Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Hidup Bahagia


halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya..


‼️SPOILER‼️sedikit: bbrp bab ke depan isinya full keuwuan Lindsey & Jarvis 🥰🥰🥰❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥


simak terus ya ceritanya 🤗🤗 sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke bab sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih semua 🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Sudah sstt.. lebih baik kamu bantu aku duduk.” sela Jarvis. Jarvis berusaha duduk dari tidurnya seraya memegangi perutnya yang habis dioperasi karena luka tusuk.


Lindsey membantu Jarvis untuk duduk, menaikkan posisi ranjang dengan remote.


“Aku panggil dokter, ya? Setidaknya kamu harus diperiksa dulu.” ucap Lindsey.


“Sudah.. tidak perlu. Aku sudah tidak apa-apa. Duduk kembali di sampingku. Aku hanya butuh kamu saat ini.” balas Jarvis.


“Jarvis.. apa yang—”


“Lindsey, bisakah aku minta tolong padamu? Jangan tanyakan apa yang sudah terjadi padaku.” ucap Jarvis.


Lindsey menundukkan kepalanya.


“Aku minta maaf.” ucap Jarvis.


“Baiklah. Aku tidak akan bertanya.” ucap Lindsey.


“Kamu akan menepati janjimu, ’kan?” tanya Jarvis.


“Janji akan merawat dan berada di sampingku sampai aku sembuh.” sambungnya.


Lindsey menepuk lengan Jarvis. “Aaaww!” “Seharusnya kamu jangan meminta sakit. Tuhan itu maha pendengar.” ucap Lindsey.


“Iya, Lindsey.. tapi jangan pukul aku dong. Lengan aku juga terluka. Nih.” Jarvis menunjukkan lengannya yang terdapat luka di sana.


“Ah yaampun! Kenapa banyak sekali sih lukamu? Kamu habis ngap—Maaf, aku tidak akan bertanya.” ucap Lindsey.


“Aku yang seharusnya minta maaf. Aku pasti sudah membuatmu khawatir, ’kan..” balas Jarvis.


“Minta maaf terbaik adalah tidak mengulangi kesalahannya lagi.” ucap Lindsey.


Jarvis mengangguk. “Iya, benar. Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.” balas Jarvis.


“Aku ingin kamu tidak terluka lagi.” ucap Lindsey.


“Baiklah. Akan aku kabulkan permintaanmu.” balas Jarvis.


Lindsey bangkit berdiri. Dia mengecup kening Jarvis.


“Oh, ya. Ponselku dimana, ya? Kamu lihat?” tanya Jarvis.


“Ponselmu rusak parah akibat kecelakaan tadi.” jawab Lindsey.


“Yaahh.. kalau begitu, boleh aku pinjam ponselmu?” tanya Jarvis.


Lindsey memberikan ponselnya. “Terima kasih. Kamu sudah coba hubungi Carlos?” tanya Jarvis.


“Sudah. Tapi dia tidak dapat dihubungi.” jawab Lindsey.


Jarvis mulai memasukkan nomor seseorang di ponsel Lindsey. Yang jelas itu bukan nomor Carlos.


“Halo? Hey, ka—Hmm.. sebentar... Lindsey, bisakah kamu ambilkan teh hangat untukku?” ucap Jarvis.


“Baiklah. Akan aku ambilkan.” ucap Lindsey lalu keluar dari kamar rawat Jarvis.


Jarvis kembali melanjutkan perbincangannya di telepon setelah Lindsey keluar dari kamar.


Jarvis sedang menelepon dengan siapa, ya? Sampai aku harus keluar. Dia juga tidak mau memberitahu apa yang telah terjadi sampai dia babak belur dan ditabrak truk.. batin Lindsey.


Sekitar 20 menit kemudian, Lindsey kembali ke kamar rawat dengan segelas teh hangat di tangannya. Terlihat Jarvis sudah selesai bertelepon.


Lindsey memberikan teh hangat yang diminta Jarvis.


“Bisakah kamu pegangkan gelasnya untukku? Tanganku sakit.” ucap Jarvis dengan menunjukkan tangannya yang diperban.


Lindsey menuruti keinginan Jarvis. Dia memegangi gelas berisi teh hangat untuk Jarvis seruput. Dia juga mengelap sisa air di sekitar mulut Jarvis dengan tisu. Lindsey menaruh gelas teh hangat di atas nakas di samping ranjang Jarvis. Tidak sengaja, Jarvis melihat siku Lindsey yang terluka.


Dengan spontan Jarvis meraih tangan Lindsey untuk melihat sikunya yang terluka. “Ini kenapa bisa terluka?” tanya Jarvis.


“Oh.. ini karena tadi memecahkan kaca jendela mobilmu.” jawab Lindsey.


“Lindsey.. kamu tidak perlu melakukan hal yang berbahaya untukku.” balas Jarvis.


“Lalu, aku harus membiarkan kamu mati terbakar di dalam mobil itu?” tanya Lindsey.


“Kenapa kamu begitu egois? Kamu menyuruhku diam saja dan melihat kamu mati? Lantas, kalau kamu mati, bagaimana denganku? Apakah kamu tidak memikirkan aku? Apakah kamu tidak tahu betapa cemasnya aku tadi saat melihat kondisimu? Apakah kamu tidak memikirkan betapa takutnya aku kalau kamu mati?” tanya Lindsey.


Emosinya memuncak. Juga dengan air matanya yang kini banjir membasahi pipi. Keduanya keluar bersamaan. Hatinya sedang rapuh.


“Kamu menyesal sudah aku selamatkan? Katakan saja. Meski begitu, aku tetap akan terus menyelamatkanmu.” ucap Lindsey lalu keluar dari kamar rawat Jarvis.


Setelah menutup pintu, tubuh Lindsey kian merosot hingga terduduk di lantai. Dia menyelesaikan tangisannya sebentar kemudian menghapus air matanya yang jatuh membasahi pipi. Lindsey memanggil dokter dan suster untuk memeriksa kondisi Jarvis.


Sementara itu, saat Jarvis diperiksa, Lindsey memilih untuk mencari angin di taman belakang rumah sakit sambil mengembalikan emosinya menjadi normal. Tidak banyak yang dia lakukan selain berjalan di taman, duduk di atas bangku sambil melihat ke sekelilingnya.


Setelah merasa sudah jauh lebih baik, Lindsey kembali ke kamar rawat dan mendapati Jarvis sudah terlelap. Lindsey memasukkan tangan Jarvis ke dalam selimut dan menaikkan selimutnya. Lindsey kembali duduk di kursi, menatap Jarvis yang terlelap dengan penuh kasih.


Dasar. Katanya tidak bisa tidur kalau tidak ada aku. Tapi sekarang kamu malah tertidur, dengan pulas pula. batin Lindsey. Sebuah senyuman terukir di wajahnya.


Sebentar lagi aku tidak bisa melihat wajah tampan ini.. batin Lindsey.


Aku harap kamu bisa tidur sepulas ini di kemudian hari.. batinnya kemudian.


Lindsey mengecup kening Jarvis sebagai penutup hari yang melelahkan ini.


...****************...


Jarvis terbangun dengan mata yang masih menyipit, merem-melek kala Lindsey membuka gordyn sehingga sinar matahari dengan bebasnya masuk ke dalam kamar. Lindsey kembali ke ranjang, menghampiri Jarvis dan mengecup kening Jarvis. Tidak selesai di situ, Lindsey juga mengecup pipi kanan, pipi kiri dan bibir Jarvis.


“Selamat pagi! Tidurmu nyenyak semalam?” ucap Lindsey.


“Sangat nyenyak. Sampai aku tidak ingin bangun.” balas Jarvis. Jarvis beralih dan tidur di atas paha Lindsey, memeluk perut Lindsey dengan erat—dengan tangan kanannya yang terdapat sebuah cincin melingkar di jari manisnya.


Ya, cincin manis. Tepat di atas dipan ranjang juga terdapat bingkai foto yang besar, foto dimana Lindsey mengenakan gaun pengantin putih dengan memegang buket bunga dan tangan satunya lagi memegang lengan Jarvis yang mengenakan tuksedo rapi. Senyum bahagia keduanya berhasil tertangkap di foto itu.


“Hahaha..! Jarvis! Jangan tidur lagi! Bangun, dong! Ayo, bangun!” Lindsey menepuk pipi Jarvis juga dengan tangan kanannya yang terdapat sebuah cincin melingkar di jari manisnya.


“Cepat mandi sana! Kita akan sarapan bersama.” ucap Lindsey lalu keluar dari kamar.


Setelah mandi, Jarvis turun dan menghampiri Lindsey yang sedang sibuk di dapur dengan rambut yang terikat dan mengenakan celemek. Jarvis memeluk perut Lindsey dari belakang dengan erat.


“Jarvis, coba kamu coba, rasanya bagaimana?” tanya Lindsey seraya menyuapi sendok yang berisi kuah sop buatannya ke mulut Jarvis


“Enak! Menu yang paling aku sukai di dunia!” jawab Jarvis dan kembali mengeratkan pelukannya.


“Jarvis! Jangan erat-erat, nanti dedenya sesak di dalam sana bagaimana?” protes Lindsey.


“Oh, iya! De, maafin papa, ya..” Jarvis berlutut, mengusap perut Lindsey dan menghujani kecupan di sana.


“Oh, ya. Hari ini jadwal kita melihat si dede kecil, ’kan?” tanya Jarvis.


“Iya. Kamu tidak ada rapat pagi ini?”


“Sudah aku batalkan. Aku tidak boleh melewatkan momen bertemu dengan Jarvis junior.” jawab Jarvis.


“Memangnya kamu yakin sekali dede kecil berjenis kelamin laki-laki?” tanya Lindsey.


“Yakin, dong.” jawab Jarvis.


Di rumah sakit Ibu dan Anak.


“Wah.. bayinya laki-laki. Hidungnya copy-pastean ayahnya, nih.” ucap dokter.


Lindsey dan Jarvis berjalan bersama menuju apotek untuk menebus vitamin. Jarvis merangkul istrinya dengan begitu mesra. Pandangan mereka tidak bisa lepas dari foto hasil USG yang memperlihatkan wajah bayi mereka.


Lindsey tersenyum. Begitu juga dengan Jarvis. Keduanya merasa sangat bahagia. Kebahagiaan yang tidak terkira, yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.


...****************...


Serrrtt....


Lindsey membuka gordyn dengan lebar sehingga sinar matahari masuk dengan bebasnya membuat Jarvis terbangun dari tidurnya.


“Kamu bermimpi apa? Sampai senyum-senyum, gitu.” tanya Lindsey seraya membuka rantang makanan 3 tingkat.


“Memimpikan kehidupan berumah tangga yang bahagia.” jawab Jarvis.


Setelah sekian lamanya, aku kembali merasakan tidur nyenyak sampai bermimpi. Dan mimpi itu terasa sangat nyata sekali.. batin Jarvis.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih