Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Laki-laki Berjas dan Kacamata Hitam


halo semuanya.. ketemu lg di episode ketiga yg aku up hari ini.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Salam kenal. Aku Lindsey.” ucap Lindsey.


“Welcome to the fam!”


“Akhirnya punya adik perempuan.. Abangmu ada 6 loh, Linds. Hati-hati, jangan ketuker, ya.. hahaha..”


“Selamat, karena sudah berhasil menaklukkan hati mama. Kamu tahu kenapa kita semua berenam masih betah melajang? Karena tidak ada wanita yang berhasil menaklukkan hati mama.”


“Semoga betah ya jadi anak orangtua kita, hahaha..”


“Kalian semua ini.. seolah-olah mama sangar sekali..” sahut bu William.


“Sudah, yuk. Kita mulai main saja, yuk.” ajak Willia


William beserta anak-anaknya bermain golf di lapangan yang luas. Mereka bergantian mengayunkan stik golf dan memukul bola sejauh mungkin untuk berolahraga dan bersenang-senang.


“Coba kamu lebih kencangkan tanganmu saat memegang stik golfnya.” ucap Ray.


Lindsey mengayunkan stik golfnya, dan memukul bola hingga bola melayang jauh.


“Nice, Lindsey!”


“Anak mama jago


“Padahal kita sudah dibawa bermain ke lapangan besar sejak 12 tahun.” tambah John.


“Hahaha.. anak mama semuanya jago!” balas bu William.


Gantian William yang memukul. “Pa, hati-hati, pa. Nanti punggungnya encok.” ucap Ray.


“Iya, pa. Hati-hati, pa. Belum kampanye, pa.” tambah Harry.


“Iya, pa. Aku belum merasakan rasanya menjadi anak presiden, pa. Hati-hati, pa. Pelan-pelan saja pukulnya, pa.” tambah John.


“Kurang ajar kalian semua, ya! Gini gini papa masih muda, tahu!” balas William.


“Widih.. Siap kampanye dong, pa?” balas Ray.


“Hahahahah...” Semuanya tertawa. Termasuk Lindsey. Terlihat sekali kakak angkatnya sangat dekat dengan orangtuanya dan memiliki selera humor yang sama. Mereka menangkap candaan yang dilontarkan. Betapa bahagianya Lindsey bisa menjadi bagian dari keluarga yang hangat dan baik seperti itu.


Selesai bermain, mereka semua meneguk habis botol berisi air minum saking lelah dan hausnya. Peluh keringat membasahi tubuh mereka. Mereka merasa tubuh mereka sangat sehat sekali karena telah mengeluarkan banyak keringat di pagi hari.


“Pa, ma, aku cabut duluan ya! Mau kerja! Tidak kerja, tidak makan. Linds, cabut duluan, ya! Nanti kabar-kabaran saja, ok?” ucap Ray.


“Iya, kak. Hati-hati.” balas Lindsey.


“Aku juga. Mantap nih keluar keringat sebelum kerja.. Bye, semua!” pamit Harry.


“Aku juga, ya. Sampai bertemu nanti malam. Eh, Linds, malam datang makan ke rumah, yuk! Kalau malam semuanya ngumpul di rumah utama.” ucap John.


“Malam ini aku ada janji, kak..” balas Lindsey.


“Hahaha.. Lindsey masih malu-malu. Sudah kalian kerja, sana! Nanti mama ajak Lindsey ke rumah. Hati-hati ya, anak-anakku.” sahut bu William.


Ketiga anak pulang terlebih dahulu karena harus bekerja. Mereka semua adalah pebisnis yang mendirikan usahanya sendiri. Maka dari itu di akhir pekan pun tetap bekerja. Sedangkan hanya dua anak pak William dari enam yang bergabung ke politik. Sisanya adalah pebisnis.


“Ma, papa juga harus rapat memulai rencana kampanye. Lindsey, kamu pulang di antar sopir yang tadi, ya.” ucap William.


“Oh, iya, pa. Kalau begitu, aku juga pulang dulu. Terima kasih sudah mengajakku mengeluarkan keringat pagi ini. Seru sekali!” balas Lindsey.


“Iya, kapan-kapan kita main lagi, ya.” ucap William.


“Oh, ya, Lindsey. Ini ada teh untukmu. Baik untuk kesehatanmu. Aromanya juga dapat menghilangkan stress. Pengacara kan pekerjaannya berat dan waktu tidurnya sedikit.” tambah William seraya memberikan paperbag.


“Wah.. terima kasih, ya, pa.” balas Lindsey.


“Ini tehnya langka impor dari Korea loh, Lindsey. Sengaja kita simpan untuk kamu.” sahut bu William.


“Iya, diam-diam saja, ya. Anak papa yang lain saja tidak kebagian.” tambah William.


“Hahaha.. terima kasih loh. Aku memang suka teh aromaterapi. Kalau begitu, aku pulang dulu, ya.” balas Lindsey.


“Iya, hati-hati, ya, Sayang. Kabari kalau sudah sampai di rumah.” ucap bu William.


Lindsey pulang setelah berpamitan. Namun dia mampir sebentar ke toilet untuk buang air kecil. Dia menaruh tas golf dan paperbag yang berisi teh aromaterapi dari orangtuanya itu di wastafel depan. Setelah dari toilet, Lindsey langsung menaiki lift untuk turun ke parkiran tempat sopir orangtuanya yang sudah menunggu. Sesampainya di parkiran, Lindsey menyadari paperbag yang berisi teh pemberian orangtuanya tadi ketinggalan di toilet.


Aduh! Bisa-bisanya ketinggalan! batin Lindsey. Lindsey terpaksa kembali ke toilet di atas tadi walau kakinya sudah capek sekali dan membawa tas golf yang berat..


Untung saja masih ada. batin Lindsey. Lindsey kembali ke toilet dan mengambil paperbag yang untungnya masih ada di tempat semula Lindsey menaruhnya.


Kemudian dia kembali ke lift untuk turun. Dia menekan tombol lift untuk turun dan pintu lift terbuka. Terdapat seorang laki-laki dengan pakaian rapi berjas dan kacamata hitam yang sangat tidak cocok dengan tempat olahraga seperti golf ini. Laki-laki itu berdiri di tepi kanan sambil bersandar. Lindsey menghiraukannya dan masuk ke dalam meski hatinya tertawa kecil.


Lindsey mengambil tempat sebelah kiri lalu menekan tombol untuk ke parkiran dan menunggu lift mengantarkan penumpangnya. Laki-laki itu berdiri menghadap ke arahnya yang membuat Lindsey tidak nyaman. Meski tertutup kacamata hitam, namun Lindsey merasa sekali kalau pandangan laki-laki itu lurus ke hadapannya.


Dia bukan laki-laki mesum, kan? Aku sedang memakai celana rok pendek, pula! Semoga saja dia bukan laki-laki mesum. batin Lindsey.


Lindsey berharap lift cepat sampai ke lantai yang dituju. Dia ingin cepat-cepat pergi jauh dari laki-laki itu.


Lantai demi lantai berlalu. Tibalah Lindsey di parkiran. Lift pun terbuka. Namun saat Lindsey ingin keluar, laki-laki ituu menekan tombol untuk kembali menutup pintu lift. Membuat Lindsey terkejut dan takut.


Mamp*s aku. Apa yang ingin laki-laki ini lakukan padaku? batin Lindsey.


“Kamu tidak mengenaliku?” tanya laki-laki itu lalu melepas kacamatanya.


Linssey langsung mengenalinya setelah laki-laki itu melepas kacamatanya. Mata Lindsey membulat, mulutnya sedikit terbuka. “Ja-ja-Jarvis?” Lindsey langsung mengenali laki-laki itu setelah kacamatanya dilepas.


“Kita bertemu lagi, Lindsey.” ucap Jarvis.


Jantung Lindsey bergetar mendengar suara laki-laki itu. Tambah bergetar lagi saat laki-laki itu menyebutkan namanya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih