Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
CCTV


Lindsey mengeluarkan kartu tanda pengenalnya di GDP, menaruhnya di atas meja dengan sengaja agar penyidik itu tahu bahwa dia berasal dari firma hukum besar.


“Ini hasil autopsi korban.” Lindsey menyerahkan lembaran kertas yang berada di tangannya.


“Baiklah. Apa anda mengenal orang ini?” Penyidik menyodorkan selembar foto wanita di atas meja.


Loh? Ini kan wanita yang menyekapku di gudang! batin Lindsey.


“Tidak.” jawab Jarvis.


“Dia adalah korban pembunuhan di kamar hotel anda. Apa anda pernah melihat wajahnya sebelumnya?” tanya penyidik.


Jadi, mayat itu adalah wanita itu? Yang mengaku sebagai wanita Jarvis? batin Lindsey.


“Tidak.” jawab Jarvis.


“Apakah polisi tidak memberikan laporan mengenai keterangan yang diberikan klien saya? Anda terus menanyakan hal serupa seperti polisi tadi.” sahut Lindsey.


“Maafkan saya. Menurut hasil autopsi, ditemukan penyebab kematian adalah kegagalan bernapas karena tercekik, terdapat beberapa tulang leher yang patah, bekas cekikan di leher, dan pendarahan di kepala.” ucap penyidik.


“Lalu, apa anda memiliki bukti bahwa klien saya yang melakukannya?” tanya Lindsey.


“Ya. Terdapat sidik jari tersangka di kuku korban.” jawab penyidik.


Jarvis menghela napas.


“Itu saja?” tanya Lindsey.


“Ya.”


Jelas ini jebakan. Jarvis benar-benar dijebak. Karena dari buku yang aku baca, seorang pembunuh tidak seceroboh itu sampai meninggalkan jejak. Apalagi sidik jari. Jarvis tida sebodoh itu. Jika mau membunuh seseorang, dia lebih memilih membakar hidup-hidup daripada mencekik. batin Lindsey.


“Itu bukan bukti. Sidik jari di kuku? Itu sudah biasa. Bagaimana kalau di leher? Korban kan meninggal dengan cara dicekik. Dan sidik jari saja tidak cukup untuk bisa membuktikan kalau klien saya yang membunuh.” tanya Lindsey.


“Saat ini hanya klien anda yang dicurigai. Lokasi TKP juga berada di kamar hotel klien anda. Dan bisa saja korban berusaha melakukan perlawanan maka dari itu sidik jari klien anda tertinggal di kuku korban.” jawab penyidik.


“ ‘Bisa saja’? Menurut anda begitukah?” tanya Lindsey.


“Ya, menurut saya seperti itu. Kami tinggal mencari buktinya saja.” jawab penyidik.


“Saat mengerjakan kasus pidana, kebenaran hanya bisa dibongkar melalui bukti, bukan pendapat orang apalagi pendapat anda. Baiklah, giliran saya yang bertanya. Jam berapa kematian korban di hasil autopsi itu?” tanya Lindsey.


“3 sore.” jawab penyidik.


“Baiklah.”


Lindsey mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Setelah selesai mengetik, Carlos masuk ke dalam ruangan dengan membawa laptop. Carlos menaruh laptop tepat di atas meja dan memperlihatkan sebuah rekaman CCTV di JM Buildings.


”Jam 9 lewat 7 menit klien saya masuk ke ruangannya. Dan silahkan anda lihat sendiri videonya kapan klien saya keluar dari ruangannya.” ucap Lindsey.


Penyidik itu mengubah kecepatan video sehingga video berjalan dengan cepat. Di video tersebut tidak terlihat kalau Jarvis keluar dari ruangannya sampai waktu menunjukkan pukul 7 malam. Penyidik pun terkejut sendiri begitu melihatnya.


“Sepertinya sudah jelas. Klien saya tidak berada di hotel saat kejadian. Kalau begitu, sampai bertemu di persidangan.” Lindsey bangkit berdiri dan berjalan ke pintu. Jarvis menyusulnya.


Namun tiba-tiba seorang polisi datang, membuka pintu ruangan dan menyerahkan usb kecil yang berisi rekaman CCTV di parkiran dan lobi utama hotel Grand Mansion ke penyidik.


Lindsey mulai ketar-ketir. Jantungnya memompa dua kali lebih cepat. Pasalnya, tadi dia sempat ke hotel dan masuk melalui lobi utama. Jika dia ketahuan berada di kamar 3205, maka dia akan dicurigai dan tidak akan bisa menjadi pengacara pembela Jarvis.


Penyidik memutar video di usb yang diberikan polisi tadi. Penyidik menaikkan kecepatan video tersebut dan melihat mobil Jarvis tiba di parkiran jam 7 lewat 42 menit. Sedangkan di lobi, penyidik tidak melihat adanya Jarvis maupun Lindsey.


Jarvis pasti sudah mengurus CCTV di lobi. CCTV-nya bersih. Tidak ada aku. batin Lindsey.


Lindsey meneguk salivanya dan kembali lega.


“Bagaimana? Sudah selesai kan videonya?” tanya Lindsey lalu berjalan keluar menuju pintu.


Lindsey berbalik sebelum dia membuka pinu. “Oh, ya. Silahkan cari bukti berdasarkan pada kebenarannya, bukan pendapat anda.“ ucap Lindsey dan membuka pintu untuk keluar dari ruangan tersebut.


Disusul oleh Jarvis dan Carlos di belakangnya. Lindsey benar-benar membuktikan perkataannya bahwa Jarvis ikut pulang bersamanya di malam itu juga. Lindsey sendiri tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan.


Aku membebaskan orang? Dan bertindak seperti pengacara sungguhan? Lindsey? Ada apa denganmu? Kenapa kamu bisa? batin Lindsey.


“Kamu ingin aku pesankan hotel dimana? Kamarmu pasti masih tidak bisa ditempati.” ucap Carlos.


Lindsey berbalik badan. “Hmm, aku ada apartemen kosong dan masih baru. Bagaimana kalau kamu tinggal disana untuk sementara?” Lindsey memberi saran.


“Kamu tidak perlu memikirkan soal keamanan! Keamanan di sana sangat ketat. Yang menghuni di sana kebanyakan isinya adalah pengacara dari firma hukumku. Seseorang tidak berani mencari gara-gara dengan pengacara, bukan?” ucap Lindsey kemudian.


“Aku tidak masalah, tapi kamu akan tinggal dimana?” tanya Jarvis. Yang sebenarnya dia inginkan adalah Lindsey ikut bersamanya.


“Aku akan tinggal bersama kakakku. Atau menginap di rumah Katie juga tidak masalah.” jawab Lindsey.


“Aku merepotkan sekali, ya.. Maaf, ya..” ucap Jarvis.


“Tidak apa-apa, kok. Aku juga tidak pernah tinggal di apartemen itu. Ayo.” balas Lindsey lalu berjalan ke mobilnya.


“Kamu harus membayar Lindsey dengan jumlah yang besar. Kalau bukan karena Lindsey, kamu pasti masih diborgol di balik jeruji besi.” bisik Carlos.


“Iya, iya. Aku pasti membayarnya.” balas Jarvis.


“Baiklah. Aku cabut dulu. Nanti kirimkan alamat apartemen Lindsey kalau mau aku jemput besok pagi.” ucap Carlos.


“Jemput lah, woy!” balas Jarvis.


Carlos berjalan ke mobilnya sedangkan Jarvis berjalan ke mobil Lindsey.


“Biar aku saja yang menyetir.” ucap Jarvis lalu merebut kunci mobil dari tangan Lindsey.


Jarvis mengemudikan mobil Lindsey menuju apartemen yang dimaksud. Setelah keduanya sampai, mereka memasuki salah satu unit di lantai 16 dan terdapat nama Lindsey di pintu yang menandakan bahwa unit apartemen itu adalah milik Lindsey. Lindsey membuka pintu apartemen itu dengan kartu tanda pengenal GDP dan mempersilahkan Jarvis masuk.


“Apartemen ini kosong, tidak ada apapun. Aku tidak pernah menempatinya.” ucap Lindsey berbohong. Padahal dia baru saja mendapat unit itu beberapa hari yang lalu.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih