Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Kontrakan Mika


Mika menyusuri jalan menuju kantor yang tidak terlalu jauh. Bukan niat hati mengabaikan ajakan Ali untuk berpacaran tapi bukan itu yang dia mau. Jika Ali memang serius kenapa harus mengajak dirinya melakukan hubungan pacaran sedangkan hubungan yang halal malah yang lebih baik dan utama. Lagian umur Ali bukan lagi 25 atau 26 tahun tapi ini sudah masuk pada kepala tiga. Mungkin saja diluaran sana laki-laki yang berumur segitu sudah memiliki paling banyak 2 orang anak bahkan ada yang lebih.


Langkah Mika membawanya menuju ruang kerjanya. Untung saja waktu saat sampai di tempat kerjanya masih tinggal dua menit lagi. Mika langsung mendudukkan tubuhnya pada kursinya. Mengabaikan tatap Tiana yang menjurus kepadanya begitupun dengan Yuda dan Yanda. Tak ada lagi waktu untuk sekedar mengobrol lantaran waktu kerja yang sudah masuk.


Mika sibuk dengan layar lebar di depannya. Membaca proposal yang dia tulis dengan teliti agar tidak ada yang salah. Salah sedikit pasti dia akan kena marah. Apalagi jabatan Mika bukan jabatan sembarangan. Ini juga suatu keberuntungan bagi Mika yang langsung di terima pada jabatan yang bahkan tak pernah di sangka-sangka Mika.


Jam kantor sudah habis. Mika merapikan meja kerjanya yang sedikit berantakan. Tak lupa Mika melap mejanya dengan tisu yang dia sediakan di dalam lacinya.


"Mika aku bareng kamu pulang ya, soalnya mobil aku di bengkel," Tiana menyamakan langkahnya dengan Mika.


"Kenapa tidak dengan Kak Yuda, Tiana?" Bukan Mika menolak hanya saja Mika ingin tahu. Mana tahu nanti setelah Tiana naik ke atas motornya malah pacar sahabatnya itu datang dan menghentikan Tiana yang hendak pulang dengannya. Seperti satu bulan yang lalu.


"Nggak Mika, Kak Yuda nggak bisa ngantar aku pulang karena ada keperluan mendesak katanya," jawab Tiana dengan senyuman.


"Oh gitu Tia. Ya sudah kamu bareng aku saja, apa kamu mau nginap malam ini di rumah aku Tia?" Mika menatap sahabatnya itu.


"Hmm, boleh deh Mika, kita langsung ke kontrakan kamu saja. Lagian baju aku juga ada di kontrakan kamu kan?"


"Ada kok Tia, sudah aku lipat rapi di dalam kemari."


Mika melakukan motornya menuju kontrakan dengan membonceng Tiana di belakangnya. Mereka tak banyak bicara saat di atas motor.


"Huhhhh, lelahnya!!" Tiana merebahkan tubuhnya pada kasur milik Mika. memejamkan matanya sejenak sambil menunggu Mika membersihkan dirinya.


Lama menunggu akhirnya Mika keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menggulung indah di kepalanya. Mika keramas karena kemaren dia tidak keramas menyebabkan kepalanya terasa gatal. Belum lagi peluh yang menyerang kepala Mika lantaran kepala itu terbungkus hijab seharian.




"Kamu masak apa Mika?" Tiana menghampiri Mika yang tengah menyusun makan malam mereka di atas meja.



"Tumis kangkung sama ikan goreng Tiana. Hanya itu yang tinggal di kulkas,"



"Ini saja sudah enak banget Mika. Apalagi masakan kamu sangat enak di lidah aku, heheh,"



"Alhamdulillah Tiana, terima kasih pujiannya,"



"Sama-sama Mika,"



Selanjutnya kedua gadis itu menikmati makan malam mereka dalam diam. Tak ada yang berbicara kala mereka menyantap makan malam tersebut hingga selesai.



"Mika kamu tadi siang kemana sama Mas Al?" Saat ini kedua gadis itu sudah berada di dalam kamar Mika. Malas duduk di ruang tamu maka dari itu mereka memilih ke kamar.



"Taman dekat restoran Tia, kenapa?" Mika menatap Tiana sekilas yang kini duduk tepat di sampingnya. Mereka berencana untuk menonton film Korea yang berada di laptop Mika karena belum pernah mereka tonton.



"Ngapain dia ngajakin kamu kesana Mika? Serius aku kepo banget, heheh,"



"Abang nyatain cinta sama aku, Tiana," Jujur muka.



"Seriusan kamu, Mika? Kamu nggak lagi bercanda bukan? Masa sih Mas Al nyatain cinta sama kamu? Sejak kapan dia jatuh cinta sama kamu?"



Mika mengedikkan bahunya. "Aku sudah jujur ya sama kamu, Tiana. Percaya atau tidak itu hak kamu," Jari-jari lentik Mika masih asik bermain dengan laptopnya.



"Terus apa jawaban kamu, Mika? Kamu terima nggak Mas Al? Secara kan kamu itu cinta banget sama dia," Semakin di bahas jiwa kepo Tiana semakin merajalela.



"Aku nyuruh Abang buktiin sama aku jika memang Abang serius cinta sama aku," balas Mika santai.



"Terus-terusan apa jawaban Mas Al?" Sepertinya cerita Mika lebih menarik ketimbang film Korea yang hendak mereka tonton.



"Abang ngajakin aku pacaran Tiana," Dengan raut wajah sendu Mika berucap.




Mika menggelengkan kepalanya. "Aku nggak jawab Tiana,"



"Kenapa? Padahal itu kesempatan loh buat kamu, Mika? Bukankah kamu masih sangat mencintai Mas Al begitu dalam? Lalu kenapa nggak kamu terima saja dia?" Tiana bingung dengan sahabatnya itu. Padahal cintanya kini sudah terbalaskan namun Mika tak menerima laki-laki yang dicintainya.



"Kalau Abang serius sama aku Abang nggak akan ngajakin aku pacaran Tiana. Abang pasti akan mengajak aku untuk menikah. Membina rumah tangga sesuai dengan keinginan Abang maupun aku. Buat apa pacaran mengingat umur Abang yang sudah kepala tiga, tak apa aku belum genap 25 tahun. Tapi aku hanya ingin menikah dengan Abang, kalau pacaran belum tentu hubungan itu sampai ke pelaminan Tiana. Maka dari itu aku tidak menerima ucapan Abang. Aku hanya ingin keseriusan, bukan serius dalam berpacaran." jelas Mika panjang lebar.



Tiana tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiana setuju dengan apa yang dikatakan Mika.



"Kamu bener banget Mika, aku juga pengen nikah Mika, huhuhu. Tapi Kak Yuda belum mau menikah dalam waktu dekat ini," curhat Tiana.



"Kenapa?" Kini Mika menatap sahabatnya yang tampak sedih.



"Katanya masih ada adeknya yang butuh biaya kuliah yang tidak sedikit. Kalau Kak Yuda nikah otomatis uangnya sudah tidak bisa di berikan lebih dari setengah untuk keluarganya. Kira-kira seperti itu kata Kak Yuda waktu itu. Jujur saja aku pengen banget nikah muda Mika, apalagi sekarang aku juga sudah dapat pekerjaan. Otomatis aku juga bisa bantu keluarga kecil aku nantinya,"



"Hmm, terus kapan target Kak Yuda nikah Tiana?"



"Katanya sih 4 tahun lagi pas di umurnya yang ke 30 tahun. Terlalu lama buat aku Mika, kamu tahu aku sangat pengen punya anak,"



Mika memang mengetahui sahabatnya itu sangat menginginkan seorang anak. Sudah lama Tiana bercerita kepadanya bahkan waktu mereka saat kuliah dulu Tiana juga mengatakan pengen nikah. Namun, jodohnya saja yang belum datang kala itu. Kini saat sudah ada Yuda tapi, laki-laki itu tak ingin menikah cepat. Sungguh rumit kisah Tiana tapi, lebih rumit lagi kisah cinta Mika.



"Sabar Tiana, mungkin belum saatnya kamu untuk menikah. Allah punya rencana yang baik untuk kamu nantinya,"



"Aamiin Mika, terima kasih," Mika hanya menganggukkan kepalanya.



"Ya sudah cukup sampai disini kita bercerita. Saatnya kita untuk menonton film Korea yang tak kalah romantisnya dari waktu itu Tiana," Mika mengklik salah satu film Korea yang terdapat di laptop Mika. Film Korea dengan judul 'My Girlfriend Is An Alien'



Episode satu sudah mulai tayang pada layar lebar di depan mereka. Dengan di temani kacang telur yang sengaja di bawa Mika untuk menemani mereka menonton film kesukaan mereka. Tak lupa teh manis yang ikut menemani mereka.



Waktu terus berlalu kini sudah tiga jam lebih mereka menonton film tersebut. Sudah ada 4 episode yang sudah mereka tonton.



"Kapan ya aku bisa kek gitu lagi Mika?" Mata Tiana fokus pada adegan yang tengah di lakukan pemeran utamanya.



"Iss, nikah dulu baru lakuin," Mika menoyor kepala Tiana.



"Tapi aku sudah pernah ngelakuin kek gitu Mika,"



"Sama siapa?" Kini fokus Mika bukan lagi pada laptop melainkan pada sahabatnya.



"Kak Yuda,"



Mika hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Tiana. Jujur saja dari awal Mika memang kurang suka dengan Yuda. Laki-laki itu terlihat sangat badboy. Dari awal meraka jumpa Mika sudah bisa menilai bagaimana Yuda. Lihatlah sekarang sahabatnya sudah di cium laki-laki itu. Padahal dulu mereka pernah bercerita jika akan memberikan ciuman pertama hanya untuk suami mereka kelak. Tapi nyatanya itu tak berlaku untuk Tiana.



TBC