
“Tidak mungkin.” ucap Lindsey.
“Hm? Tidak mungkin apa?” tanya Piter.
“Tidak, tidak. Aku tidak tahu apa kelemahan Jarvis. Dan sepertinya kita tidak bisa menggunakan kelemahan Jarvis. Nanti Jarvis bisa mengetahui rencana kita.” jawab Lindsey.
“Memangnya kamu ada cara lain?” tanya Piter.
Knit knit.. knit knit.. knit knit..
Suara dering ponsel hadir di tengah mereka.
“Sebentar. Klien meneleponku.” ucap Kapten.
Rupanya ponsel Kapten yang berdering. Dan yang meneleponnya adalah pamannya Jarvis. Mereka bertiga langsung menerka-nerka, apa tujuan pamannya Jarvis menelepon Kapten kali ini?
“Halo.” Kapten menjawab telepon.
“....”
“Ya. Ok, baiklah.” ucap Kapten di telepon lalu panggilan berakhir.
Pembicaraan di telepon bersama pamannya Jarvis memang selalu singkat. Tidak lebih dari 5 menit.
“Apa katanya?” tanya Lindsey.
“Gate 2 C15, jam 1 siang. Dia mengutus seseorang untuk mengambil sertifikat JM Buildings.” jawab Kapten.
“Firasatku tidak enak. Sertifikat itu pasti digunakan untuk hal yang buruk, kan?” ucap Lindsey.
“Kapt, jangan lupa minta imbalannya berupa tambahan waktu misi. Kita saja belum menemukan cara untuk mengambil emas Jarvis.” sahut Piter.
“Oh, ya. Mengenai emas, Kapten jangan melaporkan ke paman Jarvis terlebih dahulu. Biar kita-kita saja yang tahu saat ini.” sahut Lindsey.
“Iya, tenang saja.” ucap Kapten.
“Aku harus bersiap ke firma. Nanti kita lanjutkan lagi.” ucap Lindsey.
“Aku juga harus ke kantor.” sahut Katie.
...****************...
Lindsey melakukan kegiatan rutinitasnya sebagai pengacara yang masih dalam proses penilaian. Dia pergi ke pengadilan untuk menghadiri persidangan yang sudah dijadwalkan untuknya. Lalu kembali ke firma untuk membuat laporan mengenai persidangan yang dia hadiri.
Di Firma Hukum GDP
“Pengacara Lindsey, ada titipan untuk anda.” ucap seseorang di meja customer service.
“Dari siapa?” tanya Lindsey.
“Disini tertera nama yang menitipkan barangnya adalah Carlos Scott. Sebenarnya barang ini sudah dititipkan dari 2 hari yang lalu tapi karena pengacara Lindsey selalu keluar melalui pintu belakang, jadi kita tidak bertemu, dan saat saya mengantar ke ruangan anda, anda tidak ada di tempat.” jawab pegawai di sana.
“Oh, iya. Saya bertugas ke pengadilan. Jadi jarang ada di ruangan. Terima kasih, ya.” balas Lindsey.
“Sama-sama.”
Lindsey membawa barang yang dilapisi paperbag ke dalam ruangannya. Lindsey membuka paperbag itu dan melihat isinya. Ternyata ada beragam coklat dan permen, permen karet di dalamnya. Dan ada pula sebuah catatan kecil di atas kertas.
Segelintir manisan untuk mengurangi stress.
“Beberapa hari lalu obat salep, sekarang manisan. Setelah ini aku yakin Carlos tidak akan mengirimkan apapun lagi untukku.” ucap Lindsey.
Lindsey membuat laporan mengenai persidangan yang sudah dia hadiri tadi sambil mengunyah coklat yang diberikan Carlos. Jarinya dengan lihai mengetik huruf demi huruf di keyboard dan menyelesaikan laporannya dengan cepat. Lalu mengumpulkan laporan itu ke ruang mentornya.
“Laporanmu yang kemarin bagus. Aku sudah melihatnya. Aku jadi bertanya-tanya mengapa kamu tidak langsung menjadi pengacara tetap saja.” ucap mentornya yang akrab disapa Luven itu.
“Haruskah waktu penilaianmu kita persingkat saja? Supaya kamu cepat menjadi pengacara tetap.” tanya Luven.
“Hm?”
“Aku bisa merekomendasikanmu dan memberikan nilai yang bagus dalam penilaianmu. Bagaimana?” tanya Luven.
Tapi aku tidak pantas menjadi pengacara tetap. Otakku di bidang hukum sangat zonk. batin Lindsey.
Namun hati dan mulutnya berkata lain.
“Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan itu, pak?” tanya Lindsey.
“Temukan kejanggalan di kasus ini.” jawab Luven seraya memberikan tumpukan kertas tebal yang sudah diklip.
“Aku selalu pulang jam 11 malam, kalau kamu bisa menemukannya sebelum jam itu, ada nilai plus untukmu.” lanjut Luven.
Setebal ini? Jam 11 malam? Gila. batin Lindsey.
“Baik, pak. Aku akan melakukan yang terbaik.” ucap Lindsey lalu berjalan menuju pintu.
“Lindsey.” panggil Luven yang menghentikan langkah kaki Lindsey.
“Ya, pak?”
“Panggil aku Luven saja. Tahun ini aku berusia 29. Tahun ini kamu 26, kan? Hanya selisih 3 tahun. Tidak perlu bicara formal denganku. Toh, sebentar lagi posisi kita akan sama di firma ini.” ucap Luven.
“Hm.. tetap saja kamu kan mentorku..” balas Lindsey.
“Jadi kamu tidak ingin mematuhi mentormu?” tanya Luven.
“Tentu saja mau. Dengan senang hati aku akan memanggil namamu.” jawab Lindsey lalu keluar dari ruangan mentornya dengan membawa berkas tebal dalam dekapannya.
“Piter, cari tahu tentang Luvenius Gourman. Dia adalah mentorku di firma.” ucap Lindsey singkat melalui telepon.
Lindsey lalu duduk di kursinya dan mulai membuka halaman berkas satu persatu, membacanya dan melihat gambar yang merupakan bukti-bukti yang diambil di TKP. Rupanya kasus yang diberikan Luven kepadanya adalah kasus pembunuhan berantai di sebuah wilayah.
“Kasus pertama ditemukannya mayat ditutupi koran di pembuangan sampah gang perumahan XXX. Yang menemukan adalah petugas yang sedang mengambil sampah. (07/09/2021)”
Pelaku pembunuhan sudah membunuh 8 orang dalam 6 bulan sebelum dia tertangkap dan ditahan. Dia melalui sidang pertamanya 2 hari yang lalu. Dari 8 orang yang dia bunuh, sama sekali tidak menunjukkan persamaan dan ciri-ciri tertentu. Dia membunuh 3 wanita usia 30an, 2 lansia wanita, 1 lansia pria, dan 2 pria usia 30an. Cara membunuhnya pun berbeda-beda. Ada yang dicekik, diracuni, dan ditusuk dengan benda tajam.
Dan Lindsey diminta untuk mencari kejanggalannya.
Waktu demi waktu terus berjalan. Lindsey masih berkutat dengan berkas kasus, membaca setiap tulisan yang ada sampai matanya ingin keluar. Yang dia lakukan hanyalah membaca, membolak-balik kertas dan berpikir keras untuk menemukan kejanggalannya.
“Setelah 13 hari pembunuhan yang terakhir (21/03/2022), kejaksaan masih belum berhasil menemukan pelaku. Dengan alasan kurangnya bukti yang didapatkan sehingga sulit untuk menyelidiki siapa pelakunya. Kami masih memerlukan waktu.”
Setelah membaca halaman itu sampai akhir, Lindsey membaliknya. Setengah hatinya sudah pasrah karena tidak kunjung juga menemukan kejanggalan. Namun setengah hatinya masih ingin berusaha pantang menyerah.
Lindsey kembali membaca halaman berikutnya.
“Kejaksaan telah berhasil menemukan pelaku di kediamannya yang berada di wilayah yang sama dengan terjadinya pembunuhan berantai. (06/04/2022)”
“Apa lebih baik aku menyerah saj—” ucap Lindsey terputus saat tiba-tiba menemukan sesuatu di kepalanya. Lindsey kembali membalik kertas ke halaman sebelumnya.
“13 hari setelah 21 Maret, berarti.. dua puluh dua, dua puluh tiga, dua puluh empat...” Lindsey menghitung tanggal di kalendernya.
“3 April! 13 hari setelah 21 Maret adalah 3 April. Di hari itu Kejaksaan mengeluarkan pernyataan bahwa masih sulit untuk menemukan pelakunya. Lalu pada tanggal 6 April tiba-tiba Kejaksaan sudah menemukan pelakunya. Bagaimana bisa dalam 3 hari langsung menemukan pelakunya? Padahal sejak kasus pertama 6 bulan yang lalu mereka selalu gagal.” ucap Lindsey monolog.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih