Diceraikan

Diceraikan
Bertemu


Hari ini hari terakhir Ali berada di jakarta. Besok pagi Ali akan kembali lagi ke luar negeri. Menyambung pendidikannya yang masih panjang yaitu dua tahun lagi. Ali mengambil waktu kuliah hanya selama tiga tahun.


"Ai kita main keluar, yuk?" Ali menatap adik kecilnya yang kini tengah ikut bergabung duduk bersamanya.


"Kemana Abang?" Aileen menatap Ali dengan mata bulat terang miliknya. Bebeberapa kali mata itu berkedip-kedip lucu.


"Emm, Ai maunya kemana?" tanya Ali.


"Ai tidak tahu Abang. Bunda jarang ngajakin Ai main keluar," ujarnya jujur.


Ali mengangguk. "Emmm bagaiamana kalau kita keliling-keliling saja. Terus nanti kita mampir di tempat sate,"


"Iya Abang, ai mau," jawabnya.


"Ya sudah, Abang siap-siap dulu ya. Ai tunggu disini,"


"Iya Abang,"


Tak butuh waktu lama, akhirnya Ali sudah kembali ke tempat semula. "Yuk Ai, kita pamit dulu sama Bunda," ajaknya memegang tangan mungil Aileen.


"Bunda, boleh al masuk?" Saat ini Ali maupun Aileen sudah berada di depan kamar sangat bunda.


"Masuklah Nak,"


Kedua adik dan kakak itu berjalan menuju ranjang sangat bunda. Yumna tengah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sangat malas untuk bergerak. Apalagi usia kandungannya sudah memasuki usia tua.


"Ada apa, Sayang?" Yumna menatap wajah anak sulungnya, bergantian dengan putri kecilnya yang sangat dekat dengan Abangnya.


"Hari ini Al sama Ai izin ya Bun, main keluar. Lagian hari ini sudah hari terakhir al disini. Besok pagi al sudah kembali lagi ke luar negeri. Apa Bunda ngizinin Al sama Ai pergi?" Pemuda itu menatap wajah bundanya dengan penuh harap. "nggak sampai sore kok Bun, boleh ya Bun?"


Yumna menatap wajah anak sulungnya. Sesekali wanita itu menganggukkan kepalanya. "Iya Sayang pergilah. Hati-hati dijalan. Oh ya kamu pakai apa pergi Sayang?"


"Beneran Bunda?" Ali menatap wanita kesayangannya itu dengan mata berbinar. "aku pakai mobil Abi, Bun," lanjutnya.


"Iya Nak, pergilah. Jagan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Ingat keselamatan kalian," jawab Yumna.


"Iya Bun, terima kasih Bun. Kami pamit dulu," Ali maupun Aileen menciumi tangan Yumna dengan takzim.


Ali mengendarai mobilnya dengan pelan. Melihat-lihat keadaan sekitar yang sudah mulai berubah dari tahun kemaren. Banyak gedung-gedung pencakar langit yang sedang di bagun. Terlihat dari bangunan yang baru selesai pondasinya.


"Abang kita mau kemana?" Aileen menatap Ali yang fokus mengendarai mobilnya.


"Kita lihat-lihat dulu saja ya Ai. Nanti kalau ada tempat yang bagus kita berhenti di sana," jawab Ali menatap sekilas wajah adik kecilnya.


"Baik Abang,"


Akhirnya perjalanan yang memakan waktu setengah jam. Kini mobil yang dikendarai Ali sudah sampai di depan penjual sate yang tak jauh dari kediaman yang dulu dia tinggali bersama sangat Bunda. Tentunya juga dengan Andi yang juga pernah tinggal disana sebelum menempati rumah yang sekarang.


"Kenapa kita berhenti disini, Abang?" Aileen menatap binggung ke arah Ali.


"Kita makan sate itu dulu ya Ai. Soalnya sudah lama Abang tidak makan sate itu. Rasanya enak loh, emang Ai tidak pernah kesini sama Bunda ataupun Abi?" tanya Ali menatap adik kecilnya.


Aileen menggeleng. "Tidak Bang, Abi sama Bunda tidak pernah ngajakin Ai kesini," jawabnya jujur.


"Emm, ya sudah tidak apa Ai. Yang jelas sekarang abang sudah ngajakin Ai kesini," hiburnya.


"Iya Abang, terima kasih,"


"Ya sudah yuk kita turun,"


Ali dan Aileen tengah memakan sate pesanan mereka. Ali dengan sate kuah kuning, sedangkan Aileen dengan kuah kacang di tambah dengan sedikit kecap.


****


Reyhan mengajak Lani untuk membeli sate di tempat yang pernah dia datangi dulu bersama keluarga kecilnya. Tempat pertemuannya dengan punya satu-satunya yang sudah dia putus tali darahnya.


Rasa rindu akan sate tersebut membuat Reyhan mengajak kembali Lani. Tidak dengan putrinya. Kebetulan putrinya itu mau mengantikan istrinya untuk menunggu di warung kecil milik mereka.


"Kita sudah sampai Mas," Lani mengusap punggung tangan suaminya dengan lembut.


"Oh iya Sayang," jawab Reyhan dengan tesentak.


Kebetulan di warung sate itu lumayan banyak pengujung. Karena cita rasa satenya yang enak, maka dari itu banyak yang datang ke sana.


"Terima kasih Mbak," ujar Lani setelah pesanan mereka sampai.


Lani maupun Reyhan sangat fokus dengan sate mereka. Tak ada keinginan untuk melihat ke arah lain.


"Abang, kita belikan juga ya buat Bunda,"


"Iya Ai, nanti sebelum pulang kita belikan buat Bunda juga buat Abi," jawab Ali.


Deg...


Suara itu, suara yang tak berubah dari beberapa tahun kalu. Reyhan sangat kenal dengan suara itu. Suara putranya, ya Reyhan pasti tidak salah mengenali suara tersebut. Dengan spontan Reyhan membalik tubuhnya ke belakang.


"A-ali, putraku," Mata Reyhan menganak sungai saat melihat wajah putranya yang kebetulan menghadap ke arah punggungnya dan sekarang jelas terlihat saat dirinya menghadap kebelakang.


Mendengar ucapan suaminya,Lani juga membalikkan tubuhnya. Benar, apa yang dikatakan suaminya. Putra sambungnya ada disini. Tepat di lokasi mereka berada. Tapi benarkah dia masih putra sambungnya, mengingat Reyhan sudah memutus tali darah di antara mereka.


"Iya Mas, itu putramu," tambah Lani.


"Kita harus bertemu dengannya Lan," ujar Reyhan menyantap satenya dengan sedikit cepat. Takut jika putranya itu lebih dulu pergi dari tempat ini. Yang artinya dia tidak akan dapat menemui putranya itu.


"Nak, tunggu Ayahh!!" Reyhan memanggil Ali yang tengah berjalan menuju mobilnya sambil menenteng kresek yang berisi sate, serta tangan adiknya yang berada disisi kirinya.


Ali tak menghiraukan ucapan itu, lantaran disana banyak orang. Maka dari itu dia terus melangkah mendekati mobilnya.


"Nak Aki tunggu Ibu," Lani berteriak memanggil Ali.


Langkah kaki aki berhenti kalau ada seroang wanita yang memanggil dirinya.


"Alhamdulillah, kamu berhenti Nak. Tadi kami sudah memanggil kamu, tapi tidak kamu hiraukan," saat ini Lani maupun Reyhan sudah berada di dekat Ali.


"Siapa mereka, Abang?" Aileen mendongak menatap Abangnya. Berkedip-kedip lucu karena cuaca hari ini sangat terik.


"Ai tunggu di dalam mobil dulu ya, Abang mau bica sama mereka sebentar," Ali membuka pintu mobil untuk memasukkan adiknya ke jok pengemudi.


"Baik, Abang," jawab Aileen.


Setelah itu Ali menutup pintu mobil, ketika adiknya sudah duduk santai di dalam mobil tersebut. Berbalik menatap ke dua orang tersebut. Yang satu seroang ayah yang rela menorehkan luka terdalam untuk dirinya. Dan yang wanita, wanita baik menurut Ali. Karena selama tinggal bersama mereka, wanita itu sangatlah baik memperlakukan dirinya.


"Maafkan ayah, Nak. Maafkan semua kesalahan yang sudah ayah lakukan. Ayah menyesal, Nak," Reyhan menatap putranya.


"Maaf? Menyesal?" Ali mengulang kata itu.


"Iya, tolong maafkan kesalahn ayah, Nak. Ayah benar-benar menyesal, Nak" pintanya lagi.


"Sebelum melalukan itu semua kepada saya, pernah sekali saja anda berfikir terlebih dahulu. Pernahkan Anda mencerna setiap kata yang Anda keluarkan. Pernah tidak Anda berfikir bagaimana perasaannya saya saat anda menfitnah saya tiga tahun lalu. Apa pernah anda berfikir demikian. Bahkan dengan gampang anda memutuskan tali darah antara kita. Bahkan tampa Anda mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa Anda ingat?!!" Ali menatap tajam ke arah Reyhan. Sungguh laki-laki itu yang memberi luka terlalu dalam.


Ali tidak akan pernah lupa dengan apa yang pernah laki-laki itu lakukan kepada dirinya. Bahkan sampai ajal menjemputnya pun dia tidak akan pernah lupa.


Reyhan terdiam. Reyhan mengakui kesalahannya yang itu. Tidak berfikir sebelum bertindak. Dan kini penyesalan itu kembali menggerogoti hatinya.


"Maafkan ayah yang cerobih ini, Nak. Maafkan kesalahan ayah di masa lalu. Ayah benar-benar sangat menyesal Nak," Air mata Reyhan tanpa dapat di cegah turun dengan sendirinya.


"Tidak semudah itu untuk menghapus rasa sakit yang Anda torehkan. Bahkan sampai sekarang masih membekas diingatan saya. Mungkin saja sampai mati tidak akan pernah hilang apa yang sudah Anda lakukan kepada saya." jawab Ali menatap Reyhan.


"Maaf Nak, maafkan ayah,"


"Saya harus pulang. Adik saya sudah menunggu terlalu lama. Saya sudah memafkan Anda jauh dari sebelum Anda meminta maaf tapi, ingatlah apa yang Anda torehkan tidak akan pernah hilang. Bahkan dengan hubungan yang sudah Anda putuskan dengan Saya. Dan ya, kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi sesuai dengan ucapan Anda beberapa tahun lalu. Hubungan kita sudah putus. Semoga hari-hari Anda menyenangkan. Permisi." pamit Ali.


"Maafkan Ayah Nak. Ayah tidak mau hubungan kita putus Nak. Ayah menyesal!" Reyhan memohon dengan derai air mata kepada putranya.


"Sudahkah tidak ada gunanya Anda meminta maaf. Tidak ada gunanya Anda membujuk saya untuk menyatukan hubungan yang sudah Anda putus sendiri. Perkara menyesal itu sudah keputusan Anda dari awal! " jawab Ali sebelum menutup pintu mobilnya.


Ali melajukan mobilnya meninggalkan Reyhan serta istrinya yang menatap Ali yang sudah mulai menjauh.


TBC