Diceraikan

Diceraikan
Sadar


("Yum, selamat ya atas pernikahan kamu. Semoga SAMAWA Yumna. Dan cepat di beri momongan sama Allah. Aamiin,") Yumna tengah di tempat dirinya sambil membuka aplikasi hijau. Melihat pesan yang teratas milik Caca. Suaminya tak ada di sana lantaran sedang berada di kamar mandi. Katanya ada panggilan alam yang harus dituntaskan.


("Maaf aku nggak bisa hadir ke acara kamu, Yum. Disini aku lagi urgent banget. Apalagi sekarang Mika sudah mulai ujian, jadi aku nggak bisa minta izin ke sekolahnya. Kapan-kapan pasti kami akan kesana lagi. Kamu juga jangan lupaYumna, dengan kampung halaman kita,") Lagi pesan ke-dua yang masuk dari nama yang sama, Caca. Jangan lupakan pada akhir pesannya terdapat emotikon marah serta ketawa.


Yumna sedikit tertawa membaca pesan dari temannya itu. Bahkan dia juga bahagia membaca pesan dari teman serasa saudara bagi Yumna.


("Iya Ca, terimakasih do'anya Ca. Iya nggak apa-apa kok Ca, lagian aku juga ngerti bagaimana keadaan kamu sekarang di sana. Nanti kalau suami aku nggak sibuk, kami akan berkunjung kesana lagi. Lagian sudah lama juga aku nggak kesana Ca jadi rindu dengan kampung yang penuh keasrian itu,") Yumna mengirim balasan pesannya kepada Caca. Tampaknya wanita itu sudah tak lagi aktif di aplikasi hijau itu. Lantaran pesannya sudah ceklis satu abu-abu.


"Kenapa senyum-senyum gitu Bun?" Suara Andi mengagetkan Yumna yang tengah memegang benda pilih ditangannya. Menatap suaminya yang ntah kenapa semakin tampan dimatanya. Apalagi dengan rambutnya yang tampak basah dengan titik-titik air yang berjatuhan.


Andi mengerutkan keningnya lantaran sang istri tak menjawab pertanyaannya. Istrinya itu malah bengong menatap dirinya. Apakah ada yang salah dengan dirinya? Atau malah ada sabun yang masih menempel di wajahnya. Andi mengusap wajahnya tapi, tak ada sabun yang menempel disana.


"Bunda," Andi kembali memanggil istrinya. Menyadarkan sang istri dari lamunannya.


"Ahh, i--iya Mas." Yumna menjawab dengan tergagap. Sungguh dia tak sadar jika suaminya tengah berbicara dengan dirinya. "Ada apa Mas?" Lanjutnya lagi.


"Kenapa Bunda senyum-senyum tidak jelas seperti tadi, hmm?" Andi memilih duduk di samping istrinya. Merapatkan tubuhnya kepada tubuh sang istri.


Yumna sebenarnya tak nyaman dengan apa yang dilakukan Andi. Tapi, tak mungkin juga rasanya jika dirinya menyuruh Andi sedikit menjauh dari dirinya. Apalagi sekarang apa yang ada pada dirinya sudah merupakan milik Andi sepenuhnya tanpa terkecuali.


"Oh itu Mas. Tadi aku dapat pesan dari teman aku yang ada di kampung," jawab Yumna jujur. Sebenarnya masih ada lagi yang mengiriminya pesan di aplikasi hijau itu. Mulai dari karyawannya yang ada di toko dan teman-temannya yang ada disini. Belum lagi teman semasa SMAnya dulu. Ya Yumna bukankah tanaman sarjana. Dia hanya tamatan SMA. Tapi tak membuat dia minder dengan temannya yang lain, karena kesuksesan seseorang itu tak dapat di ukur dari seberapa tingginya tingkat pendidikan.


Bisa saja di ambil dari kehidupan yang kita lihat saat ini. Banyak dari mereka yang lulusan sarjana, tapi kerjanya hanya sebagai pelayan toko sedangkan yang hanya lulusan SMA banyak yang menjadi seroang boss. Itukah takdir, yang tak akan pernah kita tau. Hanya Allah, hanya Allah yang tau akan segalanya. Baik itu jodoh, rezeki dan kematian.


"Hanya itu saja, Bun?" tanya Andi yang kini mendaratkan ciuman kecil pada pilih istrinya.


Yumna sedikit tersentak dengan apa yang dilakukan suaminya. Jujur dia senang dengan apa yang dilakukan suaminya. Maklum sudah sanngat lama dia tak mendapatkan ciuman seperti ini dari seorang laki-laki.


"Nggak Mas, masih ada dari karyawan toko, teman semasa SMA dulu dan juga teman aku yang ada disini Mas." jawabnya sedikit geli. Lantaran suaminya terus saja menghujaminya dengan kecupan-kecupan kecil.


Andi hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban istrinya. Lagian dia percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu.


"Bunda," Yumna tersentak mendengar suara suaminya yang tampak sudah berbeda dari sebelumya. Bahkan nafasnya terdengar sangat kencang.


"Iya Mas," jawab Yumna menatap suaminya, yang wajahnya kini tengah memerah.


"Mas boleh kan?"


Tak ada kata yang bisa Yumna ucapkan selain mengangguk. Menolak juga dia akan berdosa, lebih baik menberikan agar mereka sama-sama mendapatkan pahala.


****


Sudah lima hari lamanya Reyhan tidak sadarkan diri. Laki-laki itu masih setia memejamkan matanya. Menyelami mimpi yang mungkin saja terasa indah. Mungkin Reyhan engan meningalkan mimpi yang kini tengah dialaminya.


"Mas, sampai kapan kamu akan menutup mata begini? Tak rindukan kamu sama aku Mas?"


Lani memang erat tangan suaminya. Menghujani ciuman pada tangan itu berulang kali tanpa henti.


Bisa dilihat jika wajah wanita itu yang tampak sembab. Mungkin saja dia terus menagisi suaminya. Menunggu suaminya agar kelas sadar dari komanya. Bahkan selama beberapa hari ini, wanita itu tidak teratur makan. Jelas terlihat dengan tubuhnya yang sudah mulai kurus.


"Mas cepatlah bangun. Tidakkah kamu rindu sama putri, kita," Lani terus mengajak suaminya berbicara. Meski tak ada respon apapun yang diberikan laki-laki itu beberapa hari ini.


Tung lalang...


Tung lalang...


Tung lalang...


Lani mengalihkan perhatiannya pada benda pipih yang tergeletak di atas nakas. Melihat siapa yang menelpon dirinya saat ini.


("Hallo, assalamualaikum Sayang,") salam Lani setelah menekan ikon hijau pada benda pipih itu. Melihat siapa gerangan yang menelpon dirinya. Nyata adakah putrinya, Reni


("Wa'alaikumsalam Bu. Bagaimana keadaan Ayah, Bu? Apa sudah ada tanda-tanda akan sadar, Bu?") Suara halus putrinya membuat air mata Lani kembali turun. Tak tah jjuru harus menjawab apa kepada putrinya, yang setiap kali menelpon dirinya pasti akan menanyakan Ayahnya sudah sadar atau belum.


Lani mengigit bibirnya cukup kuat. Menahan isak tangis yang hendak keluar dari mulutnya. "Do--do'akan saja yang terbaik buat Ayah ya, Nak." Hanya itu yang bisa dikatakan Lani kepada putrinya.


("Iya Bu, semoga Ayah cepat sadar. Ibu jangan lupa jaga kesehatan disana. Aku nggak mau jika Ibu juga ikutan sakit. Jika ada kabar baik, nanti jangan lupa kabari aku ya, Bu,")


("Iya Sayang. Pasti, nanti jika ada kabar baik akan langsung ibu kabari kamu, Nak,") balas Lani.


(" Iya Bu, assalamu'alaikum,")


("Wa'alaikumsalam Sayang,") Lani mematikan teleponnya setelah menjawab salam dari sang putri.


"Eerrgghhh," Saat Lani meletakkan gawainya, Lani dikejutkan dengan erangan suaminya. Langsung saja wanita itu mentap ke arah suaminya dan melihat mata itu sudah mulai terbuka dengan perlahan.


"Alhamdulillah Mas, akhirnya kamu sadar," Lani sangat bahagia melihat suaminya yang sudah membuka matanya degan sempurna.


"I--ini dimana Sayang?" Reyhan bertanya karena merasa aneh dengan tempat yang bukanlah kamarnya.


"Ini rumah sakit, Mas," jawab Lani dengan menampilkan senyum manisnya. Dia sangat bahagia melihat suaminya tak lagi memejamkan matanya seperti beberapa saat lalu.


"Sssttttt," Reyhan memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Kamu kenapa Mas, apa ada sesuatu yang kamu rasakan?" Lani tampak cemas dengan keadaan suaminya.


"Tidak Sayang, hanya sedikit rasa pusing." jawab Reyhan jujur. "ke-kenapa kaki aku rasanya sebelah tidak bisa digerakkan Sayang? Apa terjadi sesuatu?' Reyhan tampak bingung dengan kakinya yang sebalah tak bisa digerakkan. Bahkan terasa aneh menurut Reyhan. Tak seperti biasanya.


Kembali lagi ingatkan Reyhan kepada kecelakaan waktu itu. Seketika saja pikiran buruknya datang seketika. Tidak terjadi yang buruk kepadanya bukan? Sungguh pikiran buruk tengah bersarang di kepala Reyhan saat ini.


Sedangkan Lani, terdiam mendengar pertanyaan suaminya. Sungguh di tidak tahu harus menjawab apa untuk saat ini.


"Kenapa diam Lan? Ada apa dengan kaki mas?" Reyhan mendesak istrinya agar memberitahu dirinya ada apa sebenarnya.


"Kamu yang sabar Mas," Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Lani. Sungguh dia tak berani mengatakan yang sebenarnya.


"Bukan itu yang Mas inginkan Lan. Jawab ada apa sebenarnya?!!" Reyhan tampak mengeraskan suaranya kepada sang istri.


"Ka-kaki ka-kamu di amputasi Mas," Akhirnya jawaban yang dengan susah payah dia tahan, akhirnya keluar dari mulut Lani. Bahkan air mata kembali meleleh dari pelupuk mata indah itu. Sungguh dia tak tahan untuk tak menangis melihat kondisi suaminya yang sangat memprihatinkan.


TBC