
Ali dan Aileen akhirnya sampai di kediaman mereka. Dengan menenteng kresek yang berisi dua bungkus sate untuk Bunda dan Abi, mereka.
"Assalamu'alaikum Bunda," Saat membuka pintu, Ali sudah melihat kehadiran Bunda serta Abinya yang tengah duduk di ruang tamu.
"Wa'alaikumussalam Nak," jawab mereka.
"Nih buat Bunda sama Abi. Kebetulan tadi aku sama Ai mampir ke penjual sate yang tidak jauh dari rumah kita dulu, Bun," Ali menyerahkan kresek itu kepada sang bunda.
"Terima kasih Sayang. Bunda sangat ingin makan sate. Untung kamu beliin Nak. Kalau tidak sudah bunda suruh Abi untuk membelikannya untuk bunda," Yumna menampilkan senyum manisnya kepada sang putra. Sungguh dia sangat bahagia keinginannya ada di depan matanya, tanpa harus menunggu.
"Sama-sama Bunda," jawabnya.
"Yuk mas kita makan sate dulu," Yumna menarik tangan suaminya. Mengajak laki-laki itu untuk ke dapur.
"Iya Bunda,"
****
Saat ini Ali, Yumna, Andi dan juga Aileen tengah duduk di ruang tamu. Menikmati waktu kebersamaan mereka untuk hari ini. Karena, besok Ali sudah kembali lagi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya.
"Bun, Bi aku mau ngomong sesuatu," Ali memecah kesunyian mereka.
"Mau ngomong apa Al?" Andi menatap bingung putranya.
"Iya Nak, kamu mau ngomong apa? Sepertinya serius banget?" tambah Yumna.
"Tadi setelah aku sama Ai makan sate ketemu sama kaki-kaki itu," ujarnya.
"Siapa, Sayang?" Yumna bingung kaki-kaki yang mana yang dikatakan putranya.
"Apa Reyhan, Nak?" tanya Andi memastikan.
"Benar Bi,"
"Terus?" yanga Yumna.
"Ya dia minta maaf sama aku, Bun. Minta maaf karena kesalahannya selama ini. Dia menyesal katanya," Jujur Ali.
"Terus apa yang kamu jawab, Nak?" Andi menatap putranya dengan serius.
"Percuma menyesal kalau sudah tak bisa lagi seperti semula. Ibaratkan piring pecah yang tak dapat lagi di satukan. Meski bisa, tidak akan pernah sesempurna saat awal. Dasar laki-laki tak tahu diuntung, dikasih kesempatan malah disia-siakan. Kalau saja dulu aku tak mengizinkan, putraku tidak akan mendapatkan finah keji itu. Di tuduh sedemikian rupa!" omel Yumna yang sangat kesal. Apalagi hormon kehamilannya saat ini sering berubah-ubah.
"Sudahlah Bun, lagian itu sudah berlalu juga. Ya aku jawab saja aku sudah memafkan Bi. Kalau untuk melupakan sudah pasti aku tidak akan bisa sampai mati sekalipun." jawab Ali dengan jujur.
Andi menganggukkan kepalanya. "Benar Al, apa yang kamu katakan itu memang benar adanya." ujar Andi. "apa kamu mau mendengar kenyataan dibalik kecelakaan kamu waktu itu Al?" Andi menatap putranya. Memang dia maupun istrinya tidak mengatakan siapa dalang dari kecelakaan yang menimpa dirinya tiga tahun lalu.
Ali mengangguk. "Iya Bi aku mau tahu," jawabnya. Ali memang sangat penasaran siapa yang sudah membuat dirinya celaka waktu itu. Namun karena pikirannya sudah di penuhi semangat untuk tambahan kuliah membuat Ali lupa.
"Reyhan, ayah kandung kamu," jawabnya.
Deg...
Tiba-tiba saja mata Ali menganak sungai. Tak menyangka jika dirinya dicelakai ayah kandungnya sendiri. Bisakah Ali membencinya sampai dirinya mati. Meskipun itu ayah kandungnya. Bisakah Ali untuk membalas dendam kepada laki-laki tak punya hati seperti Reyhan? Bisakah semuanya Ali lakukan.
"Bolehkah aku balas dendam Bun, Bi?" Ali menatap Andi dan Yumna secara bergantian.
Yumna menggeleng. "Jangan pernah Nak. Bunda tidak pernah mengajari kamu untuk membalas perbuatan buruk dengan yang buruk pula. Jika kamu lakukan tidak akan ada bedanya kamu dengan dia. Sama saja!" jawab Yumna.
"Tapi hati aku sudah sangat sakit Bun."
"Sesakit apapun hati kamu, belajarlah untuk kembali ikhlas. Yakin bahwa rencana Allah lebih dari apa yang kamu alami, Nak," tambah Andi mengusap lembut bahu putranya.
Andi tahu bagaimana hancurnya putranya itu saat ini.Bahkan jika Andi yang berada di posisi Ali, ntah apa yang saat ini dia lakukan. Apakah akan balas dendam seperti yang ingin putranya lakukan atau malah sebaliknya. Karena dirinya memiliki tanggung jawab penuh untuk istri dan anaknya, maka dari itu Andi menasehati putranya agar tak mengambil langkah yang salah.
"Benar Sayang ala yang dikatakan Abi," tambah Yumna.
"Terima kasih Bun, Bi. Jika tidak ada kalian ntah apa yang terjadi kepada diriku."
"Itu sudah tugas Abi untuk menasehati kamu, Nak. Agar suatu saat kamu tidak akan mengambil langkah yang salah. Sama halnya dengan yang dilakukan ayah kandung kamu, Nak. Abi tak mau kamu mengulang apa yang sudah dilakukannya kepada kamu," ujar Andi.
"Iya Bi, aku janji tidak akan melakukan hal bodoh itu kepada siapapun,? " Janji Ali.
"Bagus Nak. Abi akan megang janji kamu,"
****
Setelah kepergian Ali, Reyhan dan Lani akan langsung pulang ke rumah.
"Mas tunggu disini sebentar ya. Aku mau belikan sate untuk Reni dulu," ujar Lani kepada suaminya. Tak mungkin hanya mereka yang makan sate, sedangkan putri mereka tak dibelikan. Sama saja tidak adil.
"Iya Sayang," jawab Reyhan.
Laki-laki itu tampak sangat sedih. Sedih karena dirinya memang tak patut untuk dimaafkan. Bahkan apa yang dikatakan putranya tadi benar tanpa ada yang salah. Tapi satu yang membuat Reyhan kepikiran. Karena putranya tak membahas masalah kecelakaan yang disebabkan dirinya. Mungkin saja Yumna ataupun suaminya tidak mengasih tahu Ali. Ada rasa syukur dalam diri Reyhan. Karena jika saja putranya itu tahu, ntah apa yang akan dikatakan pemuda itu kepada dirinya. Mungkin saja anaknya akan sangat membenci dirinya.
"Sayang!!! Lani!!!" Reyhan terkejut tiba-tiba saja banyak orang yang berlalu-lalang. Membuat kursi roda Reyhan berjalan dengan sendirinya dan sangat cepat. Mungkin saja karena desakan membuat orang-orang itu tanpa sengaja mendorong kursi roda Reyhan.
"Lani tolong Mas!!!" Reyhan berusaha memanggil istrinya, karena kursi rodanya sangat susah untuk dikendalikan.
Bahkan kursi roda itu membawa Reyhan ke jalan raya yang mana banyak mobil yang tengah melaju dengan kencangnya.
"Sayang tolong!!!" Reyhan sangat cemas. Bahkan takut jika dirinya akan bertabrakan dengan mobil besar yang sangat banyak.
Lani yang telah selesai membeli sate untuk putrinya, kembali ketempat dimana suaminya berada.
"Mas...," ucapan Lani mengantung, saat melihat saat ini suaminya sudah sampai di tengah-tengah jalan saya.
"Mas!!!!" Sate yang ditenteng Lani langsung saja terjatuh dari tangannya. Mengejar suaminya dengan sekuat tenaga. Bahkan tak ada satupun yang berani membantunya suaminya. Bahkan kursi roda yang membawa suaminya sudah melaju dengan kencang. Tiba-tiba saja.
Brak...
TBC