Diceraikan

Diceraikan
Masih Sama


"Bun aku berangkat kuliah dulu ya," laki-laki memakai baju biru muda serta jas almamater yang disampirkan di bahunya mendekati seroang wanita yang tengah membersihkan meja makan.


Wanita yang tak lain Yumna membalikkan tubuhnya saat mendengar ucapan sang putra. Menghentikan kegiatan yang baru saja dia lakukan.


"Iya Sayang, hati-hati di jalan. Bawa motornya jangan kencang-kencang," Nasehat Yumna kepada putranya. Yumna tidak ingin anak semata wayangnya kenapa-napa.


"Iya Bun, Bunda nggak usah khawatir. Aku pasti bawa motonya hati-hati," balas Ali menyalami tangan wanita tercintanya.


Yumna mengantar anak bujangnya hingga pintu. Melihat kepergian sang putra hingga tak terlihat lagi dari indra terangnya. Setelahnya Yumna baru masuk untuk melanjutkan pekerjaannya yang masih tertinggal.


Ali mengendarai motor metik yang menemani hari-harinya untuk kuliah. Dengan santai serta hati-hati pemuda itu mengendarai motor tersebut hingga sampai digedung kampus tempat dirinya menempuh pendidikan selama lebih kurang sudah dua tahun ini. Tinggal dua tahun lagi maka dia sudah menamatkan pendidikannya di tempat ini.


Ali memarkirkan motornya di tempat parkir yang disediakan kampusnya. Meletakkan helm pada bagian depan tempat duduk. Karena disini tidak akan ada yang berani mencuri lantaran ada CCTV yang akan mengawasi setiap kendaraan yang terparkir di kampus tersebut. Tidak hanya satu, ada tiga buah CCTV yang sengaja dipasang di sana.


"Hai Bro, baru sampai ya?" Seorang teman sebaya Ali menyapa dirinya saat dia membalikkan badan hendak melangkahkan kaki panjang menuju dalam kampus.


"Iya nih Bro, Lo sudah dari tadi sampai?" tanya Ali kepada temannya yang tak lain bernama Bimo.


Bimo menggeleng. "Tidak juga, palingan dua menit yang lalu lah," balasnya.


Mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka. Ke-dua pemuda itu merupakan teman satu kelas. Bimo merupakan teman dekat Ali. Bukan hanya Bimo masih ada temannya yang lain. Hanya saja yang lain belum datang. Bimo memang hampir setiap hari datang hampir beriringan dengan Ali. Hanya berbeda beberapa menit. Tidak pernah berbeda setengah jam.


Memasuki kelas yang di dalamnya sudah banyak yang datang. Karena Ali hari ini kelas pagi, maka dia begitu cepat sampai di kampus. Tak lama setelahnya seorang dosen yang mengajar di kelas Ali datang. Seluruh mahasiswa mengikuti kelas dengan hening. Dosen yang mengajar sangat tegas, apabila ada muridnya yang berbicara makan akan diusir keluar tanpa ada kesempatan kedua. Maka dari itu kelas Ali pagi ini hanya diam ayem, yang terdengar hanya suara dosen perempuan tersebut yang memberi arahan kepada semua seluruh mahasiswa yang dia ajar.


Sekitar pukul satu siang Ali sudah pulang dari kampusnya. Ali mengendarai sepeda motornya ke taman yang biasa dia kunjungi untuk duduk, tidak hanya duduk biasanya Ali juga membaca beberapa buku referensi tambahan untuk mata kuliahnya. Seperti itulah kebiasan pemuda itu setiap kali datang ke taman. Bukan tak mau langsung pulang, hanya saja dia lebih suka suasana taman yang ramai. Apalagi angin sejuk yang menerpa wajah tampannya, membuat pemuda itu sangat menyukainya. Mungkin sebagain orang tidak akan senang bila belajar disaat suasana ramai seperti ini, lebih memilih untuk menyendiri. Dalam keheningan agar bisa fokus. Namun bagi Ali, baik bising ataupun hening sama saja. Yang terpenting itu mata dan pikiran tetap tertuju pada apa yang dibaca.


Saat sedang asik membaca buku yang ada di tangannya, seseorang tiba-tiba saja duduk di samping Ali. Ali melihat orang yang duduk di sampingnya dengan sangat malas.


Lagi-lagi wanita tua yang tidak tau diri itu datang. Jika saja pikiran Ali sampai kesana tadinya, mungkin saja laki-laki itu tidak akan datang kesini. Mendingan langsung pulang dan bercengkrama dengan sang bunda. Tapi apa boleh buat jika nasib sudah menjadi bubur.


"Kamu mau nggak dengerin ucapan nenek sekali ini saja Nak?" pintanya setelah sekian lama diam.


Ali tidak menanggapi ucapan wanita tua tersebut. Dia hanya fokus pada buku yang ada ditangannya.


"Nak," Rena, wanita itu menyentuh buku yang Ali baca membuat pemuda itu otomatis menghentikan bacaannya.


"Apa?" tanya Ali dengan dingin. Sangat malas meladeni wanita tua yang nasnya lagi nenek kandungnya. Nenek kandung yang tidak memiliki hati, itulah defenisi dari Ali untuk wanita itu. Mungkin jika dijelaskan tidak cukup hanya itu bahkan lebih dari yang dia pikirkan.


"Kamu mau kan tinggal bersama nenek beserta ayah, ibu dan juga adik kamu?" ujarnya menatap pemuda yang memandang lurus tanpa berminat melihat dirinya walau hanya sebentar.


"Apakah harus?" tanya Ali.


"Iya, itu harus. Bukankah selama ini kamu tidak pernah tinggal bersama ayah, kamu. Bahkan kamu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah bukan?" jelas Rena dengan penuh harap.


"Itu tidak akan mungkin, tidak akan ada seorang anak yang tidak menginginkan kasih sayang dari seroang ayah. Kamu bisa saja membohongi ibu kamu tapi tidak untuk nenek. Bahkan jauh dilubuk hati kamu jika diri kamu itu menginginkan kasih saya seorag ayah!!" ujarnya dengan penuh percaya diri.


Apa yang dikatakan wanita tau itu benar seratus persen. Di dalam hatinya memang menginginkan kasih sayang seorang ayah. Namun bukan kasih sayang dari seorang laki-laki yang tidak memiliki kesabaran seperti ayah kandungnya. Hanya lantaran bundanya tidak kunjung memberikan dirinya seorang keturunan dengan gampang membuang sang bunda seenaknya.


"Apa yang anda katakan benar. Benar jika saya menginginkan sosok seroang ayah. Tapi jangan salahkan bunda saya yang saya bohongi, seperti apa yang anda katakan barusan. Bahkan dia yang tau persis seperti apa diri saya. Bahkan jika saja saya mau, mungkin bunda saya sudah dari dulu mencarikan seorang ayah penganti buat saya. Hanya saja saya yang tidak suka dengan laki-laki yang mendekati bunda saya," papar Ali menarik nafasnya.


"Makanya kamu tinggal sama nenek, biar kamu bisa ngerasain gimana rasanya kasih sayang seroang ayah," pintanya kepada sang cucu.


"Tidak, saya sudah bahagia hidup bersama bunda. Wanita yang berjuang demi kehidupan saya hingga sekarang. Saya tidak akan meninggalkan wanita yang melahirkan saya seperti anak anda yang meninggalkan dirinya kala itu," ujar Ali yang membuat wanita itu emosi. Tapi tidak sampai dia lihatlah kepada sang cucu. Takutnya pemuda itu tidak mau tinggal bersmanya setelah bujuk rayu lembutnya.


Dia menginginkan ini jalan satu-satunya yang akan membuahkan hasil yang sempurna. Sempurna karena sang cucu mengiyakan ucapannya.


"Kamu mungkin sudah termakan bujuk rayu ibu kamu agar tidak mau tinggal bersama ayah serta ibu dan nenek," ujar Rena yang sudah mulai menampakkan sikap tak sukanya kepada sang bunda. Padahal baru saja dia berkata baik-baik, dan sekarang sudah mulai menampakkan bangkai busuk yang hampir tercium.


"Bunda saya tidak pernah berfikiran seperti apa yang anda katakan," balas Ali dengan santai. Memang Yumna tidak pernah sekalipun melarang Ali untuk tidak mengenal ayahnya, hanya saja pemuda itu yang tidak mau mendengar bagaimana sebenarnya keluarga ayahnya. Dengan melihat sikap dari neneknya beberapa waktu lalu, membuat Ali tau bagaimana sebenarnya wanita ini. Wanita yang sangat egois, yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Nenek tidak percaya dengan apa yang kamu katakan," balasnya lagi. Wanita tua itu memang tidak percaya dengan ucapan pemuda disampingmya itu. Dia sangat yakin pasti otak cucunya itu sudah dicuci Yumna agar tidak mau tingal bersamanya.


"Mau anda percaya atau tidak itu hak anda. Saya juga tidak memaksa Anda buat percaya dengan ucapan saya. Yang intinya apa yang saya katakan adalah kebenaran," balas Ali. Apa pedulinya pada wanita itu, mau percaya atau tidak. Masa bodo dengan itu semua.


"Kamu harus percaya sama nenek jika ibu kamu itu sangat egois, buktinya saja kamu tidak dibiarkan untuk merasakan kasih sayang seorang ayah. Percaya sama nenek sekali ini saja. Ibu kamu itu memang wanita yang tidak tau diri!!" Nah kan apa yang Ali pikiran tadi akan jadi nyata. Buktinya wanita itu sudah mulai menjelekkan sang bunda. Wanita itu hanya pura-pura baik agar dia termakan ucapannya nantinya.


Ali menggeleng. "Bunda saya tidak egois. Jika saja dia egois tidak mungkin dia akan kembali lagi ke kota ini karena keinginan saya. Bahkan dia wanita yang sangat baik serta hatinya tidak buruk seperti hati anda yang selalu berprasangka buruk terhadap bunda saya. Saya sangat tau bagaimana bunda saya yang sebenarnya, tidak seperti anda yang hanya bisa menjelekkan seseorang tanpa bukti yang jelas. Itu sama saja anda mencemarkan nama baik seseorang. Apalagi kepada anaknya sendiri. Miris sekali jika saya yang menjadi anak anda. Tapi untungnya saya memiliki seorang ibu yang berhati lembut seperti bunda, saya," balas Ali membuat wanita itu tidak terima. Karena dia merasa pemuda itu mengatainya tidak baik bahkan terkesan sangat buruk.


"Ckckck, ketahuilah bahwa bunda kamu itu tidak sebaik yang kamu bayangkan. Bahkan dia wanita terjahat yang pernah saya temui. Ingatlah jika ibu kamu itu wanita munafik serta wanita jahat yang mementingkan egonya sendiri," Rena tak henti-hentinya memburukkan Yunan kepada anak kandungnnya sendiri. Tak ingatkan wanita itu selama menjadi mertua Yumna, wanita yang penuh dengan kesabaran. Dan sekarang dengan tidak tau dirinya dia malah menjelekkan Yumna sedemikian rupa agar anaknya percaya denagn apa yang dikatakan wanita tua itu.


Lagi-lagi Ali dibuat menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapan wanita itu. Tak henti-hentinya wanita itu menjelekkan bundanya dengan tidak tau dirinya. Umur tak akan pernah merubah seseorang jika dalam hatinya hanya ada iri dan dengki.


"Munafik? munafik dari mananya bunda saya? bahkan dia wanita yang penuh kasih sayang. Wanita yang tidak seperti yang anda katakan barusan. Mungkin memang benar apa yang saya pikirkan jika hati anda itu penuh dengan rasa iri dan busuk hati yang terlalu dalam kepada bunda saya," balas Ali.


"Ckckck, saya tidak habis pikir kenapa kamu begitu membela wanita tidak tau diri itu. Wanita yang terlalu egois menurut saya. Saya sangat bersyukur waktu itu anak saya menceraikannya karena mandul!!" Rena berkata dengan suara penuh penekanan.


Ingin rasanya Ali tertawa dengan keras. Tak tau kah jika wanita yang dikatakan mandul barusan melahirkan benih dari anaknya sendiri. Tak ingatkah wanita itu jika pemuda yang duduk disampingnya itu adalah cucu kandungnya.


"Mandul? ckckck tidak ingatkah anda jika wanita yang anda katakan mandul itu kini memiliki seorang anak dari pernikahannya?" Jika boleh jujur Ali ingin sekali tertawa mendengar ucapan wanita di sampingnya ini.


Rena terdiam mendengar ucapan pemuda di sampingnya. Dia lupa sesaat ketika mengingat jika pemuda ini adalah cucu kandungnya. Sangking emosinya dia sampai lupa jika pemuda ini adalah anak yang dilahirkan mantan menantunya. Ahhh, kenapa juga Rena sampai lupa jika pemuda ini anak dari putranya. Lidah itu terasa kelu untuk melontar satu kata saja. Dia memilih untuk diam. Mencerna kata-kata keliru yang keluar dari mulutnya. Ingin rasanya menampar mulutnya sendiri.


TBC