
Di kediaman Reyhan tepatnya di halaman belakang tampak sepi. Disana hanya tinggal gadis remaja yang hanya bisa mengandalkan kursi roda. Hidupnya memang berkecukupan, namun dia tidak dapat melakukan aktifitas seperti yang orang lain lakukan. Menatap langit cerah yang menampakkan sedikit awan putih.
Langit cerah siang ini membuat gadis remaja itu menatap dengan parasaan sedih. Ada secercah rasa iri dalam diri gadis itu saat melihat teman sebayanya melakukan aktivitas yang sangat ingin Reni lakukan.
Sedih? sudah pasti dia sedih. Siapa yang tidak sedih jika kehidupan yang dia jalani tak seindah bayangan dan angan yang selama ini dia pikir serta bayangkan. Ingin menganggap ini hanya mimpi belaka, namun takdir nyata menghempas Reni ke dalam jurang dalam. Tak dapat lagi mendaki dalamnya jurang yang tengah melahap seluruh tubuhnya.
Dia hanya tersenyum kepada keluarganya. Namun percayalah jika hatinya tengah menangis. Takdir Tuhan yang tak seindah yang dia bayangkan.
"Tuhan..., kenapa kehidupan yang aku jalani seberat ini. Tak adakah secercah cahaya yang membuat diri ini bisa berjalan seperti mereka. Ingin sekali diri ini merasakan bagaimana indahnya dunia luar. Bukan seperti seekor burung emas yang hanya berdiam diri di dalam sangkarnya," Reni menatap langit seakan ada jawaban atas pertanyaan yang tengah dia ucapkan.
Lagi-lagi air mata yang dia tahan di depan orang-tua serta neneknya keluar dengan sendirinya tanpa dapat dicegah gadis remaja itu.
Disisi lain seorang wanita tengah menatap gadisnya tengah mengusap air mata yang terus saja merembes keluar dari pelupuk mata indahnya. Rasa sedih menyeruak di dalam dirinya. Menatap anaknya yang selalu menangis setiap dia menyendiri.
Hampir setiap hari gadisnya itu menyendiri dengan di temani air mata. Ibu mana yang tidak akan sedih melihat anaknya seperti itu. Tak ada seorang pun yang tau jika sang putri sering menangis dengan keadaan seorang diri. Hanya dirinyalah saksi dari semua tangis gadisnya. Bahkan ayah kandungnya sendiri tidak pernah tau jika anak gadisnya sering menangis seperti saat ini. Wanita yang melahirkannya lah yang tau jika anaknya seperti itu.
Bukannya tidak mau mendekat, wanita itu tau jika anak gadisnya sering menyembunyikan kesedihan tanpa mau memberi tahukan kepala orang-tuanya.
Air mata mengalir dari sisi mata wanita yang tengah melihat anaknya. Dadanya terasa sesak melihat kondisi anaknya yang tidak kunjung sembuh. Berbagai cara sudah dilakukan, namun takdir Tuhan untuknya seperti itulah.
Ingin rasanya wanita itu menggantikan anaknya. Biarlah dirinya yang berada di posisi gadis itu, asalkan anaknya bisa seperti teman-temannya yang lain. Tapi itu semua tidak akan terjadi, Lani yang sebagai ibu hanya bisa berandai-andai untuk sang buah hati.
Kaki itu melangkah masuk lagi ke dalam rumah. Masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan. Rasanya sungguh ingin sekali Lani memeluk erat anak gadisnya. Namun dorongan dalam dirinya agar tidak mendekati anak gadisnya. Karena selama ini anaknya tidak pernah menampakkan rasa sedih itu di depannya. Mungkin nanti dia pasti akan menghampiri anaknya untuk memberikan semangat untuk gadis remaja itu. Itulah pikir Lani.
Mengerjakan pekerjaan dapur yang belum selesai dia kerjakan. Memasak nasi, sambal serta sayur yang masih belum satupun di kerjakan. Menghapus air mata yang tadi sempat keluar dari nertra terangnya.
Sedangkan Reni, menjalankan kursi rodanya masuk ke dalam rumah setelah dirasa tak ada lagi air mata yang menghiasi pipi mulusnya. Remaja yang memiliki kulit putih bersih, dengan bentuk wajah oval. Jangan lupakan bulu mata lentik serta hidung mancung turunan dari sang ayah. Ahh ya, rambut pirangnya yang hanya sebatas bahu gadis itu. Tampak sangat manis serta cantik. Itulah kira-kira definisi gadis remaja yang tengah mengayun kursi rodanya dengan tangan agar lekas sampai di dalam rumah.
Reni membawa kursi roda itu menuju dapur, ketika tidak melihat sang ibu di ruang tamu. Kemungkinan ibunya tengah memasak. Itulah pikir gadis remaja itu.
"Ibu ada yang bisa aku bantu?" tanya gadis itu menatap sang ibu yang tengah asik memotong sayur kangkung.
"Iya Bu," balasnya mengambil apa yang diberikan sang ibu.
Reni dengan telaten mengupas bawang merah. Setelah selesai dia juga mengiris bawang merah tersebut atas saran sang ibu.
"Bu kenapa ya aku sampai sekarang nggak bisa jalan? aku ingin sekali bisa seperti teman-teman yang lain. Bisa ke sekolah atau semacamnya," Reni menatap sang ibu yang tengah menggoreng ikan.
Lani menghentikan kegiatannya. Menatap anak gadisnya dengan tatapan sedih. "Sayang sabar ya, semoga suatu saat kamu bisa seperti teman-teman yang lain. Bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Jangan lupa berdo'a Nak. Semoga saja pengobatan yang kita lakukan kali ini akan membuahkan hasil," Lani mengusap lembut anaknya meski dia menatap pilu gadis tersebut. Hatinya terenyuh saat mendengar ucapan anaknya.
"Tapi sampai kapan aku akan duduk terus di sini Bu? rasanya aku ingin nyerah buat berobat. Tak ada satupun yang berhasil. Bahkan umurku sekarang sudah enam belas tahun Bu," Tak terasa air bening mengalir dari mata indah itu. Menatap sang ibu dengan linangan mata yang menganak sungai.
Lani berjalan mendekati sang putri. Menghapus air mata yang keluar. "Sayang dengerin ibu, tidak akan ada yang sia-sia jika kita terus berusaha dan berdo'a. Jikapun kamu tidak di takdirkan seperti apa yang kamu bayangkan, tetaplah bersyukur Sayang. Ingatlah masih banyak saudara-saudara kita yang lain. Bahkan ada yang tidak memiliki kaki, ataupun tangan. Bahkan ada juga yang tak memiliki keduanya." ujar Lani menatap putrinya dengan sedih.
"Tapi Bu--"
"Sssttt, jangan pernah menyerah Nak. Tetap bersyukur dengan apa yang saat ini kamu miliki. Kamu masih punya tangan untuk mengerjakan sesuatu. Meski kaki kamu tidak berfungsi, namun percayalah rencana Allah lebih indah dari apa yang kamu bayangkan, Sayang," Lani menghapus air mata yang merembes dari mata indah putrinya.
"Aku cap--"
"Sayang dengerin ibu, belum tentu apa yang kamu inginkan sekarang itu yang lebih baik. Kadang kala apa yang kita anggap baik malah itu sebaliknya. Intinya jangan lupa bersyukur dengan nikmat Tuhan ya Sayang. Ibu nggak mau kamu terus mengeluh Nak. Ibu sedih melihat kamu yang sedih, bahkan hati ibu juga perih kala melihat anak kesayangan ibu menangis sendirian." Lani kembali memotong ucapan anaknya. Air mata Lani juga ikut keluar menatap sang anak.
Reni mengusap air mata dipipi wanita yang telah melahirkan dirinya dengan lembut. Setelahnya baru dia menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Sungguh Reni amat sedih melihat wanita itu mengeluarkan air matanya hanya karena dirinya. Inilah hal yang paling tidak ingin Reni lihat. Dia tidak sanggup melihat ibunya menagis hanya karena dirinya. Bukan hanya itu, bahkan siapapun yang membuat ibunya menangis dia tidak akan suka.
"Huhffff, baiklah Bu, mulai hari ini aku nggak akan sedih. Nggak ada ngeluh lagi atau malah putus asa dengan takdir yang diberikan Tuhan untukku. Terimakasih Ibu, karena Ibu telah membuat aku sadar. Memang benar apa yang Ibu katakan, tak seharusnya aku seperti ini. Terimakasih Bu, terimakasih," Gadis itu memeluk sang ibu yang kini tengah berjongkok di depannya. Memeluk dengan erat wanita kesayangannya. Dia sadar tak seharusnya dia seperti ini, ya tak seharusnya.
"Sama-sama Sayang," balas Lani membalas pelukan anak gadisnya.
Setelah melepas pelukannya, Lani melanjutkan memasak dibantu sang putri. Mereka hanya memasak ikan cabe merah, serta sayur kangkung.
TBC