Diceraikan

Diceraikan
Pernikahan


Akhirnya hari-hari yang ditunggu Yumna sudah datang. Hari dimana dirinya akan di persunting untuk yang ke-dua kalinya oleh laki-laki yang berbeda. Baik rupa maupun sikap. Yumna kini tengah dirias sedemikian rupa oleh MUA yang dia sewa tiga hari sebelum pernikahan.


Tangan lentik itu kini tampak cantik dengan hiasan henna merah dengan motif bunga mawar yang tampak sangat indah. Jangan lupakan dijari tengah serta jari manisnya tersemat sebuah cicin yang menambah kecantikan pada jari itu. Yumna wanita memang tak lagi muda, namun wajahnya yang masih terlihat muda membuat wanita itu tampak seperti seorang wanita yang masih berumur sekitar tiga puluhan. Bahkan tak ada yang menyangka jika wanita itu sudah berumur empat puluh lebih.


"Bunda, boleh aku masuk?" Ali melonggokkan kepalanya ke kamar sang bunda.


"Masuklah Sayang," Yumna menatap ke arah sang putra untuk mempersilahkan laki-laki itu untuk masuk.


"Wahh Bunda sangat cantik sekali hari ini," Ali tak bisa membohongi dirinya, jika sang bunda memang tampak lebih cantik. Apalagi dengan riasan pada wajahnya yang sedikit lebih tebal. Polesan lipstik merah merona yang melekat pada bibir sang bunda.


"Benarkah, Sayang?" Yumna tampak sangat bahagia karena sang putra memuji dirinya. Siapa yang tidak senang jika dipuji, apalagi seorang wanita yang fitrahnya sangat senang jika dipuji oleh keluarga terdekat. Tidak hanya itu jika ada orang lain pun yang mejuji, rasanya sangat bahagia. Terasa hati berbunga-bunga, bahkan senyum tulus mengembang dibibir itu.


Ali menganggukkan kepalanya. "Iya Bunda, aku serius," balas Ali dengan senyum tulus yang mengembangkan dibibir laki-laki itu.


"Permisi Mbak, mempelai laki-lakinya sudah tiba," Tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kamar Yumna. Wanita yang merupakan tetangga Yumna yang berjarak lima rumah dari rumahnya.


"Ahh iya Mbak, bisa tolong bantu pegangin gamis saya bagian belakang, Mbak?" Yumna mengisyaratkan kepada wanita itu untuk membantu dirinya.


Wanita itu mengangguk. Mengikuti apa yang di pinta sama Yumna. memegang gamis bagian belakang yang tampak sangat panjang daripada bagian depannya.



Sedangkan di ruang tamu rumah Yumna, kini tengah duduk seorang laki-laki dengan setelah jas hitam di depan penghulu yang akan menikahkan Yumna. Mereka hanya berjarak satu meja persegi. Karena, tak memiliki keluarga selain Ali, jadi Yumna akan di nikahkan oleh Pak penghulu sebagai wali hakim.



Andi duduk dengan grogi. Meski ini bukanlah hal yang pertama lagi bagi dirinya, namun cukup membuat laki-laki itu merasakan kegugupan yang sangat kentara. Bahkan tangannya terasa dingin dengan keringat yang jelas tampak pada telapak tangannya.



Berulang kali, Andi mengusapkan tangannya pada celana bahan yang tengah dirinya pakai. Semakin laki-laki itu mengusapkan tangannya, semakin banyak pula keringat yang keluar dari tangannya. Padahal pada pernikahan pertamanya, Andi tak pernah merasakan gugup seperti ini. Bahkan ini bisa dikatakan sangat berlebihan reaksi tubuhnya.



"Nak, kamu masih gugup?" Tiba-tiba saja Tati memegang bahu sang putra. Kebetulan wanita itu tepat berada di belakangnya. Wanita itu dapat melihat sang putra yang terus saja mengusap tangannya pada celana yang dipakainnya. Tati cukup heran dengan keadaan anaknya saat ini, padahal dulu pada pernikahan pertamanya, Tati tak melihat anaknya seperti ini.



Andi cukup terkejut dengan sentuhan yang diberikan sang mama pada bahunya. "Lumayan Ma," jawabnya dengan jujur.



"Kenapa bisa seperti ini? Dulu saja kamu tidak seperti ini, Nak?" Tati cukup heran.



"Nggak tau juga Ma," jawab Andi sekenanya. Karena dia juga tidak tau kenapa reaksi tubuhnya separah ini.



Kini seluruh pandangan tertuju pada wanita yang digandeng seorang pemuda yang tampak gagah dengan jas yang dia kenakan. Bahkan jika tak ada yang kenal dengan Ali, mungkin saja mereka akan mengatakan jika Ali adalah adik dari mempelai wanita. Tak tampak jika Yumna seperti seorang wanita yang sudah memiliki seorang putra, yamh bahkan sudah duduk di bangku kuliah.



Ali menuntun sang bunda untuk duduk di samping Andi. Membantu mengumpulkan bagian belakang gamisnya yang tampak sangat panjang menjadi satu. Jika dibiarkan, bisa saja Yumna akan terjatuh jika nanti wanita itu berdiri lantaran ada yang menginjak bajunya.




"Ahh, iya boleh Pak," jawab Andi terkejut mendengar ucapan Pak Penghulu. Andi mengulurkan tangannya untuk dijabat Pak Penghulu.



"Saudara Muhammad Andi Setiawan bin Tomi Setiawan, saya nikahkan dan saya kawinkan anda dengan Yumna Humaira bini Hamzah yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan anda dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai," Tanpa ada kata yang lupa, Pak penghulu mengucapkan dengan lancar dan lantang.



"Saya terima nikah dan kawinya Yumna Humaira binti Hamzah dengan seperangkat alat sholat tunai!!" Satu kali tarikan nafas, Andi dengan lantang mengucapkan kata itu dengan lancar.



"Bagaimana para saksi? SAH!"



"SAH!!!



Ruangan itu dipenuhi dengan kata sah yang keluar dari mulut para saksi. Selanjutnya Pak Penghulu membacakan do'a untuk kebaikan sepasang suami istri yang baru saja sah beberapa detik lalu.



Selanjutnya acara pemakaian cicin pada mempelai perempuan maupun laki-laki. Andi memasangkan cicin pada jari manis istrinya. Tak lupa senyum manis menghiasi wajah tampan yang tak lagi muda itu. Yumna membalas Andi dengan cara mencium punggung tangan laki-laki itu seperti yang biasa dilakukan pengantin perempuan. Selanjutnya baru Yumna memasangkan cicin pada jari manis Andi yang dibalas kecupan pada dahi wanita itu dari Andi.



Malam sudah datang menghiasi langit biru menjadi hitam, dengan sedikit bintang sebagai penghiasnya. Tak lupa bulan sabit yang menambah terangnya malam ini. Bahagia sungguh kentara terasa dari kedua wajah penganti baru yang tadi siang melaksanakan pernikahan mereka.


Mereka memang tak mengadakan undangan, lantaran itu permintaan Yumna. Karena Yumna hanya menginginkan pernikahan satu hari saja tanpa ada hari ke-dua, ke-tiga atau hari keberapa pun itu.


"Bunda," Andi memeluk dari belakang tubuh wanita yang beberapa jam lalu sah menjadi istrinya.


"Iya Mas," Jujur Yumna merasa geli dipermalukan seperti ini. Apalagi sudah belasan tahun tak pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang laki-laki. Membuat bulu kuduk Yumna meremang.


Mereka kini memang berada di dalam kamar penganti rumah Yumna. Setelah tadi mereka makan malam bersama keluarga Andi tentunya. Karena Yumna tak memiliki keluarga selain Ali sang putra.


"Bunda bahagia tidak menikah dengan ku?" Tiba-tiba saja Andi membalikkan tubuh istrinya menghadap kearahnya. Dengan tetap memeluk pinggang sang istri. Bahkan deru nafas Andi sangat terasa menerpa wajah Yumna.


"Kenapa, Mas bertanya seperti itu?" Yumna mengernyitkan dahinya.


"Ya Mas pengen tahu saja Bunda. Bunda bahagia 'kan menikah dengan mas?" ulang Andi menatap intens wajah istrinya yang kini tak lagi ada riasan seperti tadi siang. Bahkan wajah itu tampak polos dengan polesan liptint pada bibirnya.


"Tentu saja ku bahagia Mas. Kalau tak bahagia tak akan mungkin aku mau menikah denganmu, Mas," jawab Yumna dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Wanita itu berkata dengan jujur. Tak ada kebohongan yang keluar dari mulut itu.


"Alhamdulillah Bunda. Mas senang mendengarnya," jawab Andi semakin mengeratkan pelukannya kepada sang istri.


TBC


{Selain bertugas sebagai Pegawai Pencatat Nikah, penghulu juga mempunyai tugas menjadi wali hakim bagi calon mempelai perempuan yang tidak mempunyai wali nasab atau karena sebab tertentu wali nasab tidak dapat menikahkannya}