
Flashback on
Semenjak Tante Yumna berkunjung ke rumah mertuanya untuk membersihkan rumah yang sudah ditinggal beberapa bulan lamanya. Yumna dan suami serta kedua anaknya datang kesana dan menginap selama tiga hari. Mika yang malas jika di rumah hanya bersama pembantu meminta izin kepada Yumna untuk menginap di rumah temannya, Tiana.
"Tante besok aku nginap di rumah Tia, ya?" Saat itu Yumna tengah membereskan barang-barang yang akan dibawanya.
"Kenapa nggak di sini saja Mik? Atau ikut saja sama tante," pintanya.
"Emm, kalau disini malas nggak ada Ai sama Az, Tante. Lagian aku juga bisa belajar bareng sama Tia, Tan. Boleh ya Tan?" tanyanya.
Yumna mengangguk. "Ya sudah, tapi tidurnya jangan malam-malam ya? Ingat kesehatan itu nomor satu," Yumna menatap putri temannya itu.
Yumna tak mau jika Mika sakit karena begadang. Dan lagian Yumna tidak ingin temannya yang ada di pulau lain itu cemas dengan putrinya yang jauh. Maka dari itu Yumna memperingati Mika.
"Iya Tan, aku tidak akan begadang kok," jawabnya dengan tersenyum manis.
Esoknya sesuai apa yang dikatakan Mika, gadis itu menginap malamnya di rumah Tiana. Hanya satu malam. Besoknya lagi Mika memilih untuk pulang ke rumah.
"Mbok itu sendal siapa?" Mika melihat sepasang sendal yang tampak baru.
"Ohhh itu sendalnya Den Ali, Non," balas wanita paruh baya itu.
"Kapan Abang pulang, Mbok?" Mika menaikkan alisnya penasaran.
Memang beberapa hari yang lalu Yumna membicarakan jika Ali pulang minggu ini, namun tidak mengatakan hari apanya.
"Kemaren Non,"
Mika mengangguk. "Ooo gitu Mbok. Ya sudah aku masuk kamar dulu Mbok, lelah," pamitnya di angguki si Mbok.
Sore itu karena penasaran Mika masuk ke dalam kamar Ali. Rasa rindu akan sosok laki-laki yang sudah lama tak menjalani komunikasi, membuat Mika memasuki kamar luas itu. Kamar yang sekarang jelas terasa harum maskulin. Berbeda dari bebeberapa hari lalu saat Mika masuk ke kamar ini.
Menatap sekeliling kamar yang terdapat beberapa foto Ali yang terpajang di dinding kamar itu. Laki-laki tinggi yang memiliki brewok menambah kesan tampan untuk laki-laki bernama Ali itu.
"Kau siapa?!! Berani sekali kau masuk ke dalam kamar saya tanpa seizin saya?!" Mika yang asik menatap foto-foto Ali yang terpajang, terperanjat karena suara bass itu. Sungguh jantung Mika serasa mau copot mendengar ucapan laki-laki yang dulu terkenal lembut. Namun, kini suaranya seakan sangat menyeramkan.
"A-aku--"
"Keluar!! Tidak tahu sopan santun!!" Mika semakin terkejut dengan bentakan laki-laki itu.
Benarkah Mika tidak tahu sopan santun? Ahhh, mungkin memang benar. Masuk ke dalam kamar orang tanpa izin. Rasanya Mika tak enak hati masuk ke kamar Ali. Apalagi sekarang laki-laki itu tampak sangat marah kepada dirinya.
"Tapi aku ma--"
"Saya bilang keluar ya keluar!! Dasar tidak tahu sopan santun!! Masuk kamar orang tanpa izin!!" Sebenarnya sakit jika seseorang mengatakan hal demikian. Ok-lah Mika salah, tapi tak bisakah laki-laki itu berkata dengan lembut. Tidak usah membentak seperti itu. Tak tahu kah laki-laki itu jika Mika sebenarnya ingin menangis, lantaran suara laki-laki itu sangat keras.
"Tapi ba--"
"Kau dengar tidak saya ngomong!!" Akhirnya Mika memilih keluar tanpa sepatah katapun.
Meninggalkan Ali yang kini dengan wajah memerah karena marah. Berlari menuju kamarnya dengan berurai air mata. Tak ingatkah jika dia, gadis kecil yang dulu sangat dekat dengannya. Lupakan Ali akan sosok dirinya yang menjadi teman laki-laki itu saat mereka di kampung.
Kecewa? Benar Mika sangat kecewa dengan Ali yang melupakan dirinya. Memang wajahnya sekarang berbeda lumayan jauh dari yang dulu. Tapi jika di lihat dari dekat, rasanya Ali bisa mengetahui dirinya adalah Mika. Tapi apa? Ali tak mengenal dirinya sama sekali. Bahkan dengan tega membentak dirinya.
"Hiks, kenapa? Kenapa Abang lupa sama Mika? Apakah Abang tidak ingat dengan Mika? Atau abang hanya pura-pura lupa?" Mika memasukkan seluruh tubuhnya di dalam selimut. Menangis sesegukan.
Semenjak pertemuan itu, Mika memilih tak menampakkan dirinya di depan Ali. Malam itu Mika tidur di rumah namun, esoknya lagi kembali menginap di rumah Tiana.
Karena waktu itu hujan deras membuat Mika memberitahu Yumna jika tidak ada kendaraan. Dan gadis itu meminta di jemput oleh Om Andi.
Nyatanya yang menjemput bukanlah Andi melainkan Ali. Cukup terkejut dengan kehadiran laki-laki itu. Mau menolak juga tidak akan mungkin. Lagian sudah beberapa hari ini Mika menginap di rumah Tiana. Rasanya tak enak jika tidur di sana terus.
Flashback off
"Maaf," satu kata yang membuat Mika terkejut. Kenapa tiba-tiba laki-laki itu meminta maaf kepada dirinya. Padahal laki-laki itu tak memiliki salah.
"Maaf buat apa?" Mika menatap sekilas laki-laki yang kini tengah mengendarai mobil.
"Maaf untuk beberapa hari lalu karena abang ngebentak, Adek," jawabnya.
Adek? Satu kata yang sangat di rindukan Mika. Satu kata yang sangat di sukai gadis itu. Panggilan yang menurut Mika panggilan sayang dari Ali untuknya. Nyatanya Ali masih mengingat akan panggilan itu. Mika berfikir jika Ali lupa.
"Bolehkah aku kecewa sama Abang?" Mika kembali melihat laki-laki itu. "aku kecewa Abang tidak mengenali aku. Aku kecewa Abang ngebentak aku." lanjutnya.
"Maafkan Abang, Dek. Jika Abang tahu itu kamu, Abang tidak akan membentak kamu," sesalnya.
"Nyatanya Abang ngebentak aku bukan? Meskipun itu bukan aku harusnya Abang tidak perlu berkata seperti itu. Abang boleh marah karena, aku masuk kamar Abang tanpa izin. Tapi jangan dengan cara kasar seperti itu. Baik sama aku maupun sama yang lain. Karena kita tidak tahu bagaimana jiwanya menerima apa yang Abang katakan." Mika menatap lurus kedepan. "harusnya Abang memberi nasehat dengan suara lembut atau enak di denger. Bukan malah marah-marah seperti itu." lanjutnya.
"Maaf Dek,"
"Sudahlah Bang. Lagian itu juga sudah berlalu. Tapi untuk kedepannya coba Abang kalau memperingati seseorang itu dengan suara lembut, jangan lagi melakukan hal yang sama. Abang harus ingat tak semua orang bisa menerima kata-kata kasar yang Abang ucapkan." pintanya beralih menatap laki-laki tampan itu.
"Baiklah Dek. Terima kasih sudah mengingatkan Abang," Ali menatap Mika dengan menampilkan senyum manisnya. Tak lupa laki-laki itu mengusap lembut surai hitam milik Mika.
"Sama-sama Bang," balas Mika.
Akhirnya mobil yang dibawa Ali sampai di kediaman Yumna. Memarkirkan mobil itu di tempat biasanya. Selanjutnya ke-dua orang itu turun dari mobil dan melangkah bersamaan ke dalam rumah.
***
Malam ini keluarga kecil Yumna tengah berkumpul di ruang tamu, termasuk Mika yang juga ikut di sana. Yumna maupun Andi tidak pernah membedakan Mika dengan anak-anak mereka. Menurut mereka anak itu sama semuanya.
Buat apa membedakan mereka, jika saja berasa di posisi yang sisihkan pasti rasanya sakit. Maka dari itu Yumna dan Andi tak melakukannya.
"Gimana kuliahnya tadi Mik?" Yumna menatap anak gadis temannya yang kini duduk di sampingnya.
"Lancar Tante," balasnya.
Yumna mengangguk. "Besok berangkat sama Abang ya Mik, tidak usah naik taksi. Lagian jalan ke kampus sama tempat kerja Abang juga searah," pinta Yumna menatap gadis itu.
"Baiklah Tante," jawab Mika dengan tersenyum.
Sedangkan Ali menatap Bunda serta Mika yang sedang berbincang. Tak mengalihkan penglihatannya dari televisi yang kini tengah menyala. Seakan pembicaraan antara Yumna dan Mika sangat menarik bagi Ali.
TBC