Diceraikan

Diceraikan
Wisuda


"Bunda, apa Bunda ingin sesuatu?" Andi mengusap perut istrinya. Perut yang sudah tampak sangat besar.


"Emm, kayaknya makan keripik pisang enak deh Mas," Yumna mengusap surai hitam milik suaminya.


"Ya sudah Mas ambilkan dulu. Bunda tunggu disini," Andi beranjak dari tempat tidur. Mengambil apa yang diinginkan istrinya.


Dengan membawa satu toples keripik pisang serta satu gelas teh manis ditangannya. Andi dengan senyum manis melangkah mendekati sang istri yang duduk selonjoran di bibir ranjang.


"Nih Bunda," Andi menyodorkan apa yang diinginkan istrinya.


"Terima kasih Mas," Yumna mengambil satu keripik pisang dan langsung menyiapkan pada mulutnya.


"Sama-sama Sayang,"


Kebetulan hari ini Andi libur jadi waktunya dia pergunakan untuk bersama sang istri. Menghabiskan waktu senggangnya dengan menemani istrinya serta berbicara dengan anaknya yang masih berada di dalam perut sang istri. Sesekali anak itu merespon dengan menendang perut sang bunda.


"Bunda, Abi boleh aku masuk?" Ali melonggokkan kepalanya di pintu kamar sang bunda.


"Iya Sayang, masuklah," jawab Yumna dengan tetap mengunyah keripik pisang, yang terasa enak di lidahnya.


Ali mendekati ranjang Yumna. Tak lupa wajah pemuda itu tampak segaris senyum manis menghiasinya. Mengelus perut Bundanya sebentar menyalurkan rasa sayang kepada adiknya yang masih berada di dalam perut Bundanya.


"Bunda, Abi besok kita berangkat bareng ke kampus aku ya." pintanya kepada sepasang suami-istri itu dengan mata penuh harap.


"Iya Nak. Kemaren Abi sama Bunda juga ngomongin soal itu. Lagian ngapain kamu berangkat sendiri, nanti Abi sama Bunda malah sulit nyari kamu apalagi disana pasti akan ramai." jawab Andi kepada putra sambungnya itu.


"Hehehe iya juga ya Bi. Nenek sama Kakek sudah Abi kasih tau bukan?" Ali menatap Abinya.


"Sudah kok, besok kita akan berangkat bersama mereka. Katanya nanti malam datang ke sini," jawab Andi di sertai senyuman.


Ali hanya mengulas senyum tipis mendengar ucapan Abinya. Tak ada lagi yang membuka ucapan di antara mereka bertiga. Yang terdengar hanya suara kriuk keripik yang dimakan Yumna dengan lahap.


"Ehh, kamu mau keripik, Sayang?" Sekian lama baru Yumna menawarkan kepada putranya. Saking enaknya mengunyah keripik, hingga lupa menawarkan putranya.


"Tidak Bun."


***


"Assalamu'alaikum," Suara salam serta suara bell rumah membuat Ali bergegas menuju pintu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Ali setelah membuka pintu rumah. "Ehh Nek, Kek," Lanjut Ali menyalami tangan sepasang suami-istri itu dengan takzim.


Selanjutnya mereka masuk ke dalam rumah. Sedangkan Ali pergi ke dapur untuk mengambil air untuk Nenek serta Kakeknya.


"Bunda mana, Cu?" tanya Tati kepada cucunya saat Ali menghidangkan minuman untuk mereka.


"Bunda sama Abi lagi di kamar Nek. Apa mau aku panggilin Nek?" tanya Ali mengatakan wajah renta Neneknya itu.


"Tidak udah, Cu. Nanti mereka juga akan keluar jika sudah selesai," balasnya yang diangguki Ali.


"Nenek sama Kakek sehat?" Ali menatap mereka secara bergantian.


"Alhamdulillah nenek sehat, Cu. Kamu gimana?"


"Alhamdulillah Kakek juga sehat,"


"Alhamdulillah jika Nenek sama Kakek sehat. Aku alhamdulillah juga sehat Nek," balas Ali.


Yumna dan Andi berjalan barengan menuju rumah tamu. Rencananya mereka akan menonton siara yang ada di televisi. Terasa suntuk jika berada di kamar terus. Maka dari itu mereka memilih untuk ke ruang tamu.


"Mama sama Papa kapan datang?" Yumna terkejut dengan kehadiran mertuanya itu. Pasalnya dia tidak tau jika mertuanya sudah sampai di rumah mereka. Tadinya dia mengira mertuanya akan sampai di rumahnya malam nanti.


"Hmm, kira-kira setengah jam yang lalu Yumna," jawab Tati.


"Gimana keadaan cucu, Mama, Yum?" Tati mengusap lembut perut besar menantunya itu. Sungguh dia sangat menantikan kehadiran cucu pertamanya ini.


"Alhamdulillah sehat Ma. Dia juga nggak rewel," jawab Yumna tersenyum kepada ibu mertuanya itu.


"Alhamdulillah Yum. Dulu saat Mama hamil Andi, dia juga anteng banget. Bahkan sampai lahir pun juga tetap anteng. Jadi nggak terlalu kesusahan Mama waktu itu." ujar Tati kepada menantunya itu.


Beruntung Yumna memiliki Ibu mertua seperti Tati. Ibu mertua yang sangat baik, bahkan tak pernah sekalipun dia menatap Yumna dengan pandangan buruk. Tatapan wanita itu sangat lembut bahkan keibuan. Tak pernah membedakan antara Yumna dan Andi. Tati menganggap Yumna sama seperti Andi anak kandungnya. Bahkan dengan Ali, Tati maupun suaminya menerimanya dengan bahagia. Bahkan Ali mereka anggap seperti cucu kandung mereka sendiri. Rasanya keluarga mereka terasa hangat serta bahagia.


"Semoga saja nanti bayi kami juga anteng kayak Abinya ya Ma," ujar Yumna menatap ibu mertuanya.


"Aamiin. Semoga saja itu terjadi." ujar semua yang ada di sana.


***


Pagi ini Yumna tengah mematut tubuhnya di depan cerminan meja rias. Gamis longgar tapi, masih memperlihatkan perut buncitnya dengan jelas.


"Bunda sangat cantik," Andi memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Issss mana ada Mas. Lihatlah tubuh aku sudah melar semua," jawab Yumna memanyunkan bibirnya.


"Cantik kok. Bagi Mas, Bunda itu tetap cantik. Mau badan Bunda melar kek, kurus kek tetap bagi Mas Bunda yang tercantik," Beberapa kali Andi mendaratkan ciuman pada pipi gembul istrinya. Pipin itu sangat tembem menambah kadar kecantikan wanita itu menurut Andi. Dia sangat suka wajah istrinya seperti ini.


"Isss, kan aku jadi baper Mas. Kamu jangan gombal lagi ihh," Sungguh Yumna saat ini malu dengan gombalan suaminya. Bahkan pipinya sudah tampak merah lantaran ucapan suaminya. Dia suka, bahkan hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan suaminya. Namun, dia sedikit malu untuk mengakui itu


"Nggak gombal kok Bun. Emang Bunda cantik," Andi mengusap beberapa kali perut istrinya. Terasa beberapa kali juga tendangan dari sana. "Bayi kita saja mengakui Bundanya cantik." Lanjutnya.


"Isss, sudahlah Mas. Aku nggak mau di gombalin sama Mas lagi," ujarnya dengan wajah yang semakin memerah karena malu.


"Tapi Bunda suka bukan? Lihatlah wajah Bunda saja sampai merah seperti ini," Andi mengusap wajah istrinya yang sudah berubah warna menjadi agak kemerahan.


"Ngak. Sudahlah Mas, yuk kita keluar. Mungkin kita sudah di tungguin," ajak Yumna menarik tangan suaminya.


"Iya Bun,"


Akhirnya sepasang suami istri itu meningalkan kamar mereka. Melangkah menuju ruang tamu yang mungkin saja sudah ada keluarga yang lain disana.


"Sudah siap Yum?" Tati mendekati menantunya. Tak lupa tangan itu mengelus perut buncit sang menantu. Begitulah kerjaan Tati, jika sudah bertemu dengan Yumna maka tangannya akan selalu mengusap lembut perut buncit itu. Rasanya sangat menyenangkan.


"Sudah Ma,"


****


Rangkaian acara di kampus Ali berjalan dengan lancar. Mulai dari A sampai Z sudah dijelaskan. Saat ini keluarga itu tengah berdiri di lapangan kampus. Mereka akan mengambil beberapa foto untuk menjadi kenang-kenangan suatu saat nanti.


"Selamat Sayang. Akhirnya cita-cita kamu tercapai juga," Yumna mengucapkan selamat untuk putranya. Untung saja otak anaknya encer jadi tak sampai empat tahun baru lulus kuliah. Sekitar lebih kurang tiga tahun Ali sudah menjadi seriang sarjana.


"Terima kasih Bunda. Ini juga berkat do'a Bunda selama ini." jawab Ali dengan menampilkan senyum manisnya.


"Selamat Nak, akhirnya kamu lulus juga. Pergunakan ilmu yang selama ini kamu dapat dengan baik," Andi ikut memberi selamat untuk putra sambungan.


"Terima kasih Abi, terima kasih juga untuk do'a yang Abi berikan untukku selama ini," ucap Ali menatap Abinya.


"Sama-sama Nak. Itu sudah tugas Abi," balasnya.


"Iya Cu, selamat atas gelarnya. Jangan lupa pergunakan ilmu itu dengan baik. Jangan disia-siakan. Ingat perjuangan Bunda sama Abi selama ini," Tomi ikut memberi selamat untuk cucunya. Sedangkan Tati ikut mengangguk atas apa yang dikatakan suaminya.


"Iya Kek, terima kasih. Aku pasti akan mengingat dan melakukan apa yang Kakek katakanlah. Terima kasih juga buat Nenek,"


"Sama-sama Cu,"


TBC