
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. jgn lupa kasih like di akhir episode yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻
...****************...
“Ya, ya baiklah. Kalau kamu tidak bisa, aku akan melakukan dengan caraku sendiri.” ucap Jarvis.
“Aku pergi.” ucap Lindsey lalu keluar dari ruangan Jarvis.
Lindsey turun menuruni tangga dan menuju lift, Jarvis mengikutinya dari belakang, memastikan sampai Lindsey benar-benar pergi.
“Berhasil sesuai rencana?” tanya Carlos.
“Ya. Bersiap memantau penerbangan menuju LA, kabari aku kalau mereka memesan tiket ke sana.” ucap Jarvis.
“### Baiklah.” balas Carlos.
...****************...
Rumah Markas.
19.00
“Wah! Tidak kusangka. Jarvis benar-benar gila!” ucap Katie.
“Benar-benar gila! Apa dia tidak tahu betapa lemasnya kita sudah dibuatnya?!” ucap Piter.
“Tapi untung saja Noah belum menjalani pengobatan kemoterapi. Kalian hampir membawanya ke LA untuk menjalani pengobatan di sana.” ucap Luven.
Lindsey telah memberitahu yang sebenarnya terjadi. Jarvis telah menukar hasil tes darah Noah yang berujung membuat Lindsey mengaku. Mereka terperangkap oleh permainan Jarvis dan rencana Jarvis berhasil.
“Kita tetap jadi kembali ke LA. Aku rasa sudah tidak ada lagi urusan kita di sini. Luven, pesan tiket menuju LA untuk 4 orang dewasa dan 1 anak-anak.” ucap Kapten.
“Baiklah.”
“Daddy, kita akan kembali ke rumah kita?” tanya Noah.
“Iya. Noah kan tidak sabar ingin bersekolah.” jawab Kapten.
“YEEEYYYY!!!!! Aku juga ingin bermain di pantai lagi!” seru Noah.
“Iya. Nanti semuanya kembali seperti semula. Noah akan bermain bersama Daddy dan om di pantai.” ucap Kapten.
“Tapi nanti Noah mau menjadi polisi, boleh? Daddy yang menjadi malingnya.” balas Noah.
“Boleh, dong.”
“Kapt, ada penerbangan malam ini jam 9. Dan besok adanya sore. Bagaimana?” ucap Luven.
“Ambil yang malam ini. Lebih cepat lebih baik. Kita harus bersiap sekarang.” balas Kapten.
“Noah, sama aunty Katie dulu, ya.” ucap Kapten.
Noah pun bermain bersama Katie di ruang tengah selagi Kapten, Lindsey, Piter, dan Luven mengemas barang-barang mereka. Hingga Noah pun sudah tertidur pulas di paha Katie saat mereka selesai berkemas dan kembali ke bawah.
“Sudah siap semua? Mainan Noah? Konsol game-mu?” tanya Kapten.
“Sudah.” jawab Piter.
“Kita pergi sekarang?” tanya Luven.
Para laki-laki dewasa itu mengangkut koper ke dalam mobil, sementara Lindsey menggendong Noah yang sedang tertidur. Untungnya Noah tidak terbangun.
“Apa tidak ada yang tertinggal?” tanya Katie.
“Tidak.” jawab mereka serempak.
“Baiklah. Aku tutup bagasinya, ya.” ucap Katie.
Setelah mereka siap memasuki mobil dengan membuka 4 pintu masing-masing. Luven membantu membukakan pintu untuk Lindsey yang sedang menggendong Noah yang tertidur, namun saat Lindsey hampir naik ke dalam mobil, sebuah mobil dengan lampu sen yang terang perlahan mendekati mereka. Semakin mendekat, cahayanya semakin silau.
Dan turunlah Jarvis dari mobil itu. Disusul dengan Carlos. Mereka berjalan mendekati Lindsey dan Noah. Kapten dan Piter segera mendekati Lindsey di pintu sebelah, memasang badan untuk mencegah Jarvis berjalan lebih dekat lagi. Luven yang awalnya sudah berada di dekat Lindsey juga memasang badannya untuk melindungi Lindsey dan Noah.
“Ei, ei, ei. Kenapa?” ucap Jarvis.
“Mau apa kamu ke sini?” tanya Kapten.
“Ingin bertemu anakku. Aku tidak terlambat, ’kan?” jawab Jarvis.
“Kalian semua ingin pergi lagi?” tanya Jarvis kemudian.
“Kami memang tidak ada berniat menetap di sini.” jawab Kapten.
“Jadi, kalian semua ingin pergi lagi, ya... Lindsey, kenapa diam saja? Aku perlu mendengar suaramu terlebih dahulu.” ucap Jarvis.
Lindsey berjalan maju dengan menggendong Noah, berjalan mendekati Jarvis, meski ada 3 laki-laki dewasa yang mencegatnya, dia tetap jalan menerobos.
“Mau gendong?” tanya Lindsey.
Jarvis terdiam, menatap Noah yang sedang tertidur di pelukan Lindsey, lalu menatap mata Lindsey.
“Katamu kamu tidak pernah menyentuh apalagi menggendong Noah. Ini kesempatanmu.” ucap Lindsey kemudian.
Jarvis kemudian mengulurkan tangannya, meminta Noah dari Lindsey. Lindsey pun memindahkan Noah ke tangan Jarvis. Tangan Jarvis berhasil menerima Noah, membawanya ke dalam dekapan. Matanya berkedap-kedip dengan cepat.
“Berat, ’kan? Karena Noah sudah besar.” Lindsey mengambil Noah kembali dari Jarvis.
“Selama berada di sini, Noah selalu bertanya kapan kembali ke rumahnya yang di LA, karena dia ingin berlarian di depan rumah kita yang langsung ke pantai, dia sering merengek ingin bersekolah, selalu menagih janji kita yang akan mencari sekolah bersama.” ucap Lindsey kemudian.
“Karena itu menjadi alasan kalian akan kembali ke LA?” tanya Jarvis.
“Bukan kembali ke LA. Kembali ke kehidupan kita di LA.” jawab Lindsey.
“Kalau begitu kalian akan memisahkan Noah dari ayahnya—ayah kandungnya. Sebagai orangtua bukannya kita harus bekerja sama dalam membesarkan anak kita? Keputusan untuk anak harus disetujui oleh ayah dan ibunya.” balas Jarvis.
“Jangan berlagak seperti seorang ayah untuk Noah. Noah tidak membutuhkanmu.” sahut Piter.
“Harusnya kamu katakan itu pada orang yang di sampingmu (Kapten). Jangan berlagak seperti ayah kandungnya Noah. Karena mulai hari ini, aku, Jarvis Morris, ayah kandung Noah, akan bertanggung jawab atas Noah, merawat dan membesarkannya seperti yang seharusnya dilakukan seorang ayah kepada anaknya.” balas Jarvis.
“Jadi, apa maumu, Jarvis?” tanya Kapten.
“Noah harus tetap berada di sini. Di Jakarta. Dia akan bersekolah di sini. Noah hanya ingin bersekolah, berarti dimanapun tidak masalah.” jawab Jarvis.
“Yang memiliki hak untuk tidak setuju denganku hanya Lindsey, karena dia adalah ibu kandungnya. Bagaimana, Lindsey? Ini lebih baik daripada aku memintamu dan Noah tinggal bersamaku di mansion, ’kan?” ucap Jarvis kemudian.
Dan lagi-lagi Jarvis membuat Kapten tidak dapat berkutik. Rencana yang dipersiapkannya tidak ada dalam perkiraan Kapten. Atau karena Kapten tidak membuat perkiraan dan terlalu fokus kepada keinginannya sendiri? Dan sekarang keputusannya ada di tanganku. batin Lindsey.
“Baiklah. Namun dengan satu syarat.” ucap Lindsey.
“Yeah, katakan.” balas Jarvis.
“Aku yang akan mencari sekolahnya sendiri dan jangan pernah kamu mengenalkan dirimu sebagai ayah kandung Noah sebelum dia bisa mengerti.” ucap Lindsey.
“Hm, itu dua, Lindsey. Tapi aku setuju.” balas Jarvis.
“Untuk apalagi masih berada di sini? Pergilah.” Piter mengusir Jarvis dan Carlos.
“Eits, aku harus memastikan dulu kalau kalian tidak jadi pergi.” ucap Jarvis.
“Dasar b*j*ng*n merepotkan!” umpat Piter. Dia bersama Kapten, dan Luven mengeluarkan kembali koper yang sudah tersusun rapi di bagasi mobil Katie.
Lindsey kembali masuk ke dalam rumah, disusul dengan yang lainnya.
Carlos mengulurkan tangannya dan ditepuk oleh Jarvis, menandakan keberhasilan mereka. Mereka pun kembali ke dalam mobil dan melaju pergi.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih