
Setelah mobil Katie sudah meninggalkan lobi, Lindsey masuk ke dalam dan menaiki lift menuju lantai kamar hotel 3205 tempat Jarvis berada. Ketika lift yang ditumpangi Lindsey sampai di tujuan, Lindsey keluar dari lift dan berpapasan dengan Jarvis yang juga keluar dari lift di sebelahnya.
“Hey, jodoh sekali.” ucap Jarvis lalu mencium bibir Lindsey.
“Habis minum?” tanya Jarvis kemudian setelah merasakan rasa alkohol di bibir Lindsey.
“Sedikit.” jawab Lindsey lalu kembali mencium bibir Jarvis.
“Lindsey, kita masih di depan lift..” ucap Jarvis.
“Aku tidak peduli.” balas Lindsey lalu memperkuat ciumannya.
Jarvis membawa Lindsey ke dalam kamarnya. Mereka melucuti pakaian masing-masing dan memadu kasih di sofa karena saking tidak sabarannya. Lindsey membuka ikat pinggang beserta resleting celana Jarvis dan mendorongnya hingga Jarvis jatuh terduduk di sofa lalu duduk di atasnya. Senyum sumringah terlukis di wajah Jarvis. Jarvis menyukai ini.
“Apa kamu tidak mencium sesuatu?” tanya Jarvis saat Lindsey hendak menghubungkan kedua tubuh mereka.
“Bau apa?”
“Bau amis. Seperti bau amis darah. Kamu sedang tidak menstruasi, kan?”
“Tidak. Aku hanya mencium aroma tubuhmu.” jawab Lindsey lalu mencium bibir Jarvis setelah mereka berhasil terhubung.
“Aarghh.. aahh.. Lindsey.. teruskan.. ini enak sekali.. aarghh.. akhh..” Jarvis mengerang kenikmatan. Sesekali dia mengecup bibir Lindsey, turun ke leher, turun lagi ke kedua PD Lindsey yang tepat berada di depannya.
Hingga Jarvis hampir mencapai klimaksnya, Lindsey segera bangkit berdiri dan menyaksikan cairan milik Jarvis berwarna putih kental keluar bercucuran. Nafas keduanya masih tidak teratur. Tubuh keduanya juga lemas. Lindsey berbaring di sofa.
“Tidak ke kamar?” tanya Jarvis seraya membelai rambut Lindsey.
“Aku mau di sofa saja.” jawab Lindsey.
“Baiklah sebentar aku ambilkan selimut.” balas Jarvis. Jarvis kemudian bangkit dan memakai celananya lalu ke kamar untuk mengambil selimut.
Jarvis jatuh terduduk di lantai begitu membuka pintu kamar. Suara jatuh Jarvis membuat Lindsey bangun dari tidurnya dan berdiri memakai pakaiannya.
“Kenapa Jarvis? Kamu terpeleset? Ada air bocor?” tanya Lindsey.
“Lin.. Lindsey.. i-itu..” Jarvis bangkit berdiri dan berjalan ke arah Lindsey dengan tubuh yang gemetar.
“Ada apa?” Lindsey menghampiri kamar Jarvis yang sudah terbuka lebar.
“Haaa...” Lindsey terkejut hingga menutup mulutnya.
“Ada mayat?!” ucap Lindsey.
Terdapat mayat seorang wanita yang tergeletak di lantai dengan mata yang terbuka, wajahnya sudah penuh dengan darah hingga darah berceceran di lantai kamar Jarvis. Jelas saja itu membuat Jarvis dan Lindsey syok. Pantas saja Jarvis tadi sempat bertanya apakah Lindsey mencium bau seperti amis darah atau tidak. Jarvis menciumnya, namun Lindsey tidak.
“Lindsey, aku dijebak, Lindsey! Ini tidak benar!” ucap Jarvis.
“Iya, tapi siapa yang menjebakmu? Kamu sedang ada konflik dengan seseorang? Rekan bisnismu?” tanya Lindsey.
“Aku tidak tahu. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” balas Jarvis.
“Kamu kenal dengan wanita itu?” tanya Lindsey.
“Tidak, Lindsey. Aku tidak tahu dia siapa. Lindsey, kamu membawa kartu akses kamarku?” balas Jarvis.
“Bawa. Ada di tas.” jawab Lindsey.
“Berikan padaku.” ucap Jarvis. Jarvis segera mengambil tas Lindsey dan membukanya. Dia tertawa kecil begitu melihat ada beberapa bungkus k*nd*m di dalam tas Lindsey. “Ini bukan seperti yang kamu pikirkan.” ucap Lindsey lalu merebut tasnya dari tangan Jarvis.
Lindsey menyerahkan kartu akses kamar 3205 yang pernah Jarvis berikan padanya. “Ini. Tapi untuk apa?”
“Lindsey, dengarkan aku. Sekarang kamu pulang ke rumahmu, anggap saja kamu tidak datang ke sini hari ini—bukan. Anggap saja kamu tidak pernah datang ke sini.” ucap Jarvis.
“Apa maksudmu? Apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan membuang mayat itu?” tanya Lindsey.
“Aku akan menelepon pihak hotel dan biar mereka yang mengurusnya. Yang penting, kamu pulang dulu. Aku tidak ingin melibatkanmu. Pulanglah dengan taksi.” jawab Jarvis.
Lindsey mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu. Jarvis mengantarnya hingga ke pintu.
Jarvis kemudian mendekatkan diri dan mencium bibir Lindsey dengan teramat dalam.
“Terima kasih. Pulanglah.” ucap Jarvis kemudian membuka pintu dan mengeluarkan Lindsey lalu menutup kembali pintunya.
Sesuai perintah Jarvis, Lindsey pulang ke rumah markas dengan taksi. Meski sekujur tubuhnya lemas karena habis melihat mayat yang berlumuran darah, pikirannya pun kemana-mana, Lindsey tetap berusaha menguatkan diri, dan percaya sepenuhnya kepada Jarvis.
Sesampainya di rumah markas, Lindsey bergegas memberi tahu kepada gengnya dengan apa yang baru saja dia lihat di kamar Jarvis. Sesuai dugaan, anak gengnya terkejut.
“Apa kamu tidak tahu siapa dia?” tanya Katie.
“Aku tidak mendekati mayat itu. Lagipula wajahnya sudah penuh dengan darah.” jawab Lindsey.
“Sekarang Jarvis bagaimana? Dia pasti menjadi tersangka utama, kan?” tanya Piter.
“Aku juga tidak tahu. Dia menyuruhku pulang.” jawab Lindsey.
“Jarvis tidak ingin melibatkanmu. Karena apa? Karena dia ingin kamu menjadi pengacaranya. Kamu tidak bisa menjadi pengacaranya kalau kamu berada di TKP.” sahut Kapten.
“Pintar sekali dia.” ucap Piter.
“Apa yang harus aku lakukan, Kapt? Aku bahkan—” ucap Lindsey terpotong.
“Ssttt... Kamu sekarang adalah pengacara, Lindsey. Mana sikap percaya dirimu ketika saat wawancara perekrutan di GDP?” tanya Kapten.
“Kamu hanya harus membuktikan kalau klienmu tidak bersalah. Dan caranya adalah, kamu harus menemukan bukti pembunuh yang sebenarnya.” ucap Kapten kemudian.
“Sebentar lagi Jarvis atau Carlos akan menemuimu. Bersiaplah.” tambah Kapten.
Triririring... Ponsel Lindsey berdering. Tepat dengan ucapan Kapten, Carlos menghubunginya.
“Lindsey, bisakah aku meminta bantuanmu? Datanglah ke kantor polisi wilayah XXX.” ucap Carlos ditelepon.
“Aku harus ke kantor polisi sekarang. Oh, ya. Bisakah aku meminta bantuan kalian? Buatkan laporan mengenai persidangan yang aku hadiri. Ini catatannya, dikumpul besok. Aku tidak sempat. Terima kasih!” ucap Lindsey seraya memberikan buku catatannya dan pergi ke kantor polisi.
“Masih ingat tugas juga si Lindsey..” ucap Piter.
“Kalian berdua saya yang buat ya. Aku mengantuk.” sahut Katie.
“Hey, kamu kan pernah kuliah di bidang hukum. Bantuin lah?!” balas Piter.
...****************...
Setelah kepergian Lindsey, Jarvis menelepon pihak hotel dan melaporkan bahwa ada mayat di kamarnya. Pihak hotel pun datang dengan memanggil pihak kepolisian yang berwenang mengurusi masalah ini. Jarvis pun diminta ikut ke kantor polisi untuk memberi kesaksian. Karena mayat itu ditemukan tidak bernyawa dengan berlumuran darah di kamar Jarvis.
Jarvis pun menghubungi Carlos dan meminta dipanggilkan seorang pengacara. Nama Lindsey terbesit di dalam kepala Carlos, sebab itulah dia menelepon Lindsey. Benar dugaan Kapten, Jarvis belum bekerjasama dengan firma manapun dan di saat Jarvis membutuhkan bantuan di bidang hukum, dia akan memanggil Lindsey.
“Lindsey! Sebelah sini!” ucap Carlos sesampainya Lindsey di kantor polisi. Carlos membiarkan Lindsey dan Jarvis berbicara berdua di suatu ruangan.
Lindsey melihat kedua tangan Jarvis yang sudah diborgol.
“Lindsey, bantu aku. Statusku dari saksi naik menjadi tersangka.” ucap Jarvis.
“Kamu sudah diperiksa sebagai saksi?” tanya Lindsey.
“Sudah. Tapi pertanyaan mereka seperti menyudutkan aku. Kamu lihat ini? Aku sudah diperlakukan seperti pembunuh.” jawab Jarvis sambil memperlihatkan borgolnya.
“Tidak mungkin.” ucap Lindsey.
“Lindsey, aku bersedia mengikuti serangkaian proses hukum. Tapi aku tidak bisa ditahan, Lindsey. Persidangan tanpa penahanan, bisa kan?” ucap Jarvis.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih