Diceraikan

Diceraikan
Sakit 2


"Kenapa Bunda kamu bisa seperti tadi Al?" Andi menatap pemuda yang kini tengah duduk di sampingnya dengan cemas. Untung saja saat ini Andi tangah free, karena jadwal operasinya tidak ada. Karena jadwal operasi pada pasiennya sudah dilakukan satu jam yang lalu. Maka dari itu Andi bisa sedikit santai saat ini. Tapi belum tentu nanti. Kadang kala jadwal operasinya tidak bisa di tentukan. Meski ada dokter penganti, namun keberadaan Andi sangat dibutuhkan di ruang bedah tersebut.


Ali menggelengkan kepalanya. "Aku juga nggak tau Om, tadi waktu masih di kampus perasaan aku tidak enak. Jadi aku langsung pulang ke rumah, karena waktu ujian sudah selesai. Tapi ketika sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar Bunda. Aku lihat Bunda sudah gemetaran dan badannya sangat panas. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu pada Bunda, Om," jelas Ali tanpa ada yang tertinggal. Air bening yang dari tadi dia tahan meluncur mulus dari kelopak mata indahnya. Ali bukan tipe laki-laki cengeng, tapi dia hanya akan menangis jika itu berhubungan dengan Bundanya.


Andi menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Dia juga sedih melihat wanita yang dulu mengisi hatinya, bahkan mungkin saja masih mengisi hatinya hingga kini. Karena saat berdekatan dengan wanita itu, jantung Andi kembali berdetak seperti yang pernah dia rasakan dulu.


"Apa tadi pagi sebelum kamu ke kampus tidak merasakan sesuatu yang berbeda dari Bunda, kamu, Al?" tanya Andi menatap pemuda di sampingnya.


"Nggak ada Om, tapi cuman bibir Bunda agak pucat, karena selama ini memang bibir Bunda agak pucat kalau tidak memakai lipstik. Jadi aku ngiranya Bunda baik-baik saja. Pasalnya Bunda juga nyiapin makanan buat aku seperti biasa Om." jawab Alj dengan menundukkan kepalanya. "Bunda memang jarang sakit Om, tapi sekali sakit pasti aku akan tau langsung tidak seperti hari ini. Bunda pasti nggak akan kuat untuk berdiri jika sakit Om. Bahkan tangannya pasti akan gemetaran seperti tadi. Makanya aku nggak ada curiga sama sekali jika hari ini Bunda tengah sakit," lanjutnya.


"Yasudah kita berdo'a saja, agar Bunda, cepat sehatnya," ucap Andi menyemangati pemuda disampingnya itu.


"Iya Om, terimakasih sudah mau mendo'akan yang terbaik buat Bunda, aku," Ali mengangkat kepalanya melihat laki-laki paruh baya disampingnya.


Andi menatap mata pemuda itu tampak memerah karena menangis. Sungguh dia juga sedih saat ini, namun tak mungkin dia akan menampakkan rasa sedihnya di depan pemuda itu. Nanti dia malah mengira yang lain pula. Berbeda jika dirinya sudah memiliki hubungan dengan Bunda, pemuda itu. Mungkin saja rasanya tidak masalah.


Lama menunggu akhirnya pintu bercat biru itu terbuka. Menampilkan seorang wanita cantik dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Ali yang tengah duduk sambil menunduk langsung saja menegakkan kepalanya dengan sempurna. Kaki panjang itu langsung saja melangkah mendekati sang dokter. Begitupun dengan Andi yang langsung mengikuti Ali.


"Gimana keadaan Bunda saya, Dok?" tanya Ali dengan nada bergetar. Dia masih merasakan sedih lantaran sang Bunda kini tengah sakit.


"Gimana keadaan pasien Dok?" Andi juga ikut bertanya kepada dokter cantik yang kini tengah menatap laki-laki berbeda generasi tersebut. Dokter itu tampak mengernyitkan dahinya saat melihat dokter bedah yang dia ketahui tidak memiliki istri serta keluarga terdekat yang masih seumuran dengannya. Karena yang dia tau istrinya dokter itu sudah meninggal dan dia hanya tinggal bersama ke-dua orang-tuanya ahhh sudahlah, dokter itu memutuskan pikirannya yang dirasa juga tidak penting. Toh itu haknya Andi mau bertanya atau apa.


Dokter wanita itu menyematkan senyum manis dibibir mungilnya. "Alhamdulillah pasien sekarang sudah lebih baik dari tadi. Tapi pasien belum sadarkan diri karena, saat di bawa suster tadi pasien mengalami pingsan. Bisa saja itu efek dari rasa pusing yang dialami pasien," jelas dokter itu menatap bergantian antara Ali dan juga Andi.


"Terimakasih sudah melakukan yang terbaik untuk Bunda saya, Dok," ucap Ali dengan senang. Tak lupa dia menampilkan senyum manis di wajah tampannya.


"Itu sudah menjadi tugas kami, Dek," balas dokter itu yang juga membalas senyuman Ali.


"Emmm, apa bisa saya melihat keadaan Bunda saya, Dokter?" tanya Ali menatap dokter itu dengan berbinar.


"Tunggu beberapa menit lagi ya Dek, suster akan mengantar Ibu, Adek ke ruang inap," jelas dokter itu yang diangguki Ali.


Sebenarnya dia agak sedih mendengar jawaban Dokter tersebut. Namun dia juga tidak bisa membantah. Lagian ini dirumah sakit, bukan di rumahnya sendiri yang bisa saja bertindak sesuka hatinya.


***


"Bunda, Bunda sudah sadar?" Ali masuk ke dalam ruang rawat sang bunda. Karena tadi dia pergi membeli makanan keluar. Perutnya terasa lapar maka dari itu dia pergi membeli makanan. Meninggalkan sang Bunda di dalam kamar itu sendirian. Ali mengira mungkin saja Bundanya belum akan sadar jika dia kembali nanti. Maka dari itu Ali bergegas untuk keluar agar cepat juga sampai di ruang Bundanya.


Ali meletakkan kresek tersebut di atas nakas. "Ada sesuatu yang Bunda butuhkan?" tanya Ali memegang tangan sang Bunda yang kini sudah tak lagi memijit kepalanya saat mendengar suara putranya.


"Tolong ambilkan Bunda minum, Nak," pinta Yumna dengan suara lemah. Badannya masih terasa lemas.


Dengan segera Ali mengambil air minum di samping kresek yang tadi dia letakkan. Membantu sang Bunda untuk meminum air putih tersebut dengan hati-hati. Takut jika air itu akan terjatuh membasahi sang bunda.


Selesai membantu sang Bunda minum, Ali kembali meletakkan air putih tersebut di tempat semula. Tak lupa pemuda itu menutup kembali gelas itu dengan penutup yang memang disediakan. Agar air minum itu tidak akan di masukiki lalat, itupun jika ada.


"Kenapa Bunda tidak ngomong jika badan Bunda kurang sehat?" tanya Ali dengan cemas setelah duduk di kursi yang tersedia di sana.


Yumna menatap lembut putranya. Dia menampilkan senyum tulus di bibirnya yang masih tampak pucat "Bunda takut kamu khawatir Sayang. Lagian Bunda tidak ingin kamu kepikiran tentang Bunda. apalagi tadi kamu mengadakan ujian Sayang." jelas Yumna mengusap pipi anaknya dengan lembut, karena tangannya dipegang sang putra lalu diletakkan di pipi tegasnya.


"Bunda besok-besok kalau sakit katakan saja, aku nggak mau mendapati Bunda seperti ini lagi. Aku cemas terjadi sesuatu pada Bunda. Jika saja tadi aku tidak cepat pulang, aku sudah tidak tau apa yang terjadi pada Bunda. Aku takut kehilangan Bunda jadi aku mohon Bunda jangan ngelakuin hal seperti ini lagi ya?" pinta pemuda itu menatap sang Bunda dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Sayang, Bunda janji nggak akan ngelakuin hal seperti ini lagi. Maafin Bunda ya," ujar Yumna menghapus air mata putranya yang sudah jatuh dari pelupuk mata tegas itu. Yumna tau jika anaknya itu sangat mencemaskan dirinya.


"Iya Bunda, sekarang aku memaafkan Bunda," balas Ali dengan senyum manis.


Ceklek


Saat sedang asik berbicara dengan Yumna, pintu kamar rawat Yumna tiba-tiba saja terbuka. Menampilan sosok laki-laki paruh baya yang sangat dikenal Yumna. Bahkan wanita itu terkejut dengan kehadiran Andi disini. Bahan dia juga sangat terkejut jika Andi merupakan salah satu dokter yang ada di ruang sakit ini. Lantaran laki-laki itu memakai baju dinasnya. Yumna sama dengan Ali yang tidak mengetahui dimana Andi dinas menjadi seorang dokter.


"Sudah baikan Yum?" tanya Andi saat sudah sampai di dekat Yumna.


"Alhamdulillah Ndi," balas Yumna dengan tersenyum.


"Alhamdulillah kalau gitu Yum," jawab Andi.


"Iya Ndi. Kenapa kamu tau jika aku sedang sakit dan berada di sini?" tanya Yumna dengan bingung.


"Tadi aku lihat Ali ngantar kamu kesini, kebetulan aku lagi free jadi bisa jalan-jalan sebentar. Tau-taunya aku melihat putra kamu tengah memanggil-manggil suster. Yaudah aku samperin aja," balas Andi yang tidak menceritakan dengan detail. Jika dirinya juga sempat menunggu di luar ruangan UGD.


Yumna hanya mengangguk saja mendengar penjelasan dari Andi. Dia juga tidak mau memperpanjang pertanyaannya, meskipun dia mau. Karena tubuhnya masih lemas jadi dia engan untuk itu.


TBC