
Dua hari berlalu...
Lio akhir akhir ini jarang keluar dari kamar nya, lio bahkan tidak peduli dengan kuliah nya. Ada perasaan sedih dan marah saat syila melihat keadaan liona dan brian saat ini. Liona terlihat murung dan sering mengurung diri di dalam kamar. Begitu juga dengan brian, brian terlihat murung karena rora yang sudah benar benar memutuskan pertunangan dan mengembalikan semua yang bri berikan sebanyak dua kali lipat.
"Hubby." Panggil syila yang kini sedang menyandarkan kepala nya pada dada bidang milik suami nya. "Hmm"Jawab enzo. " Hubby, aku kasihan melihat brian dan lio. Apa yang harus kita lakukan??."Tanya syila pada suami nya itu. "Kita tidak memiliki cara lain, kita harus menikahkan liona dengan brian." Ucap enzo sambil mengusap lembut kepala syila.
"Tapi tidak mungkin, selama ini brian sudah menganggap liona sebagai adik nya sendiri. Aku tidak yakin brian akan setuju dengan sebuah pernikahan." Ucap syila yang tidak setuju dengan pendapat suami nya.
"Kita sudah melihat dengan jelas apa yang sudah terjadi. Brian dan Lio sudah melalukan nya. Itu artinya kini mereka bukan lagi menyayangi sebagai saudara, namun mereka menyayangi satu sama lain sebagai laki laki dan perempuan." Ucap enzo.
Syila terdiam mendengar perkataan enzo, apa yang di katakan suami nya itu benar. Syila sendiri yang melihat bercak darah di atas spray putih milik liona. Awal nya syila berharap semua nya tidak terjadi, namun saat melihat bercak darah itu syila tau kalau mereka benar benar melakukan nya.
"Bagaimana jika lio hamil??." Tanya Enzo yang membuat syila benar benar mati kutu. Itu lah hal yang paling syila takuti.
"Baiklah, kali ini aku setuju pada pendapat hubby. Aku juga sedih melihat keadaan lio sekarang. Dian benar benar kacau hubby." Ucap syila. "Besok kita akan bicarakan rencana pernikahan lio dan brian." Ucap Enzo sambil memeluk syila dengan erat.
DI SISI LAIN..
Tok.. tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar brian. Awal nya brian benar benar enggan membuka pintu kamar nya, namun saat tau siapa yang mengetuk pintu kamar nya, brian pun bergegas untuk membukakan pintu.
"Kalau untuk Ze kakak bisa ada kapan saja." Brian mencubit pipi Ze dengan gemes. Brian kemudian meletakkan Ze di atas sofa yang ada di kamar nya. "Putri kecil kenapa belum tidur??." Tanya Brian.
"Ze belum bisa tidur kalau belum ketemu sama kak bri." Ucap Ze sambil tersenyum lebar menatap wajah kakak nya itu.
"Mau kak bri temani tidur??." Tawar Brian.
"No, mommy bilang Ze harus mandiri.Tidur nya harus sendiri tidak boleh di temani." Ucap Ze. "Baiklah cantik." Brian semakin gemas melihat tingkah Ze.
"Tadi Ze ke kamar kak ben, tapi kak ben tidak ada. Lalu Ze kamar kak lio tapi —
Ze menjeda ucapan nya. " Kak lio kenapa?? "Tanya bri sedikit penasaran.
" Kak lio sakit, mata nya bengkak. Badan nya panas. Ze kasihan liat kak lio seperti itu. Tapi saat Ze tanya, kak lio bilang dia tidak kenapa napa."Ucap Ze panjang lebar.
"Kemarin juga, Ze melihat kak lio nangis sendirian di kamar, tapi Ze tidak berani menemui nya." Ucap Ze. Brian hanya bisa menghela nafas kasar mendengar perkataan Ze. Entahlah rasa nya Brian sedikit tidak menyukai lio. Brian merasa kalau lio lah penyebab dari gagal nya pertunangan dirinya dan rora.
OKE SAMPAI SINI DULU