
Reyhan duduk di atas kursi rodanya sambil sesekali menghapus air mata yang terus saja keluar. Dia menyesal yang teramat sangat saat ini. Sungguh penyesalan yang tak akan ada kata maaf.
Menatap foto putrinya yang dia ambil diam-diam saat sang putra tengah makan. Menatap wajah putranya yang sangat tampan itu dengan derai air mata. Bahkan matanya terasa menggelap karena kumpulan air bening memenuhi matanya.
Reyhan hanya seorang diri di dalam kamar itu. Setelah tadi anak dan istrinya izin karena sangat kecewa dengan dirinya. Istrinya izin untuk memenangkan dirinya, lantaran tak kuat menahan gejolak yang di ciptakan dirinya.
"Nak maaafkan Ayah. Maafkan keegoisan yang Ayah lakukan sama kamu Nak. Maaf Ayah sudah membuat kamu celaka. Maafkan Ayah telah memutus hubungan antara kita. Nak maafkan Ayah. Sungguh Ayah menyesal nak," Reyhan menatap foto putranya yang ada di ponselnya.
Beberapa kali Reyhan kembali memukul dada sama kepalanya yang terasa sakit. Menyesal yang tiada gunanya. Melakukan segala sesuatu tanpa mau menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
Ceklek....
Reyhan masuk ke kamar sang ibu. Rena saat ini tengah berbaring di atas kasurnya. Menatap sang putra yang kini berada di depannya. Tak bisa berbicara itulah kendala Rena saat ini. Banyak hal yang akan dia sampaikan kepada sang putra. Namun mulut bahkan tangannya tak bisa digunakan. Semuanya terasa kaku.
Air bening keluar dari mana keriput wanita itu. Menatap sang putra yang sangat kacau. Bahkan rambutnya bukan lagi tertata rapi seperti dulu, malah berantakan tak jelas. Wajah yang sembab serta mata yang memerah.
"Ibu," Mata itu kembali memanas menatap mata sang ibu. Sangat susah untuk mengatakan apa yang telah dia lakukan. Lidahnya terasa sang kelu. "A-aku jahat Bu. Aku sudah mencelakai anakku sendiri. A-aku tidak pantas di sebut seorang ayah, Bu. Aku laki-laki kejam yang tega menyakiti darah dagingnya Bu. Bahkan aku memutus hubungan kami, Bu. Bu ... dada ini terasa sangat sakit. Sangat sakit karena rasa kecewa yang aku lakukan sendiri," Reyhan memegang dadanya yang terasa berdenyut.
Rena ikut menangis meski tak bisa berbicara. Dari matanya bisa di tangkap jika dirinya juga merasakan kecewa kepada sang putra. Andai dia bisa berbicara, sudah dari awal dia katakan kepada sang putra. Cucunya tidak bersalah sama sekali. Tapi, semuanya sudah terjadi, tak akan bisa lagi seperti semula.
"Apa yang harus aku lakukan Bu. Bisakah putraku itu memberi maaf sekali lagi kepadaku Bu. Bisakah dia memberi maaf karena kejahatan yang sudah aku lakukan Bu. Aku takut dia akan membenci ku, Bu. Aku takut dia tak mau lagi melihat bahkan mendengar aku berbicara Bu. Hanya dia satu-satunya putraku, Bu. Aku takut," Dengan berlinang air mata Reyhan menunduk di samping Ibunya.
****
"Mas jadi hari ini pergi ke rumah Ali?" tanya Lani saat suaminya tengah menyisir rambutnya didepan kaca.
"Jadi Sayang. Setelah makan nanti kita langsung pergi ya," katanya menatap sang istri yang tengah duduk di atas ranjang.
"Baiklah Mas. Aku mandi dulu Mas, Mas kalau mau makan, makan saja dulu. Nanti aku nyusul," Lani mengambil handuk di gantungan. Membawanya ke kamar mandi, tak lupa dengan pakaiannya.
"Iya,"
Kita naik taksi saja ya Mas, lagian sudah aku pesan tadi," ujar Kami memberitahu suaminya.
"Iya Sayang," balasnya tak mau membantah. Lagian untuk membawa mobil kakinya belum pulih betul. Takutnya akan terjadi kecelakaan lagi saat di perjalanan nanti.
Taksi yang di pesan Lani, akhirnya datang. Memasuki pekarangan rumah mereka. Supir taksi membantu kenapah Reyhan masuk ke dalam taksi.
Perjalan ke rumah Yumna terasa begitu cepat. Bahkan dada Reyhan kembali berdetak dengan cepat. Pikiran-pikiran kotor sudah merajalela di kepalanya.
"Sayang, apa aku akan di beri maaf sama Ali? Aku takut jika putraku itu akan membenci ku. Aku takut," Reyhan menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. Rasa cemas sangat kentara di rasakan laki-laki itu saat ini.
Lani memegang lembut tangan kekar suaminya. "Berdo'a saja Mas. Semoga Ali memberimu maaf." ujar Lani menenangkan suaminya.
"Tapi aku takut jika dia akan membenciku, Sayang. Aku---"
"Stttt, jangan berfikir seperti itu Mas. Kita belum mencoba, tidak akan ada yang berhasil sebelum kita mencobanya," ujar Lani menghentikan ucapan suaminya.
Akhinya taksi yang membawa mereka sampai di kediaman Yumna. Kembali supir taksi membantu Reyhan untuk turun dan mendudukkan laki-laki itu dengan hati-hati di atas kursi rodanya.
"Terimakasih ya Pak," Lani memberikan uang pecahan lima puluh ribu kepada Pak supir. Tanpa meminta kembaliannya.
"Sama-sama Bu," balasnya.
Lani mendorong kursi roda suaminya menuju rumah Yumna. Rumah yang tampak tertutup rapat sama seperti saat mereka datang waktu itu.
Tok...
Tok...
Tok...
"Wa'alaikumsalam," jawabnya. Yang keluar wanita pemilik rumah itu. "Mau apa kalian kesini?!" tanyanya tak ramah.
"Aku mau bertemu putraku, Yum," Reyhan menatap wajah mantan istrinya itu. Wajah itu tak lagi ramah. Sama seperti saat pertama dia datang ke rumah ini.
"Putra? Putra yang mana? Putramu tak ada di sini!!" tekannya.
"Ali, Ali putraku, Yum. Aku mau minta maaf sama dia. Aku tau aku salah. Aku mohon temukan aku dengannya," ujar Reyhan dengan mengiba. Bahkan lagi-lagi mata itu kembali berembun.
"Apa aku tak salah dengan, haa? Setelah apa yang kau lakukan kepada putraku, sekarang dengan segampang itu kau minta maaf!!" Yumna menatap wajah laki-laki itu dengan tatapan marah, benci semuanya menjadi satu.
"Iya aku tau, maka dari itu aku mau minta maaf, Yum. Aku ta--"
"Tidak!!! Tidak lagi ada kata maaf untuk dirimu. Kau Bahkan tak pantas di sebut seorang Ayah. Bahkan kau tak layak sama sekali dengan panggilan itu!!" ujarnya nyalang. "bahkan kau sudah memutuskan hubungan dengan putraku, maka dari itu hubungan kalian sudah tak ada lagi." lanjutnya.
"Tidak Yum, dia anakku. Dia darah dagingku. Sampai kapan pun tak akan bisa putus." Reyhan tampak bersikeras untuk bertemu dengan putranya. "Aku mohon, aku mau minta maaf kepadanya. Aku akui aku salah, aku salah karena membuat putraku celaka. Maafkan aku, aku mohon biarkan aku bertemu dengan putraku," ujarnya semakin mengiba. Bahkan air mata sudah keluar dari pelupuk tegas itu.
Yumna? Wanita itu terdiam mendengar rangkaian kata yang keluar dari mulut laki-laki itu. Tak menyangka, ternyata laki-laki itu yang membuat anaknya celaka. Tak menyangka laki-laki itu tega hampir merenggut nyawa putranya. Air mata merembes keluar dari dalam mata Yumna.
Memang dia sudah melaporkan perihal kecelakaan putranya kepada polisi. Karena, tidak ada luka yang terlalu serius jadi Yumna tak melanjutkan laporannya. Namun, apa yang sekarang dia dengan, ayah kandung anaknya. Ayah kandung anaknya sendiri dengan tega untuk merenggut nyawa punta yang sudah dengan susah payah dia besarkan selama ini. Bahkan tak ada secuil pun bantuan dari laki-laki itu untuk anak yang dia lahirkan.
"Kenapa?!" tanya Yumna menatap laki-laki itu dengan pandangan mata marah, serta benci.
Reyhan diam. Tak menyahut apa yang ditanyakan Yumna. Lidahnya terasa kelu.
"KENAPA!!" teriaknya dengan keras tepat di depan laki-laki itu. "KENPA KAU TEGA MENYAKITI ANAKKU. APA SALAHNYA SEHINGGA KAU TEGA INGIN MERENGGUT NYAWA PUTRAKU. KENAPA, HAAA?!!!" lanjutnya dengan suara yang teramat keras. Bahkan dapat didengar teriakan itu penuh dengan rasa marah serta benci.
"Maafkan aku, maafkan kes---"
"Maaf," Yumna Mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bahkan kau dengan tega menfitnah putraku atas musibah yang di alami ibu mu. Kenapa kau tega melemparkan fitnah keji kepada putraku tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa kau tega, haaa?" Yumna tampak sangat marah. Marah dengan apa yang dilakukan laki-laki itu kepada putrannya
"PERGI!!! PERGI KAU DARI SINI. KAU TAK PANTAS UNTUK DI MAAFKAN!!! PERGI!!" teriaknya dengan keras. Bahkan tangan Yumna menunjukkan ke arah gerbang rumahnya yang mana terbuka dengan lebar.
"Sayang ada siapa? Kenapa teriak-teriak?" Langkah kaki serorang laki-laki semakin mendekat. Bahkan suaranya penuh dengan rasa khawatir akan wanitanya. Takut terjadi sesuatu kepada istrinya.
"Mas, usir mereka," Yumna menunjuk kepada Lani dan Reyhan agar suaminya mengusir mereka dari rumahnya.
"Iya Sayang, nanti Mas usir. Kamu tenang dulu ya," Laki-laki itu mengusap lembut bahu istrinya yang terasa bergetar.
Wanitanya kini tengah menangis. Wanitanya saat ini sedang tak baik-baik saja. Terlihat jelas bagaimana bergetarnya tubuh sang istri.
Andi menatap kedua orang itu. Menyuruhnya dengan lembut untuk pergi dari rumah mereka. Andi tak mau istrinya semakin menangis lantaran, mereka masih ada di sini.
TBC