
halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻
...****************...
“Oh, ya, bagaimana kamu bisa mendapat rekaman video yang diputar di persidangan tadi?” tanya Luven.
“Aku.. sebenarnya.. menyogok staf di bar..” jawab Lindsey di depan kedua orangtua mereka.
“Ahahah.. Lindsey memang banyak akalnya.” ucap Roland.
“Heheehe.. Bisakah kalian merahasiakan ini? Aku takut—” ucap Lindsey.
“Ah, tenang saja! Itu hal kecil!” sela Roland.
“Oh, ya, ehm.. mengenai hubungan Lindsey dan Luven, tampaknya mereka sudah cukup dekat—” kalimat Roland terpotong karena William menyela.
“Emm.. mengenai itu, hubungan mereka ’kan masih baru, mereka masih perlu saling mengenal lebih dalam lagi, menikmati masa pacaran dan kelihatannya juga mereka sedang menikmati pekerjaan mereka yang sekarang..” sela William.
“Iya, benar. Lindsey masih muda, Luven juga masih muda. Biarkan mereka menikmati masa mudanya terlebih dahulu. Lagi pula Lindsey tidak berniat melangkahi abang-abangnya terlebih dahulu.” sahut bu William.
“Ah, iya.. benar... Sebaiknya mereka saling mengenal dulu.” ucap Roland.
Selesai makan siang bersama, mereka akhirnya berpisah. Keluarga Gourman kembali ke rumahnya, keluarga Verwills juga ke rumahnya, Luven kembali ke firma, dan Lindsey?
“Kamu mau ke firma, ’kan? Aku nebeng, ya. Aku tidak bawa mobil. Mobilku di firma. Tadi aku dijemput sopir mama.” ucap Luven.
“Sepertinya kamu naik taksi saja, deh. Aku tidak ke firma. Aku harus ke suatu tempat. Bye...” balas Lindsey lalu masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkan Luven sendiri di restoran.
Lindsey melajukan mobilnya menuju suatu tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi. Dia beberapa kali sudah merindukan tempat itu. Namun karena lokasinya jauh di pedalaman, dan belakangan ini Lindsey disibukkan dengan profesinya yang mengurus masalah klien, baru hari inilah Lindsey dapat menyempatkan waktu.
Lindsey datang dengan membawa botol air dan sebuket bunga mawar putih kemudian duduk bersimpuh di atas tanah hijau yang sudah ditumbuhi rerumputan. Perlahan Lindsey menyirami sepanjang kuburan dengan botol air yang dibawanya. Lalu ditaruhnyalah mawar putih yang dibawanya di atas makam.
“Om Lexis.. apa kabar?”
“Meski sulit, akhirnya aku bisa melalui hidup tanpa om..”
“Meski begitu, aku tetap membutuhkan om menemaniku di dunia yang keras dan mengerikan ini..”
“Orang-orang dengan bejatnya memfitnah, menjebak, menyalahgunakan kekuasaan hanya demi kepentingannya sendiri..”
“Hari ini aku telah mendapat banyak pujian. Banyak sekali. Tetapi aku mengharapkan satu pujian saja dan itu keluar dari mulut om seorang..”
“Oh, ya. Aku telah menjadi pengacara. Sesuai dengan keinginan om...
Meski dengan cara yang salah untuk meraihnya, tapi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.”
“Maaf karena terlambat mewujudkan keinginan om...”
“Aku baru menyadari betapa pentingnya itu setelah om pergi.”
“Om..”
“Aku rindu.”
“Apa om bahagia di sana?”
“Konon katanya orang yang selalu berbuat baik semasa hidupnya, dia akan hidup bahagia di Surga.”
“Sering-sering mampir ke mimpiku, ya, om.. Agar kerinduanku bisa terobati.”
“Om.. Aku harus pulang. Nanti aku akan sering datang ke sini. Sampai nanti.”
...****************...
Ting.. tong..
/
/
Ting.. tong..
/
/
Cklek.
“Lindsey? Kamu kok basah kuyup begitu? Kamu kehujanan? Kamu habis darimana?” Ribuan pertanyaan yang Jarvis lontarkan menyambut kedatangan Lindsey di hotel Jarvis.
“Aku tadi ketumpahan air.” ucap Lindsey lalu masuk ke dalam hotel.
“HAH?! SIAPA YANG BERANI MENUMPAHKAN AIR SAMPAI KAMU BASAH KUYUP BEGINI?! Katakan padaku. Siapa orangnya?! Siapa?!” tanya Jarvis dengan berkacak pinggang.
“Langit. Heheheheh...” jawab Lindsey dengan cengengesan.
“Lindsey...! Kamu habis darimana memangnya?” tanya Jarvis.
“Tempat yang jauh.” jawab Lindsey.
“Iya, dimana?”
“Sangat jauh.”
“Menemui malaikatku.”
“...”
“Aku mau mandi air hangat.” ucap Lindsey.
“Oh, ya! Sana, di kamar mandi kamarku. Cepat mandi. Nanti kamu masuk angin.” balas Jarvis.
“Tapi tidak ada baju ganti.” ucap Lindsey.
“Ok, aku akan ke sebelah sekarang.” balas Jarvis lalu mengambil dompetnya dan berjalan ke pintu.
(Hotel yang ditempati Jarvis bersebelahan dengan mall dan memiliki jalan khusus dari hotel ke mall.)
“Jarvis.” panggil Lindsey.
“Ya? Ada lagi yang kamu butuhkan?” tanya Jarvis.
“Dalaman.”
“Oh. Hah?”
“...”
“Baiklah. Akan aku beli. Kamu mandi saja.” ucap Jarvis lalu keluar.
Lindsey pun naik ke kamar Jarvis untuk mandi.
Di mall, Jarvis memberanikan diri untuk masuk ke sebuah toko yang menjual pakaian dalam wanita. Karena sudah malam, pengunjung di toko itu untungnya hanyalah Jarvis. Jarvis menggaruk kepalanya saat pelayan memberikan beberapa pilihan motif dan warna.
Berkali-kali Jarvis menelan paksa salivanya.
“Yang ini saja.” Jarvis akhirnya memutuskan pilihannya. Pilihannya jatuh kepada dalaman dengan motif renda dan berbahan satin. Alasannya dia memilih: karena simple agar tidak ribet saat dia membukanya.
Untuk apa dia menyusahkan dirinya sendiri?
“Saya ambil 3 warna yang berbeda.” ucap Jarvis kemudian. Untuk stok jika diperlukan saat Lindsey menginap.
“Baik. Ada lagi?” tanya pelayan.
...****************...
“Untuk gaun tidur sebelah sini, pak.”
Jarvis kembali menggaruk kepalanya saat pelayan memberikan pilihan gaun tidur lingerie yang biasa Lindsey pakai.
“Apa tidak ada yang lebih tertutup lagi?” tanya Jarvis.
Baju tidur apaan seperti ini. Tipis dan kurang bahan sekali. Bagaimana kalau Lindsey masuk angin? batin sebelah hati Jarvis yang berhati malaikat.
Bukannya kamu menyukainya? Kalau Lindsey memakainya, dia pasti terlihat sekssi. Kamu kan menyukainya! batin sebelah hatinya lagi yang berhati iblis.
“Ada luaran lagi untuk penutupnya, pak.” jawab pelayan.
Oh, ya sudah. Aku beli saja dengan penutupnya. Urusan Lindsey memakainya atau tidak, ingin menggodaku atau tidak, itu bukan urusanku. Yang penting aku sudah membelikannya dan aku tidak akan menahan godaan xixixi. batin Lindsey.
“Saya ambil semuanya ini.” Jarvis menunjuk semua baju tidur yang ada di sana.
...****************...
Dengan berbalut handuk, mulut Lindsey ternganga melihat belanjaan Jarvis yang tiba di hotel.
“Tidak sekalian saja kamu beli mallnya?” tanya Lindsey.
“Supaya kamu bisa memilih mau pakai yang mana. Tapi kalau kamu tetap ingin pakai handuk itu juga tidak apa-apa, sih..” jawab Jarvis.
“Sembarangan!”
Lindsey mengeluarkan baju tidur dari paperbag yang dibeli Jarvis lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, mengamati baju yang sudah dibeli Jarvis.
“Gila kamu ya! Siapa yang mau pakai baju macam ini?!” protes Lindsey.
“Kamu. Kan aku beli buat kamu.” balas Jarvis.
“Kalau pakai baju seperti ini mah lebih baik aku tidak usah pakai baju!” balas Lindsey lagi.
“Oh boleh. Aku suka itu.” ucap Jarvis.
“Beli banyak baju tapi semuanya tidak karuan! Tidak ada satupun yang bisa aku pakai!” protes Lindsey lagi.
“Ya sudah, pakai dalaman doang juga oke, kok. Aku juga beli banyak, tuh.” balas Jarvis.
“Jarvis! Oh! Aku tahu.. Jangan-jangan kamu beli ini semua dengan banyak supaya bisa memberikan untuk wanita yang datang ke sini, iya?!” tanya Lindsey.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih