
Kapten mengeluarkan sekiranya 20 lembar uang kertas berwarna merah. “Anda masih ingat bentuk cincinnya, kan? Harganya mencapai milyaran rupiah. Dan ini memang tidak seberapa dengan harga cincinnya, tapi saya akan langsung membawa kekasih saya pulang begitu cincinnya sudah ditemukan.” ucap Kapten.
“Hmm.. begini, pak.. sebenarnya ada CCTV di lantai VVIP. Kami diam-diam memasangnya untuk keamanan. Bagaimana kalau kita cek CCTV-nya saja?” Kapten berhasil menyogok staf hotel tersebut.
Kapten dan Lindsey saling bertatapan. CCTV itu memang ada dan menyala. Hotel diam-diam sengaja memasangnya. Tapi Jarvis mengaku ke Lindsey bahwa tidak ada CCTV di lantai VVIP. Kecurigaan Lindsey dan gengnya semakin kuat.
“Let's go, guys! Langsung ke ruang keamanan.” Piter memberi perintah melalui earbuds.
Staf hotel itu pun mengangguk dan mengantongi sejumlah uang yang diberikan Kapten. Rencana mereka berhasil sampai tahap memasuki ruang keamanan di hotel Grand Mansion.
Usai menyuap staf hotel, keduanya berhasil dan staf hotel pun menyerah dan menggiring mereka ke ruangan keamanan. Di sana, staf hotel dan staf keamanan menunjukkan rekaman CCTV dari lorong sebagai gantinya. Lindsey dan Kapten pun mengamati CCTV di lorong yang memperlihatkan kamar Jarvis.
Kamar Jarvis pun terlihat dengan jelas. Di rekaman CCTV itu juga memperlihatkan saat Lindsey dan Kapten tadi berjalan ke kamar 3208 yang melewati kamar Jarvis 3205. Yang itu artinya, siapa yang keluar-masuk dari kamar Jarvis pun kelihatan. Cukup bagi mereka untuk menggunakan bukti CCTV ini sebagai cara untuk mencari tahu siapa yang masuk dan keluar dari ruangan itu.
“Oh, baby! Sepertinya aku benar-benar lupa dimana meletakkan cincin itu! Bagaimana kalau besok setelah aku ingat dimana cincinnya, kita kesini lagi?” Lindsey berakting.
“Hmm, maaf.. Tapi rekaman CCTV akan dikirimkan ke perusahaan CCTV ini perharinya. Jadi kami tidak memiliki rekamannya lagi kalau sudah dikirim.” ucap staf hotel.
Lindsey dan Kapten saling menatap saat mengetahui keberadaan rekaman CCTV yang ternyata sudah dikirimkan ke perusahaan CCTV tersebut. Pantas saja Piter sudah berusaha meretasnya sejak siang tadi namun hasilnya adalah rekaman tidak tersedia.
“Oh, iya! Aku ingat sekarang. Aku memasukkan my ring ke dalam tas imutku ini karena ingin mencuci tangan tadi.” sahut Lindsey lalu mengeluarkan cincin dari dalam tas imutnya yang ukurannya hanya sebesar telapak tangan dan melingkarkannya di jari manis. Mata staf hotel itu kembali berbinar begitu melihat cincin tersebut. Dia pun merasa lega karena cincin sudah ditemukan.
“Akhirnya sudah ketemu..” ucap staf hotel.
“Kita pulang saja, yuk!” ucap Lindsey kemudian lalu menggandeng lengan Kapten.
Lindsey keluar dari ruangan keamanan dengan girangnya begitu menemukan cincin yang sangat berharga katanya itu.
“Terima kasih, ya.” ucap Kapten kepada staf hotel dan menyusul Lindsey keluar.
Lindsey dan Kapten berjalan turun ke bawah untuk keluar dari hotel. Di depan staf hotel, Kapten dan Lindsey berakting layaknya pasangan mesra.
“Piter, rekaman CCTV di Grand Mansion ternyata sudah dikirimkan ke perusahaan CCTV tersebut.” ucap Lindsey dengan earbuds setelah keduanya berpisah dengan staf hotel. Lindsey dan Kapten berjalan menuju pintu keluar hotel.
“Oke! Sebentar aku cari perusahaan CCTV itu dulu..” ucap Piter.
“Kalian dimana?! Jarvis dan Carlos ternyata menuju ke hotel dari 30 menit yang lalu! Aku baru mengecek di kantornya, mereka sudah tidak ada!” sahut Katie melalui earbuds.
Peran Katie memanglah menangani Jarvis dan Carlos. Katie melempar umpan kepada dua laki-laki itu dengan memberi pesan bahwa Lindsey mengajak makan malam berempat. Katie sengaja menyebutkan nama Lindsey agar kedua laki-laki itu setuju. Dan jika sudah setuju, mereka akan ke restoran yang sebenarnya Lindsey tidak akan datang.
Karena kedua laki-laki itu tidak tahu kalau Lindsey tidak akan datang, melainkan mereka akan menunggu kedatangan Lindsey hingga restoran tutup. Itulah rencana Katie. Namun semuanya berantakan saat Katie tidak menemukan Jarvis dan Carlos di ruangannya. Dan menurut karyawan yang melihat, Jarvis dan Carlos pergi ke hotel karena Jarvis ingin mengambil beberapa pakaiannya. Dan juga ingin mengganti pakaiannya begitu tahu akan makan malam bersama wanita spesial.
Lindsey langsung menarik tangan Kapten dan berbalik badan begitu melihat mobil Jarvis tiba di depan hotel. Matanya seperti dapat mendeteksi keberadaan Jarvis. Lindsey menarik tangan Kapten dan membawanya ke lift agar setidaknya mereka tidak bertemu Jarvis. Dia bahkan tidak sempat berpikir harus bersembunyi dimana selain di dalam lift.
Namun nasibnya berkata lain. Lift tersebut lama sekali sampainya meski Lindsey telah menekannya puluhan kali. Tidak hanya satu lift, Lindsey bahkan menekan tombol naik di 4 lift yang tersedia di sana. Sementara langkah kaki Jarvis semakin dekat menuju lift. Hingga dirasa tidak ada pilihan lain, gantian Kapten lah yang menarik tangan Lindsey dan membawanya ke pojok dinding.
Kapten memojokkan tubuh Lindsey hingga buntu menyentuh dinding lalu sedikit memiringkan kepalanya agar mereka terlihat seperti pasangan yang sedang bermain di pojokan. Sedangkan tubuh Lindsey mungil bersembunyi di tubuh Kapten dan mengalungkan kedua tangannya di tengkuk Kapten. Hingga Jarvis tiba di depan lift, semakin dekat dengan jarak mereka, Kapten merangkum wajah Lindsey dan mempertemukan kedua bibir mereka.
Lindsey memejamkan matanya saat Kapten menguluum bibir Lindsey. Kapten memberi hisapan kecil di bibir Lindsey dan Lindsey membalasnya agar membuat akting mereka terlihat nyata seperti pasangan yang sedang dimabuk asmara dan dirasuki nafsu.
****. Pasangan gila dan tidak sabaran. Padahal sebentar lagi sampai ke kamar. Kenapa aku harus melihat pemandangan seperti ini? Aku jadi kangen Lindsey.. batin Jarvis.
Jarvis mengeluarkan ponsel dari saku jas yang dia kenakan dan mengirimkan sebuah pesan yang ditujukan untuk Lindsey.
Jarvis.
Aku agak telat sedikit.
Jarvis.
Kamu tidak perlu dandan terlalu cantik.
Jarvis.
Ada Carlos. Aku tidak ingin dia melihat dirimu yang cantik.
“Mmh.. ah, baby!” Sebuah desahaan lolos dari mulut Lindsey begitu Kapten melepas bibirnya. Kapten segera menempelkan kedua bibir mereka kembali Jarvis sontak langsung melihat ke arah mereka yang sedang di pojokan begitu mendengar suara halus yang tidak asing di telinganya.
Mengapa terdengar seperti ******* Lindsey? Dari postur tubuh, tinggi badannya... Mirip sekali dengan tubuh Lindsey.. batin Jarvis.
Ibu jarinya tidak sengaja menekan tombol telepon untuk menelepon Lindsey.
Ya, ya, aku bisa mengerti. Laki-laki itu sama seperti aku jika bertemu Lindsey. Namun bedanya, aku masih tahu tempat. Eh, astaga! Aku kepencet telepon! batin Jarvis. Jarvis hendak membatalkan panggilannya dengan Lindsey begitu menyadari dia tidak sengaja menekan tombol untuk menelepon.
Ponsel Lindsey berdering di dalam tasnya. Lindsey menyadarinya, Kapten pun juga mendengarnya. Aktivitas mereka sempat berhenti sejenak.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih