
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah enam bulan lamanya Ali bertugas di rumah sakit. Selama itu pula Ali mengantar Mika ke kampusnya, hanya saja sekali-sekali Ali tidak bersama dengan gadis itu lantaran dia masuk siang.
Saat ini Ali tengah membereskan meja kerjanya yang tampak berantakan. Kertas-kertas berisi nama pasiennya sudah di susun rapi laki-laki itu, lalu di masukkan ke dalam lemari khusus.
Selama ini tak henti-hentinya Weni datang ke ruangan Ali. Berusaha mendekati Ali, bahkan sering kali wanita itu mengajak Ali untuk pergi ke club. Namun, sejauh ini Ali tetap menolak ajakan Weni. Ingin rasanya Ali marah atau memberi bogeman pada wanita itu, jika saja Ali lupa jika dia itu seorang wanita.
Jengah, Ali sangat jengah dengan tingkah wanita tak tau malu itu. Bahkan pernah suatu ketika dia menawarkan dirinya untuk di tiduri Ali. Dengan keras Ali menolak, bahkan mengusir wanita itu dari ruangannya. Wanita tidak punya malu itulah penilaian Ali kepadanya. Mungkin saja wanita itu tak lagi suci, dirinya saja diajak begituan apa lagi orang lain.
Selesai merapikan meja kerjanya, Ali memilih duduk di kursi sambil memijit kepalanya yang terasa sakit. Rasa pusing yang tak terlalu membuat Ali merebahkan kepalanya pada meja persegi itu. Menutup matanya dengan sebelah tangannya.
Ceklek...
Ali menegakkan kepalanya saat mendengar seseorang membuka pintu ruangannya. Ali menatap jengah wanita yang kini menampilkan senyum yang membuat Ali merasa jijik.
"Al kamu lagi sibuk tidak?" Weni melangkah mendekati meja Ali. Duduk di depan laki-laki itu dengan senyum penuh arti.
"Tidak, ada apa? Kalau tidak ada yang penting mendingan kamu keluar?!" ujarnya sarkas.
"Kamu ngapain ngomong gitu sih Al, padahal aku masuk juga baik-baik. Mau ngomong juga baik-baik," ujarnya dengan nada lirih.
"Emang kamu mah ngomong apa?" Ali berusaha mengontrol emosinya dengan wanita di depannya. Jika saja ruangannya kedap suara, Ali sudah mengusir wanita itu. Bahkan bisa saja Ali membentak wanita itu. Jangan lupakan jika Ali juga bisa memaki-maki wanita itu.
"Kamu sibuk nanti malam, nggak?" tanyanya menatap wajah tampan Ali.
"Kenapa?" tanya Ali menatap wanita itu muak.
"Ke club yuk nanti malam." ajaknya.
Ali menatap tajam wanita yang harga dirinya mungkin sudah tak ada lagi. "Apa tidak ada kata-kata yang lain yang bisa kamu katakan? Setiap datang ke sini ucapan kamu hanya club, club dan club. Kamu tahu tidak, jika diri kamu itu seperti seorang wanita mu---"
"Iya aku tahu, makanya aku ajakin kamu," potongnya.
Ali menggeleng mendengar ucapan wanita itu. Ali tak habis pikir dengan pemikiran wanita itu. Padahal pendidikannya tinggi, bahkan jadi seorang dokter pula. Tapi pemikirannya..., Ali lupa jika setinggi apapun pendidikan seseorang tak menjamin jika orang itu akan memiliki sifat dan tingkah lalu yang baik.
"Aku tidak habis pikir sama kamu, Wen. Sejak awal aku sudah nolak, tetap saja kamu tidak paham. Apa emang kamu tidak mengerti dengan sebuah penolakan?"
"Aku paham kok Al, dan aku yakin jika kamu suatu saat pasti akan mau aku ajakin ke club. Maka dari itu aku terus ngebujuk kamu," balasnya tanpa tersinggung akan kata-kata Ali.
"Kelakuan kamu yang seperti ini bikin aku muak Wen. Kamu tahu kan, aku muak bahkan ilfil dengan tingkah kamu,"
"Tidak apa-apa Al, kamu boleh ilfil boleh muak atau apa. Tapi, aku akan tetap berusaha mendekati kamu dan mau mendengar ajakan aku. Aku yakin itu," ucapnya membuat Ali semakin muak dengan wanita itu.
"Terserah kamulah Wen, aku nggak peduli!" balas Ali kembali merebahkan kepalanya di atas meja. Rasa pusing pada kepalanya masih terasa. Bukan Ali tak mau meminum obat, hanya saja Ali sangat malas. Lagian biasanya jika dibawa tidur seperti ini akan hilang sendiri.
"Kamu sakit Al? Kenapa kamu tampak tak bersemangat?" Weni mengusap kepala Ali.
"Lepasin tangan kamu, Wen!!" bentaknya menepis tangan wanita itu yang hampir mengusap kepalanya.
"Kamu kok kadang gini sih Al, padahal aku niat baik ngusap kepala kamu kok," ujarnya menatap Ali.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kamu. Kamu tahu aku jijik!!!" rekannya menatap Mualang wanita itu.
"Ngomongnya juga nggak usah ngegas gitu kali Al. Lagian aku baik-baik kok,"
"Mendingan kamu keluar deh Wen. Kamu bikin kepalanya aku tambah sakkt" usirnya menunjuk pintu keluar.
"Aku nggak mau Al. Aku mau disini sampai jam Istirahat habis."
"Baiklah, hari ini aku akan ikutin ucapan kamu tapi tidak untuk besok-besok. Aku akan tetap berada di ruangan kamu sampai jam istirahat habis," ucap Weni berdiri. Melangkah meninggalkan Ali yang kembali merebahkan kepalanya di atas meja.
Ali muak, bahkan sangat muak. Wanita tak tahu malu itu terus saja mengusik ketenangannya. Pernah suatu ketika Ali mengunci ruangannya namun, wanita itu terus saja mengetuk pintu itu bahkan mengedornya. Wanita itu juga tidak ada malunya saat itu, banyak orang yang melihat ke lakukannya namun, wanita itu bersikap biasa saja. Bisikan orang-orang akan dirinya diangap angin lalu oleh wanita itu.
****
Sedangkan di tempat lain, Mika kini tengah duduk di taman belakang rumah Yumna. Disana ada Tiana, Aileen serta Azlan. Mika dan Tiana duduk di kursi sedangan kedua bocah kecil itu tengah berlari kesana-kemari sambil tertawa cekikikan.
"Mereka sangat lucu ya Mik?" tanya Tiana sambil memperhatikan kedua bocah kecil itu.
"Iya Tia, mereka memang sangat lucu juga sangat mengemaskan," balas Mika menyetujui ucapan Tiana. Memang itulah kenyataan dari anak-anak Yumna.
"Nanti jika aku punya anak sama Mas Ali, pasti sangat lucu. Lebih lucu dari mereka. Secara kan Mas Ali itu ganteng di tambah aku yang cantik dan sexy." Tiana membayangkan jika nanti anak-anak berlari kesana-kemari seperti Azlan dan Aileen. Membayangkan saja sudah membuat Tiana seperti orang gila, apalagi jika itu kenyataan.
Mika menoyor kepala Tiana. "Halunya jangan ketinggian Tia, nanti jatoh dan juga yang akhirnya merasakan sakit," peringatnya.
"Nggak apa-apa sekarang masih halu Mik, jodoh siapa yang tahu, bukan?" Tiana menaik turunkan alisnya. Menatap sahabatnya itu dengan senyum mengembang.
"Idihhh halu kamu terlalu kebangetan Tia. Lagian aku juga cama ngingetin kamu saja kok,"
"Alaaahhh, bilang saja jika kamu itu cemburu Mik, nggak usah ngomong kek gitu sama aku. Aku tahu kamu itu pasti suka sama Mas Ali, bukan?" Tiana menatap wajah Mika yang bersemu merah.
"Iss, kamu jangan asal ngomong saja Tia. Aku nggak suka kok sama Bang Al," ucap Mika mengalihkan penglihatannya ke arah Aileen dan juga Azlan.
"Apa susahnya sih jujur sama aku Mik. Lagian kita itu sudah jadi sahabat loh. Berbohong pun kamu tidak bisa Mik, terlihat jelas dari wajah kamu yang tampak merah saat aku berkata seperti tadi." ungkap Tiana.
Langsung saja Mika meraba wajahnya. Memang terasa panas. "Benarkah Tia?" tanyanya mulu.
"Iya Mik, benarkan kamu suka sama Mas Ali?" Kini Tiana menatap Swedia sahabatnya itu.
Dengan ragu Mika menganggukkan kepalanya. "Iya Tia,"
"Sejak kapan?"
"Apanya yang sejak kapan Tia?" Mika bingung apa yang ditanyakan Tiana kepada dirinya.
"Sejak kapan kamu suka sama Mas Al?"
"Emm sudah lama sih. Mungkin saja sejak aku kecil hehehe," jawab Mika dengan cengengesan.
"Lah sejak kecil? Yang benar saja kamu, Mik."
"Iya Tia, aku sudah suka sama Abang Al sejak aku masih kecil. Dulu sih sukanya hanya sebatas abang saja, tapi semenjak aku sudah beranjak remaja rasa suka itu berubah rasa suka sama lawan jenis. Mungkin sejak aku kelas 1 SMP kali ya," Mika juga tampak bingung semenjak kapan dia menyukai Ali sebagai lawan jenis.
"Wahhhh hebat banget kamu Mik, apa sudah kamu katakan sama Mas Al?"
"Mengatakan apa?"
"Ya mengatakan jika kamu itu suka sama dia lah Mik, mengatakan apa lagi coba,"
Mika menggeleng. "Aku nggak berani Tia. Aku nggak berani karena takut di tolak. Mana lagi nantinya pasti sangat sakit. Biarlah aku mencintainya dalam diam," ucap Mika dengan sendu.
Gadis itu takut mengatakan cintanya kepada Ali. Takut akan kecewa dengan sebuah penolak. Hatinya belum sanggup untuk menerima itu semua. Biarlah sekarang dia memendam rasa cinta untuk laki-laki itu. Lagian Mika juga belum mau jika hubungan mereka akan renggang lantaran dirinya mengutarakan perasaannya.
TBC