
“Apa kamu memiliki markas? Seperti di film-film?” tanya Lindsey kemudian.
“Iya. Ada.” jawab Jarvis.
“Bawa aku ke sana.”
“Aku tidak bisa asal percaya lagi denganmu.” ucap Lindsey.
“Iya, nanti aku antar, ya.” balas Jarvis.
“Sekarang.”
“Aku mau ke sana sekarang.” ucap Lindsey.
“Tapi ini sudah jam 4 pagi.” balas Jarvis.
“Atau berikan saja alamatnya padaku.” ucap Lindsey.
“Baiklah. Aku antar sekarang.” balas Jarvis.
Sebelum mengantarkan Lindsey ke markasnya, Jarvis memakaikan baju tebal untuknya mengingat suhu di jam subuh lebih rendah dari suhu normal. Perlakuan sederhana seperti itulah yang justru terasa di hati. Benar kata Jarvis, jika dia telah dibutakan oleh nafsu, tidak akan mungkin dia memberi perlakuan-perlakuan sederhana yang mampu melelehkan hati seorang wanita.
Tiba-tiba, Lindsey mengirimkan sebuah pesan ke grup gengnya.
Lindsey.
Lacak ponselku dan simpan rekam jejakku.
Hanya sebuah kalimat yang membuat anak gengnya pada bingung. Terlebih semuanya sudah terlelap kecuali Piter. Piter sampai membangunkan Kapten dan Katie.
Entah kemana Jarvis akan membawanya, Lindsey hanya duduk manis di dalam mobil. Pandangannya mengarah ke luar, menatapi jalanan yang masih tampak sepi. Sesekali ia melihat ke depan untuk melihat arah jalan yang diambil Jarvis.
Entah dimana keberadaan markas itu, Lindsey pun masih menerka-nerka sepanjang perjalanan. Namun satu hal yang pasti, markas itu berada jauh dari kota. Karena mobil yang dikendarai Jarvis beberapa kali memasuki tol. Dan pemandangan di jalanan pun berubah, tidak lagi penuh dengan gedung-gedung pencakar langit, melainkan tebing-tebing tinggi, laut, hamparan bunga dan padang rumput yang sangat luas.
Tibalah Lindsey di sebuah tempat yang sepi, tidak ada tanda-tanda napas kehidupan di sana sejak Lindsey memasuki wilayah itu. Jarvis menghentikan mobilnya di halaman lalu menuntun Lindsey ke tempat yang dia sebut sebagai markasnya. Markasnya seperti gudang besar yang telah kosong, suasana di gudang itu pun gelap dan sunyi.
Jarvis melepas tangan Lindsey, tepat setelah mereka berjalan memasuki gudang hingga sampai di tengah. Kemudian Jarvis lanjut berjalan, mengambil dan mengumpulkan beberapa balok kayu yang sudah ada di gudang lalu menata balok kayu tersebut dengan tidak beraturan. Jarvis lalu mengambil 1 kotak korek api di atas sebuah drum kaleng kemudian mengorek beberapa batang dan melemparkan batang yang sudah terdapat api menyala di atas kayu yang sudah ditata olehnya.
Suasana di dalam markas tidak lagi gelap. Api unggun yang dibuat Jarvis berhasil memberi pencahayaan dan kehangatan secara alami. Meskipun tidak seterang dengan adanya lampu, namun seperti ini jauh lebih baik. Setidaknya mereka bisa saling melihat wajah satu sama lain.
Jarvis berbalik badan ke arah tumpukan barang yang ditutup asal oleh karung. Lindsey sendiri juga tidak tahu ada apa di balik karung tersebut karena dia masih diam di tengah gudang. Terlihat Jarvis mengeluarkan sesuatu dari sana. Dan begitu Jarvis kembali berbalik badan, di genggamannya sudah terdapat sebatang emas yang warnanya begitu berkilau dan mencolok.
Jarvis berjalan mendekati titik dimana Lindsey berdiri.
“Aku tahu kamu bukan orang yang akan menerima barang semacam ini, tapi bisakah kamu tinggal menerima ini dan tutup mata atas apa yang sudah aku dan Carlos lakukan?
Aku berjanji ke depannya kita akan lebih hati-hati dan tidak akan ketahuan olehmu.” ucap Jarvis seraya memberikan sebuah emas batang dengan berat 1000 g.
Jelas Lindsey menerima sebatang emas yang beratnya setara dengan 1 kg itu. Kemudian Lindsey membuangnya ke lantai hingga menghasilkan suara yang cukup keras dan bergema.
“Kamu tahu aku tidak akan menerima ini. Jadi, jangan berani-beraninya kamu menyogokku dan menyuruhku untuk tutup mata.” balas Lindsey.
Jarvis menarik napas panjang. “Di bawah kakimu terdapat sebanyak 3000 emas batang yang kamu buang ke lantai. Setara dengan 3 ton. Jika diuangkan, jumlahnya ditafsir mencapai 200 juta dolar amerika.” ucap Jarvis.
Lindsey melihat ke kakinya begitu Jarvis berkata ada 3 ton emas batang di bawah kakinya.
Gotcha! Aku mendapatkannya!
Yang aku dan gengku cari selama ini keberadaannya...
Berpikir keras dimana sisa harta yang dimiliki Jarvis...
Dengan mudahnya aku dapatkan.
Hanya bersikap seolah aku akan meninggalkan laki-laki ini...
Namun laki-laki ini telah masuk ke dalam perangkapku.
Dengan mudahnya dia mengatakannya.
“Aku bisa memberikanmu setengahnya jika kamu mau.” ucap Jarvis kemudian.
“Kenapa hanya setengah?” tanya Lindsey.
“Aku bisa memberikan seluruhnya, jika kamu mau. Tapi aku tahu, kamu tidak akan menerimanya. Kamu lebih memilih aku dibanding 3000 emas batang itu.” jawab Jarvis.
Merasa jawaban Jarvis tidak benar, Lindsey mengerutkan dahinya.
“Kata siapa?” tanya Lindsey.
“Aku akan memberikan semuanya padamu. Tapi, percayalah... Memiliki 3 ton emas tidak membuatmu bahagia. Aku sudah mengalaminya.” jawab Jarvis.
“Memilikimu lah yang membuatku bahagia.” lanjut Jarvis.
“Aku tidak takut kehilangan 3 ton emas itu, JM Buildings, aset propertiku, semuanya. Tidak masalah bagiku...”
“...namun ketahuilah, aku hanya takut kehilanganmu...”
“...aku tidak takut semuanya itu pergi dariku...”
“... asal bukan kamu yang pergi dariku.”
/
Apakah Jarvis sedang menyatakan perasaannya padaku?
Tapi dari perkataan Jarvis barusan...
Apakah itu sungguhan?
Apakah tidak apa-apa jika aku mengambil semua emasnya itu?
Mari kita tes terlebih dahulu.
Pertama-tama, kita harus memastikan bahwa emas 3 ton itu benar ada atau tidak.
“Kalau begitu, berikanlah. Berikan semua emasmu padaku.” balas Lindsey.
“Apakah tidak ada ketulusan cinta darimu padaku, Lindsey?” tanya Jarvis.
“Hm?”
“Barusan aku mengetesmu. Apakah kamu tulus mencintaiku atau tidak.” ucap Jarvis.
Ck. Bagaimana bisa dia mengatakan itu tadi dengan serius? batin Lindsey.
Hampir saja aku percaya.
“Aku juga sedang mengetesmu. Apakah perkataanmu bisa dipercaya atau tidak. Ternyata kamu hanya asal bicara saja. Apa jangan-jangan... di bawah sini tidak ada emas 1 batang pun?” balas Lindsey seraya menghentakkan kaki.
Jarvis menarik tangan Lindsey dan membawanya berjalan lurus menuju ke ujung gudang. Dinding di ujung gudang dilapisi oleh sebuah spanduk berwarna hitam kosong. Jarvis mengangkat bagian bawah spanduk itu dan ternyata ada sebuah pintu. Pintu yang baru bisa dibuka dengan sensor retina mata Jarvis. Setelah pintu berhasil dibuka, Jarvis mengarahkan Lindsey untuk masuk ke dalam.
Yang ternyata ada ruangan yang begitu gelap, tanpa ada pencahayaan sedikitpun dari jendela ataupun ventilasi lainnya. Jarvis menyalakan senter di ponselnya dan dengan sigap memegang lengan Lindsey yang kala itu hampir nyusruk nyungsep ke bawah. Karena tepat setelah masuk, mereka berada di sebuah tangga. Begitu senter di ponsel Jarvis menyala, terkejutlah Lindsey begitu melihat pemandangan yang ada tepat di depannya.
Tumpukan emas yang tersusun rapi, tinggi dan juga lebar. Warna emas yang berkilauan seolah memanggil-manggil dirinya, meminta Lindsey untuk menghampiri tumpukan emas itu. Lindsey akhirnya berjalan menuruni tangga satu persatu dengan hati-hati dan menghampiri tumpukan emas.
Hey, salam kenal. Aku adalah calon majikanmu sebentar lagi. ucap Lindsey di dalam hati seolah menyapa para emas itu.
Lindsey mendaratkan jarinya di atas emas yang sedang tiduran berjajar rapi.
“Ada, kan, emasnya? Untuk apa aku membohongimu, Lindsey.” ucap Jarvis.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih