
Andi dan Yumna telah sampai di kediaman mereka, beberapa jam yang lalu. Saat ini sepasang suami-istri itu tengah beristirahat dikamar mereka. Cukup lelah penerbangan mereka kali ini. Kenapa tidak, sebelum berangkat mereka membersihkan rumah. Agar jika suatu saat mereka pulang tidak terlalu kotor seperti saat mereka tiba beberapa waktu lalu.
"Bunda," Andi menyebut nama istrinya sambil menatap langit-langit kamar.
"Iya Mas,"
"Kalau seandainya Mas mau kita pindah dari rumah ini, apa kamu mau Bun?" Andi beralih menata istrinya.
"Kenapa Mas? Rumah ini kan masih bagus Mas. Sayang kalau ditinggal," jawab Yumna yang juga menatap suaminya.
"Maaf Bunda bukan maksud Mas apa-apa. Mas hanya tidak enak tinggal disini. Apalagi ini rumah yang diberikan mantan suami, Bunda. Kita bisa menyewakan rumah ini kepada orang lain. Jadi rumah ini tidak akan terbengkalai. Lagian Mas juga sudah membeli rumah untuk kita tinggali bersama dengan Ali dan juga anak-anak kita nanti." Jujur saja Andi bukan tidak suka tinggal disini. Hanya saja dia mau tinggal di rumah yang dibeli khusus untuk keluarga kecilnya. Apalagi itu adalah impiannya.
"Ya sudah Mas. Kalau emang itu yang terbaik untuk kita, aku akan ikutin apa yang kamu mau. Karena surga istri terletak pada suami begitupun dengan ridho-Nya," Yumna menyanggupi ucapan suaminya. Toh tidak ada salahnya mereka pindah. Lagian rumah ini juga bisa di sewakan seperti dulu Yumna menyewakan rumah ini.
"Kamu serius Bunda?" Andi tampak antusias mendengar ucapan istrinya. Sungguh dia sangat senang jika mereka akan pindah ke rumah baru mereka. Rumah yang akan menciptakan banyaknya kenangan yang bisa mereka kenang nanti di hari tua.
Yumna mengangguk. "Iya Mas, tapi nanti aku kasih tau dulu sama Ali. Nggak mungkin besok langsung aku katakan yang ada dia akan terkejut." jelas Yumna yang diangguki Andi.
"Bunda," Lagi, Andi memanggil nama istrinya.
"Ada apa Mas?" Yumna menatap suaminya.
"Bunda mau cepat hamil tidak?" tanya Andi menatap wajah istrinya lekat.
"Iya Mas. Bahkan sangat ingin dia hadir dalam rahim ini," Yumna menunjuk perutnya yang masih rata. Bahan dia akan sangat antusias jika dirinya nanti dikatakan hamil.
"Yasudah Kalau gitu. Ayo!" Andi duduk dari tidurnya.
"Kemana Mas," Yumna tampak bingung dengan suaminya. Mau diajak kemana dirinya.
"Ya bikin dedek bayilah Bun. Biar dia cepat hadir di antara kita," jawab Andi yang langsung saja melakukan aksinya.
*****
("Hallo, apa sudah melakukan perintah yang saya katakan kemaren")" Tampak laki-laki yang tak lagi muda tengah duduk di kursi rodanya sambil menelpon seseorang.
("Ini kami sedang dalam perjalanan untuk melakukan perintah, Tuan,") jelas seorang laki-laki di sebrang sana.
("Baiklah.jangan sampai gagal. Nanti akan saya tranfer sisa dari yang saya kasih kemaren,") ujarnya kepada seseirang di sebrang sana.
("Baik Tuan,") balasnya.
Reyhan tampak mengembangkan senyumnya. Ini yang dia tunggu. Pembalasan untuk pemuda yang sudah membuat dirinya celaka serta sang ibu. Dia tidak akan pernah rela pemuda itu akan hidup nyaman tanpa merasakan sakit yang dia rasakan.
Laki-laki itu tampak beberapa kali tergelak sambil menatap layar pilih di tangannya. Dia sunguh tidak sabar menunggu kabar dari orang suruhannya. Katakan dia kejam, emang itulah kenyataannya. Dia tak akan melepaskan dengan mudah orang yang sudah membuat Ibu serta dirinya seperti ini. Bahkan sampai matipun, Reyhan tak akan pernah melepaskan.
Sedangkan di tempat lain, Ali tengah mengendarai sepeda motonya. Kebetulan pemuda itu sudah pulang dari kampus. Kini tujuannya hanya pulang ke rumah tanpa singgah kemana pun.
Dengan santai Ali membawa sepeda motornya. Menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Terasa sangat segar, Bahkan terkesan sejuk. Ingin rasanya Ali menutup matanya menikmati hembusan angin, tapi itu tak akan mungkin. Yang ada dia akan kecelakaan yang membuat Bundanya sedih. Suatu hal yang tak ingin dilakukan Ali.
Brak....
Tubuh Ali terpelanting cukup jauh dari motornya. Untung saja helm yang di pakaiannya tidak terbuka dari kepalanya. Jika saja itu terjadi kejadian yang sangat buruk akan menimpa Ali saat itu juga.
Orang yang melihat kejadian itu langsung saja menghampiri Ali yang telah berlumuran darah. Tangannya tampak terluka. Bahkan kakinya tak lepas dari kata luka. Darah mengalir dari tangan, kaki bahkan tubuhnya terdapat juga luka. Baju yang dipakai Ali terdapat bercak darah yang lumayan banyak. Tidak tau bagian tubuh mana yang terdapat luka, yang jelas bagian depan baju Ali terdapat darah segar yang lumayan banyak. Ntah itu karena goresan aspal yang terlalu kuat, ntah kaca yang kini berada di samping Ali, Karena di dekat Ali terdapat kaca yang lumayan besar. Jika dilihat jelas kaca itu juga diliputi darah. Salah seorang pengemudi membawa Ali dengan segera ke rumah sakit. Agar tidak terjadi hak yang tidak terlalu serius jika tidak di bawa cepat.
Sedangkan mobil yang menabrak Ali sudah kabur. Bahkan tak ada yang sempat melihat plat nomor dari mobil itu.
Kini Ali tengah ditangani dokter di ruang UGD. Sedangkan Yumna sudah menunggu sang putra dengan berderai air mata di luar ruangan. Ditemani suaminya yang berusaha memenangi sang istri yang tampak terpukul dengan kejadian yang di alami putranya.
"Mas, a-aku takut terjadi sesuatu pada Ali. Hiks hiks," Yumna menengadah menatap suaminya. Hatinya saat ini terasa di cabik-cabik mengetahui putranya kecelakaan. Apa lagi tadi saat dia dikabari jika sang putra berada di rumah sakit oleh seseorang yang menolong putranya.
Bahkan piring yang tadi dia pegang jatuh dari tangannya. Ketika seseorang itu mengatakan sang putra kecelakaan. Ditambah lagi saat saat di rumah sakit, orang itu mengatakan tubuh anaknya banyak mengeluarkan darah serta luka.
Dadanya semakin sakit mengingat itu semua. Suaminya sudah melaporkan hal ini ke kantor polisi. Bahkan saat ini polisi sedang menyelidiki kasus yang tengah di alami putra sambungnya itu. Yakinlah jika andi juga sama terpukulnya dengan Yumna. Namun semua itu dia tahan. Tak mungkin dia ikut menangis, dan tak menghibur istrinya.
"Ssssttt, kita berdo'a saja yang terbaik buat Ali. Semoga dia tidak terluka parah, Bun," jawab Andi mengusap-ngusap bahu istrinya dengan lembut.
"Ta-tapi jika itu terj--"
"Sstttt, jangan berkata seperti itu Bun. Berdo'a saja putra kita baik-baik saja. Tidak ada hal yang serius dialaminya," Andi meletakkan telunjuknya di depan bibir sang istri. Tanda dia tak mau istrinya itu berkata yang tidak-tidak tentang putra mereka.
Yumna mengangguk. Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut Yumna. Wanita itu memilih bungkam, meski air mata masih saja mengaliri pipinya.
"Dok bagaimana keadaan putra saya? Apadia baik-baik saja Dok? Tidak ada yang buruk terjadi kepadanya bukan Dok?" Yumna memborong pertanyaan kepada dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD
Dokter itu tampak mengulas senyum tipis. "Alhamdulillah putra, Ibu baik-baik saja. Hanya saja bagian kaki sama tangannya terluka cukup banyak. Dan bagian dadanya juga terdapat goresan yang cukup panjang. Untung saja luka pada bagian dadanya tidak dalam, jika saja itu terjadi bisa saja dada putra, Ibu harus di jahit." jelas dokter itu.
"Apa kami sudah bisa melihat putra kami, Dok?" Andi membuka suaranya kala sang istri yang sudah terdiam.
"Nanti ya Dokter. Biar di pindahkan dulu putra anda ke ruang rawat oleh suster," jelas dokter yang diangguki Andi.
TBC