Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Satu Ronde Lagi


Lindsey bangkit dari posisi tidurnya. “Bagaimana kalau sekarang kita tidak bisa keluar?!”


“Yang penting ada kamu di sini.” jawab Jarvis.


“Tubuhku bisa habis kalau terus-menerus bersamamu di sini.” balas Lindsey.


Jarvis tersenyum. Kemudian ia bangkit dari ranjang dan memakai celananya. Begitu juga dengan Lindsey yang memakai kembali gaunnya dan dibantu Jarvis untuk menaikkan resleting gaunnya. Lindsey bersandar di meja rias sambil menunggu Jarvis mengancing kemejanya.


Karena tidak sabar, Lindsey mengambil alih sisa 3 kancing dan mengancingnya. “Kotak itu isinya apa?” tanya Jarvis yang merujuk pada sebuah kotak di atas meja rias yang merupakan hadiah pemberian dari Lindsey untuknya.


Selesai mengancing kemeja Jarvis, Lindsey mengambil kotak hadiah pemberian darinya untuk Jarvis dan menyerahkannya ke Jarvis. Jarvis membuka kotak tersebut.


“Aku tidak tahu motif apa yang bagus, karena aku tidak pernah membelikan dasi untuk seseorang.” ucap Lindsey.


“Ini bagus sekali. Sangat cocok untukku.” ucap Jarvis yang mengeluarkan dasi tersebut dari kotaknya.


JM


Terukir 2 huruf di dasi tersebut yang sengaja Lindsey minta buatkan ketika membelinya.


“Sini aku bantu ikat.” ucap Lindsey lalu mengambil dasinya dari tangan Jarvis.


Tangannya begitu telaten mengikatkan dasi untuk Jarvis. Sedangkan Jarvis hanya terdiam berdiri tegak dengan pandangan lurus ke kaca di hadapannya yang sesekali mencuri pandang ke wajah Lindsey yang sedang mengikatkan dasi untuknya.


“Cocok. Aku suka.” ucap Jarvis.


“Jangan lupakan ini.” ucap Lindsey seraya mengeluarkan penjepit dasi dari kotak.


Jarvis Morris’


Penjepit dasi yang berwarna silver itu terukir nama lengkap sang pemilik yang juga sengaja Lindsey minta buatkan.


“Aku lebih suka jika terukir namamu disitu.” ucap Jarvis.


“Namaku sudah terukir di tempat lain.” balas Lindsey seraya menjepit dasi Jarvis.


“Hm? Apa maksudnya itu?” tanya Jarvis.


“Bukankah namaku sudah terukir di hatimu?” balas Lindsey.


“Sejak kapan mulutmu yang menggemaskan menjadi manis seperti ini?” tanya Jarvis.


“Mulutku memang manis. Kalau tidak manis, kamu tidak akan suka.” jawab Lindsey.


“Baiklah. Aku menyerah.” balas Jarvis lalu memberi serangan halus di leher Lindsey. Lindsey mencengkram rambut Jarvis dan satu tangannya menahan di meja. Dia membiarkan Jarvis bermain di lehernya. Lindsey melihat ke arah benda di kolong ranjang yang ditabrak oleh kakinya tadi. Safety box?


“Aah.. Jarvis.. geli..!”


Jarvis menghentikan aksinya. Sesaat kedua mata mereka bertemu. Saling memberi tatapan yang dalam.


“Maafkan aku. Aku terlalu sibuk dan mengabaikanmu.” ucap Lindsey.


Jarvis membelai rambut Lindsey. “Tidak apa-apa. Ini salahku karena nekat memacari seorang pengacara.” balas Jarvis.


“Kamu bisa berhenti kapan saja kamu mau.” ucap Lindsey.


“Kenapa aku harus berhenti? Aku tidak mau berhenti.” balas Jarvis.


“Aku sedang memberimu kesempatan.” ucap Lindsey.


“Aku benar-benar akan menghabisimu di ranjang jika kamu mengatakan hal itu lagi.” balas Jarvis.


Lindsey memeluk Jarvis.


Aku mungkin hanya akan memberikan luka yang mendalam untukmu. batin Lindsey.


Oh, ya. Ngomong-ngomong, mengapa belum ada pesan dari Kapten? Ini sudah lebih dari 1 jam. Kapten berhasil tidak, ya? batin Lindsey kemudian.


“Sudah waktunya kita kembali. Carlos pasti sudah mencari kita.” ucap Jarvis.


Aku masih belum mendapat kabar dari Kapten. Jangan-jangan Kapten masih mencari sertifikatnya di ruangan Jarvis?! batin Lindsey.


“Iya. Aku juga harus menyapa tamu yang lain. Ayo.” jawab Jarvis lalu menarik tangan Lindsey.


Lindsey menahan kepergian Jarvis. “Bagaimana kalau satu ronde lagi? Kita sudah jarang menghabiskan waktu bersama, loh..” ucap Lindsey. Tangannya mulai bergerak menyelinap ke balik tuksedo yang dikenakan Jarvis dan merabaa dada bidangnya.


Jarvis mencengkram pergelangan Lindsey yang mencoba merayunya dan mendorong Lindsey hingga bersandar di tembok. Jarvis mengangkat pergelangan Lindsey yang sedang ia cengkram dan menahannya di tembok.


Tangan Jarvis yang lainnya turun menelusuri gaun yang dikenakan Lindsey dan menyelinap di balik gaun tersebut. Tujuannya adalah sebuah lubang di balik ****** ***** yang digunakan Lindsey. Dengan menggunakan jari tengahnya, Jarvis bermain di sana hingga membuat Lindsey merintih. Tubuhnya menggelinjang, kakinya pun tidak bisa diam. Tangan Lindsey yang menganggur, memegang tangan Jarvis yang sedang aktif di dalam.


“Jarvis..hh.. aahhh.. aahh..”


“Yakin masih mau satu ronde lagi?” tanya Jarvis.


Jarvis memajukan wajahnya ke dada Lindsey dan memberi kecupan lembut sembari tangannya aktif bermain.


“Ummhh.. aahhh... jangan menggunakan jarimu.. aahh.. please..”


Jarvis semakin mempercepat pergerakan jarinya.


“Please please please.. Jarvis.. aaahh.. ah.. ah.. ah.. Jarvis..hh.. aakhhh..!!”


Jarvis mengeluarkan jari tengahnya yang sudah berlumur cairan. Tangannya juga melepas cengkraman pergelangan Lindsey. Jarvis menjilati jari tengahnya hingga bersih di depan Lindsey yang napasnya terengah-engah. Lindsey memegangi dadanya yang naik turun karena pernapasannya yang tidak teratur.


Lindsey meletakkan tangannya di atas meja rias untuk bertumpu, menahan dirinya yang kala itu sudah lemas tak berdaya akibat perlakuan Jarvis.


“Baru dengan satu jariku, loh.. Kamu sudah lemas begitu. Bagaimana kalau satu ronde lagi? Bisa pingsan kamu.” ucap Jarvis.


Jarvis menaikkan belahan gaun yang dikenakan Lindsey agar belahan dadanya tidak terlihat.


“Aku tidak punya tenaga untuk turun.” ucap Lindsey.


“Carlos akan mencari kita. Kamu tidak memikirkan soal itu?” tanya Jarvis.


“Aku tidak peduli dengan Carlos.” jawab Lindsey.


Tririring.. Ponsel Jarvis berbunyi. “Lihat? Carlos sudah menyariku.” Jarvis memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukka panggilan dari Carlos.


Aku sudah tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Semoga Kapten sudah menemukan sertifikatnya. batin Lindsey.


“Baiklah.” ucap Lindsey.


Jarvis dan Lindsey keluar dari kamar yang berada di balik rak buku.


“Kapan-kapan kalau kamu senggang, aku akan mengajakmu kesini lagi.” ucap Jarvis yang menutup kembali rak buku dan terkunci otomatis yang hanya bisa dibuka dengan sensor retina mata Jarvis saja.


Mendengar ada suara, Kapten segera menyembunyikan diri di kolong meja kerja Jarvis. Seraya mengintip dari sebuah celah di kolong meja. Kapten melihat Lindsey dan Jarvis keluar dari sebuah rak buku bak sulap.


“Kalau begitu aku akan menyempatkan waktu.” balas Lindsey.


Lindsey dan Jarvis berjalan keluar dari ruangan Jarvis. Mereka mendapati Katie yang sedang berdiri dengan jarak yang cukup dekat dengan ruangan Jarvis. Katie sedang berdiri dengan waswas sambil berjaga-jaga yang membuat Jarvis bingung.


“Katie?” panggil Jarvis.


Mata Lindsey membulat. Kenapa Katie yang berada di sini? Kemana Kapten?


“Huh?” Katie terkejut.


“Sedang apa disini?” tanya Jarvis.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih