Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Terbayar Lunas


halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


“Lindsey? Hey, aku tidak mau kamu melakukan hal itu lagi.” balas Kapten.


“Memangnya ada cara lain, Kapt?” tanya Lindsey.


“Tetap saja. Aku tidak mau kamu jatuh ke lubang yang sama, Lindsey.” jawab Kapten.


“Tapi aku memang harus bertemu Jarvis karena kasusnya itu. Selagi aku menangani kasusnya, aku akan—” ucap Lindsey terpotong.


“Tidak. Tidak. Tidak, pokoknya aku tidak mengizinkan. Kamu cukup mengurus kasus Jarvis saja, jangan melakukan hal lain yang berkaitan dengan misi kita.” Kapten memotong kalimat Lindsey.


“Kapt. Aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama, Kapt. Karena lubang itu sudah tidak ada. Lubang itu sudah tertutup rapat. Aku hanya perlu mencari keberadaan emas itu, setelah itu kita akan mengambilnya dan selesai, Kapt. Ini benar-benar yang terakhir.” Lindsey membujuk Kapten.


“Kapt... Ayolah.. ini yang terakhir. Bukankah setelah itu kita akan ke luar negeri?” Lindsey masih berusaha meluluhkan hati Kapten.


“Lindsey ada benarnya juga sih, Kapt. Memangnya ada cara lain supaya kita bisa mengetahui keberadaan emasnya Jarvis? Dan juga ini adalah misi kita yang terakhir.” sahut Piter.


“Berjanji kamu tidak akan jatuh ke lubang yang sama?” ucap Kapten.


“Ya! Aku berjanji!” ucap Lindsey.


...****************...


The Mega Lux Hotel


Jam 21.00


Setelah seharian merenung di kamar, menatap kartu akses kamar hotel, memikirkan apakah seharusnya dia datang ke hotel itu atau tidak, Lindsey akhirnya memutuskan untuk datang ke hotel itu. Dia tidak memberitahu tentang tujuannya yang sebenarnya ke siapapun. Dia berbohong ke anak geng dengan berkata akan tidur di apartemen.


Lindsey mendatangi hotel, membuka pintu unit hotel yang berangkakan sama seperti di balik kartu aksesnya. Jantung Lindsey berdetak tidak karuan saat menempelkan kartu pada sensor pintu unit hotel. Pintu akhirnya terbuka, Lindsey pun memasuki unit hotel tersebut.


Isi unit hotel itu yang tadinya gelap gulita, perlahan terang kembali saat Lindsey memasukinya. Namun tidak ada tanda-tanda adanya keberadaan manusia di sana, termasuk Jarvis. Lindsey menatap jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 21.00.


Paling Jarvis sebentar lagi datang. Karena tadi saat aku pergi, Katie juga baru sampai di rumah. batin Lindsey.


Lindsey pun bergerak menjelajahi unit hotel yang besar dan megah itu. Unit hotel Jarvis kali ini bukan seperti kamar biasa yang Jarvis pesan di hotel lain. Unit hotel ini lebih besar dan mewah. Biasanya Jarvis memesan kamar Suite Room namun kali ini kamar jenis Penthouse yang terletak di lantai paling atas hotel. Dilengkapi dengan dekorasi dan perabotan yang mewah. Sepertinya Jarvis berniat menetap untuk waktu yang lama di tempat ini.


Berkeliling melihat-lihat isinya, Lindsey menaiki tangga untuk ke atas dan tertuju pada kamar Jarvis. Lindsey membuka perlahan pintu kamar tersebut dan melihat sebuah kamar dengan tempat tidur hang berwarna hitam rapi tertata seperti tidak pernah ditiduri. Gordyn kamar yang menutupi keseluruhan jendela besar di kamar.


Lindsey pun tidak betah melihatnya. Segera dia mengambil remote control untuk menggeser gordyn tersebut. Terpampanglah pemandangan gemerlap kota di malam hari. Kamar itu tidak segelap sebelumnya berkat cahaya bulan, lampu gedung di sebrang yang masih menyala, dan lampu sen mobil yang melintas di jalanan. Lindsey melepas jaket kulit yang dikenakannya tadi. Tiba-tiba terpikirlah di kepalanya untuk mandi di kamar mandi yang terletak di dalam kamar Jarvis.


Selesai mandi, jam 21.37 Lindsey keluar dari kamar mandi dengan gaun tidurnya yang dia bawa dari rumah. Dan dia tetap tidak melihat batang hidung Jarvis di kamar itu. Padahal ini akhir pekan, kenapa sampai larut malam masih bekerja..? batin Lindsey mulai gelisah.


Sempat terpikir oleh Lindsey bahwa Jarvis hanya mempermainkan dirinya saja karena sejatinya Jarvis tidak akan datang ke hotel itu. Jika benar seperti itu, Lindsey yang bodoh, atau Jarvis yang jahat?


Katakanlah Jarvis yang jahat, namun Lindsey juga masih setia dalam menunggunya, ditemani dengan sebotol anggur merah yang dia pesan dari layanan kamar. Di kamar Jarvis yang gelap, Lindsey berdiri di depan jendela besar, tangannya di dada menumpu tangan satunya yang memegang gelas, mengaduk anggur dengan memutar-mutar gelas secara lembut, dan memperhatikan gedung-gedung pencakar langit di hadapannya.


Namun penglihatannya kian berubah menjadi menatap dirinya sendiri dari pantulan kaca, dirinya yang mengenakan gaun tidur di atas lutut, dengan belahan dada yang terlihat saat tidak memakai luarannya, sambil memegang gelas berisi anggur. “Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, Lindsey?” ucap Lindsey pada dirinya sendiri.


Lindsey segera mengambil luaran gaun tidurnya dan memakainya. Dia berniat untuk pergi sekarang. Namun sebelum itu, Lindsey meneguk habis anggur yang masih tersisa di gelasnya.


Cklek!


Pintu kamar Jarvis terbuka.


Dan yang membukanya ialah Jarvis.


Sungguh pemandangan yang indah.


Setelah lelah seharian bekerja, pulang-pulang disambut wanita tercintanya dengan pakaian minim merah menggoda yang mengundang nafsu kaum adam.


“Apakah ‘jam seperti biasa’ kita sudah berubah?” tanya Lindsey.


Karena seingat Lindsey, jam mereka adalah jam 9 malam. Namun sekarang ini sudah terlambat 1 setengah jam lamanya. Dan keterlambatan Jarvis hampir menjadi salah paham yang berakibat fatal.


Sambil menenteng jasnya, Jarvis menghampiri Lindsey. “Aku pikir kamu tidak akan datang.” ucap Jarvis.


Jarvis melempar jasnya ke atas ranjang. Kemudian mengangkat botol anggur yang berada di atas meja di samping mereka sekarang. Dilihatnyalah isi anggur itu sudah tinggal setengah. Itu artinya Lindsey sudah minum setengah botol saat menunggu kepulangannya.


“Lindsey..” ucap Jarvis.


“Aku tidak akan menahannya (nafsu). Kamu masih memiliki kesempatan untuk kabur jika takut menyesal. Aku akan hitung sampai sepuluh.” ucap Jarvis kemudian.


“Sa—” Baru saja Jarvis mulai hitungan pertamanya, Lindsey mencium dan menguluum bibir Jarvis dalam-dalam. Tangan satunya yang kosong memeluk punggung Jarvis. Dan tangan satunya masih setia memegangi gelas berisi anggur merahnya.


Jarvis membalas ciuman Lindsey dan menghisap bibir Lindsey dalam-dalam yang terasa manis dari anggur merah. Tubuh Lindsey kini telah bersandar di kaca jendela yang besar karena dorongan tenaga Jarvis yang kuat. Lindsey mengalungkan kedua tangannya di leher Jarvis seraya menggenggam kuat-kuat gelas berisi anggur merah. Tangan Jarvis bergerak ke bawah, meraaba-raba paha mulus Lindsey. Gelas berisi anggur yang digenggam Lindsey dengan kuat akhirnya terjatuh dengan utuh ke karpet.


Bibir Jarvis terus bergerak ke balik telinga Lindsey dan Lindsey bisa merasakan hembusan nafasnya yang menggebu-gebu dan hangat. Lindsey mulai terangsangg ketika Jarvis terus melakukannya dengan lembut. Bibirnya pun terus bergeser sedikit demi sedikit ke leher Lindsey. Saat bibir Jarvis menghisap bagian di lehernya, seperti ada aliran listrik yang mengaliri sekujur tubuh Lindsey.


Lindsey seperti terhipnotis. Lindsey seperti tak peduli bahwa yang mencumbuinya saat itu adalah Jarvis. Seolah-olah ia juga telah menyimpan hasrat yang mendalam seperti Jarvis selama ini. Malam ini adalah kesempatan yang telah ditunggu-tunggu oleh Jarvis. Anehnya, Lindsey seperti tak kuasa menahan sepak terjangnya. Sepertinya telah tertutup mata hatinya oleh nafsu dan gairah yang juga menuntut pelampiasan.


“Kamu tidak akan menyesal?” tanya Jarvis memastikan.


Tangan Lindsey membuka gasper dengan terburu-buru. Belum berhasil membukanya, Jarvis membalikkan tubuh Lindsey menjadi membelakanginya. Dia membuka gasper yang mengikat pinggangnya sendiri dan membuka resleting celananya. Diangkatnyalah sedikit luaran dan gaun Lindsey. “Aawhh..!” pekik Lindsey. Dan tubuh mereka menyatu dengan satu hentakan Jarvis dari belakang.


Jarvis mulai memaju-mundurkan tubuhnya. Disibaknyalah rambut Lindsey agar Jarvis bisa tetap melihat wajah Lindsey yang kenikmatan atas permainannya. Sementara Lindsey terus mengeluarkan desahaan di setiap hentakan, kedua tangannya bertumpu pada kaca jendela.


“Emhh.. Lindsey.. Ah.. ah.. ah..!”


“Aaahh... Aahhh.. aahh.. Jarvis..!”


“Aahh..!!”


Jarvis mengeluarkannya di luar.


Lindsey kemudian berbalik badan dan mempertemukan kedua bibir mereka. Jarvis mengangkat tubuh Lindsey dan kakinya mengantarkan mereka ke atas ranjang. Lindsey membuka kancing kemeja Jarvis dari atas dengan cepat.


Direbahkannyalah Lindsey di atas ranjang dengan kedua bibir yang masih menyatu. Melepas pakaian hingga lapis terakhir yang masih terpasang di tubuh mereka, kemudian Jarvis menciumi perut Lindsey yang terdapat bekas jahitan. Cukup lama Jarvis menciuminya sedangkan Lindsey tidak dapat menahan tubbuhnya yang terangsaang lebih lama lagi.


Kemudian Jarvis mengeluarkan k*nd*m dari dalam laci di samping ranjang, merobeknya asal dengan giginya dan kembali melakukan penyatuan berkali-kali. Suara decakan tubuh dan desahaan mereka memenuhi ruangan itu, membuktikan penuntasan hasrat dan nafsu yang kian terpendam.


...****************...


Lindsey terbaring di atas lengan Jarvis, sementara Jarvis sibuk membelai rambut Lindsey tiada henti. Hasrat sekaligus kerinduannya terbayar lunas sudah dimulai dari saat dia mencium aroma tubuh Lindsey, mengendus dengan batang hidungnya sendiri dan peluh keringat di sekujur tubuhnya menjadi saksi hasratnya yang sudah tertuntaskan.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih