Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Hatiku Yang Memilihmu


“Hm.. banyak sih.. Lumayan.. Kenapa, ya..?” ucap Jarvis dengan penuh kehati-hatian. Bagaimana tidak berhati-hati, salah penyebutan satu kata saja, wanita cantik yang sedang berada di hadapannya akan berubah menjadi singa buas dan siap melahapnya.


“Ooh... Pantas saja lupa.” balas Lindsey.


Waduh! Habislah aku! Apa yang sudah aku lupakan?! batin Jarvis dan selaras dengan otaknya yang langsung berputar, berpikir keras untuk mencari apa yang sudah dia lupakan.


“Sepertinya kamu sudah tidak menginginkannya lagi, ya? Ya, sudah. Ayo.” ucap Lindsey yang bergantian berjalan terlebih dahulu.


Dan bergantian pula Jarvis diam di tempat dan menarik tangan Lindsey hingga tubuhnya terhempas mundur ke tempat sebelumnya dia berdiri. Jarvis kemudian merangkum kedua rahang pipi Lindsey dan langsung menyambar bibir sang kekasih. Meski sempat lupa, Jarvis akhirnya mengingat kembali keinginannya saat di telepon tadi.


“Kata siapa aku sudah tidak menginginkannya lagi? Aku adalah orang yang paling menginginkan dirimu, tahu!” ucap Jarvis diakhiri dengan menoel ujung hidung Lindsey.


Kali ini Jarvis yang menggenggam tangan Lindsey dan berjalan bersamanya, menelusuri keramik demi keramik untuk turun ke bawah.


“Aku pikir kamu sudah lupa..” balas Lindsey.


“Kamu bisa mengingatkanku lagi.” ucap Jarvis.


“Berarti kamu orangnya mudah lupa, ya?” tanya Lindsey.


“Tidak. Tidak lagi setelah ini. Aku bersumpah.” jawab Jarvis.


Jarvis enggan melepaskan tangan Lindsey sekalipun, bahkan hingga di parkiran, Jarvis terpaksa melepasnya sebentar untuk masuk ke mobil lalu menggenggamnya kembali meski satu tangannya digunakan untuk menyetir. Sesekali dikecup dengan lembut punggung tangan Lindsey.


“Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Lancar?” tanya Jarvis.


“Lancar, kok. Kamu?” balas Lindsey.


“Tidak begitu lancar. Aku selalu mengalami kendala dalam bernegoisasi harga properti dengan klien.” ucap Jarvis.


“Pembisnis memang sering kali mengalami hal seperti itu. Kalian kan ingin mendapatkan keuntungan setinggi mungkin tapi kalian tidak memikirkan dari sisi klien.” balas Lindsey.


“Kamu sering menangani kasus seperti ini?” tanya Jarvis.


“Iya. Tapi aku selalu berada di pihak klien kalian.” jawab Lindsey.


“Yah. Padahal aku ingin sekali menang dibantu olehmu.” balas Jarvis.


“Sejauh ini aku membantu tidak ada menang atau kalah, sih. Aku hanya membantu untuk menemukan titik tengah kesepakatan untuk kedua pihak.” ucap Lindsey.


“Tapi bagaimana kalau harga propertinya layak mendapatkan harga yang lebih tinggi dari titik tengah kesepakatan? Rugi dong aku.” balas Jarvis.


“Kamu bisa menjual ke orang lain yang bisa membayar lebih.” ucap Lindsey.


“Lama terjualnya. Susah.” balas Jarvis.


“Kalau kamu memaksa, itu termasuk pemerasan. Sama seperti kasus pemaksaan berhubungan intim, jika ada unsur paksaan maka namanya berubah bukan lagi berhubungan intim, melainkan pemerkosaann.” ucap Lindsey.


“Oh... Selama ini tidak ada unsur pemaksaan, kan..? Di antara kita?” tanya Jarvis.


“Kenapa kamu bertanya?” balas Lindsey.


“Aku takut saja nanti tiba-tiba kamu menuntutku. Sedangkan aku tidak memiliki bukti apapun selama di atas ranjang.” ucap Jarvis.


“Hahahhahah... Ya, tidak lah.” balas Lindsey.


“Jadi, kita melakukannya atas dasar suka sama suka, ya, kan?” tanya Jarvis.


“Iya.” jawab Lindsey.


“Baiklah, berarti sekarang aku sudah memiliki bukti kalau nanti kamu ingin menuntuku.” ucap Jarvis.


“Bukti apa?” tanya Lindsey.


“Kamera dasbor yang merekam percakapan kita barusan.” jawab Jarvis.


Tibalah mereka di restoran yang sudah dipesan Jarvis tadi. Jarvis memesan private room agar bisa menikmati momen makan malamnya berdua dengan Lindsey. Terlebih, Jarvis sangat introvert dan tidak begitu mau berinteraksi dengan orang lain.


“Sepertinya baru pertama kali kita makan berdua di luar.” ucap Jarvis saat keduanya menunggu makanan.


“Masa sih?”


“Iya. Waktu itu aku sudah reserve tempat khusus untuk kita berdua, eh, kamunya malah ajak Carlos juga.” ucap Jarvis.


“Saat itu situasinya sangat mendesak.” balas Lindsey.


Jarvis meraih tangan Lindsey yang berada di atas meja yang berada di sampingnya itu. “Aku senang karena akhirnya kita tidak perlu main kucing-kucingan lagi di belakang Carlos.” ucap Jarvis.


Lindsey mengangguk. “Akhirnya, ya.”


“Aku berharap aku bisa menggenggam tangan ini selamanya.” ucap Jarvis.


Lindsey menatap kedua mata Jarvis dengan intens. Dia mengusap wajah Jarvis dengan ibu jari tangan satunya. “Ada apa?”


“Kamu seperti akan pergi jauh meninggalkan aku.” sambungnya.


“Pertanyaannya sekarang, apa aku bisa pergi jauh meninggalkanmu?” balas Jarvis.


“Justru aku takut kamu yang akan melakukan itu. Banyak laki-laki di luar sana yang jauh lebih baik dariku—”


“Shuutt..”


“Tidak jauh-jauh, deh. Carlos. Carlos jauh lebih baik—”


“Shuuttt..” Lindsey menutup bibir Jarvis dengan ibu jarinya agar Jarvis tidak berbicara lagi.


“Kemana Jarvis si mafia dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, yang aku kenal?” tanya Lindsey.


“Meski banyak yang lebih baik, tapi bukan aku yang memilihmu. Hatiku yang memilihmu, Jarvis.” ucap Lindsey kemudian.


“Apa ada alasan mengapa seorang mafia mau mengencani wanita biasa sepertiku? Aku yakin itu karena dia yang memilihku.” Lindsey menyentuh dada Jarvis sebelah kiri.


Jarvis memajukan tubuhnya dan mendaratkan bibirnya di bibir Lindsey. Memberi lumatann yang lembut namun terasa. Kalimat yang Lindsey ucapkan mampu menenangkan dan menghempas kekhawatirannya. Seakan tidak ada lagi yang dia inginkan selain bersamanya.


Benar kata Lindsey. Hatinya yang sudah menetapkan pilihan ke Lindsey. Bahkan dia tidak berkuasa atas pilihannya sendiri. Kuasa hati memang tidak ada tandingannya. Bagaimana hati dapat mengetahui dan melabuhkan cinta ke orang yang tepat?


Pertemuan di klub, yang tidak disangka-sangka, mengantarkan Jarvis kepada cintanya. Untuk pertama kalinya Jarvis merasa hidup. Berbicara lebih dari 3 kalimat, bahkan berbagi cerita kepada orang lain, tersenyum, merasakan getaran di dalam dadanya, merasakan emosi, itu semua dapat terjadi setelah dirinya bertemu Lindsey.


Kalimat manis nan menenangkan yang Lindsey ucapkan juga menciptakan suasana romantis hingga mereka lupa dimana mereka berada sekarang...


Seorang pelayan dengan polosnya mengetuk pintu untuk mengantarkan makanan yang mereka pesan sebelumnya. Aktivitas saling melumaat bibir mereka dengan terpaksa harus dihentikan. Untung saja si pelayan mengetuk pintu terlebih dahulu. Bagaimana kalau tidak?


Lindsey membenarkan rambutnya. Pipi Lindsey merah merona. Kelihatan sekali wanita itu sedang gugup. Padahal jelas sekali ciuman mereka lepas sebelum pelayan itu masuk. Tapi kenapa gugupnya seperti habis kepergok?


“Aku ke toilet dulu.” Lindsey pamit untuk pergi ke toilet saat pelayan menghidangkan makanan di atas meja.


“Jangan lama-lama. Nanti aku samperin kalau lama.” balas Jarvis.


Lindsey membulatkan matanya, dan mencubit lengan Jarvis karena berbicara tidak lihat situasi mengingat masih ada pelayan di dalam. Buru-buru Lindsey keluar dari private room mereka.


Jarvis hanya melemparkan senyuman melihat tingkah laku wanitanya. Bagaimana bisa cantik dan menggemaskan keduanya dimiliki Lindsey sekaligus?


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih