
Jarvis membaringkan Lindsey perlahan di atas ranjang yang berwarna putih kemudian kembali memagut bibir Lindsey. Ranjang yang belum pernah digunakan, sekalinya digunakan langsung menjadi tempat Jarvis melampiaskan hasratnya. Dan lagi-lagi terjadi, tidak sengaja Lindsey menyenggol “gajah kecil” Jarvis. Membuat Jarvis segera membuka ikat pinggangnya.
“Puaskan aku, Lindsey.” pinta Jarvis kemudian bangkit berdiri di atas ranjang.
Lindsey bangun dari posisi baringnya dan duduk. Tangannya meraih si “gajah kecil” Jarvis yang sudah menegang dan memainkannya dengan mulutnya. Jarvis merasakan sesuatu yang membuat adrenalin nya meningkat drastis menghantam dirinya. Matanya terpejam menengadah ke atas saking nikmatnya.
Jarvis menekan kepala Lindsey agar permainannya semakin dalam. Dia mengeraang kenikmatan hingga mencapai pelepasan pertamanya berkat permainan yang disuguhkan Lindsey. Lindsey segera mengeluarkannya dari mulutnya sebelum si “gajah kecil” menyemburkan semua isinya.
Keinginannya semakin kuat dan tidak tertahankan lagi, Jarvis berbaring dan meminta Lindsey untuk naik ke atasnya.
“Main di atasku.” pinta Jarvis.
Belasan gaya dan posisi sudah mereka lalui, namun Jarvis masih belum mencapai klimaksnya. Sedangkan Lindsey sudah kewalahan menyanggupi hasrat Jarvis. Yang biasanya hanya 1 jam, kini sudah 2 jam lebih namun belum ada tanda-tanda Jarvis akan menuntaskan hasratnya.
Lindsey hanya pasrah menikmati semua permainan Jarvis, yang sesekali begitu buas memberikan sentuhan-sentuhan nikmat pada tubuhnya. Napas Jarvis semakin menggebu bersahutan dengan ******* Lindsey. Di bawah Jarvis, Lindsey mencengkram sprei kuat-kuat, sesekali bergantian mencengkram bahu Jarvis seraya Jarvis menggerakkan pinggulnya.
“Lindsey.. Lindsey.. aah.. ah.. ahh.. mmhh.. ahh..”
“Aaahh.. Jarvis..”
“Aakhh.. Lindsey.. tidak kuat.. aah.. enak.. enak sekali.. aahh..!”
Jarvis mulai memasuki fase klimaksnya.
“Jarvis.. aahh.. mmhh.. aahh..” Desaah Lindsey beriringan dengan gerakan Jarvis yang memacu lebih cepat.
“Mmhh.. ah.. Jarvis! Jarvis! Jarvis! Buang di luar..! Aahh..!!”
“Arrggghhh!” Erangann Jarvis saat pelepasan. Tubuh Lindsey berguncang hebat setelah Jarvis mencabutnya dan cairannya berjatuhan ke lantai. Akhirnya Jarvis telah puas menuntaskan hasratnya.
“Ah, si*l. Banyak sekali keluarnya. Sayang sekali aku buang di luar.” ucap Jarvis.
Jarvis kembali ke atas ranjang. Membawa Lindsey ke dalam dekapannya. Malam ini menjadi malam paling gila untuk mereka, Jarvis jelas tidak memberikan jeda untuk Lindsey ketika dia menjelajahi seluruh tubuh Lindsey.
Lindsey terbangun karena ingin membersihkan tubuhnya yang lengket penuh keringat. Dia melepaskan dekapan Jarvis dan membiarkan Jarvis tertidur pulas tengkurap di tengah-tengah ranjang dengan tubuhnya yang polos hanya tertutup selimut. Rambutnya sudah acak-acakan seperti hamster yang sedang stress. Hm, menggemaskan sekali. pekik Lindsey dalam hati.
Lindsey berjalan ke kamar mandi. Menyalakan air shower, dan berdiri di bawah guyuran air, membiarkan air jatuh membasahi tubuhnya. Kemudian ia menyabuni seluruh tubuhnya dari atas kepala hingga ujung kaki dan menyapu bersih keringat dan lendir di tubuhnya. Membiarkan air yang turun menyapu busa di tubuhnya.
Seseorang tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang. Dan orang itu tidak lain ialah Jarvis. Padahal baru ditinggal sebentar dan dikira Jarvis sudah tertidur pulas tidak terbangun lagi sampai pagi. Jarvis diam tidak mengatakan apapun. Dia hanya menciumi permukaan kulit bagian belakang Lindsey dan tangannya memeluk erat perut Lindsey.
Lindsey bisa merasakan kulit Jarvis yang hangat itu karena efek samping dari ginseng yang diminumnya. Lindsey merasakan kehangatan dari dekapan Jarvis meski berada di bawah guyuran air yang dingin. Sangat nyaman. Itulah yang dirasakan Lindsey.
Tiba-tiba Jarvis menyambar bibir Lindsey dan tangannya yang tadinya di perut Lindsey, kini sudah bergerak ke atas, meraba-raba kedua gunung kembar, menggesekkan ibu jarinya ke put*ng. Dan membuat mulut Lindsey tidak sengaja meloloskan desahaan halus.
Sungguh, jika ronde baru akan dimulai, Lindsey sudah tidak sanggup. Hadiah pemberian Jarvis itu terlalu banyak untuk Lindsey terima. Ini pasti karena kandungan avanafil di dalam ginseng itu yang keefektivitasannya bisa mencapai 6 jam. Jarvis kemudian menggendong Lindsey hanya dengan sekali angkat.
Kedua bibir mereka saling bertaut kala itu Jarvis berjalan keluar dari kamar mandi menuju ke ranjang. Jarvis merebahkan tubuh Lindsey di atas ranjang secara perlahan dan bibirnya masih tidak ingin lepas dari bibir Lindsey. Lindsey hanya bisa terbaring pasrah di bawah kungkungan Jarvis.
Namun untungnya tidak terjadi ronde berikutnya. Jarvis tertidur di samping Lindsey sambil memeluk erat tubuh kekasihnya.
Pagi menjelang siang, Lindsey terbangun dan menyadari bahwa dia sudah terlambat. Dia memungut satu persatu pakaiannya yang berserakan di lantai. Dan barulah dia menyadari laki-laki yang semalam tidur mendekapnya tidak ada di ranjang. Lindsey memutar bola matanya karena kesal Jarvis yang bangun lebih awal, tidak membangunkannya.
“Aku sudah mengantarkan laporan persidanganmu ke firma sekalian dengan surat keterangan sakit yang Piter buat.” balas Kapten.
Lindsey berjalan keluar dari kamar.
“Aaa..!! Kalian memang terbaik! Terima kasih, ya!! Muah.. muah.. muah..” Lindsey menciumi ponselnya dan disaksikan oleh Jarvis yang sedang sibuk di dapur.
“Cepatlah kembali ke rumah. Banyak yang harus kita diskusikan.” balas Kapten.
“Siap laksanakan!” Panggilan telepon mereka berakhir.
“Baru bangun yang dicium kok ponsel. Yang harusnya dicium itu aku!” Jarvis mencemburui benda mati milik Lindsey itu.
Lindsey menghampiri Jarvis yang sedang di dapur dengan celemek yang menggantung di lehernya. Jarvis memajukan bibirnya, berharap Lindsey menciumnya seperti mencium ponsel tadi.
Alih-alih mendapat sebuah ciuman manis, dahi Jarvis malah ditoyor oleh Lindsey.
“Ah, sakit! Bagaimana hadiah dariku semalam?” tanya Jarvis.
“Sepertinya itu hadiah untuk dirimu sendiri. Bukan untuk aku.” jawab Lindsey.
“Kenapa kamu tidak membangunkan aku?!” tanya Lindsey kemudian.
“Aku pikir kamu bisa bangun pagi sendiri. Lagi pula tadi aku bangun subuh langsung jogging lalu ke pasar membeli semua bahan makanan ini.” jawab Jarvis.
“Hah? Kamu ke pasar? Membeli semua ini?” tanya Lindsey.
Seorang mafia? Ke pasar? Apa jangan-jangan dia mengacak-acak dan menjarah barang dagangan orang?! Dia tidak membayar dan malah kabur?Tidak mungkin. Dia pasti menyuruh Carlos atau anak buahnya yang lain. batin Lindsey.
Lindsey masih belum merasakan bahwa semua yang Jarvis lakukan hanya untuk dirinya seorang. Bangun pagi, pergi ke pasar, memakai celemek, dan memasak di dapur bahkan tidak pernah Jarvis lakukan untuk dirinya sendiri.
“Iya. Kan apartemen ini akan menjadi tempat tinggalku untuk sementara. Oh, ya. Nanti bantu aku pakai koyo, ya. Di pinggul.” jawab Jarvis.
Lindsey tertawa. “Hahahah..!!! Kenapa pinggulmu? Karena semalam, ya? Makanya jangan terlalu ekstra. Hahahaha..!!!”
“Ya, sakit. Sedikit. Tapi kalau lanjut lagi aku masih mampu, kok. Tuh, ginseng juga masih sisa setengah botol.” balas Jarvis.
“Nanti kalau kamu ke pasar lagi coba carikan stik dan bola golf, ya.” ucap Lindsey.
“Kamu mau main golf?” tanya Jarvis.
“Iya. Dan aku akan melayangkan pukulan pertamaku ke botol ginseng itu.” jawab Lindsey.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih