Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Abang Bolehkah Sekali Lagi?


Hari-hari setelah kematian Yumna bagi Andi dan Ali tentunya tidaklah mudah. Apalagi Aileen dan Azlan yang sering menangis merindukan Yumna. Kedua bocah itu tiada hentinya meminta Yumna untuk kembali meski mereka sudah tahu jika Yumna sudah meninggal. Mereka seakan lupa jika Yumna jelas tidak akan bisa kembali ke rumah, apalagi tubuh itu sudah di tutup tanah dan mungkin saja sekarang sudah di makan ulat.


Sering kali juga Andi, Ali dan Mika memberikan pengertian kepada Aileen dan Azlan. Namum, lagi-lagi mereka hanya paham sebentar setelahnya kembali lagi kepada mode awal.


"Ai nanti malam kita akan lihat bintang seperti semalam ya? Ai rindu kan sama Bunda?" Ali mengusap lembut kepala adik kecilnya.


"Iya Abang, Ai rundu Bunda. Ai ingin peluk Bunda seperti waktu itu. Ai rindu dengan semua perlakuan Bunda sama Ai. Ai sangat merindukan Bunda, Abang," Air mata gadis itu merembes dengan derasnya. Rasa rindu yang teramat sangat membuat bulir bening itu semakin deras di pipinya. Apalagi ini sudah satu migggu semenjak kepergian Yumna untuk selamanya.


"Kalau Ai rindu dengan Bunda maka Ai nggak boleh lagi nangis dan sedih. Ai harus tetap bahagia meski Bunda jauh dari Ai. Kita harus membuat Bunda bahagia disana dengan kebahagiaan yang kita lalui. Ai mau kan melihat Bunda bahagia? Ai nggak mau kan Bunda disana sedih karena melihat Ai disini nangis terus?" Ali mengusap pipi adik kecilnya dengan jari jempolnya yang besar.


"Iya Abang, Ai nggak mau Bunda sedih. Bunda harus bahagia di sana, Bunda tidak boleh melihat Ai disini terus menangis. Ai harus tetap tersenyum biar Bunda tenang di sana. Iya kan Abang?" Masih dengan sesegukan gadis kecil itu menatap polos wajah Ali.


"Iya Ai, jadi Ai jangan lagi nangis-nangis ya?" pinta Ali yang diangguki gadis kecilnya.




Mika menghampiri suaminya yang tengah duduk bermenung di atas ranjang. Selama satu Minggu ini suaminya lebih banyak bermenung di dalam kamar ketika dirinya tidak bekerja.



"Abang, aku tahu Abang sedih tapi, alangkah baiknya Abang ikhlas melepas kepergian Bunda. Jika Abang seperti ini terus bukan berarti Bunda di atas sana tidak sedih. Bunda pasti sangat sedih melihat putra kebanggaannya terpuruk karena kepergiannya. Bunda pasti akan merasa bersalah meninggalkan keluarga tercintanya. Abang kekuatan untuk aku, Abi dan juga kedua adik Abang. Jika semuanya merasakan kesedihan yang berlarut lalu akan seperti apa rumah ini? Tak inginkah Abang rumah ini hidup seperti semula?Meski tak ada Bunda harusnya kita tetap menjaga apa yang dulu terjadi saat masih ada bunda. Ikhlas Bang, biar Bunda bahagia disisinya,"



Ali menatap istri yang sangat dicintainya dengan berlinang air mata. Benar, kenapa dirinya harus berlarut-larut seperti ini? Semuanya tidak akan pernah kembali seperti semula. Semuanya akan tetap sama bahkan sampai matanya tertutup dengan rapatnya suatu saat nanti. Bundanya tidak akan pernah kembali lagi, sekalipun dia menangis darah.



"Terima kasih Dek, terima kasih sudah menyandarkan Abang dari sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Kamu benar rumah ini harus kembali lagi hidup seperti saat ada Bunda. Abang nggak mau Bunda di sana sedih melihat Abang kek gini. Abang harus kuat demi kalian semua terutama untuk adik-adik Abang yang pastinya akan terus menanyakan dimana keberadaan Bunda," Ali segera menghapus air matanya.



Mika tersenyum mendengar ucapan suaminya. Mika sungguh tidak mau suaminya merasa sedih yang tidak berkesudahan. Sudah cukup satu minggu ini suaminya larut namun, tak lagi untuk selanjutnya. Lagian sudah percuma untuk menangisi sesuatu yang memang tidak akan kembali. Sedih boleh saja tapi jangan terlalu berlarut-larut.



"Sama-sama Bang," balas Mika menampilkan senyum manisnya. Tak lupa membantu menghapus sisa-sisa air mata di pelupuk mata Ali.



\*\*\*\*



Malam sudah menyambut Ali, Mika, Aileen dan juga Azlan tengah berdiri di balkon kamar Ali dengan menatap bintang malam ini lebih banyak dari malam-malam sebelumnya.



"Abang, apa disana ada Bunda? Apa salah satu dari bintang itu ada Bunda, Abang? Apa Bunda mendengar Ai berbicara seperti ini Abang? Apa Bunda juga menatap Ai seperti Ai menatap bintang itu Abang?" Mata Aileen tak lepas dari sinar bintang yang amat terang. Bahkan bulan juga ikut serta memperlihatkan wujudnya. Seakan menjadi saksi betapa rindunya ketiga anak Yumna.



"Iya Ai, lihatlah bintang yang paling terang dari itu semua adalah Bunda. Bunda pasti tengah menatap kita dengan penuh binar dimatanya. Bunda pasti sangat bahagia melihat kita bahagia di sini Ai. Jadi Ai nggak boleh lagi sedih karena Bunda jauh dari kita." jawab Ali yang menatap bintang dengan mata mengembun. Sekuat apapun Ali jika sudah menyangkut tentang sang bunda, pasti dirinya akan sangat sedih dan terluka.




"Bunda pasti bahagia di sana Ai, Bunda hanya ingin melihat Ai tersenyum dan tak lagi sedih. Lihatlah bintang itu beberapa kali berkedip yang tandanya Bunda tersenyum dengan manisnya disana Ai. Bunda bahagia melihat Ai senang, Bunda bahagia melihat Ai tak lagi menangis."



"Benarkah begitu Abang? Benarkah Bunda tidak sedih disana? Tapi apakah Bunda rindu sama Ai, Abang? Apakah Bunda rindu memeluk Ai, Abang?"



"Bunda pasti sangat rindu dengan Ai, Azlan dan kita semua. Bunda pasti ingin memeluk kita semua dengan erat seperti saat itu." jawab Ali yang tak kuasa menahan tangisnya.



Pertanyaan-pertanyaan yang Aileen lontarkan semuanya isi hati dari gadis kecil itu. Isi hati yang terasa begitu pilu. Kerinduan seorang anak kepada sosok ibunya. Lihatlah betapa kuatnya gadis kecilnya yang bahkan tak ada air mata di sana. Binar bahagia sangat jelas terlihat di kedua mata gadis kecilnya saat melihat bintang yang dia kira ibunya.



"Abang, bolehkan sekali lagi Ai menangis? Bolehkan Ai mengeluarkan air mata Ai, Abang? Ai rindu sama Bunda. Apa Bunda akan sedih jika Ai menangis Abang? Sekali ini saja Abang. Boleh kan Abang Ai nangis?" Aileen mengalihkan penglihatannya dari bintang menghadap Ali yang berurai air mata. Dadanya terasa begitu sesak mendengar permintaan gadis kecilnya yang begitu pilu.



Bahkan kini mata kecil itu sudah menganak sungai. Betapa kuatnya gadis kecilnya yang bisa menahan gejolak air mata yang hendak keluar.



"Boleh, Ai boleh nangis untuk malam ini tapi, Ai harus ingat untuk besok dan seterusnya Ai tidak boleh lagi nagis ya? Cukup malam ini saja Ai nangis. Abang nggak mau jika itu kembali terjadi untuk yang akan datang. Apa Ai paham dengan ucapan Abang?" Ali merengkuh tubuh kecil adiknya. Mengusap tubuh adiknya dengan telapak tangan besar miliknya.



Aileen membalas pelukan Ali dengan erat. Menumpahkan segala rasa rindu untuk sang bunda di pelukan Ali. Tangisan pilu menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.



Bahkan Mika yang sedari tadi melihat dan mendengar ucapan Aileen ikut menagis dalam diam. Mika paham apa yang Aileen rasankan. Bahkan jika Mika berada di posisi Aileen belum tentu Mika bisa sekuat gadis kecil itu.



Di dalam kamar Ali, Andi sedari awal mendengar ucapan putri kecilnya yang begitu tegar. Kata-kata yang membuat Andi merasa tidak tahan. Air mata Andi ikut keluar saat permintaan sang putri yang ingin menangis karena rasa rindu yang dia miliki untuk sang bunda.



"Bunda..., Lihatlah betapa kuatnya putri yang Bunda lahirlah. Betapa tegarnya putri kita untuk menerima kenyataan yang dia belum mengerti. Betapa kuatnya putri kita Bunda." Andi menengadah menatap langit-langit kamar Ali dengan derai air mata yang tiada dapat dia cegah.



Rasanya masih bagaikan mimpi bagi seluruh keluarga Yumna. Baru kemaren rasanya mereka berkumpul bersama namun, kini anggota keluarga mereka sudah berkurang satu.



Andi menarik nafasnya dalam sebelum keluar dari kamar Ali. Sepertinya di balkon kamar Aileen sudah berhenti menagis karena tidak ada lagi suara tangis pilu itu terdengar. Andi memilih untuk keluar dari kamar Ali dengan hati yang masih sama. Sekuat apapun Andi menepis rasa itu akan terus berada di relung hatinya.



TBC