
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. jgn lupa dilike semuanya yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻
...****************...
“Pasti kelelahan sekali dia..” ucap Kapten.
Sesampainya di rumah markas, mereka melihat ada sebuah mobil sedan berwarna hitam di depan rumah mereka. Sehingga mobil mereka sulit untuk masuk.
“Biar aku yang tangani. Kamu masuk saja bersama Noah.” ucap Kapten.
“Ok.” Lindsey menggendong Noah yang sedang tertidur dan turun dari mobil bersama Kapten.
2 orang pemilik mobil di depan mereka pun juga turun. Yaitu Jarvis dan Carlos.
“Bawa Noah masuk ke dalam.” ucap Kapten kepada Lindsey sambil mengangguk mengisyaratkan tidak apa-apa. Lindsey pun masuk ke dalam dengan Noah yang tertidur di gendongannya.
“Hey, pamanku. Pemimpin kelompok penipu.” sapa Jarvis.
Seketika Kapten baru sadar bahwa dia adalah adik dari Fabero Guerierro. Karena selama ini dia menjauhkan diri dari klan ayahnya yang seorang mafia dan tidak mau terlibat dengan ayah dan juga kakaknya.
“Siapa anak itu? Dia anakku, ’kan?” tanya Jarvis kemudian.
Lindsey kembali keluar setelah menitipkan Noah ke Piter, Luven, dan Katie.
“Aku tahu kesalahan kami tidak bisa dimaafkan. Tapi tolong jangan ganggu kami lagi.” ucap Kapten.
Lindsey keluar dan menghampiri Kapten.
“Enteng sekali kalian bicara. Lindsey, jawab pertanyaanku. Siapa anak yang kamu gendong tadi?” sahut Jarvis.
Lindsey pun diam seribu bahasa. Dia tidak dapat menjawab pertanyaan yang Jarvis lontarkan barusan.
”Anak itu pasti anakku, ’kan?! Aku ingat sekali malam itu aku mengeluarkannya di dalam.” ucap Jarvis kemudian dengan nada yang meninggi.
“Itu anakku.” balas Kapten.
“Jika kamu sulit memaafkan kami, silahkan tuntut saja aku seorang. Aku yang akan bertanggung jawab.” balas Kapten.
Lindsey mengusap bahu Kapten, mengisyaratkan untuk mundur dan tidak perlu meladeni Jarvis lagi. Jarvis jelas melihat skinship antara Lindsey dan Kapten.
Jarvis spontan melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Lindsey dan Kapten.
“Baiklah jika itu maumu. Masalah kita tidak selesai sampai di sini. Terutama kamu, Lindsey!” balas Jarvis lalu masuk ke dalam mobil bersama Carlos.
Mobil itupun akhirnya meninggalkan rumah mereka.
Kapten merangkul bahu Lindsey dan mengusapnya. “Jangan khawatir. Kita kan akan kembali ke LA besok.” ucapnya.
Lindsey mengangguk.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah markas.
“Maaf, Kapt. Kita pikir mobil tetangga yang menumpang parkir. Kalau tahu itu mobil Jarvis, kita pasti akan mengusirnya daritadi.” ucap Luven.
“Mobil mereka sudah lama berada di depan rumah kita?” tanya Kapten.
“Lumayan. Mungkin sekitar 3-4 jam.” jawab Piter.
“Baiklah. Tidak apa-apa. Luven, kamu sudah memesan tiket kita kembali ke LA?” balas Kapten.
“Sudah, Kapt. Penerbangannya besok jam 10 pagi.” jawab Luven.
“Apakah tidak ada yang lebih awal lagi?” tanya Kapten.
“Tidak, Kapt. Itu sudah paling awal.” jawab Luven.
“Kenapa harus setakut ini? Jarvis tidak mungkin melakukan apa-apa pada Lindsey.” sahut Katie.
“Kamu tidak mengerti situasinya sekarang, Katie!” balas Kapten dengan nada meninggi.
Lindsey mengusap bahu Kapten dan berbisik. “Noah sedang tertidur, Kapt..”
“Kamu memang merasa tenang-tenang saja. Karena kamu bisa menenangkan Jarvis dengan segudang uangmu itu. Tapi itu tidak berlaku untuk Lindsey, tidak untuk kita semua.” ucap Kapten.
“Sudah, sudah. Bagaimana kalau kita bersiap untuk makan malam saja?” sahut Piter.
“Jangan khawatir.” balas Piter.
-
Kini semuanya makan bersama di meja makan. Noah yang sudah bangun dari tidurnya pun ikut makan dengan duduk di pangkuan Kapten dan disuapi oleh Lindsey di sampingnya.
“Om! Ini tomat yang aku petik dari kebun opa tadi, loh!” ucap Noah dengan memamerkan hasil petikannya.
“Ah, masa sih? Bukannya ini tomat yang om beli kemarin?” Luven menggodai Noah.
“Bukan, om! Ini aku yang petik di kebun opa!” balas Noah.
“Noah petik apa saja di kebun opa?” tanya Piter.
“Petik jambu, belimbing, tomat, jeruk, apel, stoberi, bunga, sama apalagi ya?” Noah mulai lupa.
“Makan dulu, Sayang. Buka mulutnya yang lebar?” ucap Lindsey.
Noah membuka mulutnya yang sudah kosong selebar mungkin.
“Noah pintar.” ucap Kapten.
“Daddy, Noah mau sekolah. Kata Mommy sebentar lagi Noah akan sekolah.” ucap Noah.
“Iya, dong.. Sebentar lagi Noah akan sekolah. Nanti kita cari sekolahnya bareng-bareng, ya.” balas Kapten.
“Benar, Daddy? Daddy tidak bohong, ’kan?” tanya Noah.
“Benar, Daddy tidak bohong. Kalau perlu, kita langsung mencari sekolahnya setelah sampai di LA.” jawab Kapten.
“Yeeeyyyy...!!! Asiiikkk!!” seru Noah.
Ting.. tong..
Terdengar bunyi bel di rumah markas. Pandangan mereka semua yang berada di meja makan pun langsung tertuju ke arah pintu.
“Siapa yang datang? Bukankah tidak ada yang mengetahui rumah ini?” tanya Kapten.
“Biar aku yang lihat.” jawab Luven.
Luven berjalan ke luar dan membuka pintu. Terdapat 2 orang laki-laki dewasa dengan berseragam polisi.
“Ada apa, ya?” tanya Luven.
“Kami menerima laporan atas pencurian yang dilakukan oleh Fabio Guerierro. Apakah dia benar tinggal di sini?” ucap salah seorang polisi.
“Tentu saja laporan itu tidak benar. Dan tidak ada—” ucap Luven yang terpotong karena Kapten datang dari belakangnya.
“Saya orang yang kalian cari.” ucap Kapten.
“Noah sama aunty dan om dulu, ya. Tolong jaga Noah.” ucap Lindsey lalu menyerahkan Noah ke Katie dan Piter. Lindsey juga ke luar untuk melihat siapa yang datang.
“Anda kami tangkap karena telah melakukan pencurian aset. Anda berhak didampingi oleh pengacara. Mari ikut kami.” Tangan Kapten diborgol.
“Luven, apa yang terjadi padaku, kalian semua tetap harus pergi ke LA besok. Kamu mengerti maksudku?” ucap Kapten.
“Kapt!” seru Lindsey dan Luven.
Kapten dibawa oleh polisi dan masuk ke mobil polisi.
“Apa yang terjadi?” tanya Piter selepas kepergian Kapten dan para polisi.
“Daddy mana?” sahut Noah yang turun dari gendongan Katie dan menghampiri Lindsey.
“Daddy mana, mommy?” tanya Noah kemudian.
Lindsey terdiam sejenak. “Da—daddy sedang pergi sebentar..” jawabnya kemudian.
“Daddy pergi kemana?” Noah mulai menangis. Semakin lama, tangisannya semakin kencang.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih