
Diceraikan
Pulang 67
Yumna dan Andi hari ini akan berkunjung ke rumah Caca. Karena, besok mereka sudah kembali ke Jakarta. Andi tidak bisa libur terlalu lama, lantaran tugasnya di rumah sakit banyak. Apalagi kemaren ada telepon dari rumah sakit, jika dirinya sangat di butuhkan di sana. Maka dari itu besok mereka akan kembali.
"Assalamu'alaikum," Yumna dan Andi mengucap salam saat telah sampai di depan rumah Caca. Tak lupa Yumna mengetuk pintu bercat kuning itu. Rumah itu sudah tampak berubah. Dulu warna catnya hijau muda.
"Wa'alaikumsalam," jawab suara dari dalam rumah. Itu bukan suara Caca melainkan suara putrinya, Mika.
Ceklek...
"Tante!!" Gadis kecil itu terkejut saat melihat Yumna datang ke rumahnya. Bahkan gadis itu langsung menghambur pada tubuh wanita yang berada di depannya. "Tante kapan kesini? Kok nggak ngasih kabar dulu?" sambil memeluk tangan Yumna, Mika berceloteh ria.
"Nggak di ajak masuk dulu tantenya apa?" Yumna tak menjawab pertanyaan gadis kecil itu.
"Heheh iya lupa Tan. Mari masuk Tan. Ehh itu siapa Tante?" Mika tampak bingung menatap laki-laki yang ada bersama Yumna.
"Oh ini, suami tante, Sayang," balas Yumna dengan senyuman.
Mika hanya mengangguk merespon ucapan Yumna. Kini mereka sudah duduk di kursi ruang tamu.
"Tante kapan datang ke sini?" Gadis itu tak melepaskan pelukan tangannya pada lengan Yumna. Seakan takut Yumna akan pergi dari hadapannya.
"Dua hari yang lalu, Sayang," jawab Yumna mengusap surai gadis itu yang tak terikat.
"Apa Ab--"
"Siapa yang datang Mika?" Caca yang hendak berjalan ke ruang tamu, dikejutkan dengan teman yang sudah dianggapnya keluarga itu. Bergegas Caca mendekati Yumna. Memeluk tubuh wanita itu melepaskan rindu yang dia rasanya kepada Yumna.
Selanjutnya Caca menjabat tangan Andi. Tak lupa wanita itu memperkenalkan namanya, begitupun dengan Andi.
"Tunggu sebentar ya Yum, Bang. Aku ambilin minum dulu," tanpa mendengar jawaban dari Yumna dan Andi, Caca langsung saja meninggalkan ketiga orang itu.
"Tante," Mika menyebut nama Yumna kembali saat ibunya sudah berjalan menuju dapur.
"Hmm, apa apa Sayang?" tanya Yumna menatap Mika dengan kening berkerut.
"Apa Abang tidak ikut ke sini Tan?" Mika menatap wajah Yumna dengan serius. Berharap wanita itu mengatakan iya.
Yumna menggeleng. "Tidak Sayang. Abang masih kuliah, jadi Abang nggak bisa ikut ke sini," jawab Yumna membuat wajah gadis itu yang semula ceria menjadi muram.
"Sebelum tante ke sini, Abang titip salam loh buat Mika. Nanti jika Abang libur, pasti dia akan libur lagi ke sini seperti tahun kemaren," Yumna berusaha membuat gadis itu ceria kembali.
"Beneran Tan? Abang ngomong begitu?" Mika tampak antusias mendengar ucapan Yumna.
"Iya Sayang,"
"Selamat ya Yumna, atas pernikahan kamu dan suami," Caca menatap berganti sepasang suami-istri di depannya itu. Sebelum itu dia sudah menghidangkan teh manis serta cemilan.
"Iya Ca. Terimakasih ya," ujar Yumna dengan senyuman.
Lama berbincang akhirya Yumna maupun Andi pamit pulang. Lagian Andi juga tidak banyak berbicara lantaran hanya dia saja laki-laki di sana. Suami Caca belum pulang bekerja, jadi tak ada teman mengobrol yang asik buat Andi.
"Ca aku pulang dulu ya. Soalnya besok aku sama suami harus balik lagi ke Jakarta. Aku mau nyiapin apa yang akan di bawa besok di rumah. Dan besok aku juga tidak bisa mampir ke sini lagi ya Ca. Sekalian aku pamitnya sekarang saja." pamit Yumna.
"Iya tidak apa-apa Yum. Kamu besok hati-hati berangkat ya. Kalau nanti aku tidak sibuk aku akan berkunjung ke rumah kamu sebentar. Kalau besok juga aku rasa tidak bisa datang kesana. Suami aku masuk kerjanya juga pagi banget," ujar Caca dengan tersenyum.
"Iya Yumna, hati-hati,"
"Tante jangan lupa bilang sama Abang kalau Mika rindu Abang. Sampaikan juga salam Mika sama Abang nanti ya, Tan," Yumna yang hendak keluar dari rumah Caca terhenti lantaran suara Mika.
"Iya Sayang. Nanti akan tante sampaikan," balas Yumna dengan tersenyum manis kepada gadis kecil itu.
*****
"Mas, kamu yakin ingin pulang sekarang? Kamu belum pulih total loh, Mas?" Lani membantu suaminya duduk di kursi roda.
"Iya Sayang, Mas sudah tidak sabar untuk pulang. Mas suntuk kalau berada di sini terus. Apalagi bau obat-obatan ini membuat penciuman Mas agak aneh," ujar Reyhan kepada istrinya. "Lagian Mas lelah berada di sini terus." lanjutnya.
Lani hanya mengangguk. "Iya Mas." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Lani. Memaksa suaminya untuk istirahat disini juga tidak mungkin. Apalagi laki-laki itu sudah mendesak dokter untuk memperbolehkan dirinya pulang, setiap kali dirinya di periksa.
Mau tak mau, dokter membolehkan Reyhan untuk pulang. Lagian laki-laki itu bisa rawat jalan. Sekali seminggu harus kembali kontrol ke rumah sakit.
Kini Lani dan juga Reyhan sudah sampai di kediaman mereka. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah. Lani mendorong kursi roda suaminya masuk ke dalam rumah. Menghentikan di dekat sofa yang tersusun rapi.
"Mas kamu mau minum apa biar aku buatkan," tanya Lani kepada suaminya.
"Emmm, kopi manis saja Sayang. Sudah lama rasanya aku tidak meminum kopi," pinta Reyhan kepada istrinya yang di angguki wanita itu.
"Baiklah, tunggu sebentar Mas, biar aku bikinin dulu,"
"Ayah baru sampai? Maaf aku tidak menyambut kedatangan Ayah. Tadi aku lagi menyuapi nenek makan," Tiba-tiba saja Reni muncul dengan kursi roda yang kini tengah didudukinya.
"Tidak terlalu lama, Sayang." jawab Reyhan tersenyum kepada putrinya. "Apa kamu tidak marah lagi pada Ayah, Nak?" Reyhan menatap wajah cantik putrinya. Wajah cantik campuran antara dirinya dan juga Lani.
Reni menggeleng. "Tidak Yah. Aku tidak marah sama Ayah. Aku hanya menjauh saja kemaren itu." jawabnya menatap wajah sang Ayah.
"Jangan ulangi lagi ya Nak. Ayah tidak mau kamu melakukan itu lagi sama Ayah. Kamu tau hanya kamu putri satu-satunya Ayah," Reyhan mengusap pipi putrinya dengan lembut.
"Iya Yah, aku tidak akan melakukan itu lagi." jawab Reni denga tersenyum manis kepada Ayahnya. "Apa kaki Ayah masih sakit?" Mata Reni beralih kepada kaki sang ayah yang dibalut perban.
"Tidak Sayang. Tidak terlalu seperti kemaren," balasnya.
"Kapan lagi Ayah pesiksa ke rumah sakit?" tanya Reni menatap Ayahnya.
"Minggu besok Sayang. Kemungkinan juga perbannya juga sudah bisa di buka minggu besok." Terang Reyhan kepada putrinya.
Reni hanya mengangguk. "Oh ya Yah, aku mau mengatakan tentang kece---"
"Nih kopinya Mas," Belum selesai Reni mengatakan ucapan, tiba-tiba saja sang ibu memotong ucapannya.
"Terimakasih Sayang," Reyhan menerima kopi yang di buatkan istrinya dengan senyum mengembang di bibirnya. Menyesap sedikit kopi buatan istrinya.
"Yah, aku mau mengatakan peri--"
"Sssstttt, nanti saja kamu kasih tahu ya Sayang. Kepala Ayah terasa pusing." Reyhan memotong ucapan putrinya. Membuat gadis itu terdiam. Mengatupkan ke-dua bibirnya. "Sayang tolong antar Mas ke kamar ya. Kepala Mas terasa pusing. Jangan lupa juga bawakan kopi Mas," pinta Reyhan kepada istrinya.
"Iya Mas. Sayang ibu ke kamar dulu ya, ngantar Ayah," pamitnya kepada sang putri.
Reni menatap nanar punggung Ayah serta Ibunya yang sudah mulai menjauh. Gadis itu menghela nafasnya. Baru saja dia mau berbicara, namun sang ayah merasa pusing. Mungkin lain kali dia akan berbicara lagi kepada Ayahnya.
TBC