Diceraikan

Diceraikan
Sebuah Ajakan


Sore ini Yumna tengah menunggu kedatangan sang putra ke toko untuk menjemput dirinya. Bukan tidak mau naik angkot untuk pulang, tapi putranya mengirim pesan jika dia akan menjemput dirinya ke toko.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Beberapa menit lalu, Yumna sudah melaksanakan tugasnya sebagai seorang hamba. Jika menunggu sampai di rumah, maka waktu keburu habis. Jika sang putra menjemputnya cepat ya syukur, tapi kalau lambat. Tidak akan ada lagi waktu untuk melaksanakan sholat asar. Lama menunggu, akhirnya netra terang itu melihat sang putra yang sudah berbelok ke arah toko.


"Yuk pulang Bun," Ali yang sudah sampai di depan sang bunda langsung saja mengajak wanita itu untuk pulang.


Semua karyawan Yumna sudah pulang beberapa menit lalu. Karena jam tutupnya emang tidak sampai larut. Tergantung jika pembeli emang banyak yang berbelanja.


"Ya sudah yuk," Yumna langsung saja berdiri dan melangkah mendekat kepada putranya. Menarik sedikit gamisnya ke atas lalu menaiki motor yang dibawa anaknya. "Yuk jalan Sayang," titah Yumna yang diangguki sang putra.


Motor yang dilajukan Ali meninggalkan toko. Melihat ke kiri dan kanan saat motor yang di kendarainya berhenti tepat di simpang dua. Tidak mungkin langsung melaju, lantaran banyak kendaraan yang lalu lalang. Jika saja langsung di terobos maka yang ada malah kecelakaan. Mau pulang ke rumah yang ada malah kerumah sakit. Kan nggak lucu.


Sampai di rumah langsung saja anak dan ibu itu melangkah masuk ke kamar masing-masing. Mungkin saja mereka akan membersihkan diri lantaran cuaca hari ini sangat panas. Keringat pastinya akan mengaliri tubuh mereka, meskipun tidak melakukan aktivitas yang banyak.


***


Sudah lebih satu minggu Reyhan tidak bertemu sang putra, lantaran dirinya sangat sibuk. Sibuk mengurus masalah sekolah, karena beberapa minggu lagi anak muridnya akan mengadakan ujian akhir. Reyhan sangat rindu dengan putranya. Rencananya hari ini dia akan bertemu dengan sang anak setelah dia memberikan pesan kepada putranya.


Pertemuan yang membuat ayah dan anak seminggu lebih membuat Reyhan meminta nomornya. meskipun tidak pernah sekalipun dia menelpon sang anak. Bukan tidak mau, bahkan Reyhan sangat mau berkomunikasi dengan putranya itu. Tapi dia masih merasa sedikit takut, ntah apa yang membuat dirinya begitu. Reyhan sulit untuk menjelaskannya. Padahal jika dilihat sang anak terlihat biasa saja.


Mereka berjanji akan bertemu di taman dekat simpang tiga. Karena hanya disitu taman yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Ali. Meskipun ada taman yang lain, tapi pengunjungnya tidak terlalu ramai. Bahkan bisa dikatakan sangat sepi. Rasanya jika ke taman yang sepi terasa agak aneh. Mendingan mereka bertemu ditanam yang banyak di kunjungi muda-mudi, ataupun orang dewasa.


"Sudah lama menunggu, Nak?" Saat Reyhan tiba di taman, nyatanya sang putra sudah menunggu dirinya sambil memainkan gawainya. Tampaknya sang putra baru pulang dari kampusnya, lantaran pemuda itu masih mendukung tasnya dipundak.


"Belum terlalu lama, Pak," jawab Ali. Rasanya lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kata Ayah. Maka dari itu Reyhan memanggil Pak kepada Reyhan. Mungkin suatu hari dia akan belajar meski agak susah rasanya.


"Maaf ya jika ayah telat, soalnya tadi ayah banyak kerjaan di sekolah," ujar Reyhan tak enak hati kepada putranya. Dia yang mengajak untuk ketemuan, tapi malah dirimu juga yang datang terlambat.


"Tidak apa-apa Pak, lagian saya juga baru sampai," jawab Ali. Sebenarnya dia bukan baru sampai, tapi malah sudah sepuluh menit dia duduk disana barulah Reyhan datang. Tadinya Ali ingin pulang jika saja lima belas menit belum juga Reyhan sampai, namun belum lewat dari sepuluh menit akhirnya Reyhan sudah berada di dekatnya.


"Gimam kuliah kamu hari ini Nak?" Reyhan tampak berbasa-basi terlebih dahulu kepada sang putra. tak mungkin dia langsung berbicara keintinya langsung.


"Alhamdulillah lancar Pak," jawab Ali dengan singkat.


"Alhamdulillah, Ibu kamu gimana kabarnya?" lanjut Reyhan kepada sang putra.


"Alhamdulillah Bunda sehat," jawab Ali kembali singkat.


"Boleh nggak ayah minta sesuatu sama kamu Nak?" tanya Reyhan dengan hati-hati. Takut anaknya menolak permintaannya yang mungkin hanya sepele.


"Boleh kalau aku bisa Pak," balas Ali menatap laki-laki paruh baya yang ada di sampingnya.


"Emm, bisa tidak kamu manggil ayah dengan sebutan Ayah bukan Bapak?" Reyhan sangat hati-hati berbicara. Takutnya ucapannya itu melukai hati sang putra. Ya meski Reyhan tau ini bukanlah permintaan yang susah, hanya saja Reyhan ingat bahwa selama lebih kurang hampir dua puluh tahun ini anaknya tidak pernah bersama dirinya. Pasti akan merasa agak aneh jika saja dia langsung memanggil dirinya dengan kata Ayah.


Ali terdiam mendengar ucapan ayahnya. Meski permintaannya tidak sulit, tapi mulutnya seakan kelu untuk menyebut kata Ayah. Lain lagi saat dia sendiri dan berkemungkinan kata Ayah akan sangat lancar keluar dari mulutnya. Tapi jika berhadapan seperti ini rasanya terlalu berat bagi Ali.


Ali mendongak menatap langit cerah. "Baiklah nanti akan saya coba Pak, tapi maaf untuk saat ini saya belum bisa." jawab Ali membuat Reyhan agak sedikit kecewa. Namun dia juga tidak bisa memaksakan sang putra sesuai dengan kehendaknya.


"Baiklah ayah mengerti." jawab Reyhan akhirnya.


Kini tak ada lagi pembicara yang keluar dari mulut kedua anak manusia tersebut. Mereka memilih untuk bungkam beberapa saat. Berperang dengan pikiran masing-masing.


"Oh ya, ayah mau ngomong sesuatu boleh?" tanya Reyhan agak sedikit takut setelah lama mereka terdiam. Takut ucapannya ini akan mendapatkan tolakan dari sang putra. Apalagi ini terkesan sangat mendadak.


"Mau ngomong apa Pak?" Ali menautkan alisnya tanda penasaran dengan ucapan Ayahnya.


"Bisakah kamu menginap di rumah ayah?" Reyhan menatap manik mata tegas sang putra. Tampak anaknya itu agak terkejut mendengar permintaannya.


"Menginap?" ulang Ali dengan aksi naik satu.


"Iya Nak, tapi tidak setiap hari kok. Dia kali seminggu atau sekali seminggu pun juga tidak apa-apa," ujar Reyhan kepada sang putra. Berharap anaknya mau dengan ajakannya. Reyhan sangat ingin anaknya itu tinggal di rumahnya meski tidak setiap hari, apalagi ibunya juga sangat ingin sang cucu tidur di rumah mereka.


Ali terdiam sebentar sebelum dia mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. "Saya nggak bisa jawab sekarang Pak. Saya harus izin dulu sama Bunda. Tidak mungkin saya mengambil keputusan hanya sepihak. Yang ada Bunda akan syok mendengar jika saya tiba-tiba menginap di rumah Bapak," jawab Ali dengan lembut. Tak ingin menyakiti hati Reyhan seperti yang dilakukan laki-laki itu dulunya kepada sang bunda.


Reyhan menarik nafasnya cukup dalam. Menurutnya ini penolakan cukup halus. Tapi ntahlah mungkin saja apa yang dikatakan sang putra memang benar. Rasanya ingin sekali Reyhan egois. Tapi ingatkan lagi jika dia akan di benci sang putra. Dia lebih memilih untuk mengalah saja.


"Baiklah ayah mengerti. Nanti jika diizinkan kasih tau ayah ya?" pintanya yang diangguki sang putra.


Setelah tidak ada lagi yang mau dibicarakan. Mereka memilih untuk pulang ke ruang masing-masing.


TBC