Diceraikan

Diceraikan
Melahirkan 2


"Selamat ya Bu, Dokter Andi, bayinya perempuan. Sehat tanpa ada kekurangan satupun. Bayinya juga cantik sepeti Ibunya," ujar Dokter yang membantu persalinan Yumna. Tak lupa wanita itu menampilkan senyum manis untuk sepasang suami-istri itu yang baru saja di karunia bayi mungil.


"Alhamdulillah, terimakasih Dok," jawab Andi dengan senyuman.


"Sama-sama Dokter Andi," balasnya.


"Bunda terima kasih, terima kasih Bunda sudah memberikan kebahagiaan yang tidak pernah Mas bayangkan sebelumnya," Andi mendaratkan beberapa kecupan pada dahi istrinya.


Dia sangat bahagia, diumur yang tak lagi muda, Allah masih memberinya kepercayaan untuk menjadi seorang Ayah dari anak kandungnya sendiri. Padahal awal dulu saat dia menikahi Yumna, tak yakin laki-laki itu akan memiliki anak. Namun, apa yang dia pikirkan tidak akan sama dengan apa yang di takdirkan Allah. Sungguh Allah itu maha baik.


"Sama-sama Mas, itu sudah tugasku sebagai seorang istri," jawab Yumna dengan lemah. Tenaganya belum sembuh total, marena terlalu banyak terkuras tadi.


Kini tiba saatnya Andi, mengiqamahkan putrinya setelah di bersihkan suster yang ikut membantu persalinan Yumna. Setelahnya Andi keluar dari ruang persalinan istrinya.


"Abi, bagaimana keadaan Bunda dan adik bayi?" Ali bergegas menemui Andi saat melihat laki-laki itu keluar dari pintu bercat biru itu.


Andi menampilkan senyum manisnya. "Alhamdulillah Bunda melahirkan dengan selamat. Dan juga adik bayi sangat cantik seperti Bunda, Al,"


"Alhamdulillah Bi, aku ikut bahagia mendengar kabar ini,"


"Kapan istrimu akan di pindahkan An? Mama sudah tidak sabar untuk melihat keadaan istri serta putri mungilmu," Tati tampak tak sabaran untuk melihat cucunya. Sungguh wanita itu sangat rindu dengan kehadiran seorang bayi mungil.


"Sebentar lagi Ma, sekarang Yumna masih dj bersihin sama dokter," jawab Andi yang diangguki Tati.


****


Yumna sudah di pindahkan ke ruang rawat oleh suster. Tak lupa juga dengan bayi merah yang beberapa saat lalu lahir ke dunia.


"Mau kamu kasih nama siap putrimu, An?" Tati saat ini tengah melihat bayi merah itu. Bayi merah yang masih setia memejamkan matanya karena kantuk setelah meminum ASI sang bunda.


Andi menatap istrinya yang berbaring dia atas ranjang. Apakah istrinya itu punya nama untuk sang putri atau dirinya yang akan memberi nama putri mereka.


"Aileen Arfana dan kita bisa manggilnya dengan sebulan Aileen. Aileen Arfana memiliki makna anak perempuan bagai cahaya matahari yang cerdas dan bijaksana," Yumna menampilkan senyumnya saat nama itu terlintas di pikirannya.


"Bagus Bunda. Mas suka dengan namanya," ujar Andi kengangguk beberapa kali.


"Iya bagus Yum. Mama juga suka dengan nama itu," Tati mengalihkan penglihatannya kepada sang menantu. Memberikan senyuman tulus kepada menantunya itu.


"Aileen, nanti kalau sudah besar main sama Abang ya," Ali berbicara kepada adiknya yang masih setia menutup ke-dua mata mungilnya itu. Meski tak ada jawaban, namun Ali sangat suka menatap wajah merah adiknya itu.


"Iya, mainkan juga sama Kakek ya Cu?" tambah Tomi kepada bayi merah itu. Seakan perkataan mereka akan dijawab bayi mungil itu.




Malam ini hanya tinggal Andi serta istri dan juga anaknya di rumah sakit. Sedangkan ke-dua orang-tua serta Ali sudah pulang ke rumah. Tak perlu banyak yang menunggui istrinya di rumah sakit. Cukup dirinya yang akan siaga menjaga anak serta istrinya.



"Bunda mau makan?" tanya Andi saat membantu mendudukkan istrinya.



"Iya Mas, aku sudah lapar," jawab Yumna menampilkan senyumnya kepada suaminya.



"Baiklah, Mas akan nyuapin Bunda, ya," pintanya kepada sang istri.



"Iya Mas,"




"Terima kasih Bunda," ucap Andi setelah meletakkak piring kosong di atas nakas.



"Buat apa Mas?" Yumna tampak bingung dengan suaminya. Lagian terima kasih buat apa?



"Ya buat semuanya Bunda. Intinya terima kasih." ujar Andi dengan tersenyum kepada istrinya.



Yumna hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun suaminya tak mengatakan dengan jelas. Sedikit banyaknya Yumna tau kemana arah perkataan suaminya.



\*\*\*\*



Siang ini Yumna sudah di perbolehkan untuk pulang. Andi sudah membereskan semua pakaian istri serta anaknya. Untung saja hari ini Andi meminta cuti, agar dirinya bisa membantu membawakan peralatan istri serta putrinya.



Orang-tuanya tak di bolehkah Andi untuk datang ke rumah sakit. Karena mereka juga akan bertemu dengan cucu serta menantu mereka di rumah nanti. Sedangkan Ali saat ini tengah bekerja di sebuah apotik. Karena pemuda itu belum mendapatkan pekerjaan dari hasil ijazah sarjananya. Sudah beberapa lowongan yang dimasukkan laki-laki itu ke berbagai ruang sakit. namunr, belum ada satupun panggilan untuk dirinya. Dari pada nganggur, laki-laki itu memilih bekerja di apotik yang di sarankan teman semasa kuliahnya.



"Yuk Bunda, kita pulang," ajak Andi setelah semuanya selesai.



"Iya Mas," jawab Yumna memegang lengan kekar suaminya. Wanita itu belum bisa berjalan terlalu cepat, lantaran jahitan pada bagian intinya tidaklah sedikit. Apalagi jalan lahirnya kemaren sempat sobek. Alhasil jahitannya sangat banyak.



Mereka meninggalkan rumah sakit. Dengan Andi yang menggendong bayi mungil mereka serta tas yang di sampirkan ke bahu kekarnya. Sepanjang jalan koridor rumah sakit, banyak yang menyapa Andi maupun Yumna. Apalagi Andi disana terkenal dengan dokter bedah yang sangat penting di rumah sakit itu. Maka dari itu dokter serta suster banyak yang mengenal Andi.



Bahkan kata Mamanya juga banyak hadiah yang datang ke rumahnya untuk si kecil, Aileen. Mulai dari hadiah yang kecil sampai pada hadiah yang sangat besar.



Akhirnya perjalanan yang lumayan panjang Andi, Yumna serta Beby Aileen sampai di kediaman mereka. Di sambut oleh Tati dan juga Tomi yang setia menunggu di depan rumah mereka. Bergegas wanita tua itu menghampiri Andi dan mengambil Beby Aileen dari pangkuan sang abi. Membawa bayi merah itu masuk ke dalam rumah dengan senandung ria yang diucapkan wanita itu.



"Mama ini kenapa banyak sekali?" Andi menatap tumpukan hadiah yang berada di ruang tamu rumahnya.



Tati mengedikkan bahunya acuh. "Tidak tau," Kembali Tati mengajak bayi merah untuk berbicara. Dia sangat suka berbicara dengan cucunya. Sangat lucu dan juga imut.



Andi memijit kepalanya. Tak menyangka jika putrinya akan mendapatkam hadiah sebanyak ini dari rekan kerjanya di rumah sakit. Menghela nafas kasar. Tak mungkin Andi akan membiarkan hadiah itu berserakan diri ruang tamu. Laki-laki itu akan membuka semua hadiah yang diberikan untuk putrinya agar bisa di susun di tempat yang semestinya. Jika di biarkan begini yang ada rumah akan tampak kacau dan berantakan. Apalagi mata tidak akan senang untuk melihatnya.



TBC