
Satu bulan yang lalu Ali sudah melihat kampus yang akan ia tempat untuk menuntut ilmu. Apa yang dia inginkan akhirnya terkabul, dia lulus ditempat kuliah yang dia inginkan. Hatinya sangat bahagia diterima di sana. Dengan jurusan Kedokteran yang memang impiannya dari kecil. Saat masih kecil Ali bercita-cita sebagai seorang dokter, tapi kadang-kadang pikirannya berputar, sekarang bercita-cita menjadi seorang dokter, lalu guru, kadang juga polisi. Namun semenjak menginjak sekolah menengah akhir, Ali memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya dengan jurusan dokter gigi.
"Bun, Ali berangkat dulu ya," pamitnya menyalami tangan Yumna.
"Ehhh, nggak makan dulu Sayang?" tanya Yumna kepada anaknya yang hendak pergi.
"Nggak usah Bun. Nanti saja beli di kantin. Nanti aku terlambat kalau maka di rumah Bun," jawabnya.
"Yasudah kamu tungguin Bunda sebentar, biar Bunda ambilin bekal buat kamu. Nanti kamu sakit kalau nggak sarapan pagi. Apalagi kalau banyak aktifitas nanti di kampus," ujar Yumna terus berkata seraya mengambilkan makanan untuk anaknya. Tanpa mau mendengarkan ucapan sang putra.
"Nggak usah Bun," sanggah Ali namun sang bunda tidak mengindahkan ucapannya, dan terus melanjutkan mengambil bekal untuk sang putra.
Mau tak mau Ali menunggu dengan sabar sang bunda yang tengah mengambilkan bekal untuk nya. Rasanya juga tidak enak jika saja Ali langsung pergi tanpa menerima bekal yang diberikan sang bunda. Yang ada nanti Yumna akan merasa kecewa dengan perlakuan sang anak. Ali sungguh tidak akan tega membuat wanita itu bersedih karenanya.
"Nih Sayang, jangan lupa dimakan sebelum beraktifitas nanti ya. Ingat kesehatan kamu itu yang pertama," Yumna memberikan bekal pada sang putra yang disambut laki-laki itu dengan senyum merekah di wajahnya.
"Terimakasih Bun," balas Ali dengan senyum manis. Kembali laki-laki itu menyalami tangan wanita yang telah membesarkan dirinya itu. "yaudah Ali berangkat dulu Bun," pamitnya.
"Iya Sayang, hati-hati," nasehat Yumna kepada sang putra.
Ali berangkat menggunakan motor yang satu minggu lalu dibelikan Yumna. Semenjak mereka pindah ke kota, Yumna membuka warung kecil-kecilan yang terletak tak jauh dari rumah mereka. Namun disekitar sana tak banyak orang-orang yang memiliki warung.
Alhamdulillahnya warung Yumna banyak pelanggan. Disaat hari ketiga Yumna membuka warung tersebut. Sebenarnya Yumna awalnya tidak akan membuka warung melainkan toko kue. Tapi mengingat kadang kala kue tidak selalu sering dibutuhkan masyarakat maka dari itu Yumna memilih membuka warung yang di dalam terdapat bahan makanan pokok dan sebagainya. Dan tentunya itu sangat dibutuhkan setiap hari oleh setiap orang.
Yumna tengah bersiap untuk pergi ke warung menggunakan gojek yang telah dia pesan. Jarak warung dan rumahnya hanya berjarak sekitar lima belas menit. Yumna mengunci rumahnya lalu melangkah menuju gojek yang telah berdiri di depan rumahnya.
Ali sampai di kampus yang sangat luas. Memarkirkan motornya ditempat parkir yang memang sudah tersedia disana. membuka helm lalu melangkahkan kaki panjangnya menuju taman. Kelihatannya seluruh mahasiswa belum datang, baik itu mahasiswa baru ataupun senior.
Pukul delapan tepat, seluruh mahasiswa baru sudah berdiri dilapangan. Hari ini mereka akan mengadakan ospek pertama. Berbagai macam kegiatan sudah dituliskan di mading yang ada di depan kampus, bahkan ada juga di bagian dalam kampus.
***
Yumna tengah melayani pembeli di warungnya. Tampaknya hari ini warungnya ramai seperti kemaren lagi. Barang-barang yang dibeli Yumna dua hari lalu kini kelihatan sudah hampir habis stoknya. Mungkin besok dia akan pergi membeli isi warungnya lagi.
Ramainya pengunjung membuat Yumna tidak dapat beristirahat. Tubuhnya terasa lumayan lelah melayani pengunjung. Apalagi mengambil apa yang diinginkan pelangannya. Bolak balik sana-sini untuk melayani mengunjunginya.
Waktu cepat berlalu, kini Yumna sudah berada di dalam perjalanan menuju rumahnya. Sampai di rumah Yumna sudah melihat anak bujangnya tengah memasak untuk makan malam mereka. Melihat itu, rasa lelah yang semula mendera Yumna hilang dengan seketika saat melihat anak bujangnya.
"Ehh, Bunda. Kapan pulang Bun?" Ali terkejut saat melihat sang bunda tengah berdiri di dekat pintu dapur.
"Baru saja Sayang, kamu masak apa nih?" Yumna melangkah menuju sang anak.
"Ini Bun, aku masa sayur bayam sama ikan asin," jawab Ali memperlihatkan apa yang tengah dia masak kepada sang bunda.
"Ummm, bunda ke kamar dulu ya Nak, bunda mau mandi dulu, gerah banget rasanya. Nggak apa-apa kalau bunda tinggal 'kan Sayang?" Yumna berkata dengan sangat lembut kepada anaknya.
"Iya nggak apa-apa kok Bun, lagian ini juga hampir siap," balas Ali yang diangguki sang bunda.
Yumna meninggal Ali yang tengah memasak di dapur. Menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.
TBC