Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Ke Dokter


Mereka kembali ke kesibukannya masing-masing. Seolah malam itu Lindsey seperti bukan mengusir Jarvis dari apartemen, melainkan dari kehidupannya. Jarvis pun merasa serba salah. Dia ingin menghubungi Lindsey terlebih dahulu, namun takut Lindsey masih butuh waktu.


Begitu juga dengan Lindsey. Tidak ada satu hari yang terlewatkan tanpa memikirkan Jarvis. Harinya terasa berbeda. Tidak ada yang meneleponnya saat selesai bekerja. Namun, Lindsey merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang terus membohongi Jarvis. Ingin rasanya dia sudahi semua ini.


Lindsey pun menjalani hidup seperti “hidup segan, mati pun tak mau”. Dia juga tidak memiliki selera untuk makan. Melihat dan mencium makanan saja rasanya mau muntah. Sehingga dia jarang pulang ke rumah markas, dan memilih tinggal di apartemen karena tidak perlu melihat atau mencium makanan.


Kala itu di pagi hari matahari menampakkan diri, Lindsey yang biasanya sensitif terhadap cahaya, kali ini dia tidak terbangun. Alarm dari ponselnya pun sengaja dia matikan semalam. Sepertinya Lindsey ingin tidur lebih lama.


Semua anggota gengnya pun khawatir. Hingga akhirnya Katie datang ke apartemen karena khawatir. Padahal saat itu dia sudah sampai di JM Buildings. Katie masuk dengan kartu akses yang diberikan Kapten. Perlahan Katie menelusuri apartemen, mencari keberadaan Lindsey dan masuk ke dalam kamar Lindsey, mendapati Lindsey masih tertidur padahal sudah jam 10. Katie membangunkan Lindsey dan memegang dahi Lindsey. Untunglah Lindsey tidak demam.


“Lindsey! Lindsey! Bangun! Sudah jam 10, memangnya kamu tidak bekerja?”


“Lindsey! Hey, bangun, hey! Gawat!”


Perlahan, Lindsey membuka matanya. Katie jelas sudah menganggu tidurnya. “Apa sih? Ganggu sekali.”


“Lihat ini!” Katie mengulurkan tangannya. Di atas telapak tangannya terdapat kumpulan pil berwarna putih.


“Apaan itu?” tanya Lindsey dalam keadaan yang masih mengumpulkan nyawanya.


“Kamu mau tahu aku dapat ini darimana?! Aku dapatkan ini dari tempat sampah di ruangan Jarvis!” jawab Katie.


“Ini?!” Lindsey terkejut.


“Iya! Kamu sudah menstruasi bulan ini?” tanya Katie.


Lindsey menatap Katie sambil berpikir.


“Kan.”


“Aku membeli ini sebelum ke sini.” Katie mengeluarkan 3 kotak test pack.


“Katie...” ucap Lindsey dengan gemetar.


“Tidak apa-apa.. Cek dulu..” balas Katie.


Lindsey pun ke kamar mandi dan membawa 3 kotak test pack itu untuk memeriksa apakah dugaannya benar atau tidak.


Lindsey duduk di atas closet sambil menatap wadah yang berisi air mani serta test pack di wastafel yang berjarak 3 meter di depannya. Kedua tangannya menutup rapat mulutnya. Rasa gugup melanda dirinya. Kakinya pun tidak bisa berhenti bergoyang saking gugupnya.


20 menit berlalu. Lindsey sengaja mengulur waktu. Dia masih tidak siap untuk melihat hasilnya.


“Lindsey?? Sudah belum? Kok lama, sih?!” Katie menggedor pintu kamar mandi.


Lindsey pun menarik napas panjang dan bangkit berdiri, berjalan ke wastafel untuk melihat hasilnya. Matanya pun bergetar melihat hasil ketiga test pack yang sama. Lindsey keluar dari kamar mandi. Memperlihatkan hasil test pack ke Katie.


Mata Katie pun bergetar. Garis dua. Bahkan warna garis merah tersebut sangat jelas. Segera dipeluknyalah sahabatnya itu yang akan menjadi seorang ibu. Perlahan air mata turun membasahi pipi Lindsey. Lindsey menangis tersedu-sedu. Tidak disangka kalau dia hamil. Katie mengerti betul yang dirasakan Lindsey, arti air mata itu. Dia mengusap-usap punggung Lindsey.


“Kita cek ke dokter, yuk. Aku temani.” ajak Katie.


Lindsey mengangguk.


Lindsey dan Katie pergi ke rumah sakit khusus Ibu dan Anak untuk memeriksakan kandungan Lindsey.


Setelah menunggu antrian, giliran Lindsey yang bertemu dengan dokter Obgyn.


Lindsey melakukan pemeriksaan USG. “Wah.. ibu hamil kembar, ya. Selamat.. ada 2 kantungnya. Keduanya sudah ada detak jantungnya. Selamat, ya, bu. Saya ikut senang, loh.” ucap sang dokter.


“Kembar, dok? Wah!” seru Katie.


Lindsey terdiam sebentar.


“Berapa usia kandungannya, dok?” tanya Lindsey.


“Dari hasil pemeriksaan USG, sudah memasuki 7 minggu, ya, bu.” jawab dokter.


“Juga ini resep obat dan vitamin yang harus diminum, ya, bu. Semoga ibu dan baby twins nya sehat selalu, ya.” ucap dokter seraya memberikan resep obat.


“Terima kasih, dok. Dok, saya mau tanya juga.. sebelumnya saya sudah mengonsumsi pil KB ini. Boleh dicek apakah pil ini asli atau plasebo, ya, dok?” tanya Lindsey.


“Hm, kalau ibu rutin mengonsumsi, seharusnya tidak terjadi kehamilan. Karena pil KB cara paling efektif untuk menghindari kehamilan. Boleh saya bantu cek. Nanti hasilnya saya kirim by phone, ya, bu.” jawab dokter.


“Terima kasih, dok.”


Setelah menebus obat, Lindsey dan Katie pulang dari rumah sakit.


“Antar aku ke apartemen, Kat. Mobil aku ada di sana.” ucap Lindsey.


“Ok. Linds, untuk apa kamu meminum obat plasebo? Kamu kan tahu sendiri obat plasebo itu obat kosong.” balas Katie.


“Aku berfirasat Jarvis menukarnya dengan plasebo. Aku tidak tahu kapan pastinya.” ucap Lindsey.


“Berarti Jarvis ingin kamu hamil, dong?” tanya Katie.


Lindsey menggeleng. “Entahlah. Aku juga tidak tahu. Rahasiakan kehamilanku dari Jarvis. Jangan sampai kamu keceplosan di depan dia.” jawab Lindsey.


“Iya. Aku dan Jarvis juga tidak pernah membicarakan hal lain selain pekerjaan sejak hari itu aku ketahuan membohongi dia.” balas Katie.


“Aku ingin cepat-cepat mengakhiri semua ini dan pergi jauh tanpa mencemaskan apapun.” ucap Lindsey.


“Bagaimana dengan Kapten dan Piter? Kamu akan memberitahu soal kehamilanmu ke mereka?” tanya Katie.


“Aku pasti akan memberitahu mereka.” jawab Lindsey.


“Baiklah.”


...****************...


...****************...


Lindsey masih tidak percaya ada 2 manusia kecil tumbuh di dalam perutnya. Rasa bahagia menyelimuti Lindsey saat membayangkan dirinya menggendong bayi kembarnya meskipun harus berjuang selama 9 bulan terlebih dahulu. Semuanya turut senang atas kehamilan Lindsey.


Meski selalu merasa mual, tidak nafsu makan, sensitif terhadap bau, perut terasa kembung, bahkan sempat demam, Lindsey menikmati semua gejala itu. Karena dia tahu kalau dia bukanlah sakit, melainkan sedang mengandung.


Kapten dan Piter menjadi protektif terhadap Lindsey. Kapten yang selalu memasak makanan yang sehat dan bergizi tinggi. Bahkan jika Lindsey tidak nafsu untuk makan, Kapten selalu memutar otaknya agar Lindsey mau makan. Dan Piter, dia tidak memperbolehkan Lindsey banyak bergerak. Segala kebutuhan Lindsey selalu dia ambilkan dan menyiapkan di dekat Lindsey agar Lindsey tidak perlu banyak bergerak. Lindsey merasa seperti ratu di rumah.


Hari demi hari Lindsey jalani dengan bahagia. Hingga 5 hari berlalu, Lindsey merasakan sakit yang begitu hebat di perutnya. Ditambah dengan darah yang keluar banyak sekali tanpa henti. Dan itu bukanlah flek biasa. Seisi rumah pun panik dan langsung membawa Lindsey ke rumah sakit.


Sesampainya di sana, Lindsey langsung mendapatkan penanganan dari dokter obgyn. Dan ternyata hal yang tidak diinginkan terjadi...


“Kedua janin sudah tidak ada detak jantungnya..” ucap sang dokter.


Dokter segera mengambil tindakan kuretase untuk mengeluarkan janin yang sudah tidak bernyawa itu. Lindsey dinyatakan keguguran setelah 5 hari mengetahui kehamilannya.


“Tidak apa-apa. Ini belum rejekimu, saja..” ucap Kapten menenangkan Lindsey sebelum masuk ke ruang operasi.


“Kamu manusia yang kuat, kamu pasti bisa..” ucap Piter.


“Semangat, Lindsey! Kamu hebat, kamu kuat!” ucap Katie.


Setelah itu perawat mendorong ranjang pasien dan masuk ke dalam ruang operasi.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih