Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Menuju Akhir Misi 2


halo semuanya.. ketemu lamu lagi di episode ketiga yang aku up hari ini.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️terima kasih 🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Menurut jadwal yang dibuat Katie, jam 13.30 ada rapat di galeri seni Art Spring. Kita harus bergegas sekarang.” jawab Carlos.


“Aduh, tidak bisa. Aku harus menemui Lindsey, dia pasti sudah menungguku.” balas Jarvis.


“Lalu, bagaimana dengan rapatnya?” tanya Carlos.


“Atur hari lain. Kalau mereka tidak mau, batalkan saja.” jawab Jarvis.


“Tapi ini proyek galeri Art Spring yang seharga 100 Miliar?” balas Carlos.


“...”


“...”


“Aku harus pergi sekarang.” ucap Jarvis.


...****************...


Jam 13.39


Di Boldie-Goldie Cafe


Lindsey duduk di sebuah kursi kafe, menantikan kedatangan seseorang sambil mendengarkan lagu melalui earbudsnya dan mengarahkan pandangan ke jendela.


“Maaf sudah membuatmu menunggu. Sudah pesan?” ucap seseorang dari belakang yang baru saja tiba.


“Belum.” Lindsey melepas earbudsnya.


“Ayo kita pesan.” ucap Jarvis.


“Salmon steak dan passion fruit 1.” Lindsey membacakan menu kepada pelayan.


“Spaghetti aglio olio dan red wine 1.” ucap Jarvis.


Selesai mencatat pesanan, pelayan pergi meninggalkan mereka.


“Kenapa memilih salmon steak? Aku kan bisa membuatkannya untukmu.” ucap Jarvis.


Itu karena Aku tidak akan bisa merasakan salmon steak buatanmu lagi. batin Lindsey.


“Sudah lama tidak memakannya.” balas Lindsey.


“Bagaimana perutmu? Masih sakit?” tanya Jarvis.


“Sudah tidak. Mereka pergi hanya meninggalkan luka di hatiku saja.” jawab Lindsey.


Jarvis meraih tangan Lindsey. “Kita akan melewati ini bersama-sama. Aku janji tidak akan membiarkanmu sendirian lagi.” ucap Jarvis.


Pelayan mengantarkan makanan pesanan mereka. Mereka pun melahap makanan yang menjadi makan siang mereka hari ini.


Acara makan siang mereka pun berjalan dengan khidmat tanpa bersuara hingga akhir. Setelah selesai, Lindsey meneguk minumannya dan mengelap mulutnya dengan tisu. Disusul oleh Jarvis.


“Malam ini sampai 3 hari ke depan, aku akan keluar kota untuk perjalanan bisnis. Kamu mau ikut? Sekalian mencari energi positif dan menghibur diri.” ucap Jarvis.


“Aku juga akan pergi ke luar kota selama seminggu.” balas Lindsey.


“Oh..”


“Kenapa kamu menukar pil KB ku dengan plasebo?” tanya Lindsey.


“Katanya kehadiran seorang anak dapat menambah kebahagiaan. Dan juga itu karena aku ingin hidup dalam waktu yang lama bersamamu.” jawab Jarvis.


Entah mengapa.. Aku sangat senang mendengar kalimat itu. Semua wanita di dunia ini juga pasti senang mendengar kalimat itu. Akan lebih senang lagi jika takdir merestui rencana kita. Tapi, sayangnya.. kita tidak bisa seperti itu. Kita tidak bersama lebih lama lagi, Jarvis. Dan tidak lama lagi.. rasa cintamu yang begitu deras, akan berubah menjadi benci yang mendendam.. batin Lindsey.


“Jarvis.” panggil Lindsey.


“Iya?”


Demi apapun. Aku tidak bisa mengatakannya. Bagaimana ini? batin Lindsey. Mulutnya terkatup rapat seolah ditutup plester.


“Ada apa, Lindsey?” tanya Jarvis.


“Aku ingin mengakhiri hubungan kita. Maaf..”


Lindsey berhasil mengucapkan kalimat itu. Meski bukan dari hati, tapi dia berhasil mengucapkannya.


“Beri aku alasannya.” ucap Jarvis.


Jarvis tidak menolaknya lagi. Seperti saat sebelumnya. batin Lindsey.


“Karena kamu seorang mafia.” ucap Lindsey.


Jarvis menaikkan sebelah bibirnya, tersenyum meremehkan. Cih...


“Aku saja bisa menerima kamu yang seorang otak kelompok kriminal. Kenapa kamu tidak bisa menerima siapa aku?” tanya Jarvis.


“Kita tidak pernah membunuh seorang pun.” jawab Lindsey.


“Jadi kamu menilai dari seberapa parah tingkat kriminalitas yang aku lakukan? Kriminal tetaplah kriminal.” tanya Jarvis.


“...”


“Padahal aku berniat memperbaiki hubungan kita setelah ini. Mencoba memahami dirimu yang sulit aku mengerti, menerima dirimu yang sulit terbuka padaku, selalu berada di sisimu..” ucap Jarvis.


“...”


“Setelah dipikir-pikir lagi, aku memegang satu rahasiamu. Apakah kamu tidak takut kalau rahasia itu aku sebar? Bukan hanya kamu saja yang kena, tapi seisi kelompokmu juga kena, apa tuh namanya? Mor-Morex, ya?” ucap Jarvis kemudian.


Jarvis memang tak lagi lembek. Setelah dibohongi Lindsey membuat Jarvis selalu bersikap was-was dan berpikir berulang kali akan kalimat yang diucapkannya.


“Apa kamu lupa kalau aku juga memegang satu rahasiamu? Tidak, deh. Dua.” balas Lindsey.


“...”


“So, mari kita saling melupakan ‘pekerjaan sampingan’ satu sama lain demi kenyamanan bersama.” ucap Lindsey.


“Bagaimana aku bisa memercayai kalimatmu? Kamu memang tidak membunuh, tapi kamu selalu berbohong. Terbalik denganku.” balas Jarvis.


“Tidak ada gunanya juga bagiku mengancam mantan. Tapi kalau kamu merasa tidak bisa memercayai kalimatku, aku akan mengirimkan surat perjanjian, hitam di atas putih, lengkap dengan materai, bagaimana?” balas Lindsey.


“...”


“Kalau begitu, aku anggap kamu setuju. Dan mari jangan saling bertemu lagi. Kurasa tidak ada alasan untuk kita bisa bertemu.” ucap Lindsey.


“Dan juga ini.” Lindsey mengeluarkan sebatang emas pemberian Jarvis dan mengembalikan emas itu kepada pemiliknya.


Toh, malam ini juga dia akan mengambil seluruh emas miliknya.


“Terima kasih untuk rasa bahagia yang mendominasi di dalam hubungan ini. Aku pergi dulu.” ucap Lindsey.


“Lindsey.” panggil Jarvis sebelum Lindsey pergi.


“Ya?”


“Ingatlah ini. Kita tidak akan bertemu lagi. Aku juga tidak akan mencarimu lagi. Tapi jika suatu hari kita bertemu lagi, di hari itu aku akan mengulangi hal yang sama seperti aku lakukan saat pertama kali kita bertemu.” ucap Jarvis.


“Bercinta denganku?” tanya Lindsey.


“Menghamilimu.” jawab Jarvis lalu bangkit berdiri dan pergi dari kafe.


Sementara itu Lindsey masih diam mematung di kursinya, mencerna kalimat terakhir dari Jarvis.


“Adiós,


Jarvis.” ucap Lindsey setelah kepergian Jarvis.


(Adiós: “sampai jumpa” dalam bahasa Spanyol.)


...****************...


Jam 19.30


Rumah markas


Katie sampai di rumah setelah pulang bekerja. Dia melihat Lindsey, Piter dan Kapten sedang berkumpul di ruang tengah sambil berdiskusi serius. Ada sebuah peta yang terpampang di atas meja.


“Tidak, Kapt. Kita harus lewat jalan yang ini. Ini jalan yang tercepat untuk sampai ke bandara.” ucap Lindsey.


“Tapi disini akan melewati tol, dan di tol itu terkadang ada pengecekan isi truk. Bagaimana?” balas Kapten.


“Iya, tidak bisa, Lindsey. Kita hanya bisa lewat jalan yang ini.” sahut Piter.


“Bagaimana kalau kita ketahuan karena lambat?” tanya Lindsey.


“Kalian sedang apa?” tanya Katie yang ikut hadir di tengah mereka.


“Jarvis sudah pergi?” tanya Kapten.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih