Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Mayat di Kamar Jarvis


Lindsey melihat kedua tangan Jarvis yang sudah diborgol.


“Lindsey, bantu aku. Statusku dari saksi naik menjadi tersangka.” ucap Jarvis.


“Kamu sudah diperiksa sebagai saksi?” tanya Lindsey.


“Sudah. Tapi pertanyaan mereka seperti menyudutkan aku. Kamu lihat ini? Aku sudah diperlakukan seperti pembunuh.” jawab Jarvis sambil memperlihatkan borgolnya.


“Tidak mungkin.” ucap Lindsey.


“Lindsey, aku bersedia mengikuti serangkaian proses hukum. Tapi aku tidak bisa ditahan, Lindsey. Persidangan tanpa penahanan, bisa kan?” ucap Jarvis.


“Tentu saja bisa. Tapi kenapa? Apa alasanmu tidak bisa ditahan?” tanya Lindsey.


“Aku bisa kehilangan kepercayaan klienku, rekan bisnisku, pelangganku.” jawab Jarvis.


“Bantu aku, Lindsey..” Jarvis menggenggam tangan Lindsey.


“Baiklah. Kamu tidak mengenal siapa mayat itu?” tanya Lindsey.


“Tidak, Lindsey. Aku saja tidak tahu kenapa ada mayat di dalam kamarku.” jawab Jarvis.


“Mayat itu sedang diautopsi, kan?” tanya Lindsey.


“Seharusnya begitu.” jawab Jarvis.


“Setidaknya kita harus menunggu hasil autopsi keluar dulu.” balas Lindsey.


“Berapa lama?” tanya Jarvis.


“Entahlah. Mungkin satu sampai dua jam.” jawab Lindsey.


“Argh.. Itu terlalu lama.” ucap Jarvis.


“Apa kepolisian sudah menemukan barang bukti? Seperti alat yang digunakan untuk membunuh, atau CCTV? Pisau di dapur? Atau apa gitu?” tanya Lindsey.


“Tidak. Aku tidak tahu.” Jarvis menggelengkan kepalanya. Jarvis menutup sejenak wajahnya dengan kedua tangannya yang sudah diborgol. Lindsey bisa merasakan kepeningan di kepala Jarvis.


“Hotel Grand Mansion tidak memasang CCTV di lantai kamar pelanggan VVIP. Dan aku juga tidak pernah masak di dapur apalagi menyentuh pisau.” ucap Jarvis kemudian.


“Kalau begitu mustahil jika kepolisian menemukan bukti CCTV dan sidik jari di pisau dapur. Mereka tidak bisa menahanmu kalau tidak ada bukti.” balas Lindsey.


“Tapi kan aku dijebak. Yang menjebakku pasti sudah menyiapkan segalanya. Buktinya sekarang statusku berubah menjadi tersangka dalam sekejap.” ucap Jarvis.


“Tenang, Jarvis. Tenang dulu. Tenang.” ucap Lindsey.


“Lin—hey, bagaimana aku bisa tenang? Aku akan dijadikan pembunuh sebentar lagi. Aku harus keluar secepatnya. Aku tidak bisa ditahan, Lindsey.” balas Jarvis


“Kata siapa?” tanya Lindsey.


“Kata aku.” jawab Jarvis.


“Itu tidak benar.” balas Lindsey.


“Kamu tidak bisa membaca situasi sekarang ini?” tanya Jarvis.


“Itu tidak benar. Karena aku tidak akan membiarkan kamu menjadi pembunuh. Kamu akan ikut pulang bersamaku malam ini.” jawab Lindsey.


Jarvis tercengang. Setelah apa yang dikatakan Lindsey membuat bertanya-tanya. Karena Lindsey bagaikan wanita misterius yang datang ke dalam hidupnya. Jarvis teringat beberapa jam yang lalu, saat Jarvis datang bekerja di JM Buildings seperti biasa, Jarvis memberi perintah khusus kepada Carlos untuk mencari seberapa besar tingkat kemenangan Lindsey. Namun Carlos tidak berhasil menemukannya. Malah ada satu penemuan yang mengejutkan.


Flashback on.


“Apa? Tidak ada data kasus yang pernah ditangani Lindsey?” tanya Jarvis.


“Iya. Tidak ada data sama sekali tentang Lindsey. Dan kamu tahu, hari dimana kita bertemu Lindsey di depan gedung GDP, ternyata itu adalah hari dimana Lindsey melakukan interview perekrutan di GDP.” jawab Carlos.


“Hah? Mana mungkin? Jelas-jelas dia membantu Katie di kantor polisi waktu itu? Dia pasti sudah jauh lebih lama dari itu menjadi pengacara.” ucap Jarvis.


“Aku juga bingung. Kenapa tidak ada satupun data mengenai Lindsey..” balas Carlos.


“Misterius sekali. Dari pengganti shift di klub, ternyata dia seorang pengacara. Di firma hukum besar pula.” ucap Jarvis.


“Atau mungkin Lindsey adalah pengacara senior? Pengacara kesayangan firma itu? Makanya datanya sangat dijaga ketat.” lanjut Jarvis.


“Bisa jadi. Dan karena pengacara senior, koneksinya luas, sampai polisi waktu itu langsung menghentikan masalah Katie ketika Lindsey berbicara dengannya. Wah... Lindsey memang menakjubkan. Sudah kelihatan dari wajahnya. Terlebih, dia tidak memamerkan itu. Itulah alasan mengapa aku menyukainya.” balas Carlos.


“Hey, Carlos. Lindsey pasti bisa membantu kita jika kita terkena masalah hukum, kan?” tanya Jarvis.


Flashback off.


“Lindsey, berapa besar tingkat kemenanganmu?” tanya Jarvis.


“98%? 99%? Sebagian orang mengatakan aku pantas mendapatkan lebih dari 100%.” jawab Lindsey.


Mantap sekali. batin Jarvis.


“Aku baru tahu kekasihku orang yang bisa pamer.” ucap Jarvis.


“Menurutmu aku sedang pamer?” tanya Lindsey.


“Memangnya bukan?”


“Oh, ya, kita lihat saja.”


“Terima kasih.” ucap Jarvis.


Lindsey mengernyitkan dahinya. “Untuk apa?”


“Karena kamu berada di sini. Dan menemaniku. Hmm, dan menghiburku juga.” ucap Jarvis.


“Sekarang jujur padaku. Kamu tidak membunuhnya, kan?” tanya Lindsey.


“Kamu tidak percaya denganku? Di hotel kamu bilang kamu memercayaiku.” jawab Jarvis.


“Di hotel itu aku sebagai Lindsey. Sekarang aku sebagai pengacara. Dan pengacara harus bersikap skeptis.” balas Lindsey.


“Tidak. Aku tidak membunuhnya.” ucap Jarvis.


Brak! Carlos membuka pintu ruangan dengan kasar. “Lindsey, Jarvis, hasil autopsi sudah keluar!” ucap Carlos.


Lindsey dan Carlos keluar bersama. Sementara Jarvis masih di dalam. Tidak lama kemudian, Lindsey, Carlos dan seorang polisi masuk ke dalam menghampiri Jarvis. Polisi itu melepas borgol yang mengunci kedua pergelangan tangan Jarvis. Sedangkan Lindsey, bersandar pada dinding ruangan sambil melipat tangannya di depan dan memegang beberapa lembar kertas.


“Lindsey menolak berbicara jika kamu diborgol. Dia juga mengancam akan mengacak-acak seluruh isi kantor polisi.” bisik Carlos di telinga Jarvis.


Wah..


“Lindsey juga meminta aku membawakan rekaman CCTV JM Buildings di lantai paling atas.” bisik Carlos.


“Turuti saja.” balas Jarvis.


Polisi itu keluar dan penyidik masuk ke dalam. Penyidik duduk di kursi dan berhadapan dengan Jarvis, sedangkan Lindsey duduk di samping Jarvis.


“Bisa kita mulai?” tanya penyidik itu.


Carlos pun keluar dari ruangan dan menutup rapat ruangan itu dari luar.


Matilah. Apa yang harus aku lakukan sekarang? batin Lindsey.


Lindsey menatap Jarvis lalu menganggukkan kepalanya. Memberi kode bahwa semuanya bisa teratasi dan akan baik-baik saja.


“Saya penyidik dari kejaksaan wilayah XXXX. Saya menerima berkas laporan adanya pembunuhan di hotel Grand Mansion.” ucap penyidik.


Cepat sekali kasus ini sampai ke penyidik. Dari yang aku baca di buku, seharusnya masih dilakukan penyelidikan. batin Lindsey.


Lindsey mengeluarkan kartu tanda pengenalnya di GDP, menaruhnya di atas meja dengan sengaja agar penyidik itu tahu bahwa dia berasal dari firma hukum besar.


“Ini hasil autopsi korban.” Lindsey menyerahkan lembaran kertas yang berada di tangannya.


“Baiklah. Apa anda mengenal orang ini?” Penyidik menyodorkan selembar foto wanita di atas meja.


Loh? Ini kan wanita yang menyekapku di gudang! batin Lindsey.


“Tidak.” jawab Jarvis.


“Wanita di foto ini adalah korban pembunuhan di kamar hotel anda. Apa anda pernah melihat wajahnya sebelumnya?” tanya penyidik.


Jadi, mayat itu adalah wanita itu? Yang mengaku sebagai wanita Jarvis? batin Lindsey.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih