Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Mengepung


“Masih tidak ada yang ingin menjawab? Congkel mata mereka.” Jarvis tidak ingin menyerah. Dia terus memberikan titah untuk menyiksa ketiga orang itu.


“Tidak! Tidak! Jangan! Saya akan menjawabnya! Tolong jangan bunuh saya! Jangan!” ucap salah satu dari tiga orang itu.


“Saya juga! Jangan bunuh saya! Saya akan menjawabnya! Ampuni saya! Jangan bunuh saya!” Dua orang lainnya pun ikut meminta ampun dari Jarvis.


Jarvis tersenyum kecil. Dia berhasil membuat ketiga orang itu membuka mulut. Usahanya tidak sia-sia. Dia akan lebih mudah mendapatkan informasi jika menyiksa seseorang.


“Baiklah. Katakan siapa dan dimana orang yang memerintahkan kalian.” ucap Jarvis kepada ketiga orang itu.


“Kami tidak tahu siapa yang memberikan kami perintah, namun orang itu berniat ke perumahan wanita yang kami culik tadi!” ucap salah satu dari tiga orang itu.


“Kalau tidak salah nama perumahannya Great Village! Saya melihatnya di pencarian lokasi di mobilnya!” sahut orang yang lainnya.


“Brengs*k. Dia sudah mengincar Lindsey sampai ke perumahannya. Siapkan anak buah untuk mengepung perumahan Great Village. Dan jangan sampai kelihatan.” Jarvis memberikan titah kepada Carlos.


“Baiklah.” ucap Carlos lalu keluar dari gudang.


“Bakar gudang ini.” Jarvis memberikan titah kepada anak buahnya lalu keluar dari gudang.


“Baik!”


Para anak buah Jarvis bergotong royong menyiram bensin ke seluruh sisi gudang. Sementara ketiga orang yang sudah memberikan informasi tadi berteriak meminta tolong, meminta diselamatkan dari gudang. Namun tidak dihiraukan oleh anak buah Jarvis. Malah salah satu anak buah Jarvis menutup mulut mereka dengan perekat agar tidak berisik. Kemudian anak buah Jarvis menyalakan korek api dan melemparnya asal ke lantai yang sudah banjir dengan genangan bensin.


Anak buah Jarvis seluruhnya keluar dari gudang dan mengunci rapat gudang tersebut. Percikan api merembet ke segala sisi dan sudut gudang, dan api pun menjadi besar, melahap gudang itu dengan rakus. Jarvis benar-benar menyiksa mereka sampai akhir. Tidak ada ampun yang Jarvis berikan atas kesalahan mereka yang sudah menyentuh hingga melukai Lindsey.


Namun hal penyiksaan semacam ini sudah biasa bagi Jarvis. Dia sudah sering memberikan perintah, menyaksikan anak buahnya melakukan perintah di depan matanya, membakar seseorang hidup-hidup, itu semua sudah tidak asing lagi baginya. Kekejamannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Tidak ada ampun dan rasa kasihan di dalam hati Jarvis.


“Apa menurutmu ini adalah ulah pamanmu?” tanya Carlos kepada Jarvis ketika sudah berada di dalam mobil.


Carlos berada di kursi pengemudi, sedangkan Jarvis duduk di belakang.


“Sudah pasti. Dia selalu mengincar orang terdekatku.” jawab Jarvis.


“Sekarang kemana tujuan kita?” tanya Carlos.


“Ke perumahan Great Village. Aku akan ikut menjaga.” jawab Jarvis.


Carlos mengemudikan mobil menuju ke perumahan Great Village. Perumahan tempat Lindsey tinggal. Jarvis ingin ikut menjaga bersama anak buahnya, memastikan keamanan Lindsey karena khawatir dengan Lindsey. Dia tidak bisa jauh-jauh dari Lindsey. Carlos tidak bisa melakukan hal lain selain mengemudikan mobil ke perumahan Great Village. Dia juga sama khawatirnya dengan Lindsey seperti bosnya sendiri.


“Dimanakah kita harus berjaga?” tanya Carlos ketika sudah sampai di perumahan Great Village. Carlos dan Jarvis sama-sama tidak mengetahui nomor berapakah rumah Lindsey, blok atau cluster apa.


“Di dekat pintu masuk saja.” jawab Jarvis.


Carlos memarkirkan mobilnya di dekat pintu masuk perumahan Great Village. Carlos mematikan mesin mobil.


“Aku akan pergi membeli rokok.” ucap Carlos lalu keluar dari mobil, meninggalkan Jarvis sendiri di mobil.


Jarvis diam mematung sambil pandangannya mengarah ke pintu masuk perumahan Great Village. Banyak yang sedang ada dalam pikirannya saat ini. Mulai dari apa yang harus dia lakukan untuk membalas perbuatan pamannya terhadap Lindsey, 17 poin luka yang dialami Lindsey dari hasil pemeriksaan visum yang masih dia ingat betul, dan sikap Lindsey kepadanya saat berada di rumah sakit tadi.


Tidak lama kemudian, Carlos masuk ke dalam mobil di bagian kursi pengemudi dan memberikan sebungkus rokok Jarvis yang berada di belakang.


Jarvis mengeluarkan lighter korek api rokok miliknya yang berlapis emas 24K yang selalu berada di sakunya. Dia mengambil sebatang rokok dan menahannya di bibir. Kemudian dia menyalakan api dan mendekatkan apinya dekat dengan ujung rokok. Jarvis menghirup asap rokok dan membuangnya saat menghembuskan napas lewat mulut. Dia menurunkan kaca jendela mobil sekitar 6-7 centimeter agar asapnya keluar.


“Di Italy?” tanya Carlos.


“Iya.”


“Baiklah. Setelah itu akan kamu apakan? Merampasnya?” tanya Carlos.


“Untuk apa? Hartaku sudah banyak. Aku sampai stres memikirkan cara menghabiskan uang.” jawab Jarvis.


“Lalu mau kamu apakan?” tanya Carlos.


Melenyapkannya.


“Bisakah kamu tidak banyak bertanya? Aku malas menjawabnya.” ucap Jarvis.


Jarvis mengarahkan rokoknya ke luar kaca jendela dan menyentil sedikit rokok itu hingga abunya lepas dan terjatuh ke tanah. Hal itu terus dia lakukan sampai sebungkus rokok telah habis. Carlos sampai ketiduran di kursinya sementara Jarvis masih terjaga. Pikiran yang berlebihan menyebabkan dia sulit untuk memejamkan mata.


Sama halnya dengan Lindsey, sesampainya di rumah markas dia tidak banyak bicara dan memilih untuk ke kamarnya. Dia berusaha untuk tidur, namun, begitu dia memejamkan matanya, Lindsey langsung teringat pada kejadian saat dia disekap di gudang. Seorang wanita yang tidak dia kenali, menghampirinya dan mencekiknya. Lindsey hampir tidak bisa bernapas karena cekikan itu, sementara tangannya yang terikat tidak dapat melakukan apapun untuk melawannya, mulutnya pun ditutup oleh perekat. Dia merasa hampir mati.


“Apa kamu senang karena bisa berada di sisi Jarvis Morris?” ucap wanita tersebut.


Wanita itu akhirnya melepas cekikannya dengan kasar hingga membuat Lindsey terjatuh bersama kursinya.


“Apa kamu bangga karena telah menjadi wanita pemuas nafsunya Jarvis Morris?”


“Kamu pikir kamu akan bertahan berapa lama menjadi wanita pemuas nafsunya?”


“Tidak akan lama. Jarvis Morris tidak menyukai barang bekas.”


“Lebih baik kamu tinggalkan Jarvis Morris sebelum dia yang akan membuangmu.”


“Karena yang kedua akan selalu kalah dari yang pertama.”


“Dan kamu tahu siapa yang pertama? Akulah orangnya.”


Apa maksud wanita ini? Siapa dia? batin Lindsey.


“Hahaahahah.. panas ya? Mau aku bukakan gaunmu?”


Wanita itu meraih gaun yang dikenakan Lindsey dan ingin merobeknya. Namun gagal begitu mendengar seseorang memanggilnya.


“Bos! Jarvis Morris tiba di depan!” Seseorang berteriak.


“Aish! Kenapa cepat sekali datangnya sih!” Wanita itu bangkit dan pergi lewat pintu belakang sebelum Jarvis masuk.


Lindsey masih mengingat dengan jelas kejadian yang menimpanya. Bahkan lehernya masih terasa seperti tercekik, seperti ada yang mencengkramnya dengan kuat. Bagaimana dia bisa tertidur dalam kondisi yang seperti itu?


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih