
Ali saat ini tengah menyiapkan pakaian yang akan dia gunakan esok hari untuk pergi kuliah. Menyiapkan beberapa buku yang akan dia bawa untuk ke kampus besok. Tak lupa laptop yang menjadi teman kuliahnya setiap hari. Sedangkan Yumna menatap sang putra dengan raut sedih, sedih di tinggal sang putra meski hanya satu hari saja.
Beberapa hari lalu, Reyhan kembali menemui Ali untuk mengajak sang putra menginap di rumahnya. Dan pada saat itu juga Ali mengiyakan permintaan sang ayah. Lantaran dia juga sudah diizinkan Bundanya. Rasanya juga tak mengapa jika dia menginap hanya satu hari saja di rumahnya ayahnya.
"Bunda," panggil Ali saat dia telah selesai mengenaskan batangnya ke dalam tas.
"Iya Sayang," Yumna melihat ke arah sang putra yang kini duduk di sampingnya di atas ranjang milik Ali. Selama Ali membereskan perlengkapannya, Yumna memang tidak membantunya lantaran dilarang sang putra.
"Apa tidak apa-apa aku ninggalin bunda sendirian?" Ali menatap cemas sang bunda. Cemas Bundanya akan sedih ketika dia tak ada di rumah meski hanya satu malam saja.
Yumna menatap lembut putranya. Jika boleh jujur, sungguh dia sangat sedih melihat putranya yang akan menginap di rumah mantan suaminya malam ini. Bahkan rasanya Yumna ingin sekali melarang putranya untuk menginap disana. Tapi apa boleh buat, jika semuanya juga sudah dia setujui. Yumna tak mau egois, tak mau egois hanya untuk dirinya sendiri. Takutnya nanti sang putra merasa terkekang dengan keinginannya dan juga dosa yang akan dia tanggung.
"Tidak apa-apa Sayang," Yumna mengelus pipi lembut putranya. Tampaknya pipi itu sudah di tumbuhi bulu-bulu halus yang belum terlihat jelas. Sepertinya nanti sang putra akan memiliki brewok pada wajahnya. Menambah kesan tegas serta tampan pada diri anaknya itu. "lagian cuman malam ini saja. Bunda juga tidak akan melarang kamu untuk menginap di rumah ayah kamu, Nak." lanjut Yumna dengan tatapan sedih. Bahkan Ali pun tau jika sang bunda merasakan kesedihan lantaran dirinya akan meninggalkannya malam ini.
"Kalau Bunda belum rela, aku bisa kok bilang sama Ayah jika malam ini belum bisa tidur disana," Ali berujar dengan lembut kepada Bundanya. Dia juga tidak akan rela jika sang bunda sedih hanya karena dirinya.
"Tidak Sayang, bunda nggak apa-apa kok, pergilah. Tapi kamu harus hati-hati, jangan ngebut-ngebut bawa motornya," nasehat Yumna kepada sang putra.
"Iya Bun, sebelum pergi aku mau makan dulu disini, lagian tadi aku lihat Bunda masak lumayan banyak," ujar Ali membuat senyum melengkung di bibir Yumna.
"Baiklah, ayo kita makan Sayang, lagian bunda juga sudah lapar," Yumna berdiri diikuti sang putra. Ali merangkul bahu bundanya dengan erat. Yumna yang setinggi bahunya membuat Ali dengan mudah merangkul bahu yang telah berjuang selama ini untuk dirinya.
Kini Yumna tengah menghidangkan makanan yang akan dia santap bersama sang putra. Di bantu Ali yang juga meletakkan nasi ke dalam piring mereka berdua. Sesuai dengan porsi makan mereka masing-masing.
Ayam kecap serta sayur bayam tampak menggiurkan. Apalagi Ali sangat menyukai ayam kecap buatan sang bunda yang sangat pas di lidahnya. Enak dengan sensasi pedas serta ada cabe rawit yang tidak di giling yang artinya dibiarkan utuh oleh Yumna.
Ali mengambil satu potong ayam serta diletakkan di atas piring sang bunda. Sedangkan Yumna mengambil sayur untuknya serta sang putra. Mereka melakukan dengan adil.
"Nggak nambah lagi Sayang?" tanya Yumna saat nasi anaknya yang hanya tinggal satu suap lagi.
"Nggak Bun, ini saja sudah dua kali nambah. Habisnya enak banget masakan Bunda. Tiada duanya. Bahkan masakan di kedai-kedai nasi kalah dengan masakan Bunda," puji Ali dengan tulus. Emang itulah kenyataannya. Aku pernah membeli ayam kecap di kedai nasi, tapi rasanya tidak terlalu enak, bukannya memburukkan tapi itulah kenyataannya.
"Emm, yasudah. Apa kamu mau bawa ini juga?" Yumna menunjukkan ayam kecap yang masih lumayan banyak pada sang putra.
"Nggak usah Bun, besok pagi kalau sempat aku akan datang ke sini dulu. Bisa buat bekal pergi ke kampus. Tapi aku nggak bisa janji ya Bun, kalau jadi aku akan beri Bunda kabar," ujar Ali yang diangguki sang bunda.
Ali berdiri untuk kembali ke kamarnya. Mengambil tas yang akan dia bawa ke rumah sang ayah.
"Bunda aku pergi dulu ya," pamit Ali pada sang bunda yang kini tengah duduk sambil menonton televisi.
"Iya Sayang hati-hati, ingat pesan bunda," Yumna menjawab setelah sang putra menyalami tangannya dengan takzim. Tak lupa wanita itu mengelus surai hitam milik putranya.
"Iya Bun, itu pasti aku ingat kok," balas Ali dengan senyum manis menghiasi bibirnya.
Setelah itu pemuda itu melangkahkan kaki panjangnya menuju motor yang akan membawanya ke rumah laki-laki yang merupakan ayah kandungnya. Sedangkan Yumna melihat sang putra dengan pandangan mengabur, setelah anaknya keluar dari pagar rumah mereka. Menangis, karena rasa tak rela yang dia rasakan. Menagis seakan-akan terjadi sesuatu pada putranya. rasa takut yang sulit Yumna hilangkan dalam dirinya.
Sejak anaknya mengatakan akan menginap di rumah mantan suaminya, Yumna merasakan resah yang tak menentu. Bahkan Yumna merasa akan terjadi yang buruk kepada putranya. Bahkan sudah sering kali dia mengenyahkan pikiran buruk yang selalu bersarang dalam dirinya Itu. Namun sampai kini rasa itu masih saja dia rasakan. Harapan Yumna anaknya itu baik-baik saja. Tidak akan ada yang terjadi kepada sang putra. Itulah do'a Yumna setiap menunaikan kewajibannya kepada yang Kuasa.
Yumna kembali melangkah ke dalam rumah dengan air mata yang masih saja menemani dirinya. Yumna duduk di sofa dan memainkan gawainya. Menghilangkan rasa gundah yang tengah dia rasakan, dengan melihat-lihat berbagai macam alat-alat dapur seperti yang biasa dia lakukan. Namun, rasa gundah itu tidak terobati dengan melihat gawainya. Yumna memilih ke kamarnya untuk melaksanakan sholat, agar rasa gundah dalam dirinya hilang. Harapannya hanya sang Khalik. Tempat satu-satunya bagi dirinya untuk berkeluh kesah dengan apa yang dia rasakan.
Saat ini Yumna sudah agak mendingan dari sebelumnya. Rasa gundah yang sudah berangsur hilang. Namun rasa sedihnya tidak bisa dia lupakan. Yumna memilih untuk memejamkan matanya dengan paksa agar waktu cepat berlalu. Berharap hari esok cepat datang.
***
Ali kini tengah di jalan menuju kediaman ayahnya. Dengan kecepatan motor yang tidak terlalu cepat. Sesuai dengan nasehat sang bunda. Tapi hatinya saat ini resah, memikirkan sang bunda yang kini di rumah seorang diri.
Akhirnya Ali sudah sampai di rumah betingkat milik sang ayah, sesuai dengan denah yang dikirim sang ayah. Rumah bercat putih yang didominasi dengan silver. Tampat mewah yang di bagian depannya di tumbuhi bunga kertas yang sangat cantik. Mungkin saja orang di rumah itu sangat menyukai bunga kertas itulah pikir Ali.
Tok...
Tok...
Tok...
Tiga kali Ali mengetuk pintu rumah tersebut barulah pintu itu terbuka. Seorang wanita yang masih terlihat cantik meski tak lagi muda. Bisa diperkirakan Ali itu adalah istri ayahnya. Karena Ali masih mengingat wajah wanita itu saat datang ke rumahnya waktu itu.
"Assalamualaikum Bu," Ali mengucap salam saat wanita itu telah membuka pintu. Wanita itu cukup terkejut dengan kedatangan pemuda yang merupakan anak suaminya. Pasalnya Reyhan tidak mengatakan jika hari ini putranya akan menginap di sini.
"Wa'alaikumsalam, mari masuk Nak," ajak Lani dengan ramah kepada pemuda itu.
"Ahh, iya Bu," balas Ali dengan sedikit sungkan lantaran mereka tidak terlalu kenal.
Kini Ali sudah duduk di ruang tamu rumah tersebut. Sedangkan Lani pergi kedapur untuk mengambilkan minum untuk anak tirinya.
"Silahkan diminum Nak," ujar Lani dengan ramah setelah dia meletakkan teh manis di depan Ali.
"Iya Bu," Ali meneguk teh manis yang sudah dibuatkan ibu tirinya itu.
Kedua orang itu hanya duduk tanpa ada yang berbicara. Lani seakan kehilangan kata yang akan dia ucapkan kepada anak tirinya. Maka dari itu Lani hanya diam saja. Memanggil sang suami juga tidak mungkin, karena suaminya itu satu jam yang lalu keluar. Ntah pergi ke mana, Lani juga tidak tau.
"Assalamu'alaikum," Lama terdiam, akhirnya suara tegas milik kepala rumah tangga disana terdengar dari arah pintu masuk.
"Wa'alaikumsalam," jawab Lani dan Reyhan bersamaa.
Reyhan yang melihat kehadiran putranya langsung saja mengembangkan senyumnya. Inilah momen yang sangat dia tunggu, kehadiran sang putra di rumahnya.
"Sudah lama, Nak?" tanya Reyhan duduk di samping putranya.
"Belum terlalu lama Yah," jawab Ali dengan sedikit senyuman. Dia juga agak kikuk memanggil Reyhan dengan sebutan Ayah. Tapi dia juga sudah belajar untuk membiasakan dirinya memanggil Reyhan, Ayah.
Reyhan hanya mengangguk dengan jawaban sang putra. Dia sangat senang anaknya akhirnya datang dan menginap di rumahnya. Meski malam ini saja, rasanya Reyhan sangat senang.
Keluarga Reyhan tengah duduk di ruang tamu sambil bercengkrama. Raut bahagia itu jelas tergambar di wajah tua Rena. Dia sangat senang dengan kehadiran sang cucu di rumahnya. Bahkan hari ini tak pernah terbayangkan oleh Rena.
Kebahagiaan yang sangat kentara di wajah mereka semua. Meski ada dari mereka yang hanya tersenyum seadanya. Ali merasa keluarga ini terlihat baik. Tapi ntah kalau di belakangnya. Jika nenek tua yang dari tadi tak berhenti mengajaknya berbicara, Ali tau jika wanita tua itu bermulut dua. Suka menfitnah sang bunda, itu sudah cukup bagi Ali menilai dirinya. Tapi untuk Ayah, Ibu tirinya serta putri mereka, Ali belum tau persis gimana sifat mereka. Yang jelas kini terlihat baik-baik saja. Mungkin Seiring berjalannya waktu, Ali akan tau gimana sikap asli dari mereka semua.
Cukup waktu yang akan menjawab semua pikiran Ali saat ini. Menilai sekarang Ali tidak bisa, karena manusia akan kelihatan busuknya jika kita sudah mengenal mereka cukup jauh.
TBC