
Sejak pertemuan tak sengaja antara Andi dan Yumna, tak pernah lagi mereka bertemu hingga saat ini. Tapi beberapa waktu lalu, Andi mengirimi pesan melalui wassap kepada Yumna. Laki-laki itu rencananya akan berkunjung kerumah Yumna.
Yumna membereskan rumah yang tampak kurang rapi. Lantaran belum dia sapu dari pagi. Sebelum itu Yumna juga sudah memasak makanan serta cemilan yang memang jadi kebiasaan Yumna. Botol toples yang biasanya penuh dengan cemilan yang dibeli maupun di buat, kini tampak kosong tanpa ada isi sedikitpun. Maka dari itu Yumna membuat beberapa cemilan mudah dan juga tidak perlu memakan banyak biaya.
Semua yang dilakukan Yumna dirasa sudah selesai. Wanita itu memilih untuk membersihkan tubuhnya, karena sudah tidak sedap jika di cium baunya. Keringat cukup banyak keluar dari tubuh Yumna lantaran banyak beraktivitas. Memakai gamis serta hijab yang senada. Wanita itu tampak cantik dengan polesan liptint serta sedikit bedak yang biasa dia gunakan. Meski tak lagi muda, Yumna masih terlihat sangat cantik.
***
Seorang laki-laki berparas tampan tengah melajukan mobilnya menuju rumah teman semasa sekolahnya dulu. Laki-laki itu menyematkan sebuah senyum tipis di bibirnya. Dia tampak sangat bahagia lantaran dia akan berkunjung ke rumah wanita yang dulu pernah masuk ke dalam hatinya.
Dengan santai tanpa terburu-buru laki-laki itu melajukan mobilnya. Memecah jalan raya yang tampak tidak terlalu ramai. Dengan bersiul ria laki-laki itu membayangkan bertemu dengan wanita yang pernah mengisi hatinya. Rasanya dia terlalu bahagia bahkan sangat bahagia. Ntah perasaan itu masih saja ada sampai kini, yang jelas Andi masih saja merasa tingkahnya seperti anak ABG yang akan bertemu pacarnya. Andi tidak tau dengan perasaan yang kini dia rasakan.
Mobil yang di kendarai Andi memasuki perkarangan rumah Yumna. Memarkirkan mobilnya dijalan yang tampak luas tersebut. Laki-laki itu membuka pintu mobilnya dan mengeluarkan kaki panjangnya untuk berpijak pada tanah.
Dengan menenteng tas kecil yang ntah apa isinya. Dengan semangat laki-laki itu berjalan menuju pintu masuk. Pintu yang tampak tertutup dengan rapat.
Tok...
Tok...
Tok...
"Assalamu'alaikum," Suara tegas itu mengucap salam dengan sedikit keras.
Terdengar suara seorang wanita yang dikenal Andi. Menjawab dalamnya dari dalam rumah.
Ceklek...
"Mari masuk Ndi," ajak Yumna yang diangguki laki-laki itu.
Andi menatap setiap penjuru rumah Yumna. Tampak nyaman, bahkan belum juga satu menit Andi sudah merasakan kenyamanan di rumah ini.
Sedangkan Yumna ke dapur untuk mengambil minuman serta cemilan. Tak mungkin Yumna hanya membiarkan tamunya duduk tanpa memberikan suatu minuman untuknya. Meskipun tidak ada cemilan, cukup dengan air teh atau bahkan air putih jika memang tidak ada yang lain.
Wanita itu membawa satu gelas teh manis serta cemilan di atas nampan. Meletakkan teh manis di depan Andi lalu membukakan cemilan yang masih tertutup rapat.
"Mari di minum Ndi," ujar Yumna mempersilahkan Andi untuk mencicipi teh manis serta cemilan yang dia sodorkan.
"Baiklah Yum," balas Andi dengan sedikit canggung.
Laki-laki itu mengambil teh manis di depannya dan mencicipi manis teh tersebut yang dirasa lidahnya. Setelah seteguk kembali Andi meletakkan gelas tersebut di atas piring kecil, tempat semula dia mengambil teh manis itu.
"Anak kamu mana Yum? kok dari tadi nggak kelihatan?" tanya Andi dengan penasaran. Padahal hari ini weekend, tentu saja tak akan ada jadwal kuliah di kampus.
"Belum pulang, soalnya semalam dia nginap di rumah ayahnya," jawab Yumna dengan senyuman. "Mungkin saja sebentar lagi sampai," sambung Yumna kepada laki-laki itu.
"Iya Ndi," balas Yumna. "Oh ya, kenapa nggak bawa istri atau anak kamu kesini? kenapa sendirian saja?" Yumna tampak penasaran. Padahal bisa saja Andi membawa istri atau anaknya untuk menemaninya berkunjung ke rumah Yumna. Tapi yang dia lihat malah dia sendiri. Seperti tidak ada memiliki istri atau anak saja. Yumna cukup menggeleng dengan pikirannya sendiri.
"Istri aku sudah meninggal beberapa tahun kalu Yumna. Dan selama menikah aku tidak memiliki seorang anak dari pernikahan ku," jawab Andi. Ya memang benar dia tidak memiliki keturunan dengan mendiang istrinya. Padahal waktu dia menikah berharap cepat memiliki seorang anak, namun takdir Allah berkata lain.
Yumna terdiam mendengar ucapnya Andi. Dia menyesal dengan pikirannya beberapa saat lalu. Rasanya Yumna ingin sekali memukul kepalanya yang dengan mudanya berpikir demikian tanpa tau alasannya terlebih dahulu.
"Ahhh maaf Ndi, aku tidak tau. Maaf membuat kamu ingat akan mendiang istri kamu dan membuat kamu sedih," ucap Yumna tidak enak hati.
Andi menggeleng. "Tidak apa-apa Yumna. Lagian aku juga tidak mungkin akan terus memikirkannya. Yang ada aku malah sakit bahkan stress dengan sesuatu yang tak akan mungkin lagi aku gapai," jawab Andi dengan senyuman. Tak mungkin dia akan larut dengan kesedihan, hanya lantaran istrinya meninggal. Semesta masih memberinya untuk menikmati keindahannya dan mungkin saja Allah sedang menyediakan seorang istri untuknya suatu saat nanti. Siapa yang tau akan takdir seseorang.
"Sekali lagi aku mi--"
"Assalamualaikum Bunda," Suara seseorang terdengar saat masuk ke dalam rumah setelah membuka pintu. Ucapan Yumna terpotong lantaran suara anak bujangnya yang sudah datang.
"Wa'alaikumsalam," Yumna dan Andi menjawab dengan bersamaan.
Ali yang mendengar suara laki-laki langsung saja membalikkan tubuhnya dengan spontan. Sepatu yang tadi dia jinjing langsung dia letakkan dengan cepat di rak sepatu. Melihat laki-laki dewasa yang tengah duduk di depan sang bunda.
Kaki panjang pemuda itu melangkah cepat menuju bundanya dan menyalami tangan sang bunda dengan takzim. Duduk di samping sanv bunda dengan tatapan penuh tanya kepada Yumna.
"Perkenalkan itu teman bunda waktu sekolah, Sayang. Namanya Om Andi," Yumna memperkenalkan Andi kepada anak semata wayangnya.
Langsung saja Ali menatap ke arah laki-laki dewasa di depannya. "Perkenal nama aku Ali, Om," Ali menyodorkan tangannya pada Andi.
Andi menyambut tangan pemuda berparas tampan itu denagn senyuman. Lalu menyebutkan namanya kepada Ali. Selanjutnya Andi pamit pulang, karena dia juga ada keperluan mendadak yang mungkin saja tidak bisa di tunda. Beberapa saat setelah perkenalan dengan Ali, benda pipih yang ada di sakunya bergetar, karena ada pesan masuk. Dengan segera Andi membaca pesan tersebut. Karena pesan itu sangat penting, maka dari itu Andi dengan segera pamit pulang dan memberikan tas yang tadi dia bawa kepada Yumna.
***
Sepeninggal Andi, kini duduk ibu dan anak itu dengan saling menatap satu sama lain. Kening Yumna berkerut lantaran sang putra menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.
"Kenapa?" Yumna mengernyit lantaran sang putra dirasa agak aneh setelah kedatangan Andi ke rumah mereka.
Ali menggeleng. "Kalau aku lihat Om itu menyukai Bunda." ujar Ali membuat Yumna membolakan matanya. Anaknya itu ada-ada saja. Padahal Andi hanya bersilaturahmi kerumahnya. Masa tanggapan sang putra masalah kesana.
"Kamu jangan aneh-aneh Sayang, lagian Om Andi itu teman bunda waktu masih sekolah dulu. Tak mungkin lah dia menyukai bunda," ujar Yumna yang tak setuju dengan ucapan anaknya.
"Aku dapat melihat dari tatapannya kepada Bunda. Bukan tatapan seorang teman atau apa tapi melainkan tatapan seorang pria kepada wanitanya," ucap Ali. Ali cukup memperhatikan tatapan Andi kepada sang bunda tadi saat berbicara. Bahkan dari tatapan itu terdapat kilasan rasa cinta. Ali tau akan hal itu, karena Ali pernah berada di posisi Andi. Dia tak mungkin salah dengan ucapannya.
Yumna cukup tekejut dengan ucapan putranya. Rasanya Yumna tidak percaya dengan ucapan sang putra. Tapi jika ucapan anaknya benar bagaiamana.
Alun menatap sang Bunda yang hanya terdiam mendengar penjelasannya. "Andaikan ucapan aku benar, dan suatu hari Om itu akan ngelamar Bunda aku tidak masalah. Kebahagiaan bunda yang pertamanya bagi aku. Lagian cukup selama ini Bunda sendirian, dan aku cukup tau pasti Bunda menginginkan seorang pendamping yang akan menemani hari tua Bunda nantinya."
TBC