semakin nyalang melihat langit-langit kamarnya yang sangat luas. Bukan seperti beberapa bulan lalu, kamar yang tidak sebesar saat ini. Ahh ya, bahkan rumah ini jauh lebih besar dari rumah yang dia tinggali bersama sang putra. Rumah yang dibelikan suaminya, Andi. Rumah yang sangat luas. Terdapat taman kecil di depan rumah serta taman di belang rumah yang tampak lumayan besar. Bahkan di rumah itu juga terdapat kolam renang dengan ukuran sedang.
Dengan susah payah, Yumna bangun dari ranjangnya. Rasanya malas untuk bergerak, namun hatinya ingin beranjak dari sana meski tidak dengan tubuhnya.
"BUNDA, AKU PULANG!!!" Yumna sedikit tersentak mendengar suara putranya.
Bergegas wanita itu berdiri. Meski masih malas namun, dia usahakan. Melangkah menuju pintu masuk.
"Kenapa tidak baca salam, Sayang?" Yumna menghampiri putranya.
"Hehehe maaf Bun. Aku sudah tidak sabar ingin memeluk Bunda. Assalamu'alaikum Bundaku sayang," Pemuda itu langsung saja menghambur memeluk wanita kesayangannya. Melepas rindu yang sudah lama dia bendung.
"Wa'alaikumsalam Nak. Kenapa tidak memberitahu Bunda jika kamu pulang hari ini, Sayang?" tanya Yumna setelah Ali melepaskan pelukannya.
"Biar jadi kejutan buat Bunda, sama Abi. Ehh, tapi Abi mana Bun?" Ali melihat ke sekeliling rumah yang mana tak mendapatkan kehadiran laki-laki yang menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.
"Abi sudah berangkat ke rumah sakit beberapa jam yang lalu, Sayang. Apa kamu lapar Nak?" tanya Yumna menatap putranya.
"Ooh gitu ya Bun. Kenapa wajah Bunda tampak pucat? Apa Bunda lagi sakit?" Bukannya menjawab ucapan sang bunda, Ali malah bertanya hal lain.
"Tidak kok, Sayang. Bunda sehat. Bunda lupa memberi liptint pada bibir Bunda makanya sedikit pucat," Jujur Yumna. Memang wanita itu tidak memberi pelembab pada bibirnya setelah membersihkan dirinya tadi.
"Oo yaudah. Aku kira Bunda lagi sakit. Aku tak mau Bunda sakit. Bunda harus tetap sehat. Apalagi tak berapa lama lagi aku akan wisuda. Jadi Bunda harus sehat ya," Ali kembali memeluk wanita kesayangannya itu. Mendaratkan ciuman pada dahi sang bunda.
Untung saja Abinya tidak di rumah. Jika saja ada, maka bisa saja Abinya itu akan menatap dirinya tajam. Abinya itu tak mau sang istri di cium-cium, meski itu putranya sendiri. Tetap saja Andi tak membolehkan. "Kamu jangan lagi cium-cium Bunda, Al. Bunda sekarang milik Abi seutuhnya. Ingat, jika kamu mau seperti itu lekaslah selesaikan kuliah kamu, lalu bekerja dan menikahlah. Maka ciumlah istrimu sepuasnya, tidak dengan istri, Abi" Kira-kira seperti itulah kata-kata yang keluar dari mulut Andi. Bukan Andi kejam, hanya saja istrinya miliknya. Kecuali Ali masih kecil, maka itu tak mengapa. Dia cemburu, bahkan sangat cemburu jika istrinya membiarkan sang pura mencium pipinya, bahkan dahinya sesuka hati sang putra. Apalagi jika putranya itu ada kegiatan kampus yang membutuhkan beberapa hari untuk tak pulang. Pastilah Ali rindu dan akan mendaratkan ciuman kasih sayang kepada sang bunda.
"Iya Sayang, do'akan bunda agar sehat selalu ya," Pintanya dengan lembut kepada putranya itu.
Ali mengangguk. "Itu sudah pasti Bunda. Aku akan tetap mendo'akan kesehatan buat Bunda juga untuk Abi," Ali menatap sang Bunda dengan senyuman termanisnya.
"Alhamdulillah kalau gitu, Sayang. Apa kamu lapar Al?"
"Sedikit Bun," Ali mengusap perutnya yang memang sedikit lapar.
"Yasudah Bunda pesankan tidak apa kan, Sayang. Soalnya Bunda belum masak," ujar Yumna.
"Iya Bun, tidak mengapa," jawab Ali. "Aku masuk kamar dulu ya Bun. Mau beresin barang-barang aku," ujar Ali yang diangguki Yumna.
***
"Bunda, Bunda kenapa bisa seperti ini?" Ali tampak cemas dengan sang bunda.
"Tubuh Bunda juga panas," Ali memegang dahi sang bunda.
Takut terjadi sesuatu kepada Bundanya, Ali segera membopong tubuh wanita itu. Membawanya ke tepi jalan raya, untuk menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depannya.
Sampai di rumah sakit langsung saja Ali memanggil dokter untuk membantu sang bunda.
"Ya Allah selamatkan lah Bunda. Hamba tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada Bunda," Do'anya.
"Dokter bagaimana keadaan Bunda saya? Apa terjadi sesuatu yang serius kepada Bunda?" Ali menghampiri dokter itu Setelah pintu bercat biru itu terbuka.
"Apa suami pasien tidak ada, Dek?" tanya dokter Itu tidak menjawab ucapan Ali.
"Ahhh, tunggu sebentar, Dok. Saya akan telpon Abi dulu. Kebetulan Abi kerja disini," balas Ali yang melupakan Abinya. Saking cemasnya dengan keadaan sang bunda, membuat pemuda itu lupa jika Abinya ada di rumah sakit ini.
"Iya Dek. Silahkan"
Ali menelpon Andi dan memberitahukan jika Yumna sekarang ada di rumah sakit. Bukannya membalas perkataan Ali, Andi malah langsung memutus sambungan telepon itu, membuat Ali mendengus dengan kelakuan Abinya itu.
"Al ada apa dengan Bunda. Kenapa Bunda bisa sampai masuk rumah sakit?" Andi langsung memborongkan anaknya itu dengan berbagai pertanyaan. Rasa cemas membuat laki-laki itu lupa akan segalanya.
"Tidak tau Bi, tadi aku lihat Bunda mengigil. Badannya juga panas," jawab Ali jujur.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya? Apa ada sakit serius yang di alaminya?" Andi beralih pada dokter wanita yang kini tengah menghadap ke arahnya serta Ali.
"Tidak ada sakit yang diderita istri anda Dokter Andi. Tapi saya sarankan agar istri anda di bawa ke poli kandungan," ujar dokter itu membuat Ali maupun Andi terdiam. Mematung mendengar ucapan dokter wanita yang ada di depannya.
"Kenapa harus di bawa kesana Dok?" tanya Andi yang kini otaknya malah blank.
"Kemungkinan saat ini istri anda tengah berbadan dua,"
Andi tak membalas ucapan dokter itu. Dia kangsung saja masuk ke dalam ruangan dimana istrinya berada. Bahkan dia tak menggiraukan dokter yang tadi memberitahunya melongo melihat kelakuan tak biasa Andi.
"Mas kita mau kemana? Tubuh aku keinginan Mas," Yumna mengikuti langkah suaminya. Meski tubuhnya ingin istirahat.
"Kita akan ke poli kandungan dulu Bunda. Mas takut jika terjadi sesuatu dengan rahim kamu," jawab Andi. Padahal tadi dokter sudah menjelaskan jika istrinya kemungkinan hamil. Namun Andi yang tak mendengar jelas ucapan dokter itu karena melamun, malah berfikir lain. Mungkin saja rahim sang istri ada masalah. Makanya dokter itu menyarankan dia membawa sang istri ke dokter kandungan.
Sedangakan Ali di belakang orang-tuanya itu hanya menggeleng dengan tingkah Abinya yang berbeda dari biasanya. Kenapa tidak, jelas dokter mengatakan jika sang bunda bisa saja tengah hamil. Namun apa yang tadi di dengarnya dari mulut sang abi, mebuat Ali ingin tertawa. Namun dia tahan, karena ini rumah sakit.
"Dokter apa terjadi masalah dengan rahim istri, saya?" tanya Andi yang kini tengah berdiri di samping sang istri yang tidur di atas tempat tidur.
Dokter itu mengernyit dengan kelakuan dokter bedah itu. Tak biasanya dokter itu bertingkah seperti ini. Padahal jelas dia tengah memutar-mutar alat di atas perut istrinya. Dan lagi jelas terlihat di layar monitor jika ada satu biji yang tumbuh di rahim istrinya. Dari situ sudah bisa di tebak jika istrinya tengah hamil. Namun apa yang didengar dokter itu dari mulut Andi cukup membuatnya melongo.
"Apa anda tidak melihat di layar monitor itu Dok?" Tunjuknya pada layar yang tengah menyala di depannya.
"Saya lihat Dokter. Tapi apa istrinya saya baik-baik saja?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi dokter itu di buat melongo mendengar ucapan Andi. Padahal jelas di layar monitor itu ada setitik biji yang jelas itu janin yang tengah tumbuh. Memang beginilah, meskipun profesi sebagai dokter kandungan pun banyak yang bertingkah demikian, lantaran cemas dengan keadaan istrinya, tanpa mau menelaah apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya.
"Istri Dokter kini tengah berbadan dua. Maka dari itu saya menyuruh Dokter melihat layar monitor," ujarnya membuat Andi cukup terkejut dengan kenyataan yang membuat hatinya berbunga.
"Benarkah Dok? Apa dokter tidak berbohong," Tampak binar bahagia di kedua mata Andi.
"Iya Dok, dokter bisa melihat ada titik yang masih sebesar biji jagung. Itu adalah bayi Anda," tunjuknya pada layar monitor yang juga di lihat Andi.
"Bunda, terima kasih. Terima kasih akhinya do'a kita selama ini terkabul. Terima kasih sudah mengandung bayiku, Bunda," Andi langsung saja memeluk erat tubuh istrinya sungguh dia saat ini teramat bahagia mendengar jika istrinya tengah hamil anaknya.
"Iya alhamdulillah Mas. Alhamdulillah aku hamil lagi." Yumna juga sangat bahagian mengetahui dirinya tengah hamil. Bahkan Yumna membalas pelukan suaminya dengan erat, menyalurkan betapa bahagianya dia saat ini.
TBC